Senin, 06 Juli 2015

Short Escape to Banyuwangi: Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran


Savana Bekol, Taman Nasional Baluran.

Wuih! Akhirnya ngeBlog lagi setelah 6 bulan lenyap dari dunia blogging!

Apa daya, laptop yang saya beli sekitar 5 tahun yang lalu akhirnya tewas didiagnosis kena motherboard-nya. Kalau pas ngerjain skripsi laptop rusak, bisa-bisa saya nangis darah deh. Hehehe. Okay, tanpa banyak bacot, saya mau cerita tentang pengalaman bulan Mei lalu ke Banyuwangi dengan teman-teman saya.

Sudah sejak lama saya ingin pergi ke kawah Ijen dan Baluran, yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari semester pertama kuliah hingga lulus, ajakan-ajakan datang silih berganti dan ujung-ujungnya cuma wacana alias "omong thok". Pada akhir bulan April kemarin, teman-teman mengajak saya pergi ke Ijen dan Baluran untuk keberangkatan long weekend di awal bulan Mei yang lalu. Karena cuma tinggal beberapa hari, saya yakin jika ajakan ini konkret dan saya pun mengiyakan. Malamnya, kami rapat "mini" di kafe di sekitaran Jalan Pandega untuk mendiskusikan tentang perjalanan ini serta langsung booking tiket kereta api Sri Tanjung.

Beberapa hari kemudian, berangkatlah kami ke Banyuwangi dari Jogja naik kereta api Sri Tanjung. Ini adalah kedua kalinya saya naik kereta ini. Kapok sih enggak, tapi lamanya itu lho,14 jam! Karena cuma Rp 100.000 saya sih terima-terima saja dengan kondisi kursinya yang membentuk sudut 90 derajat alias siku-siku. Untungnya kereta ekonomi sekarang sudah pakai AC sehingga nggak usah takut kepanasan. Sing penting tekan!

Daleman Kereta Api Sri Tanjung
Kereta berangkat tepat waktu pukul 07.30 meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju ke arah timur. Ujung timur pulau Jawa tepatnya. Stasiun demi stasiun pun terlewati, pas lihat jam, eh baru pukul 13.30 dan sampai Stasiun Surabaya Gubeng. Karena stasiun besar dan berhenti sekitar 45 menit, kami ke luar dari gerbong untuk foto-foto dan merokok, lumayan lah buat killing time.

Teman saya baru memasang case tongsis untuk kamera GoPronya, dan tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Brushhh. Yak, udan deres!Waduh! Setelah puas foto-foto di plang tulisan "Stasiun Surabaya Gubeng", kami pun masuk kembali ke gerbong kereta yang akan berangkat. Perjalanan ke Banyuwangi ini pun belum ada setengahnya lho, masih di Surabaya pula. Apesnya, kereta melambat di dekat daerah lumpur lapindo dan berjalan sangat pelan karena saat itu rel tergenang air (yang pada akhirnya membuat kereta tiba terlambat sekitar sejam). Daerah dekat semburan lumpur lapindo sepi, terlalu sepi malah. Banyak rumah-rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya entah kemana.

Karena mengantuk dan untuk menyimpan tenaga, saya pun paksa-paksain tidur di kereta entah bagaimanapun caranya. Maklum, kereta ekonomi, kursinya keras dan sudut kemiringan kursinya 90 derajat alias tegak lurus. Karena lelah (dan kenyang), saya bisa tidur sekitar 2 jam sampai kereta sudah tiba di kota Jember. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam dari Yogyakarta, kami tiba di Stasiun Karangasem, yang merupakan pick up point perjalanan kami. Dari beberapa review di beberapa blog, stasiun karangasem memang jadi pick up point bagi traveler yang akan ke kawah ijen. Bule-bule pun banyak yang turun di sini, membuktikan ke-eksisan Stasiun Karangasem. Travel agent dan rental kendaraan pun banyak di depan stasiun yang mungil ini. Sehingga buat yang tidak ada persiapan sebelum berangkat, di tempat ini banyak jasa travel ke tempat-tempat wisata Banyuwangi yang lagi happening.

Yap, kami menggunakan jasa sewa mobil plus pengemudi untuk pengantaran dengan rute Stasiun-Kawah Ijen-Taman Nasional Baluran-Pantai Bama-Stasiun. Karena kami berempat, lumayan murah sih kenanya, tak perlu pusing-pusing pula cari rute dan transportasi. Karena ada miskom, kami baru dijemput sekitar 30 menit dari saat tiba di Stasiun Karangasem. Selanjutnya, kami mencari makan dulu ke pusat kota Banyuwangi. Jarak dari Stasiun Karangasem ke Banyuwangi ternyata lumayan jauh ternyata. Sekilas kota Banyuwangi terlihat rapi dan bersih.

Kuah rawon yang panas di tengah malam memang klop dengan angin malam saat itu. Selesai makan rawon, kami pergi ke pom bensin untuk menyegarkan diri dan ritual harian alias boker. Karena anginnya ora nguati, saya yang berencana mandi pun jadi males dan cuma membersihkan area leher ke atas, serta boker. hehe!
Sekitar pukul 01.00 dini hari, mobil pun melaju ke kawah Ijen, kata Mas Kris, pengemudinya, perjalanan ke ijen selama sejam, jadi lumayanlah buat bobok. Saya pun pindah ke bagian belakang untuk tidur selonjoran karena sudah tidak kuat nahan ngantuk.

Setengah jam setelah tidur, saya terbangun. Ternyata jalan sudah menanjak dan berkelok-kelok, pasir kerikil  yang ketemu ban mobil pun teriak "srruuuuk srruuuuk". Kaca mobil pun mulai berembun sehingga jendela dibuka separo. Jalan menuju basecamp kawah ijen relatif bagus, dan berkelok-kelok tentunya. Ngeri-ngeri sedap lah karena ketambahan penerangan yang minim. Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami tiba di basecamp yang juga area parkir bagi yang akan trekking ke kawah ijen. Begitu keluar mobil, wusshhhh...dingin juga ternyata suhunya. Karena ada lemak berlebih, sebenarnya saat saya pakai kaos oblong, suhunya masih termasuk sejuk bagi saya. Sehingga buat jaga-jaga saya cuma pakai jaket biasa. Kamipun mengantre untuk bayar karcis masuk seharga Rp 7.500 per orang.

Kalau anda tidak suka keramaian, bisa pergi saat hari kerja, karena saat kami kesana pada waktu longweend sehingga ruame buanget. Saya waktu itu mau ke toilet saja antre 20 menit!

Pukul 02.30, jalur pendakian pun dibuka. Kata orang-orang, kalo bule yang trekking paling sejam, namun jika orang lokal bisa sampai dua jam. Track awal masih agak enak karena tidak terlalu miring. Eh sial, baru sekitar 20 menit trekking, saya kelelahan. Istirahat 3 menit, jalan lagi. Sehingga tiap 5 menit jalan, saya istirahat sekitar 1 menit. Saya mengaku, saya bukan anak gunung sehingga "keteteran" pas trekking. Tanpa latihan fisik pula sebelumnya. Halah.

Di saat akan menyerah, saya selalu ingat kata teman saya yang bilang,"Kalo naik gunung jangan bilang capek dan nanya kok ga sampe-sampe! Nanti lama!" Siap komandan!

Sekitar pukul 04.40, kami pun tiba di lereng gunung Ijen. Akhirnyaaaa!!! Kami pun langsung ikut arah orang yang akan melihat fenomena "Blue Fire" di kawah ijen. Namun apa daya, seperti yang sudah kami khawatirkan sebelumnya, Blue Fire tidak terlihat karena kabut tebal menyelimuti (sebelum kami trekking memang hujan). Yah...

Kami pun menunggu pagi dengan tiduran di kemiringan yang banyak batunya dengan ransel kami masing-masing sebagai alas kepala. Pada saat mau merokok, pada hisapan pertama saya merasa aneh. Seperti ada bau sulphur gitu ikut kesedot. Sedotan berikutnya pun sama saja. Saya hidupkan batang yang lain, eh sama saja bau sulphur yang kesedot! Padahal saya lihat orang-orang pada merokok kok nikmat-nikmat saja ya? Sekitar pukul 05.30, sang surya mulai menampakkan diri. Kawah yang berwarna hijau kebiruan itu pun mulai    terlihat. Makin naik matahari, makin terlihat jelas warna kawah yang sangat indah tersebut. Another God Masterpiece...


Ijen Crater, Banyuwangi.
track saat menuruni lereng, yang pada malam hari tidak kelihatan.
Belerang dari Ijen.
Langsung kami ke pinggir kawah untuk foto-foto di kawah yang indah ini. Orang-orang pun ramai bergantian foto di pinggir kawah. Sungguh indah kawah Ijen! Worth it untuk dikunjungi!

Selesai menikmati pemandangan kawah Ijen dan puas foto-foto, kami pun langsung menuruni lereng menuju basecamp karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Sesekali kami berhenti untuk berhenti di pohon yang meranggas serta foto gunung Raung. Pemandangan di sepanjang jalan ternyata juga ciamik. Tiba di basecamp, kami menuju mobil dan langsung ke pusat kota untuk brunch. Karena bingung makan apa, kami pun makan pecel dan nasi campur di salah satu warung. Kelar makan, kami langsung menuju Taman Nasional Baluran yang katanya "Africa van Java". Dari pegunungan yang sejuk, kami pindah ke sabana yang panas dan kering. Perjalanan ke Taman Nasional Baluran dari Banyuwangi melewati track pesisir timur, sehingga sesekali laut kelihatan jelas.

Welcome to Baluran!
Track saat menyusuri Taman Nasional Baluran, vegetasinya masih ijo royo-royo karena musim kemarau belum terjadi.
Taman Nasional Baluran sebenarnya masuk dalam kabupaten Situbondo, namun sebagian orang (termasuk saya) mengiranya ada di Banyuwangi. Selesai bayar tiket masuk, kami menyusuri Taman Nasional Baluran. Karena masih pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau, vegetasi di sepanjang jalan pun terlihat subur dan hijau. Jalan di Baluran berupa kerikil dan sesekali ada aspalnya sih. Sesekali ada burung Elang Jawa lewat, sesekali ada rusa (bukan kawanan rusa) saat kami lewat. Tak lama kemudian, sampailah kami ke Savana Bekol, yang jadi magnet foto-foto para turis (dan juga kami). tidak lupa juga kami foto-foto di depan pohon yang ngehits di Instagram itu.

si pohon single yang ngehits di instagram itu

Gunung Baluran
Kalau ada yang bilang foto di Savana Bekol bagusnya pas musim kemarau, setelah kesana saat rumput masih hijau, dapat saya katakan bahwa Savananya juga indah dikunjungi saat masih musim penghujan. Bedanya, saat musim penghujan savana akan berwarna hijau muda atau hijau kekuningan. Gunung Baluran yang kokoh, menjadi latar belakang yang sempurna.

Selesai foto, kami kembali mobil dan melewati beberapa kumpulan pohon yang meranggas. Saat lewat, eh ada rusa! Jalan dikit, ketemu kumpulan rusa yang lumayan banyak. Namun sepertinya si rusa tidak suka di usik. Saat mobil berhenti dan teman saya keluar untuk memotret, si rusa langsung kabur. Mengarah lah kami ke arah pantai Bama. Pantai Bama bentuknya mirip teluk kecil dengan ombak yang cukup tenang.Karena saat itu sedang ada sekumpulan anak-anak SMP lagi bikin tenda (lagi kemah), kami foto-foto sebentar dan nongkrong di warung makan di dekat pantai Bama.

Savana Bekol dengan latar Gunung Baluran
Ini dia, selesai leyeh-leyeh di warung baru kami merasa kelelahan dan "peliket" akibat tidak mandi selama dua hari. Hehe..kami pun meninggalkan taman nasional Baluran menuju rumah Pak Totok, untuk mandi dan istirahat sebentar. Sekitar sejam kemudian, tibalah kami di rumah Pak Totok yang juga jadi Homestay bagi para turis. Saat saya memasukkan ransel ke dalam rumah, terlihat banyak sekali ransel jejer-jejer yang entah dimana pemiliknya. Pas ngobrol-ngobrol di teras sambil ngeteh dan ngerokok (uh nikmat), benar saja, kata Pak Totok homestaynya sedang penuh-penuhnya. Saya lihat juga anak Pak Totok sedang menyiapkan makanan bagi rombongan-rombongan yang berasal dari beberapa daerah di Gazebo dekat teras homestay. 

Selain menyediakan rentalan mobil, homestay, dan resto, serta jasa keliling tempat wisata di Banyuwangi, beliau juga menyediakan rental kapal seharian ke pulau Menjangan. Dengan hal ini terlihat jika sektor pariwisata dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Puas leyeh-leyeh, sekitar pukul 9 malam kami diantar mas Kris ke Stasiun Banyuwangi Baru, drop off point seperti perjanjian awal. Ternyata perjalanan lumayan jauh, sekitar sejam dengan kecepatan santai. Kami pun meminta diturunkan di Indomaret di seberang stasiun untuk beli logistik, serta makan di warung sate dekat situ. Mandi sudah, makan sudah, saatnya tidur. Yup, kami tidur di emperan stasiun yang sepi karena saat itu sudah pukul 12 malam dan tidak ada kedatangan serta keberangkatan di stasiun ini. Dengan jaket tebal sebagai alas dan ransel yang jadi bantal. Kami langsung terlelap tidur.

Pukul 03.00 dini hari, travel yang sudah saya pesan menuju Denpasar menelepon dan membuat saya terbangun. Saya pun pamitan dengan tiga teman saya dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali sendirian karena ketiga teman saya pada lusa besok kembali masuk kuliah. Hehe!

Catatan :
- Menuju Banyuwangi gampang banget, apalagi jika bawa mobil sendiri.
- Kereta Api dengan tujuan Banyuwangi antara lain Sri Tanjung dari dan ke Yogyakarta, serta  Mutiara Timur dari dan ke Surabaya.
- Sudah ada maskapai yang beroperasi dari dan ke Banyuwangi dari Surabaya, seperti Garuda Indonesia dan Wings Air.

4 komentar:

  1. Mba saya boleh minta no tlp bapak yg tempat mba sewa mobil g? Rencana saya mau trip ksana tp cm b2 sm teman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu di bookingin temen mbak, temen saya nyari via google juga.

      Hapus
  2. boleh tau brp biaya sewa mobilnya?

    BalasHapus

don't forget to leave a comment