Jumat, 28 Agustus 2015

Touchdown Siem Reap!


pubstreet, siem reap, kamboja.

"ladies and gentleman shortly we"ll be landing , fasten your seat belt and keep your window seat open...." 
Terbangun lah kami semua untuk prepare landing. Deg-deg-an sekaligus excited karena kami belum pernah pergi ke negara ini sebelumnya. Saya seakan tak percaya saat akan mendarat, seperti tidak ada kehidupan karena menjelang mendarat pemandangan yang terlihat kering, semak belukar dan tanah yang berwarna merah akibat kekeringan. Begitu keluar pesawat benar saja. PANAS!

cambodia immigration card

safely landed. thanks airasia!
Kami pun berjalan langsung menuju arrival hall karena tidak sempat foto-foto akibat dihalau petugas darat airport. Masuklah kami ke antrean imigrasi karena airportnya kecil. Orang asing tidak "terlalu bebas" masuk ke negara ini, karena sebagian besar orang asing masih harus bayar VOA (Visa on Arrival). Beruntunglah bagi warga ASEAN karena bisa berhemat USD 20. Antreannya agak lama , entah karena apa. Sampailah giliran saya, dan paspor serta arrival card saya serahkan. Karena saya dan seorang teman mengantre di line yang sama dan berbincang, petugasnya pun kepo.

"Family?"

"No, friend"jawab saya datar.

Petugas itu pun memberi isyarat teman saya maju juga dan disuruh menyerahkan paspor sehingga teman saya langsung bisa lewat. Lho? Prosedur aneh. Agak lama diproses, keluarlah kalimat unpredictable dari mulut petugas.
"Tip for me?"
Maksud lo? Saya pura-pura budeg dan confirmasi ulang.
"Hah?What?"
"For me...tip" Katanya malu malu.

"What tip?" Jawab saya setengah bentak.
Dengan juteknya dia menyerahkan paspor kami. Saya tak peduli dan langsung melewati custom. Keluar lah kami menginjak negara Kamboja. Di pintu gerbang, jangan kaget jika pintu kedatangan banyak orang nawarin taksi, tuk2, ataupun orang suruhan hotel yang menjemput. Kami pun langsung ngacir ke konter transportasi umum. Ada dua pilihan, naik motor USD 2, taksi USD 7. Tentu kami memilih taksi karena rame-rame, lumayan hemat USD 1. Selesai pesan, kami diarahkan oleh yang jaga konter menuju taksinya. Sopir taksi pun mengisyaratkan masuk kedalam. 

Delapan jam di Kuala Lumpur. Ngapain aja?


Tiba di KLIA2, kami berjalan agak cepat supaya tiba di KL Sentral tidak terlalu siang karena kami berencana jalan-jalan dahulu. Agak deg-degan juga mengantre imigrasi, bukan karena saya, namun karena dua orang teman saya yang berpaspor "virgin" alias belum ada capnya sama sekali. Cerita teman saya yang di tanya-tanya saat pergi ke negara ini beberapa bulan yang lalu membuat saya agak jiper. Puji syukur petugasnya tidak banyak bicara dan langsung mencap paspor kami. Custom pun kami lewati dengan lancar dan tanpa hambatan karena memang kami tidak bawa goods to declare.

Kami langsung ngacir ke kaunter KLIA Transit yang ada di area kedatangan untuk beli tiket ke Putra Jaya. Setelah empat kali ke Kuala Lumpur, baru kali ini saya naik kereta bandara KLIA. Bersih dan nyaman, serta dapat tempat duduk yang jelas karena pagi itu masih sepi. Beberapa saat kemudian tibalah kami di Stasiun Putra Jaya. Naik ke lantai atas, kami pun kebingungan dimana sih konter buat beli tiketnya. 

Salah seorang teman saya berjalan duluan karena dia lihat ada sign "Medan Kereta" dan dikira disana kami harus cari tiket.

"Medan kereta iku maksude parkiran mobil ndul!"
 koreksi saya ke teman saya yang langsung ngacir.

"Oalah tak kira persis bahasane!" jawab teman saya polos.

Kami pun tertawa karena mengira kereta dalam bahasa Melayu sama dengan kereta dengan bahasa Indonesia. Masuk lah kami ke antrean orang yang mengantre tiket train alias kereta dalam bahasa Melayu untuk ke KL Sentral. Setalah agak lama menunggu, kereta datang dan melaju ke KL Sentral. Dihitung-hitung saya habis sekitar RM 15an. Tidak murah-murah amat sih, lebih murah naik bus, cuma RM 10. Jika anda punya uang lebih, ingin cepat dan tanpa ribet, bisa naik KLIA Ekspress seharga RM 35 one way. Lebih mahal memang, tapi nyaman.

Setibanya di KL Sentral kami baru sadar kalau perut kami keroncongan dari subuh. Makanlah kami di warung nasi kandar yang ada di dalam area KL Sentral.  Saya pesan nasi briyani yang porsinya mengerikan karena banyak sekali. Saya sampai makan pelan-pelan agar semua makanan masuk. Hehe!

Selesai makan, saya merokok sebentar di area drop off taksi yang ada asbak berdirinya (entah apa istilahnya). Seorang pria dengan gaya parlente seperti orang kantoran meminjam korek saya dan berbasa-basi. Karena saya tidak mengerti dengan bahasa Melayunya, saya hanya jawab "Hah? dan What?". Orang itu langsung menebak saya orang Indonesia dan bertanya sedang apa dan mau ngapain saya di KL. Oalah, ternyata sales lagi nawarin paket-paket di resto toh. Saya jawab santai "No, thanks" karena sudah amat sangat kenyang. Sales ini tak menyerah dan tetap ngomong menawarkan paket sampai rokok saya habis. 

Saya pun menghampiri teman-teman dan kami langsung ke kaunter KTM Komuter untuk beli tiket ke Batu Caves. Untuk yang pertama kali ke Kuala Lumpur, kalian harus tau jika KTM Komuter dan LRT memiliki jalur yang berbeda, kaunter pembelian tiket yang berbeda, serta gate yang berbeda di KL Sentral. Tiket KTM Komuter ini cuma kertas dan di cek manual saat di gate stasiun tujuan. Kami pun memasuki kereta komuter dan kereta bergerak meninggalkan KL Sentral menuju Batu Caves yang merupakan stasiun terakhir dari jalur KTM Komuter Line Port Klang-Batu Caves. Penumpang siang itu tidak terlalu ramai, sehingga pulang pergi kami selalu dapat tempat duduk tanpa berebut.

Sekitar setengah jam, tibalah kami di Batu Caves. Cuaca siang itu tidak jelas, mendung-mendung panas gitu lah. Kami pun menuju Patung Murugan yang jadi icon tempat ini. Mendekati patung, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Waduh! Kami pun ngiup di depan kantor pengurusnya agak lama karena hujan tak berhenti-henti. Saat agak terang (masih hujan tentunya), kami pun nekad foto-foto pakai payung. Apa boleh buat, daripada tidak foto. Hahaha, kelar foto-foto kami pun berlarian menuju stasiun! Agar tidak kelihatan gembel-gembel banget, kami pun men-tiriskan badan dulu biar tidak ngotorin kereta. 


Batu Caves

Tiba di KL Sentral, kami menuju kaunter LRT yang berbeda dengan kaunter KTM Komuter. Beli tiketnya via Vending Machine yang tersedia. Keluarnya seperti token gitu deh, beda dari tiket KTM yang cuma kertas. Token ini dimasukan saat mau masuk gate stasiun awal dan dimasukkan di stasiun ketibaan. Dengan LRT Kelana Jaya Line, kami pergi ke KLCC untuk ke Petronas Tower, landmark utama Kuala Lumpur. Sepertinya jalur LRT ini jalur ramai karena keretanya selalu penuh. Tiba di KLCC, cuaca cerah dan kamin duduk-duduk sebentar menikmati suasana di sini. Selesai nyantai, barulah kami foto-foto di menara kebanggaan kota ini.

Taman di Suria KLCC

twin tower petronas, KLCC Suria

Kelar dari KLCC, kami pergi ke Pasar Seni untuk beli oleh-oleh. Karena saya tidak nyari oleh-oleh, teman saya yang masuk pasar dan saya nongkrong di warung nasi kandar dekat pasar untuk duduk-duduk dan merokok. Selesai teman-teman saya belanja dan makan, kami pun langsung kembali ke bandara naik bus (Aerobus) seharga RM 10. Karena jalanan kosong melompog, kami sudah tiba di KLIA2 pukul 10 malam, padahal berangkat sekitar jam 9 malam lebih. Kami pun bertemu teman kami yang "terpisah" karena saat dia ikut trip, tiket promo yang sama dengan kami sudah habis dan harus mengambil penerbangan lain. Setelah belanja logistik (roti, biskuit, dan air putih botol), kami mencari tempat untuk"ngemper".