Rabu, 09 September 2015

Border Crossing: Cambodia Poipet to Thailand Aranyaprathet

Lokomotive kereta Thailand
Jumat pagi itu terasa panas, persis seperti hari sebelumnya di Kamboja. Pagi ini kami berencana meninggalkan Siem Reap untuk menuju Bangkok, Thailand.

Perbatasan Poipet-Aranyaprathet begitu legendaris di wilayah Asia Tenggara, begitulah kesan yang saya dapatkan dari hasil selancar via forum, web, serta blog orang Indonesia maupun blog orang bukan Indonesia. Saking senewennya, saya hanya mencari mengenai scam yang katanya sering terjadi. Bahkan saat saya ketik di YouTube "Poipet Aranyaprathet Border Scam", keluarlah berbagai video traveler ala liputan investigasi, baik pakai kamera terbuka maupun hidden camera. Sepertinya border ini "something" sekali.

Kesimpulannya adalah mengenai Visa. Memang bagi sebagian warga asing, masuk Kamboja masih perlu apply dan bayar visa on arrival (VOA). Lumayan lho, USD 20 biaya VOAnya. Duit segitu sih di Siem Reap bisa buat mabuk-mabukan selama tiga hari karena harga minuman alkohol murah banget. Walaupun bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia, di suatu blog orang Indonesia pernah juga saya baca calo visa tadi memaksanya untuk apply visa. Wuff... Atas alasan tadi juga saya membuat rute dari Siem Reap ke Bangkok demi alasan kepraktisan dan ketersediaan penerbangan budget.

Dengan iming-iming resepsionis hotel yang menawari sewa mobil USD 35, kami memutuskan untuk menyewa mobil menuju perbatasan Poipet, Kamboja karena saat saya tanyakan tiket bus, dia pasang harga USD 9 menuju Poipet yang cuma dua jam itu. Padahal, saya baca di beberapa blog maupun buku Lonely Planet tarif bus ke Poipet tidak lebih dari USD 5. Selesai packing dan bolak balik mengecek kamar jika ada barang ketinggalan, pukul 07.50 tepat kami turun ke resepsionis untuk tanya mana mobil yang kami sewa.

"He's on the way, sir." katanya nyantai.

Entah bagaimana on the way alias otw diartikan karena kami baru dijemput pukul 08.30. Jam karet does exist here. Supirnya seorang pria Khmer dengan buru buru keluar dan minta maaf karena telat. Dia juga membantu kami angkatin ransel ke bagasi mobil. Lumayan deh dapet Camri lawas mobilnya, yang penting ACnya nyala. Saat perjalanan kami mengobrol singkat. Kata Si Sopir bulan juni merupakan puncak musim kemarau, turis pun tidak begitu banyak, rupanya kami datang saat low season.

Pemandangan sepanjang jalan dari Siem Reap ke Poipet begitu menyedihkan. Sawah-sawah kering dan sepanjang jalan cuma debu dan beberapa toko kecil, entah toko apa. Sapi sapi dan hewan ternak lain pun nampak kurus dan kurang bergairah. Beberapa kali (atau malah sering) saya lihat iklan bir lokal yang begitu melegenda di Siem Reap. Dan tak lupa juga plang serta baliho bergambar wajah pejabat setempat dan partainya.Sebagian jalan tidak mulus, saat kami melintas ada beberapa pekerjaan jalan yang belum selesai sehingga saat kami lewat suaranya "sruuuuuk sruuuukkk".

Pemandangan sepanjang jalan dari Siem Reap
Namun jangan salah, mendekati perbatasan mulai ada kehidupan. Truk truk dari Thailand mulai banyak bersliweran dan mulai ramai toko toko dan pasar. Tak terasa 2 jam perjalanan tanpa macet ini selesai, sopir menurunkan kami di bunderan border. Saat saya menanyakan dimana kantor imigrasinya, si supir menunjuk ke arah antrean orang. Seakan tak percaya, kami mendekati bangunan yang amat sangat sederhana, seperti loket apa gitu. Ya tidak salah ini dia kantornya!

Rabu, 02 September 2015

Siem Reap: City of Angkor

angkor wat temple 
Alarm ponsel kami sebenarnya sudah berteriakan sejak pukul 03.30. Tapi karena merasa "belum cukup" recovery kami pun bangun baru pukul 04.00. Kami janjian untuk tour keliling Candi Angkor pukul 05.00 supaya bisa lihat sunrise yang keren. Jam 05.00 tepat kami turun dan Mr.T, sopir tuk tuk Sudah standby di lobby guesthouse.

"Good morning sir, miss!"

"Morning Mister! Come on, we afraid we can't catch the sunrise" balas teman saya.

"Sure, let's go!"

Masuk lah kami ke Tuk tuk. Karena nyawa kami belum pada genap, Mata masih kuyup kuyup. Udara pagi itu di Siem Reap lumayan segar. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, sampailah kami di loket pembelian tiket Angkor Pass.

Ada tiga pilihan paket, sehari, 3 hari dan 7 hari dengan harga tiket bervariasi. Kami membeli one day pass seharga USD 20 untuk turis asing. Ya, biar dikata wajahnya mirip, kami tetap orang asing. Saat di depan loket, saya diarahkan untuk lihat kamera untuk difoto. Keluar lah Angkor pass yang ada wajah kami. Tiket ini tidak boleh hilang karena setiap masuk Candi bakalan dicek petugas. 

Selesai urusan tiket, kami langsung menuju destinasi utama, Angkot Wat. Sebenarnya nama resminya bukan Angkor wat, tapi  Angkor Archaeological Park. Jadi Angkor Wat cuma salah satu dari banyak candi di kompleks Angkor Archaeological Park. Angkor Wat, yang terkenal sebagai tempat hunting foto ini merupakan salah satu candi yang wajib dikunjungi karena top of mind negara Kamboja. Warga Kamboja pun bangga dengan hal ini. Angkor Wat menjadi simbol negara, dari lambang paspor, bendera negara, bahkan sampai Riel, mata uang Kamboja pun ada gambar Angkor Wat.

Setelah diturunkan di depan pintu masuk, kami disajikan danau buatan yang dibelah dengan jalan yang terbuat Dari Batu untuk menuju Angkor Wat. Jalan agak lumayan, Tibalah kami di Angkor Wat, walaupun belum sunrise. Kami agak terlambat karena spot foto yang bagus sudah disesaki orang. Kami pun harus berjejalan untuk ambil spot yang bagus. 

Matahari mulai naik perlahan, dan orang berebut foto dengan berbagai gaya. Rise. Rise rise . klik klik klik. Dengan sigap semua orang berfoto. Satu kata untuk sunrise di Angkor Wat: AMAZING!

Saat matahari Sudah meninggi, kami keliling kompleks Angkor Wat yang gede banget ini dan menyusuri sudut sudut yang bagus.

Sejam kemudian kami memutuskan menyudahi keliling angkor wat. Baru jam 8 sih, tapi panasnya gila gilaan. Sebelum nemuin tuk tuk , kami sarapan dulu dengan roti Dan selai yang sudah kami siapkan sambil duduk lesehan di jalan menuju Angkot Wat yang ketutup pohon sejenis aren.

pintu masuk menuju Angkor Wat
ini dia sunrise di Angkor Wat
Angkor Wat