Rabu, 02 September 2015

Siem Reap: City of Angkor

angkor wat temple 
Alarm ponsel kami sebenarnya sudah berteriakan sejak pukul 03.30. Tapi karena merasa "belum cukup" recovery kami pun bangun baru pukul 04.00. Kami janjian untuk tour keliling Candi Angkor pukul 05.00 supaya bisa lihat sunrise yang keren. Jam 05.00 tepat kami turun dan Mr.T, sopir tuk tuk Sudah standby di lobby guesthouse.

"Good morning sir, miss!"

"Morning Mister! Come on, we afraid we can't catch the sunrise" balas teman saya.

"Sure, let's go!"

Masuk lah kami ke Tuk tuk. Karena nyawa kami belum pada genap, Mata masih kuyup kuyup. Udara pagi itu di Siem Reap lumayan segar. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, sampailah kami di loket pembelian tiket Angkor Pass.

Ada tiga pilihan paket, sehari, 3 hari dan 7 hari dengan harga tiket bervariasi. Kami membeli one day pass seharga USD 20 untuk turis asing. Ya, biar dikata wajahnya mirip, kami tetap orang asing. Saat di depan loket, saya diarahkan untuk lihat kamera untuk difoto. Keluar lah Angkor pass yang ada wajah kami. Tiket ini tidak boleh hilang karena setiap masuk Candi bakalan dicek petugas. 

Selesai urusan tiket, kami langsung menuju destinasi utama, Angkot Wat. Sebenarnya nama resminya bukan Angkor wat, tapi  Angkor Archaeological Park. Jadi Angkor Wat cuma salah satu dari banyak candi di kompleks Angkor Archaeological Park. Angkor Wat, yang terkenal sebagai tempat hunting foto ini merupakan salah satu candi yang wajib dikunjungi karena top of mind negara Kamboja. Warga Kamboja pun bangga dengan hal ini. Angkor Wat menjadi simbol negara, dari lambang paspor, bendera negara, bahkan sampai Riel, mata uang Kamboja pun ada gambar Angkor Wat.

Setelah diturunkan di depan pintu masuk, kami disajikan danau buatan yang dibelah dengan jalan yang terbuat Dari Batu untuk menuju Angkor Wat. Jalan agak lumayan, Tibalah kami di Angkor Wat, walaupun belum sunrise. Kami agak terlambat karena spot foto yang bagus sudah disesaki orang. Kami pun harus berjejalan untuk ambil spot yang bagus. 

Matahari mulai naik perlahan, dan orang berebut foto dengan berbagai gaya. Rise. Rise rise . klik klik klik. Dengan sigap semua orang berfoto. Satu kata untuk sunrise di Angkor Wat: AMAZING!

Saat matahari Sudah meninggi, kami keliling kompleks Angkor Wat yang gede banget ini dan menyusuri sudut sudut yang bagus.

Sejam kemudian kami memutuskan menyudahi keliling angkor wat. Baru jam 8 sih, tapi panasnya gila gilaan. Sebelum nemuin tuk tuk , kami sarapan dulu dengan roti Dan selai yang sudah kami siapkan sambil duduk lesehan di jalan menuju Angkot Wat yang ketutup pohon sejenis aren.

pintu masuk menuju Angkor Wat
ini dia sunrise di Angkor Wat
Angkor Wat

"Maklum rek, isih cah sekolah yo traveling e rekoso"

"Hahaha".

Kami semua pun tertawa dengan kondisi ini dan menikmati roti selai ini, karena dipikir pikir malah jadi lucu juga. Yap, makan adalah hal yang bisa diakalin saat traveling hemat begini. Tak lupa kami bawa lagi sampah wadah selai kami, untungnya tempat sampah mudah ditemui dipinggir jalan.

Destinasi selanjutnya adalah Bayon Temple, Candi ini dapat saya katakan adalah yang paling utuh diantara 4 Candi yang kami lawati. Candi yang berbentuk wajah manusia ini menjadi favorite saya karena utuh dan banyak relief utuh. Kami pun berkeliling Bayon Temple.

Selesai menyusuri Bayon Temple, kami jalan kaki menuju Elephant terrace. Dinamakan elephant terrace karena candi ini berbentuk seperti teras pelataran namun bagian bawahnya ada bentuk gajah (di main gate) serta ukiran ukiran gajah yang banyak banget.

gate to angkor thom
Bayon Temple
Bayon Temple
Elephant Terrace

Elephant Terrace

Destinasi kami selanjutnya adalah Ta Phrom, candi ini merupakan candi yang terkenal dan jadi candi yang wajib dikunjungi karena pernah jadi scene dalam film Tomb Raider dimana Angelina Jolie kejar kejaran di candi tersebut. Begitu tiba kami ikut sign saja karena ada beberapa bagian candi INI yang sedang dipugar. Terutama candi yang ada akar pohon menempel. Sampai kami di pintu keluar baru sadar kalau candinya harus masuk ke dalam dan bukan lewat pinggir. Sampai says lihat Instagram ternyata bagian candi tersebut masih bisa dimasuki walaupun ada pembatasnya. Duh gobloknya kami.

Ta Phrom Tempe
Ta Phrom Tempe
Ta Phrom. Candi yang terlilit akar pohon yang terkenal itu ada dibalik candi ini.
Di pintu keluar teman saya ditawarin anak kecil buku tentang Angkor Temple. Si anak kasih harga USD 20. Teman saya nawar cuma USD 10 karena katanya kertasnya bagus. Si anak berkelit di harga USD 12 karena ditoko katanya USD 15, Waduh. 

Dengan bahasa jawa saya bilang ke teman "USD 5 wae, ra gelem yo tinggal!"

Si penjual pun lama lama menurunkan harga jadi USD 7. Kami tetap kekeuh USD 5. Akhirnya kami Pun memenangkan tawar menawar ini. Bayangkan Dari USD 20 bisa ditawar sampai deal di USD 5!

Karena Si penjual tidak punya kembalian, dan mau cari kembalian, saya pun koordinasi teman saya untuk keluarkan uang sedolaran, karena takut duitnya dibawa kabur. Terkumpullah USD 5 dan kami bayarkan ke Si Penjual. Maaf bukannya tidak tega, jika berarti dia lepas USD 5, berarti si penjual tetap untung bukan? Karena jika tidak untung, mana mungkin dilepas harga segitu. Hehee #beladiri

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal cuma keliling 4 candi lho. Tidak kebanyang kalau ambil medium atau long trek. Sepanjang jalan pun gersang, cuma ada semak belukar yang tumbuh. Cuaca siang ITU puanas nas nas, kami pun curhat ke Mr.T karena kami yang anak pantura pun tidak kuat dengan panas di Kamboja. Katanya "Because this month is the peak of dry season, Sir."

Woalah, pantesan panasnya nggak nyantai begini. Saat kami minta diturunkan di area pubstreet dan old market si sopir tuk tuk minta tambahan USD 2. Cingcailah...Tiba di old market, kami bayarkan USD 20. USD 2 sebagai tip buat Mr.T yang sabar meladeni bacotan kami sepanjang hari dengan ramah. "Thank you very much!' Katanya happy. Ya biar dikata traveling ala gembel begini, ya tidak ada salahnya berbagi kebahagiaan bukan walaupun kami agak sengsara?halah.

Seperti biasa lah orang Indonesia apa sih yang dicari setelah traveling? Ya oleh oleh lah. Karena sudah dikasih tau resepsionis dan Mr.T kalau harga pasaran kaos itu USD 1.5-USD 2, kami langsung tawar dan jika tidak deal langsung tinggal. Saat saya nemu toko untuk beli kaos untuk kakak2 saya, teman saya nawar kaos gajah dari harga USD 3. 

Setengah mati nawar dan adu bacot, eh teman saya bisa dapat USD 1.5! Begitu tahu cuma USD 1.5 perkaos, 2 teman saya jadi ikutan beli sampai 10 kaos terbeli. Si penjual nyeloroh ke teman "You have good skill for bargaining!" Hahaha...

Pada dasarnya kota Siem Reap sangat touristic, sehingga semua orang bisa bahasa inggris, walaupun agak aneh. Misal kalo penjual bilang "price", keluarnya "prai".

Yang paling lucu adalah saat teman beli pernak pernik dan keychain. Penjualnya bilang
"come here, come.here, cheap sister, i give you special price because we are sisters from Asia." Promosinya.

Saat teman saya nawar "Price for sister is not like that, this is price for sister". Kata teman saya yang tawar-tawaran pakai kalkulator sambil ketawa ketawa. Biar dikata beda bahasa, ternyata sesama warga ASEAN punya selera humor yang mirip, sehingga tas belanjaan teman saya bertambah (lagi).

Karena kelaparan, kami pun cari makan siang itu. Sign paling mudah mencari makanan halal paling gampang adalah lambang halal atau bulan bintang atau paling mudah dekat masjid. Karena bingung kalo tanya masakan halal, saya bilang teman untuk tanya masjid terdekat saja. Saat lewat night market kami diarahkan orang untuk masuk gang sebelah. Supir tuk tuk pun sepertinya ngerti karena saat jalan menyusuri gang ada yang menawarkan antar ke rumah makan halal.

Karena USD 1 bisa buat beli 2 botol gede minum, kami pun eman eman dan lebih baik jalan kaki. Setelah masuk agak dalam, tiba2 ada seorang supir tuk tuk dengan bahasa Melayu menawarkan jasa angkutan ke resto halal. Bahasa yang jarang saya dengar selama dua hari di Kamboja.

"Saya hantar ke restaurant halal tidak perlu bayar!"katanya dengan bahasa Melayu fasih. 

Wih! Pria yang mengenalkan diri sebagai Salim itu ternyata pernah kerja di Malaysia. Woalah pantesan.

Kami diantar ke Restoran Haji Musa yang ternyata sudah dekat dari lokasi kami tersesat.

Akhirnya makan! Sebenarnya harga makanan lumayan mahal sih. Paling murah USD 3.5. Karena hari terakhir di Kamboja, saya nyobain beef look seharga USD 4.75 dan teh tarik ais seharga sedolaran. Suasana di rumah makannya cukup cozy dan adem karena ada sejenis uap2 air yang mengalir otomatis. 

makanan khas kamboja
Drama terjadi lagi disini, saat saya memanggil mbaknya untuk minta asbak, saya bilang saja minta asbak karena dia saat berbincang dengan kami bisa bahasa Melayu. Si mbaknya pun bingung karena saya bilang asbak. "for smoking" sambil saya isyarat bunderan seperti asbak, beberapa detik kemudian teman saya nyeletuk. "Ashtray". Hahaha kami semua pun ketawa  mau minta asbak saja belibet bener. 

Sightseeing sudah, belanja sudah, duit ludes. Balik ke guesthouse karena besok seharian full bakal pergi ke luar negeri lagi!
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment