Selasa, 17 Januari 2017

IPA dan IPS = Sebuah Bias.

Postingan ini sungguh random karena di tengah malam tiba-tiba otak saya flashback kehidupan saya saat mau bobo. 

Bagi yang pernah mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas alias SMA, saya yakin kalian pernah mengalami "kegundahan" saat memilih penjurusan saat naik dari kelas 1 SMA ke kelas 2 SMA (Penjurusan pada saat saya SMA pada kelas 2). Dan informasi yang pernah saya dengar dari teman saya yang adiknya masuk SMA bilang malah penjurusan sekarang langsung pada masuk kelas 1. Hah?

Jurusan saya saat SMA adalah IPA. Dulu saya sempat kepikiran masuk IPS karena saya benci sekali dengan Kimia, tapi jikapun masuk IPS, saya paling malas ketemu Sosiologi. Nah loh? Saran saya sih, tetap pilih berdasarkan apa minat kalian. Saya tidak menampik bahwa peran orang tua cukup besar terkait hal ini. Dulu ada teman saya udah happy-happy masuk IPS, eh sama orang tuanya tidak diperbolehkan dan dikembalikan ke IPA. 

Well, terkait pilihan IPA atau IPS sebenarnya sama saja, tinggal tentukan cita-cita kalian mau jadi apa. Kalau mau (dan niat) jadi lawyer, hakim, atau jaksa misalnya, ga usah pusing-pusing langsung saja masuk IPS dan belajar supaya bisa masuk jurusan hukum. Dan bila mau jadi dokter, perawat, ataupun insinyur, masuk IPA lah jawabannya.

Akan tetapi umur-umur segitu biasanya sih orang (apalagi remaja) seringnya labil alias ga stabil. Ada lho dulu teman saya niat masuk jurusan fisika tapi waktu seleksi masuk perguruan tinggi tiba-tiba switch jadi jurusan ekonomi. Ada juga teman saya yang niat pake banget masuk jurusan kedokteran, pas ujian masuk malah milih hubungan internasional. Bingung? Saya juga.

Karena dulu pengen jadi Insinyur yang bikin jalan tol, saya pernah milih jurusan Teknik Sipil saat UM UGM. Pilihan pertama? Tentu akuntansi, karena saya suka ngitung duit. Hahaha. 

Kemana poin biasnya?

Begini, pada saat saya SMA, anak IPA pun bisa milih jurusan perkuliahan pada rumpun Ilmu Sosial maupun Ilmu Alam & Eksakta. Begitu pula anak IPS, bisa memilih jurusan pada rumpun IPA, pertanian misalnya. Dengan catatan kalian ikut tes tertulis dan memilih IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran, rata-rata bisa memilih 3 program studi. Jika pun malas ikut IPC, anak IPS yang pengen jurusan Biologi misalnya, langsung saja memilih tes IPA dan siap-siap belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, tanpa harus mengerjakan Sejarah dan Sosiologi. Dan bagi yang IPA mau masuk jurusan Psikologi, langsung saja ambil paket ujian IPS, dan siap-siap konsekuensinya belajar Sejarah, Sosiologi, Geografi dan Ekonomi. Jadi jurusan apa kalian tidak pengaruh saat memilih program studi karena ini tes tertulis non prediktif, tidak seperti ujian nasional yang ada kisi-kisinya yang bisa dibikin varian soalnya sampe mabok karena ada standar kompetensi dalam setiap jenis soal yang harus dikuasai.

Bagaimana dengan IPC?

Saya sarankan tidak, karena kepala kalian bisa pecah setelah keluar ruang ujian. Kalo biasanya rumpun IPA tes dari pagi sampai siang, dan IPS tes dari siang sampai sore, jika yang IPC siap-siap tes dari pagi sampai sore, siapkan saja stamina dan makan yang banyak karena mikir ternyata bikin cepat lapar! Saya mengalaminya sendiri saat UTUL UGM pada tahun 2010, IPC benar-benar melelahkan.

Untuk jalur raport, sangat disayangkan karena bagi anak IPA, hanya bisa memilih rumpun program studi IPA, begitu juga dengan IPS. Namun ada pengecualian di beberapa perguruan tinggi karena dulu kakak kelas saya yang IPA bisa masuk jurusan akuntansi dengan jalur raport. Akan tetapi seperti yang saya baca, saat ini porsi penerimaan mahasiswa di PTN lebih banyak yang via SNMPTN Undangan alias Pakai nilai raport. Di beberapa feed media pun saya baca di kolom komen banyak yang kurang setuju dengan sistem tersebut. Karena apa saya tidak tahu. Hal ini berakibat pada kuota jalur tertulis yang lebih sedikit. 

Berbeda pada saat saya mau kuliah, porsi jalur tulis jauh lebih besar daripada jalur non-tulis sehingga emosi dan struggle-nya dapet. Beberapa saya ikutan, seperti UTUL UGM, SIMAK UI, UM UNDIP, UMB-PTN, hingga tes masuk PTN terakbar saat itu, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri alias SNMPTN (Transformasi dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB)

 Asyiknya lagi kalau bisa setiap ujian lulus, wih tinggal milih kampus coy! Berbeda jika dengan jalur raport alias prestasi yang notabene kemungkinan harus diambil karena nantinya sekolah yang bersangkutan akan di blacklist apabila siswanya 'cabut' alias tidak mengambil di prodi yang menerimanya. Oleh karena itu, saya tidak pernah niat ikut jalur raport karena saya mau 'nyebrang' ambil prodi ilmu-ilmu sosial, sehingga mending digunakan untuk teman-teman yang memang berniat. Dulu pun sampe rebut-rebutan kuota daftar karena dulu hanya dibatasi 25% terbaik di kelas. 

So, jika niat ambil jalur raport, siap-siap sakit hati karena sistemnya adalah tinggi-tinggian nilai. Beda dengan jalur tertulis yang non prediktif, kalian masih bisa untung-untungan alias 'bejo'. Dulu ada teman saya ngisi ngawur, nomor 1 sampe 5 diisi AAAAA, Nomor 6-10 diisi B semua, Nomor 11-15 diisi ABCDE, Nomor 31-35 diisi EDCBA, eh tembus di salah satu PTN! 

Gila memang, namun kalian jangan senang dulu. Pernah dengar yang namanya 'peluang' di pelajaran matematika? Sistem di ujian tulis biasanya Benar +4, dan Salah -1. Misal pun ada 100 soal, dengan 5 opsi jawaban, dan anda jawab ngawur semuanya, bisa jadi ada peluang benar 1/5 soal alias 20 soal sehingga dapat nilai 80, namun 80 soal salah sehingga nilai kalian sama saja nol. Kecuali anda yakin banyak soal benar, sisanya ngawur bisa sih dengan perhitungan yang tadi. 

Pada dasarnya IPA IPS sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalo ga mau mengerjakan tes IPA dan IPS, bisa daftar Sekolah Kedinasan yang ternyata buanyak banget! Cek di gugel saja karena jumlah sekolah kedinasan di negara kita ada banyak. Biasanya soalnya Psikotes ala Seleksi Kerja. Sekolah kedinasan bisa dijadikan pilihan karena dibawah lembaga negara, biasanya biaya kuliah sudah ditanggung dan ada juga yang diberi uang saku. Setelah lulus langsung kerja di lembaga bersangkutan juga, mantap!

Pada akhirnya pun IPA dan IPS sama saja.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment