Minggu, 24 Januari 2016

Border Crossing: Thailand (Sadao) to Malaysia (Bukit Kayu Hitam)

Thai Border Sadao

Setelah sejam meninggalkan Hat Yai, hawa-hawa perbatasan mulai muncul. Ditandai dengan keramaian dan plang petunjuk dwibahasa. Memasuki antrean kendaraan di border, langsung kena macet-cet-cet. Rupanya border sangat padat siang itu. Van yang kami tumpangi akhirnya mencari jalan tikus untuk memperpendek waktu tempuh.

Seorang perempuan Filipina disamping saya yang mengaku pergi ke Malaysia untuk memperpanjang visa Thailandnya pun bingung dan bertanya ke saya:

"How much time needed to go to Penang? Is it still far from here?" dia tanya begitu karena saya disangka orang Malaysia. Setelah gusar mencari jalan untuk menembus kemacetan, seorang ibu-ibu dari Malaysia mengabsen kami satu persatu untuk mencairkan suasana dan bertanya asal negara kami.

"Three Indonesian on the back row!" teriak saya.
"Hello my neighbor!" balasnya

Kami pun keluar masuk jalan-jalan kampung dan masuk gang, kami akhirnya memasuki jalan utama menuju perbatasan yang juga masih macet, namun sudah ada di dekat Imigrasi Thailand. Begitu memasuki Imigrasi Thailand, kami pun disuruh turun untuk antre cap keluar Thailand. Si sopir van pun teriak-teriak ke saya karena saya dikira warga Thailand dan memberi isyarat dimana ia parkir. Saya pun pasang muka bingung dan dia lalu bilang:

"There!!! Eighteen!!!"

Oh maksudnya di parkiran area 18. Ok deh komandan!

Kami mengantre lama sekali di border karena antrean keluar masuk Thailand di siang itu sangat ramai. Setelah menyerahkan paspor, cap cap cap, arrival card Thailand di paspor saya dicabut dan resmi kami meninggalkan wilayah Thailand. Petugasnya pun kerja cepat.

Border ini amat sangat ramai. Ada sekitar 30 menit kami antre di Imigrasi dan menuju parkiran yang ditunjuk si sopir. Karena kebelet pipis, saya pipis dulu di toilet umum dekat parkiran yang bayarnya bisa pakai Bath maupun Ringgit. Saya bayar 3 Bath alias Rp 1.200. Standar bayar toilet umum di negara ASEAN sepertinya memang sekitar Rp 1000. Jika di Indonesia toilet umum bayar Rp 1000 (kadang Rp 2000), di Singapura saya pernah juga pipis di toilet umum dengan tarif 10 sen, di Malaysia saya juga pernah, tarifnya 30 sen.

Sehabis buang air kecil, cewek bule Inggris teman satu Van saya merokok di parkiran, ikutan deh saya ngerokok dan pinjam korek sambil basa-basi sambil tunggu penumpang yang lain. Teman-teman saya beli buah dari pedagang eceran,

Setelah penumpang komplit, van melaju ke Imigrasi Malaysia. Manusia dan semua barang harus dibawa saat pemeriksaan karena selain masuk ke Imigrasi, kami juga harus melewati custom. Perbatasan ini tidak terlalu ramai dibandingkan border untuk keluar Thailand. Saya deg-degan juga mengantre karena sepi. Setelah dicap, saya bilang "Terima Kasih Pak Cik!" dan dijawab "Ya ya". Seumur-umur lewat imigrasi dimanapun, baru sekali ini ucapan thank you saya di reply.

Antrean siang itu pun  tidak terlalu ramai sehingga prosesnya cepat dan kami masih bisa duduk-duduk dekat kantor imigrasi dan menunggu penumpang lain sambil makan mangga yang dijual PKL disekitar exit imigrasi. 

Selesai semua penumpang lewat imigrasi, kami pun melanjutkan perjalanan ke Penang. Memasuki Malaysia, Van melaju kencang di Jalan Tol yang mulus. Sekitar satu jam kemudian, Penang Bridge terlihat yang berarti kami akan tiba di destinasi tujuan kami.


Membelah Thailand Naik Kereta Api

Rute naik kereta kami di Thailand

Hari itu akhirnya datang juga.

Setelah lima hari di Bangkok, tiba saatnya kami meninggalkan kota ini. Kami mengaku, tidak terlalu mengeksplor kota ini terlalu dalam sehingga kok berat saat akan meninggalkan Bangkok. Semoga ada kesempatan lagi ke Bangkok.

Karena check out pukul 12.00 siang, kami sengaja santai-santai karena kereta api dari Bangkok ke Hat Yai akan berangkat pukul 14.30. Saat check out, kami pun duduk-duduk dulu di communal room hostel yang ada sofa empuknya, lumayan untuk mengulur waktu. Sekitar pukul 13.00 kami pun jalan kaki ke Stasiun Hua Lamphong dengan sinar ditemani sinar matahari Bangkok yang menyengat. Tak lupa juga kami take away makanan, camilan dan minuman di 711 karena kereta ini akan menempuh perjalanan selama 16 jam! Bisa modar kan kalau 16 jam tak ada apa-apa yang masuk ke perut?

Akibat takut kelaparan, kami pun take away masing-masing dua kotak nasi untuk makan malam dan siang, roti, serta camilan-camilan kecil untuk killing time, dan tak lupa juga yang utama adalah air mineral dan minuman manis lainnya. Sampai Stasiun Hua Lamphong pukul 13.30 sehingga kami cukup lama menunggu di ruang tunggu stasiun. Kami pun keliling-keliling stasiun sekaligus muas-muasin ngerokok karena bakalan tidak bisa merokok di dalam gerbong.

Stasiun Hua Lamphong ini lumayan besar dan seperti pusat stasiun keberangkatan kereta ke berbagai penjuru Thailand sehingga rame banget. Interior stasiunnya pun masih seperti bangunan zaman dulu dengan tipe langit-langit tinggi dan lengkungan. Area komersial pun banyak di dalam area stasiun seperti restoran, kafe, ATM sampai bagian lost and found. Tak terasa juga sudah pernah jalan darat dari timur Thailand, ke tengah Thailand, dan sekarang ke selatan Thailand. Sebagai panduan, saya melihat situs www.seat61.com yang isinya mengulas secara lengkap perjalanan kereta api di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Lima belas menit sebelum keberangkatan, saya kencing di toiletnya yang bayar 4 Bath dan kami pun check in. Karena warga negara asing, kami pun diwajibkan menunjukkan paspor untuk dicocokkan dengan nama. Saya pun baru tahu jika sleeper train ini rangkaian gerbong yang paling mahal tarifnya sehingga ada di ujung depan. Rangkaian gerbong pun tidak semuanya sleeper train, melainkan ada juga gerbong kereta kelas ekonomi dengan seat configuration 2-3 dan tanpa AC. Untuk tarifnya yang ekonomi saya kurang tahu karena tidak ditawarkan ke kami saat beli di stasiun.


Begitu masuk, kami pun cukup terkejut karena gerbongnya bersih dan wangi. Saat siang hari konfigurasi kursi adalah hadap-hadapan namun 1-1 alias cuma madep satu orang. Sebelum berangkat seperti biasa, ada pemeriksaan paspor dan tiket oleh petugas. Menandainya pun dengan membolongi karcis dengan alat pembolong tertentu, seperti di Indonesia lah. Dibelakang saya, seorang wanita berambut pirang berbicara dengan aksen bahasa Inggris yang jelas. Intinya, dia menanyakan apakah ada kereta lanjutan dari Hat Yai ke Butterworth. Si petugas pun geleng-geleng.

Karena merasa "senasib", saya pun menyapa dan menanyakan.

"Do you wanna go to Butterworth? We also wanna go there and plan to catch a van from Hat yai! Because i read online there's no connecting train to Butterworth."

"Wow. We can catch a van together because i also read that as you said." katanya.