Kamis, 17 Mei 2018

Cerita Saat Seleksi CPNS 2017 : Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI)


Awalnya, Pada gelombang pertama seleksi CPNS tahun 2017, formasi yang membutuhkan pegawai adalah Mahkamah Agung dan Kementerian Hukum dan HAM. Selesai gelombang pertama, saya kira tidak ada seleksi CPNS lagi karena dengar-dengar memang kedua K/L (Kementerian/Lembaga) yang sangat membutuhkan tambahan sumber daya manusia. Sampailah saat salah satu teman SMA saya share tentang penerimaan CPNS pada Kementerian Luar Negeri di grup whatsapp kelas. Abang saya pun share ke saya terkait lowongan di Kemenlu. Tak lama kemudian muncullah informasi resmi terkait seleksi CPNS Gelombang kedua yang mencakup 60 Kementerian dan Lembaga (Plus Pemprov Kalimantan Utara). Wow!

Saya pun langsung tancap gas melihat-lihat berbagai formasi yang ada di tiap kementerian dan lembaga. Untungnya, formasi untuk jurusan hukum ada di berbagai macam kementerian dan lembaga sehingga sempat membuat pusing untuk memilih yang mana. Walaupun formasi hukum ada dimana-mana, tapi kuotanya tidak terlalu banyak sehingga naluri dan strategi disini mulai berperan. Setelah memilah-milah formasi dan minat, tujuan saya mengerucut ke beberapa K/L : Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Kepegawaian Negara, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan BKPM. Seminggu menjelang penutupan, saya mantap daftar BPK, Kementerian BUMN dan BKPM. Beberapa hari menjelang penutupan, saya memutuskan untuk mendaftar Badan Pemeriksa Keuangan.

Kuota jurusan hukum untuk pemeriksa pertama saat itu hanya 37 orang (formasi reguler/umum). Jumlah yang lumayan cukup besar dibandingkan dengan K/L lainnya. Akan tetapi yang biasa terjadi, hal ini pasti akan mengundang pelamar lebih banyak karena hukum peluang dalam statistika berlaku. Apalagi, pada syarat pelamar ada ketentuan “...diutamakan pendaftar yang berdomisili di luar Pulau Jawa.” Yang menimbulkan banyak spekulasi di grup telegram pelamar cpns bpk. Saya pun tidak peduli karena menurut hemat saya pasti nilai tertinggi yang akan lulus.

Taraaaa, setelah beberapa minggu mendaftar, seleksi administrasi diumumkan.

Puji Tuhan, Lulus.

Seleksi berikutnya adalah SKD atau Seleksi Kompetensi Dasar. FYI, SKD terdiri dari tiga macam soal, yakni Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), dan Tes Kepribadian (TKP), seingat saya namanya TKP, saya lupa kepanjangannya. Untuk pelamar umum, berlaku sistem passing grade dimana apabila salah satunya tidak memenuhi passing grade maka peserta dinyatakan gagal walaupun dua tes lainnya nilainya amazing. Saya tidak ada persiapan khusus untuk TKD karena kesibukan pekerjaan yang luar biasa sehingga pulang kerja sudah capek dan membuat malas, meskipun saya paksa-paksain sampe mata merah. Saya lebih sering belajar TIU karena banyak itungan yang harus latihan, mirip seperti soal psikotes USM STAN lah. TWK saya seringin baca-baca karena bisa lewat ponsel sehingga bisa nyuri-nyuri waktu buat baca pas lagi kerja ataupun pas lagi break buat lunch.

Yang saya ingat saat itu, untuk tiap kota tidak diadakan serentak. Saya agak was-was saat jadwal tes belum keluar karena khawatir jatuh ditengah minggu seperti hari selasa. Tiga hari sebelum tes, nama saya muncul untuk ujian di hari senin, sore pula. Fiuh lega!

Perjalanan pun dimulai. Pada tahun lalu, seleksi CPNS BPK untuk kota pelaksanaannya di pulau Jawa hanya di Jakarta! Sehingga seluruh pelamar yang bukan domisili Jakarta rela ke Jakarta (seperti saya). Saya pun pergi ke Bandara Ahmad Yani Semarang untuk terbang ke Jakarta pada penerbangan pertama. Sampai rumah kakak, saya langsung tidur karena begadang takut ketinggalan pesawat. Bangun-bangun sudah sore hari, saya pun belajar TIU dan review TWK selama beberapa saat. Mata pun sayup-sayup sehingga saya ketiduran sampai jam 10 pagi! Tes masih pukul 16.00 sehingga saya masih punya banyak waktu. Saya pun berangkat naik KRL sekitar jam 11an dan tiba di stasiun .....

Karena cuaca sudah agak mendung, maka saya order go car menuju mall yang dekat dengan lokasi ujian. Driver udah telpon dan saya sudah bilang lokasi saya di stasiun. Saya pun bingung lihat di aplikasi, mobil tidak bergerak. Padahal udah bilang otw. Karena kelamaan, saya cancel dan ganti pakai ojek online. Selesai dijemput, baru jalan sekitar 5 menit hujan deras ras rassss. Modar! Kami pun ‘ngiup’ di emperan toko yang punya kanopi agak besar. Hujan siang itu lama sekali dan tidak ada tanda-tanda mau berhenti. Sialan. Saya pun pesan taksi online untuk pergi ke Mall  karena lapar luar biasa dan sudah jam 13.00 siang. Tak lama, taksi datang menjemput saya. Eh dengan santainya dia izin mau bungkus gudeg bentar. Duh.

Saya pun tiba di Mall yang baru saja dibangun yang bernama Bella Terra Lifestyle Centre. Apesnya, tenant nya baru ada beberapa saja dan yang akrab di mulut saya cuma burger king dan starbucks. Saya pun ‘brunch’ tuna spicy bread dan hot capuccino karena buru-buru dan sudah ngantuk. Tak terasa sepatu pantofel saya basah sampai dalam-dalamnya karena kehujanan pas naik gojek tadi sehingga rasanya aneh dan saya mulai kedinginan. Sekitar jam 14.00 saya meluncur dan pesan gojek ke Maria Convention Hall yang hanya berjarak sekitar 0,8 Km dari mall tadi. Anehnya, tidak ada yang mau jemput. Saya batalkan, kemudian saya coba lagi akhirnya nyangkut. Si tukang ojek pun bingung exact location mall nya sehingga saya nungguin di pinggir jalan. Tak lama ojek jalan, eh ternyata macet dong karena sepanjang jalan perintis kemerdekaan dipenuhi dengan banyak sekali kendaraan, belum lagi arus keluar masuk kendaraan ke gedung sehingga membuat jalanan tambah macet. Karena habis hujan, ternyata air dan tanah nyampur sehingga nyiprati sepatu dan celanan saya sehingga jadi cokelat seperti dari sawah.

Masuk ke lokasi, saya pun bingung karena buanyaknya lautan manusia yang hilir mudik. Ternyata di lokasi ini bukan hanya tes untuk BPK, namun juga kementerian lain seperti Kemenhub dan BNN. Saya pun tanya-tanya ke orang kali aja tau. Akhirnya ada mbak-mbak dari Jombang yang ternyata mau tes BPK juga sehingga kami jalan bareng ke lokasi.

Sampai di gedungnya, ternyata ujian belum dimulai karena peserta sebelum saya belum keluar. Saya pun was-was karena takut ketinggalan informasi, plus lapar dan sepatu basah. Sekitar pukul 15.30 panitia mulai memberi pengumuman pakai toa dan menyuruh kami mengantre dengan membedakan nomor di lajur kanan, lajur tengah, dan lajur kiri. Ada lah sekitar 30 menit nunggu, barulah saya kepanggil buat datang verifikasi kartu ujian, KTP, dan dikasih PIN untuk log in tes CPNS.

Pada saat itu kami nunggu di basement yang disediakan kursi dan air minum serta AC portable yang cukup banyak (walaupun tetap saja saya keringetan). Suasana ruang tunggu makin padat karena peserta mulai selesai registrasi. Saya pun panik karena sudah pukul 17.30 ujian belum dimulai, dan benar saja...lewat toa panitia mengumumumkan bahwa ujian akan dimulai pukul 18.00! Mampus, pesawat saya pukul 21.30 pula!

Dengkul saya pun lemes. Sebagian peserta menjalankan sholat maghrib, saya yang bingung, capek, lapar, mengambil tas ke panitia dan mulai menyalakan rokok a mild kesayangan saya sambil telpon Papa saya karena mau mundur saja daripada ketinggalan pesawat. Papa saya Cuma bilang,”Lanjut aja ya mang, tesmu yang kemarin juga belum tau kan hasilnya. Pasti ga ketinggalan pesawat.” Saya pun mengangguk dan mulai meyakinkan diri tidak bakal ketinggalan pesawat karena check in Citilink ditutup 30 Menit sebelum keberangkatan.

Pukul 18.00 tes pun dimulai. Dimulai dengan antre masuk ke gedung. Saya pun mengambil langkah seribu supaya dapat antrean depan agar cepat duduk. Ternyata hall ini sangat luas dan bisa menampung hingga seribu peserta. Dengan sesama peserta pun hadap-hadapan dan jaraknya sempit. Panitia pun mulai menjelaskan aturan main, do’s and dont’s dan lain-lain. Ujian dimulai pukul 18.20 dan saya langsung garap. Saya selalu mengerjakan urutan dan saya langsung skip yang saya belum bisa jawab. TWK lewat, masuk ke TIU yang rada ruwet. Konsentrasi saya lebih banyak ke sudut kanan bawah untuk melihat jam berapa saat ini. Jam 19.00 tepat saya sudah masuk ke TKP dan langsung saya kerjakan tanpa mikir karena bagian ini cukup subjektif. Masih ada 15 nomor yang saya skip dan langsung saya kerjakan dan modal nekad, nembak.

Tepat 19.25 saya selesai. Waktu masih sekitar 35 menit, namun saya sudah tidak peduli dan langsung memencet selesai. 

In the name of GOD! 

Keluarlah angka 369! 

Yihaaaaa! 

Walaupun nilainya tidak tinggi-tinggi amat, saya bersyukur karena lulus passing grade. Saya pun langsung keluar dan berlari menyerahkan pensil dan kertas buram (kertas coret-coretan). Saya lari ke penitipan tas dan langsung lari ke pinggir jalan sambil order go jek untuk ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Puji Tuhan  begitu saya keluar, driver sudah ada di depan saya. Saya pun bilang ke dia supaya ngebut karena saya takut kena macet.

Dengan santainya si ojek bilang, santai aja mas kan masih 21.30 terbangnya. Ya iya tapi kan kudu check in dan periksa barang keles. Lagian saya pengen makan dan minum karena luar biasa lapar dan haus. Memasuki flyover apalah yang saya tidak tahu namanya, motor tiba-tiba oleng kiri-kanan. Bluk bluk bluk bluk. Modyar! Ban Motornya bocor! Kenapa sekarang????! Entah gimana jalan pikiran pemilik kendaraan, dia dengan santainya (lagi) bilang. “Saya tambalin dulu ya mas?” sambil senyum-senyum lempeng. Gila. Saya pun bilang mau naik taksi aja. Dia pun bilang “Terus gimana mas?” Saya jawab “Ya udah swipe aja udah anter, kan sudah kepotong juga saldo saya!”

Melambai-lambaikan tangan selama 10 menit, akhirnya ada juga taksi mau nyamperin saya. Puji Tuhan! Saya langsung masuk dan pas bilang tujuan saya Bandara Halim Perdana Kusuma, si supir langsung jutek (karena dekat). Ternyata Cuma 10 menit sampai bandara dan argonya tak sampai Rp 15.000. Dengan atos dia bilang “Sama parkirnya.” Yailah, emang dikira gue ga pernah naik taksi ke bandara apa ya. Saya kasih Rp 30.000 biar puas.

Waktu menunjukkan pukul 20.48 dan tidak ada antrean saat itu, saya pun langsung check in dan ambil boarding pass dan langsung ke gate untuk ke toilet. Saya ganti sepatu di toilet, dan kaki saya udah memutih mati rasa karena sepatu saya yang basah tadi saya pakai sepanjang hari. Saya mau makan dan minum tapi cuma excelso yang buka. Terpaksa pesan es kopi dan sandwhich untukn ganjal perut. Akhirnya saya rehat sejenak sambil merokok di dalam smoking area.

Sembari mengabari orang tua, saya pun jalan ke pesawat karena sudah dipanggil boarding. Capeknya luar biasa. Fisik dan emosi saya lelah sekali hari itu. Penerbangan QG 110 menuju Yogyakarta pun terbang, semakin meninggi meninggalkan langit kota Jakarta yang gemerlap. Pertama kalinya juga air mata saya keluar karena campuran lelah fisik dan emosi. Tuhan Maha Baik karena saya besok paginya masih (kuat) bekerja walaupun datang jam 9 pagi dan kesiangan.

*Pada akhirnya saya lulus seleksi TKD dengan Skor 369 pada formasi jurusan Hukum, namun saya tidak melanjutkan ke tahap TKB karena saya sudah diterima di Instansi lain saat pengumuman TKD BPK :) Karena ada 37 formasi, maka diambil 111 peringkat teratas untuk jurusan formasi Hukum. Skor 369 ini saya peringkat 25 dari 111 peserta yang lanjut ke SKB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment