Jumat, 28 Agustus 2015

Delapan jam di Kuala Lumpur. Ngapain aja?


Tiba di KLIA2, kami berjalan agak cepat supaya tiba di KL Sentral tidak terlalu siang karena kami berencana jalan-jalan dahulu. Agak deg-degan juga mengantre imigrasi, bukan karena saya, namun karena dua orang teman saya yang berpaspor "virgin" alias belum ada capnya sama sekali. Cerita teman saya yang di tanya-tanya saat pergi ke negara ini beberapa bulan yang lalu membuat saya agak jiper. Puji syukur petugasnya tidak banyak bicara dan langsung mencap paspor kami. Custom pun kami lewati dengan lancar dan tanpa hambatan karena memang kami tidak bawa goods to declare.

Kami langsung ngacir ke kaunter KLIA Transit yang ada di area kedatangan untuk beli tiket ke Putra Jaya. Setelah empat kali ke Kuala Lumpur, baru kali ini saya naik kereta bandara KLIA. Bersih dan nyaman, serta dapat tempat duduk yang jelas karena pagi itu masih sepi. Beberapa saat kemudian tibalah kami di Stasiun Putra Jaya. Naik ke lantai atas, kami pun kebingungan dimana sih konter buat beli tiketnya. 

Salah seorang teman saya berjalan duluan karena dia lihat ada sign "Medan Kereta" dan dikira disana kami harus cari tiket.

"Medan kereta iku maksude parkiran mobil ndul!"
 koreksi saya ke teman saya yang langsung ngacir.

"Oalah tak kira persis bahasane!" jawab teman saya polos.

Kami pun tertawa karena mengira kereta dalam bahasa Melayu sama dengan kereta dengan bahasa Indonesia. Masuk lah kami ke antrean orang yang mengantre tiket train alias kereta dalam bahasa Melayu untuk ke KL Sentral. Setalah agak lama menunggu, kereta datang dan melaju ke KL Sentral. Dihitung-hitung saya habis sekitar RM 15an. Tidak murah-murah amat sih, lebih murah naik bus, cuma RM 10. Jika anda punya uang lebih, ingin cepat dan tanpa ribet, bisa naik KLIA Ekspress seharga RM 35 one way. Lebih mahal memang, tapi nyaman.

Setibanya di KL Sentral kami baru sadar kalau perut kami keroncongan dari subuh. Makanlah kami di warung nasi kandar yang ada di dalam area KL Sentral.  Saya pesan nasi briyani yang porsinya mengerikan karena banyak sekali. Saya sampai makan pelan-pelan agar semua makanan masuk. Hehe!

Selesai makan, saya merokok sebentar di area drop off taksi yang ada asbak berdirinya (entah apa istilahnya). Seorang pria dengan gaya parlente seperti orang kantoran meminjam korek saya dan berbasa-basi. Karena saya tidak mengerti dengan bahasa Melayunya, saya hanya jawab "Hah? dan What?". Orang itu langsung menebak saya orang Indonesia dan bertanya sedang apa dan mau ngapain saya di KL. Oalah, ternyata sales lagi nawarin paket-paket di resto toh. Saya jawab santai "No, thanks" karena sudah amat sangat kenyang. Sales ini tak menyerah dan tetap ngomong menawarkan paket sampai rokok saya habis. 

Saya pun menghampiri teman-teman dan kami langsung ke kaunter KTM Komuter untuk beli tiket ke Batu Caves. Untuk yang pertama kali ke Kuala Lumpur, kalian harus tau jika KTM Komuter dan LRT memiliki jalur yang berbeda, kaunter pembelian tiket yang berbeda, serta gate yang berbeda di KL Sentral. Tiket KTM Komuter ini cuma kertas dan di cek manual saat di gate stasiun tujuan. Kami pun memasuki kereta komuter dan kereta bergerak meninggalkan KL Sentral menuju Batu Caves yang merupakan stasiun terakhir dari jalur KTM Komuter Line Port Klang-Batu Caves. Penumpang siang itu tidak terlalu ramai, sehingga pulang pergi kami selalu dapat tempat duduk tanpa berebut.

Sekitar setengah jam, tibalah kami di Batu Caves. Cuaca siang itu tidak jelas, mendung-mendung panas gitu lah. Kami pun menuju Patung Murugan yang jadi icon tempat ini. Mendekati patung, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Waduh! Kami pun ngiup di depan kantor pengurusnya agak lama karena hujan tak berhenti-henti. Saat agak terang (masih hujan tentunya), kami pun nekad foto-foto pakai payung. Apa boleh buat, daripada tidak foto. Hahaha, kelar foto-foto kami pun berlarian menuju stasiun! Agar tidak kelihatan gembel-gembel banget, kami pun men-tiriskan badan dulu biar tidak ngotorin kereta. 


Batu Caves

Tiba di KL Sentral, kami menuju kaunter LRT yang berbeda dengan kaunter KTM Komuter. Beli tiketnya via Vending Machine yang tersedia. Keluarnya seperti token gitu deh, beda dari tiket KTM yang cuma kertas. Token ini dimasukan saat mau masuk gate stasiun awal dan dimasukkan di stasiun ketibaan. Dengan LRT Kelana Jaya Line, kami pergi ke KLCC untuk ke Petronas Tower, landmark utama Kuala Lumpur. Sepertinya jalur LRT ini jalur ramai karena keretanya selalu penuh. Tiba di KLCC, cuaca cerah dan kamin duduk-duduk sebentar menikmati suasana di sini. Selesai nyantai, barulah kami foto-foto di menara kebanggaan kota ini.

Taman di Suria KLCC

twin tower petronas, KLCC Suria

Kelar dari KLCC, kami pergi ke Pasar Seni untuk beli oleh-oleh. Karena saya tidak nyari oleh-oleh, teman saya yang masuk pasar dan saya nongkrong di warung nasi kandar dekat pasar untuk duduk-duduk dan merokok. Selesai teman-teman saya belanja dan makan, kami pun langsung kembali ke bandara naik bus (Aerobus) seharga RM 10. Karena jalanan kosong melompog, kami sudah tiba di KLIA2 pukul 10 malam, padahal berangkat sekitar jam 9 malam lebih. Kami pun bertemu teman kami yang "terpisah" karena saat dia ikut trip, tiket promo yang sama dengan kami sudah habis dan harus mengambil penerbangan lain. Setelah belanja logistik (roti, biskuit, dan air putih botol), kami mencari tempat untuk"ngemper".


Selesai berputar-putar di departure hall, kami akhirnya memutuskan tidur di kursi panjang kotak yang ada dekat pintu kaca. Karena kaki saya nanggung, saya tidur di lantai beralaskan pashmina teman saya. Ditemani jaket, jeans, dan sepatu, kami pun terlelap untuk menunggu penerbangan besok ke Siem Reap. Untuk yang mau bermalam atau menginap di KLIA2 jangan khawatir karena terminal bandara yang baru ini gede banget, dan juga aman karena banyak orang yang tidur di bandara ini, entah datang terlalu malam atau menunggu penerbangan pagi seperti kami. Petugas pun santai dan tidak nanya-nanya. Mungkin sudah jadi hal yang biasa alias umum. 

Entah karena kedinginan atau berisik, saya pun terbangun. Salah satu teman saya sudah repack barangnya karena ia harus duluan ke Siem Reap dengan penerbangan pukul 06.50 akibat tidak kebagian tiket promo yang sama dengan kami. Sejenak kami semua bangun dan mengantarkan ia ke departure hall.
KLIA2 Outdoor Hall
rush hour di KLIA2

Selesai itu, saya dan dua orang teman foto-foto di smoking area yang bisa melihat pesawat-pesawat parkir, mayoritas pesawatnya airasia. Bandara pun mulai ramai dan masuk rush hour sehingga kami langsung saja mencari rest room alias tandas yang ada showernya. Bagi yang kere seperti kami, adanya shower sangat membantu supaya badan bersih dan wangi supaya tidak terlihat gembel-gembel banget. Sekedar informasi, shower (gratis) ini bisa ditemukan di rest room yang ada di sekitar check in area. Favorit saya yang dekat dengan perlepasan domestik karena sepi. Waktu masih menunjukkan pukul 09.30 local time, kami pun memutuskan untuk sarapan di KFC yang ada juga di area check in. Breakfast set pakai nasi lemak, sambal, telor, dan ayam cuma RM 6,3. Lumayan murah untuk ukuran makan di dalam  airport. Untuk minuman sih kami refill di drinking fountain yang ada di bandara sehingga hemat.

Tiba juga waktu check in, karena tidak bawa bagasi kami menuju document check kaunter untuk diperiksa paspor dan boarding pass. Beruntung dapat gate L1 sehingga tidak perlu jalan jauh-jauh. Perlu diketahui, airport KLIA2 ini gede buanget. Siapkan tenaga jika dapat gate P20 karena bakal jalan jauh, belum lagi kalo misal ada pergantian gate. Saya pernah menggunakan penerbangan domestik dari Kuala Lumpur ke Pulau Pinang, di boarding pass tertulis J18, sudah di depan gate nungguin, menjelang boarding, gate dipindahkan ke gate K20!

Sebelum masuk imigrasi, petugas mencegat di departure area untuk periksa boarding pass. Selesai itu kami mengantre imigrasi yang cukup sepi. Selesai finger check, paspor pun di cap. Masuklah kami ke pemeriksaan custom alias bea cukai, lancar jaya. Selesai custom kami pun turun eskalator dan masuk pemeriksaan lagi di bagian "aviation security". Mayoritas barang sitaannya sih saya lihat air mineral, gunting, dan benda-benda forbidden lainnya yang dilarang masuk ke cabin luggage. Korek api saya sendiri tidak disita. Kalau di Changi Airport Singapura, pemeriksaan semacam ini ada di antrean sebelum imigrasi dan pemeriksaan lagi saat memasuki gate.

Penerbangan saat itu delay setengah jam, masih normal lah untuk ukuran delay. Di dalam gate ada orang, entah siapa, sering dimintai foto oleh warga Malaysia, entah artis, penyanyi atau pejabat saya kurang tahu yang jelas ia masuk dulu ke pesawat karena duduk di priority seat. Akhirnya diumumkan juga boarding bagi kursi regular. Kami pun boarding dengan sigapnya karena lumayan ngantuk dan sudah membayangkan empuknya kasur hotel. Boarding berlangsung cepat dan efisien, 20 menit kemudian pesawat pun take off menuju Siem Reap, Kamboja. Pengumuman oleh cabin crew lebih sering pakai bahasa Inggris karena mayoritas penumpangnya turis asing.

Kami sendiri tak punya bayangan seperti apa negara ini dan tidak mau berekspektasi berlebihan. Maksudnya supaya lebih surprised.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment