Selasa, 17 Januari 2017

Hate and Love Relationship with Coffee

Kopi, minuman berwarna hitam ini memang menarik. Sampai  ada juga film filosofi kopi. Warna hitamnya memang mengerikan, walaupun rasanya berbeda-beda. Dengan minum kopi juga kita dapat belajar jangan mudah underestimate terhadap hal yang baru atau hal yang belum anda pernah rasakan. Kasarannya, dengan ngopi saya dapat pelajaran baru: dilarang sotoy alias sok tahu.
Bingung? Saya juga. Maksudnya jangan langsung labelling sessuatu dengan enteng, misal anda melihat warna hitam, hitam identik dengan kegelapan, ketidakjelasan, kejahatan, tinta, hingga air got atau comberan. 
Padahal identik, mindset, or whatever you name it,  adalah hal yang sebenarnya harus dikonfirmasi ulang dan bukan untuk dipercaya dengan mudah, kecuali anda orang yang percoyonan. Hitam juga identik dengan elegan katanya, saya pun mengangguk setuju. Intinya adalah jangan ngomongin kopi tanpa pernah mencoba kopi.
Cinta pertama dengan kopi datang saat remaja, saat jerawat muncul walaupun tidak setress akibat hormon pertumbuhan yang meningkat. Dulu saya tidak suka kopi sama sekali, sebelum menginjak umur 15 tahun. 
Papa dan Mama saya suka sekali kopi. Waktu kecil pun tiap pagi atau sore pas lagi santai, saya sering disuruh papa mama saya bikin kopi. Dalam benak saya saat itu, kopi adalah minuman untuk orang tua alias orang dewasa sehingga manusia yang belum dewasa menurut BW (Burgelijk Wetboek: re 21 tahun) tidak boleh minum kopi. 
Padahal lho kopi tidak ada anjuran minimum umur bagi penikmatnya. Berbeda dengan alkohol yang khusus dewasa, walaupun kenyataannya pun banyak remaja yang pernah menenggak minuman memabukkan ini walaupun sering dioplos dengan campuran aneh, maksudnya biar murah. Lagipula, dulu saat pemikiran masa kecil saya, kopi hitam itu pahit dan tidak enak. remaja minum kopi pun tidak lazim saat itu, kalah dengan popularitas es teh, es jeruk, maupun milkshake.
Sampai suatu hari masa menjelang ujian nasional SMP tiba. Karena tidak bimbel (bimbingan belajar), saya pun belajar sendiri dengan mengandalkan otak seadanya. Dan juga akibat pulang sekolah sore hari, tidur siang pun tidak mungkin dilakukan sehingga efek dominonya, ya, cepet ngantuk. Karena perlu baca dan latihan materi sendiri, untuk mengatasi ngantuk, pertama kalinya saya menyeduh kopi untuk pertama kalinya. 
Takaran tolol saat itu: dua sendok kopi dan tiga sendok gula pasir di gelas kecil ukuran 250ml. Hasilnya? Muanis dan kuentel, dan saya tetap melek, sehingga malam malam berikutnya saya menyeduh kopi untuk tetap belajar di malam hari.
Lama tidak akrab dengan kopi, waktu kuliah pun saya akhirnya akrab lagi dengan minuman ini. Takarannya berubah, saat kuliah saya sudah tidak suka kopi manis karena bagi saya sama saja minum gula. Saya pun lebih suka kopi tanpa gula, kalaupun pengen gula, maksimal saya tambahkan 1/2 hingga 1 sendok makan saja supaya masih kerasa rasa kopinya. Jika sedang nongkrong di kafe pun saya jadi sering pesan kopi, padahal tidak lagi pengen begadang tuh. Selesai makan pun kadang setelah minum air putih, pengennya ngopi. Am I addicted?
Dari Sana pun saya akhirnya tahu bahwa kopi berasa berbeda beda tergantung dari cara menyangrai, cara penyajian, brewing method, hingga lokasi penanamannya. Lokasi penanaman yang membuat rasa kopi berbeda dan khas saja dilindungi juga dalam hukum sebagai Hak Kekayaan Intelektual sebagai Merk Indikasi Geografis. 
Contohnya misal kopi Toraja, kopi yang ditanam di Tana Toraja, kemudian kopi Aceh, kopi yang ditanam di Aceh dan sebagainya. Harganya pun berbeda beda tergantung kualitas. Saat saya ke rumah Opung saya, dibelakang rumahnya ada kebun tanaman yang tidak asing. Saat saya tanya bapa uda, dibilang itu kebun kopi. Cuman katanya memang dibiarin aja karena harganya sudah turun, sehingga tidak untung kalo dirawat. Yah....Padahal bisa jadi kopi Tapanuli tuh, asli dari Bukit Barisan!
Suatu saat saya ngopi di salah satu kafe di Yogyakarta, teman saya pesan secangkir kopi luwak seharga Rp 90.000 belum termasuk pajak 15%. Saat saya coba, memang nikmat sangat. Harga memang tidak pernah bohong. Saat traveling ke Tana Toraja, saya dan teman menyempatkan beli kopi di Pasar kota Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Mumpung di Toraja, kami beli kopi 1/2kg untuk dibawa pulang. Tiap pagi saya seduh, kopi dari Toraja tersebut habis dalam 3 bulan.
Masuk ke kafe-kafe pun pilihan saya seringnya single origin karena bagi saya pas dan tanpa gula karena baru kerasa perbedaannya.  Favorit saya adalah kopi dengan asam yang lebih dominan dibanding pahit.
Sudah lama juga saya dengar kopi berjenis espresso, namun saya baru nekad mencobanya saat di luar negeri. Ceritanya saat itu saya sedang berada di bandara internasional Hongkong untuk kembali ke Indonesia. Setelah selesai urusan custom dan imigrasi saya pengen ngopi. Eh, di dekat gate ada kedai kopi yang ramai antrean orang. Saat lihat ada espresso saya pun nyobain, HKD 42 harganya kalau tak salah. Bisa diminum sekali teguk sebenarnya, tapi supaya lebih nikmat, saya cicil jadi tiga teguk. Oh ternyata begini toh espresso, not bad at all.
Saya pun baru tahu bahwa Kopi dan Rokok adalah perpaduan yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini baru saya tahu saat saya pergi ke Klinik Kopi di Gejayan, Jogja. Saat itu sedang waiting list sehingga saya pun menunggu dipinggir sambil ngerokok. 
Pegawai kafe yang lagi mencatat catat nama penunggu pun memberitahukan saya bahwa untuk merokok di lantai 1 (kedainya di lantai 2). Saya pun turun untuk menghabiskan sebat (sebatang rokok) tadi. Selesai merokok saya naik dan antrean saya dan teman sudah dipanggil. Ketika di tanya mau kopi selera yang bagaimana, sambil meracik kopi, pemiliknya dan juga merangkap barista, Mas Pepeng bilang ke saya kalau tidak salah jika kopi itu mengikat asap rokok atau gimana gitu saya lupa, intinya, kopi dan rokok adalah bad combination sehingga tidak baik dikonsumsi bersamaan. Oh gitu...
Masa skripsi pun tiba setelah tujuh semester berkutat dengan teori-teori dalam ilmu hukum. Kopi, begadang, dan rokok used to be my very best friend! Rasanya puas banget bab 1 sampai bab 5 skripsi setebal 110 halaman dapat saya kerjakan dalam waktu 6 hari berturut-turut tanpa ampun. 
Sampai saya tahu jika asam lambung saya Sudah lebay. Saat Cek tensi pun..ya gitu deh. Dokter pun tanya ke saya mengenai kebiasaan saya. Saat saya mengatakan hobi ngopi, dokter pun menyarankan untuk mengurangi dan minum dengan porsi wajar. Saran yang cukup mengerikan.

IPA dan IPS = Sebuah Bias.

Postingan ini sungguh random karena di tengah malam tiba-tiba otak saya flashback kehidupan saya saat mau bobo. 

Bagi yang pernah mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas alias SMA, saya yakin kalian pernah mengalami "kegundahan" saat memilih penjurusan saat naik dari kelas 1 SMA ke kelas 2 SMA (Penjurusan pada saat saya SMA pada kelas 2). Dan informasi yang pernah saya dengar dari teman saya yang adiknya masuk SMA bilang malah penjurusan sekarang langsung pada masuk kelas 1. Hah?

Jurusan saya saat SMA adalah IPA. Dulu saya sempat kepikiran masuk IPS karena saya benci sekali dengan Kimia, tapi jikapun masuk IPS, saya paling malas ketemu Sosiologi. Nah loh? Saran saya sih, tetap pilih berdasarkan apa minat kalian. Saya tidak menampik bahwa peran orang tua cukup besar terkait hal ini. Dulu ada teman saya udah happy-happy masuk IPS, eh sama orang tuanya tidak diperbolehkan dan dikembalikan ke IPA. 

Well, terkait pilihan IPA atau IPS sebenarnya sama saja, tinggal tentukan cita-cita kalian mau jadi apa. Kalau mau (dan niat) jadi lawyer, hakim, atau jaksa misalnya, ga usah pusing-pusing langsung saja masuk IPS dan belajar supaya bisa masuk jurusan hukum. Dan bila mau jadi dokter, perawat, ataupun insinyur, masuk IPA lah jawabannya.

Akan tetapi umur-umur segitu biasanya sih orang (apalagi remaja) seringnya labil alias ga stabil. Ada lho dulu teman saya niat masuk jurusan fisika tapi waktu seleksi masuk perguruan tinggi tiba-tiba switch jadi jurusan ekonomi. Ada juga teman saya yang niat pake banget masuk jurusan kedokteran, pas ujian masuk malah milih hubungan internasional. Bingung? Saya juga.

Karena dulu pengen jadi Insinyur yang bikin jalan tol, saya pernah milih jurusan Teknik Sipil saat UM UGM. Pilihan pertama? Tentu akuntansi, karena saya suka ngitung duit. Hahaha. 

Kemana poin biasnya?

Begini, pada saat saya SMA, anak IPA pun bisa milih jurusan perkuliahan pada rumpun Ilmu Sosial maupun Ilmu Alam & Eksakta. Begitu pula anak IPS, bisa memilih jurusan pada rumpun IPA, pertanian misalnya. Dengan catatan kalian ikut tes tertulis dan memilih IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran, rata-rata bisa memilih 3 program studi. Jika pun malas ikut IPC, anak IPS yang pengen jurusan Biologi misalnya, langsung saja memilih tes IPA dan siap-siap belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, tanpa harus mengerjakan Sejarah dan Sosiologi. Dan bagi yang IPA mau masuk jurusan Psikologi, langsung saja ambil paket ujian IPS, dan siap-siap konsekuensinya belajar Sejarah, Sosiologi, Geografi dan Ekonomi. Jadi jurusan apa kalian tidak pengaruh saat memilih program studi karena ini tes tertulis non prediktif, tidak seperti ujian nasional yang ada kisi-kisinya yang bisa dibikin varian soalnya sampe mabok karena ada standar kompetensi dalam setiap jenis soal yang harus dikuasai.

Bagaimana dengan IPC?

Saya sarankan tidak, karena kepala kalian bisa pecah setelah keluar ruang ujian. Kalo biasanya rumpun IPA tes dari pagi sampai siang, dan IPS tes dari siang sampai sore, jika yang IPC siap-siap tes dari pagi sampai sore, siapkan saja stamina dan makan yang banyak karena mikir ternyata bikin cepat lapar! Saya mengalaminya sendiri saat UTUL UGM pada tahun 2010, IPC benar-benar melelahkan.

Untuk jalur raport, sangat disayangkan karena bagi anak IPA, hanya bisa memilih rumpun program studi IPA, begitu juga dengan IPS. Namun ada pengecualian di beberapa perguruan tinggi karena dulu kakak kelas saya yang IPA bisa masuk jurusan akuntansi dengan jalur raport. Akan tetapi seperti yang saya baca, saat ini porsi penerimaan mahasiswa di PTN lebih banyak yang via SNMPTN Undangan alias Pakai nilai raport. Di beberapa feed media pun saya baca di kolom komen banyak yang kurang setuju dengan sistem tersebut. Karena apa saya tidak tahu. Hal ini berakibat pada kuota jalur tertulis yang lebih sedikit. 

Berbeda pada saat saya mau kuliah, porsi jalur tulis jauh lebih besar daripada jalur non-tulis sehingga emosi dan struggle-nya dapet. Beberapa saya ikutan, seperti UTUL UGM, SIMAK UI, UM UNDIP, UMB-PTN, hingga tes masuk PTN terakbar saat itu, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri alias SNMPTN (Transformasi dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB)

 Asyiknya lagi kalau bisa setiap ujian lulus, wih tinggal milih kampus coy! Berbeda jika dengan jalur raport alias prestasi yang notabene kemungkinan harus diambil karena nantinya sekolah yang bersangkutan akan di blacklist apabila siswanya 'cabut' alias tidak mengambil di prodi yang menerimanya. Oleh karena itu, saya tidak pernah niat ikut jalur raport karena saya mau 'nyebrang' ambil prodi ilmu-ilmu sosial, sehingga mending digunakan untuk teman-teman yang memang berniat. Dulu pun sampe rebut-rebutan kuota daftar karena dulu hanya dibatasi 25% terbaik di kelas. 

So, jika niat ambil jalur raport, siap-siap sakit hati karena sistemnya adalah tinggi-tinggian nilai. Beda dengan jalur tertulis yang non prediktif, kalian masih bisa untung-untungan alias 'bejo'. Dulu ada teman saya ngisi ngawur, nomor 1 sampe 5 diisi AAAAA, Nomor 6-10 diisi B semua, Nomor 11-15 diisi ABCDE, Nomor 31-35 diisi EDCBA, eh tembus di salah satu PTN! 

Gila memang, namun kalian jangan senang dulu. Pernah dengar yang namanya 'peluang' di pelajaran matematika? Sistem di ujian tulis biasanya Benar +4, dan Salah -1. Misal pun ada 100 soal, dengan 5 opsi jawaban, dan anda jawab ngawur semuanya, bisa jadi ada peluang benar 1/5 soal alias 20 soal sehingga dapat nilai 80, namun 80 soal salah sehingga nilai kalian sama saja nol. Kecuali anda yakin banyak soal benar, sisanya ngawur bisa sih dengan perhitungan yang tadi. 

Pada dasarnya IPA IPS sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalo ga mau mengerjakan tes IPA dan IPS, bisa daftar Sekolah Kedinasan yang ternyata buanyak banget! Cek di gugel saja karena jumlah sekolah kedinasan di negara kita ada banyak. Biasanya soalnya Psikotes ala Seleksi Kerja. Sekolah kedinasan bisa dijadikan pilihan karena dibawah lembaga negara, biasanya biaya kuliah sudah ditanggung dan ada juga yang diberi uang saku. Setelah lulus langsung kerja di lembaga bersangkutan juga, mantap!

Pada akhirnya pun IPA dan IPS sama saja.

 

Sabtu, 14 Januari 2017

Huru Hara Penang - Kuala Lumpur - Jakarta - Surabaya

12 Juni 2015 adalah tanggal yang tak terlupakan bagi saya di tahun 2015 yang lalu. Baru kali ini saya tidak tidur sampai hampir 48 jam! Saya jadi teringat dulu ada berita bahwa ada orang yang 3 hari tidak tidur (karena lembur kerja) dan dinyatakan wafat karena serangan jantung yang ramai banget dibahas di twitter. Waduh!

Cerita berawal pada tanggal 9 Juni 2015, saat itu di malam hari di hostel saya sedang santai-santai di communal room untuk browsing cara melintasi perbatasan dari Thailand ke Malaysia via Hat Yai City menuju Pulau Pinang. Iseng ngecek email ternyata ada panggilan tes dari PT. Angkasa Pura I (Persero)  pada tanggal 13 Juni 2015 di Surabaya! Duar! agak galau juga jika skip tes ini karena perusahaan ini adalah salah satu incaran saya dalam berkarier. Saya baru kembali ke Indonesia pada tanggal 12 Juni 2015, landing di Jakarta pula! Pada saat itu saya sempat kepikiran untuk langsung terbang ke Surabaya dari Penang karena ada direct flight naik Airasia, tapi tiketnya saat itu saya pikir cukup mahal dan saya tidak punya uang. Haha. Saya pun BBM kakak saya untuk mengabari Papa saya, secara saya tidak beli SIM card di Thailand. Besoknya saya dibelikan Papa saya penerbangan Jakarta - Surabaya untuk tanggal 12 Juni siang. Horeee!

Fast forward ke Penang tanggal 11 Juni di dini hari pukul 1 pagi hingga terang saya tidak bisa tidur karena kutu busuk di kasur hostel (persis dengan yang saya baca di review-review) Jam 9 pagi saya dan teman-teman sudah check out dan keliling-keliling Penang pakai Bus Gratisan yang 'ngider' di beberapa lokasi di Penang. Sign paling gampang untuk tahu atau tidak bus gratis adalah jika di halte ada tulisan "hop on hop off". Dijamin gratis, Puas muter-muter, sore harinya kami kembali ke hostel untuk mengambil tas dan segera menuju Bandara Internasional Penang di Bayan Lepas yang cukup jauh dari Georgetown. Singkat cerita, penerbangan kami pukul 20.00 delayed sejam. Kami pun sempat lihat beberapa orang berdebat dengan ground staff karena ada yang hampir ketinggalan connecting flight ke Australia.

Total delayed sampai boarding ternyata cuma 40 menit. Saat take off, Penang sedang hujan sehingga agak ngeri-ngeri sedap. Tidak ada kendala yang berarti dalam penerbangan yang singkat ini. Kami landing di Kuala Lumpur sekitar pukul 22.10 malam. Sampai di terminal domestik sudah tidak banyak penerbangan sehingga suasananya sepi. Kami pun ngacir ke keberangkatan internasional yang masih ramai untuk mencari 'tempat bobo'. Buset, semua tempat strategis sudah di invasi para calon penumpang baik di bagian departure maupun arrival! Kami pun menunggu di Starbucks dekat area check in untuk cari charger. Jam 1 pagi, ternyata tempat ini bergegas tutup. Waduh!

Karena sudah ngantuk berat, akhirnya kami nekad tiduran di kursi dekat gerbang masuk KLIA2. Satu teman saya tidak kuat dinginnya AC bandara sehingga memutuskan tiduran di luar, padahal di luar menurut saya panas sekali. Walau dikata mata tertutup, sebenarnya saya tidak bisa tidur karena bobo di kursi. Saya pun pergi ke McD untuk makan karena lapar sekali. Sekitar pukul 3 Pagi saya tidur lagi dan baru bangun sekitar pukul 4 dini hari. Setelah "mengumpulkan nyawa" di toilet, cuci muka, sikat gigi dan repack ransel, kami pun langsung ke document check counter di area check in. Rupanya pagi hari adalah rush hour di KLIA2 karena banyaknya manusia bersliweran yang akan pergi naik pesawat. I'll be home!

Selesai check dokumen, kami langsung melaju ke imigrasi. Selesai imigrasi, kami diperiksa barang bawaan dengan X-Ray, selesai pemeriksaan pertama, masuklah kami ke pemeriksaan berikutnya sebelum menuju wilayah gate, yakni 'aviation security check', mayoritas barang sitaannya adalah cairan yang lebih dari 100ml dan alat-alat lain yang dilarang. Kirain tumblr yang saya beli bakalan disita, ternyata aman-aman saja.

Masuk ke area gate kami jalan santai karena waktu boarding masih cukup lama, gate keberangkatan saat itu belum dibuka sehingga kami menunggu di luar dan iseng nyoba kursi pijat yang bayar RM5 untuk 15 Menit. Hiburan kami saat itu adalah panggilan masuk gate ke berbagai destinasi, rata-rata ke ASEAN, serta India dan China. Pukul 06.30 gate dibuka dan semua penumpang berjubel mengantre. Penerbangan pertama Kuala Lumpur - Jakarta pagi itu rupanya penuh. Daaaan delayed sejam karena hujan deras pagi itu. Mampus! Pukul 07.20 ternyata sudah disuruh boarding namun prosesnya agak lama sehingga baru benar-benar bisa take off sekitar pukul 07.50. Tidak ada yang berkesan pada penerbangan kali ini karena kami lelah luar biasa dan tak terasa sudah mendarat di CGK airport tercinta.

Jam menunjukkan pukul 09.10 waktu Jakarta, setelah turun dari bus kami langsung berlari ke Imigrasi supaya dapat antrean awal. Kelar imigrasi, giliran bea cukai yang kami cuma di scan barang doang. Selesai urusan Imigrasi, saya langsung tukar uang di Bank yang buka kantor kas di Terminal 3. Secara saya terpaksa karena tidak punya rupiah sepeser pun, sehingga tidak peduli berapapun rate Ringgit saat itu. Tepat pukul 09.30 kami sudah berada di luar terminal 3 CGK untuk menunggu Damri ke Gambir. Secara, tidak ada public direct access ke senen, kecuali taksi. Tadinya kami mau naik taksi, namun karena traffic Jakarta yang mengerikan di pagi hari, kami nyari amannya saja karena sudah kere setelah 13 hari di jalanan.

Kami pun mulai panik saat jam 10.30 bus masih berada di tol. Tepat pukul 11.00 siang kami tiba di Stasiun Gambir. Saya pun berpisah dengan 2 orang teman saya karena mereka akan mengejar Krakatau jam 12 siang ke Jogja, sedangkan saya ke Gambir untuk pembatalan tiket. Saya pun baru ingat kalau pembatalan maksimal tiket kereta api adalah 30 Menit sebelum keberangkatan. Karena Krakatau berangkat jam 12.00 siang, maka maksimal saya bisa cancel pukul 11.30! Sampai loket saya ingin pingsan karena masih disuruh foto kopi KTP pula! aduh! Ternyata dekat loket ada jasa foto kopi KTP. Selembar seribu btw, harga yang bisa diterima orang yang sedang buru-buru. Lol. 11.20 saya balik ke loket, dan Puji Tuhan masih sempat di cancel....lumayan 130ribu selamat...

Saya pun bergegas ke 711 untuk take away nasi kotak dan sebungkus sampoerna mild karena saya sudah seminggu tidak merokok akibat rokok saya habis saat masih di Thailand. Sambil jalan ke pemberangkatan damri Gambir-Cengkareng, saya jalan sambil ngerokok. Belum ada setengah batang ngebul, bus sudah mau berangkat. Pukul 11.45 saya kembali menerobos jalanan menuju Bandara Soekarno Hatta. Rupanya damri Gambir-CGK frekuensinya 15 menit sekali. Sekali lagi saya kena macet dan tiba di Bandara pukul 14.00! Padahal penerbangan Jakarta - Surabaya saya Pukul 15.00! Karena saya sudah tidak kuat angkut ransel, terpaksa saya baggage drop ke konter dan sekali lagi Tuhan menolong saya. Antrean tidak ada sama sekali. Lega...

Saya pun cari tempat untuk charge HP saya yang baterainya hampir modar di area kosong dekat Monas Lounge di lantai 2 sambil makan chicken teriyaki yang saya beli di Stasiun Gambir sambil ditemani pandangan mata orang-orang ke arah saya. Haha. Kali ini saya sudah agak santai karena sudah dapat boarding pass dan sudah tidak gendong ransel saya yang ternyata 12kg...Selesai take away kopi dari Starbucks, saya menyempatkan ngebul di smoking area. Tepat sebatang rokok saya habis, ternyata sudah ada panggilan boarding penerbangan kali ini ontime. Namun di landasan, air traffic...sehingga mundur 30 menit. Baru kali ini saya tidak menikmati penerbangan karena saya sudah tertidur saat masih antre take off di CGK dan dibangunkan pramugari saat mendarat di Surabaya.

Tiba di Surabaya sekali lagi kesabaran saya diuji. Jalanan di Jumat sore macet dimana-mana. Total saya habis 150rb dari airport ke Dharmawangsa. Selesai masuk ke penginapan, mandi, makan, saya langsung tepar pukul 9 malam. Total 44 jam saya tanpa tidur!