Sabtu, 19 Desember 2015

Arrived in Bangkok!


Somewhere in Thailand

Sepanjang perjalanan dari  Aranyaprathet, penumpang silih berganti naik turun karena kereta ini berhenti juga di stasiun-stasiun kecil. Foto Raja Thailand, King Bhumibol Adulyadef (King Rama IX) dan Ratu Thailand, Queen Sirikit Kitiyakara banyak sekali terlihat di tempat umum. Ya, rakyat Thailand memang sangat cinta Rajanya. Bahkan saat terjadi krisis politik di Thailand, pengaruh Raja untuk menstabilkan situasi sangat berpengaruh.

Pemandangan sepanjang perjalanan tak ubahnya seperti country side di Indonesia. Tanaman pertanian, desa, sepi penduduk dan lahan yang masih lapang, serta beberapa wilayah dengan rumput dan ilalang yang kering.


Menjelang matahari tenggelam, penumpang yang naik makin banyak, mengingat saat itu Jumat sore, alias weekend. Kereta api yang berlawanan arah dengan kami alias ke arah timur, penuh dengan siswa-siswi berseragam yang sepertinya mudik. Rasanya tidak seperti ke luar negeri, karena "atmosfernya" mirip dengan Indonesia, seperti pergi ke provinsi lain saja.

Enaknya kereta di Thailand, masih ada tukang jualan asongan di dalam kereta. Dari minuman dingin, makanan, sampai buah-buahan. Murah pula! Yang saya perhatikan, orang Thailand terutama kaum wanitanya banyak yang suka nyemil buah-buahan, seperti mangga dan semangka. Pantesan langsing-langsing...

Kami semuanya tidak tidur atau mencoba tidur karena asyik melihat aktivitas warga. Sekitar pukul 19.00, kereta mulai memasuki daerah perkotaan dan keramaian. Pikir kami akan segera tiba karena dijadwalkan tiba di Bangkok pukul 19.30. Padahal kami baru tiba di Stasiun Hua Lamphong pukul 21.00. Telat sejam lebih dari jadwal. Tiba di Stasiun Hua Lamphong, saya langsung antre tiket kereta untuk menuju Butterworth, Penang, Malaysia untuk lima hari kedepan. Dan ternyata habis sampai tanggal 12. Modar!

Tak hilang akal, saya akhirnya pesan sleeper train ke Hat Yai, karena katanya banyak travel alias van yang melayani rute tersebut. Ya sutra lah, tak ada pilihan yang lebih mudah untuk saat ini. Harga karcis sleeper train untuk yang lower berth THB 950 sedangkan yang upper berth THB 850. Kenapa lebih murah yang upper berth? Karena yang upper berth tidak ada jendelanya, udah kayak peti begitu lah saat dibikin kasurnya.  Cukup bersaing tarifnya dengan tiket pesawat karena seminggu sebelum berangkat pas saya browsing harga tiket Bangkok - Hat Yai untuk sekali jalan cuma THB 800an naik Airasia Thailand.

Cabin view Thai 3rd class train

Selesai beli karcis, ami pun berjalan ke hostel kami yang ada di Charengkroen. Saat booking, dijelaskan kalau jalan 800 meter sudah pasti tiba. Dengan pedenya kami ikuti petunjuk di GPS yang sudah saya screenshot saat masih di Kamboja. Sudah sekitar sejam kami jalan kaki, dan seharusnya tidak lebih. Karena mulai menduga kami tersesat, akhirnya kami tanya dua orang remaja Thailand yang sedang ngangkring di motor maticnya. Akibat tidak bisa bahasa Thailand, terpaksa deh kami asal  tunjuk-tunjuk ke alamat hostel yang ada aksara Thailand pada kertas print booking hostel. Ternyata Dua ABG ini pun tidak tahu dan inisiatif buka pakai Google Maps di HP Androidnya. Saat saya lihat, yang ia ketikkan adalah huruf Thailandnya! Katanya kami kelewatan 6 blok (dengan bahasa isyarat). Oke deh, jalan!

Moral of the story: kalau mau tanya-tanya alamat, mending siapkan tulisan huruf Thailand juga karena warga Thailand sepertinya lebih mudah mengerti dalam huruf Thai.

Setelah jalan 10 menit, tibalah kami di hostelnya. 
Teman saya langsung bilang begini:

 "Wah aku wes liat mau pas lewat, tak kiro bukan hostel e kita mergo bentuke koyok kafe!".

Ya, teman saya baru pertama menginap di hostel dan tidak berekspektasi berlebihan. Yaiyalah, cuma Rp 98.000 per orang untuk 8 bed mixed dorm

Begitu check in dan menyerahkan paspor, resepsionisnya yang perempuan muda surprise. 

"Selamat datang, selamat malam!" 

Ternyata mbak resepsionis pernah jalan-jalan ke Bali sehingga bisa sedikit bahasa Indonesia. Securitynya pun jadi ramah banget saat tahu kita dari Indonesia. Saat itu memang di communal room saya tidak melihat satu pun orang Asia, semuanya turis bule-bule ABG yang lagi main kartu sambil teriak-teriak dan minum bir.

Selesai check in kami langsung ngacir ke lantai 3, sudah tak tahan untuk mandi, makan, dan boker. Akhirnya beneran masuk Bangkok saat akun path saya aktifkan keluar tulisan "arrived in Bangkok". Hahaha nggak penting.

Alasan saya memilih hostel ini karena (tidak terlalu) dekat dengan MRT Hua Lamphong dan ada halte bus. Karena alasan kenyamanan dan tingkat kebisingan juga kami tidak menginap di daerah Khaosan Road, tempat yang katanya surga backpacker itu walaupun di Khaosan dekat dengan beberapa objek wisata utama. Saya sih sempat kepikiran untuk mengajak teman-teman menginap di hostel seharga USD 4 per malam, tapi habis baca review-reviewnya yang mengerikan, kami pun ambil amannya saja.

all of my bucketlist!

Selesai mandi, saya dan seorang teman pergi ke 711 untuk beli makanan, air putih, serta Ovaltine. Tak tahu kenapa Ovaltine di Thailand ini enak banget, coklatnya kerasa pula. Selama di Thailand saya pun selalu beli Ovaltine yang tinggal buka keran. Berkali-kali juga saat bayar dan diajak ngomong kasirnya saya bengong karena tidak mudeng.

Lihat saya bingung, si kasir nyeletuk begini:

"Warm?"

"Yes!" jawab saya serta merta.

Oh rupanya dia tadi tanya minta dipanasin atau tidak makanan saya.

Kami pun jalan kaki kembali ke hostel. Cuaca di Bangkok tak berbeda dengan di Siem Reap, panas. Panasnya lembab pula, bikin kemringet. Pak Security hostel pun membuka lawang sambil senyum-senyum dan mengajak saya bicara pake bahasa Thailand. Padahal pas check in tadi resepsionis pun bilang ke security kalau kami dari Indonesia. Sepertinya dia tidak percaya jika saya bukan orang Thailand. 

Keesokan harinya pun Pak Security hostel yang lain mendatangi saya saat lagi merokok di smoking area di hostel, pertanyaannya lagi-lagi beda tipis:

"Thai people or not?"


    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment