Rabu, 08 Juli 2015

Malaysia, Cambodia, and Thailand Trip!


planned trip
Pertengahan tahun ini saya dan tiga teman sekelas pas SMA akhirnya benar-benar jalan. Heran, padahal kalau janjian mau main ke pantai Sundak di Gunung Kidul saja waktunya tak pernah klop. Yap, kali ini kami pergi ke luar negeri, untuk dua orang teman saya memang belum pernah sama sekali ke luar negeri, sehingga ini pengalaman pertamanya.

Cerita berawal dari promo. Iya, promo lagi. Dapatlah tiket Jakarta-Kuala Lumpur PP seharga Rp 450ribuan per orang untuk bulan Juni 2015. Karena lagi miskin, kami tidak sempat beli tiket lanjutan karena tidak mungkin kami 10 hari cuma di Kuala Lumpur saja. Eh, bulan Desember lalu iseng-iseng ngecek ada promo BIG Point yang cuma 13 poin seorang untuk penerbangan ke Siem Reap, Kamboja. Seorang kenanya sekitar Rp 300ribu untuk bayar airport tax, fuel surcharge, serta processing fee. Secara garis besar, rute yang kami ambil adalah sebagi berikut: Yogyakarta-Jakarta-Kuala Lumpur-Siem Reap-Bangkok-Hat Yai-Penang-Kuala Lumpur-Jakarta-Yogyakarta. Ribet ya?

Fast forward aja deh karena prolognya terlalu panjang nantinya. Kami berangkat dengan kereta api Progo seharga Rp 100.000 dari Lempuyangan ke Stasiun Pasar Senen. Siang itu entah kenapa kok puanas banget rasanya. Lha dalah, ternyata hujan! Kereta saat itu meninggalkan Yogyakarta pukul 14.30 dan kami tiba sekitar pukul 14.00 supaya tidak terburu-buru. Kereta Progo siang itu tak terlalu penuh dan perlahan menuju ke arah barat. Saking excited-nya kami ngobrol dan tak terasa sudah malam. Karena tidak nyaman, saya sendiri tak bisa tidur. Teman saya asik kepo lihat pasangan di seberang matanya yang pamer kemesraan, dua orang lagi ketiduran karena gampang capek, saya pun cuma mengopi supaya tak ngantuk karena lebih baik mengemper saja di airport.

Pukul 23.50 tepat, kereta tiba tepat waktu di Stasiun Pasar Senen yang masih saja ramai. Rencananya kami mau mengulur waktu dengan cuci muka dan sikat gigi di stasiun, tapi ternyata toilet baru buka subuh-subuh kata seseorang yang ada dekat toilet. Gila. Tahu begitu tadi kan saya puas-puasin buang air kecil di kereta! Selesai take away makanan dari sevel, taksi pesanan lewat grab-taxi ternyata menunggu kami di area drop off penumpang, padahal kami menunggu di luar stasiun dekat pintu keluar parkir. Karena ada nomor teleponnya, saya langsung hubungi si pengemudi taksi untuk langsung keluar saja.

Kami pun dengan sigap memasukkan ransel-ransel kami ke bagasi belakang dan langsung masuk taksi. Taksi  pun melaju kencang di Tol yang tanpa macet malam itu. Tak sampai sejam, kami memasuki Terminal 3 Soekarno Hatta yang ternyata area drop off nya ditutup. Lho?

Satpam bandara pun bertanya kenapa kami masuk bandara pada pukul 01.00 dini hari. Saat saya jawab karena ada penerbangan pukul 06.00 ke Kuala Lumpur, palang langsung di buka dan kami masuk ke terminal. Malam itu kami mengemper di kursi dekat kedatangan dan ternyata bandara masih lumayan ramai. Banyak pula orang-orang di smoking area yang menunggu jemputan atau menunggu pagi. Karena sudah sangat amat ngantuk, kami tertidur di bangku panjang sampai sekitar pukul 04.30.

CGK T3 at Midnight
Bandara mulai ramai, panggilan-panggilan boarding sudah terdengar sehingga membuat kami terbangun. Ini pertama kalinya saya menginap di bandara Soekarno-Hatta. Pada dasarnya terminal 3 Soekarno Hatta buka 24 jam walaupun antara rentang pukul 01.00-05.00 dini hari tidak ada departure maupun arrival. Kalau takut tiduran di luar, bisa nongkrong di Circle K di dalam gedung terminal yang buka 24 jam. Tak ada hambatan yang berarti walaupun ada security yang mondar-mandir selama 24 jam. Not bad at all.

Asyiknya karena tak pakai bagasi, kami langsung menuju boarding lounge. Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa kita harus verifikasi dokumen dan melewati imigrasi yang pagi itu tidak terlalu rame. Sambil menunggu pesawat, saya merokok di smoking area  yang berbentuk seperti akuarium yang baunya tengik banget itu. Bapak-bapak middle age dari Malaysia dengan wajah India meminjam korek api saya dan bertanya mau kemana saya pagi itu dengan bahasa Melayu yang fasih.

"Ke Cambodia, Pak Cik. Transit di KL dahulu" jawab saya.
"Siem Reap?" tebaknya.  

Wah benar juga tebakan orang ini dan ternyata bapak ini sudah pernah ke Siem Reap serta bercerita sekilas tentang kota yang terkenal dengan Candi Angkor Wat-nya itu. Kami pun bertukar cerita tentang enaknya makanan di Penang. Haha!

Penerbangan pertama seperti biasa selalu on time dan hampir penuh penumpang. Terlihat dari banyaknya penumpang di ruang tunggu pagi itu.  Pukul 06.25 tepat, pesawat yang kami tumpangi terbang ke Kuala Lumpur. Selama dua jam penerbangan ini, kami pun tertidur karena kurang tidur saat di bandara. Cuaca yang bagus saat penerbangan membuat saya baru bangun setelah kaget pesawat mendarat. Tiba lah kami di Kuala Lumpur pagi itu. The adventure's begin!

KLIA2, markasnya Airasia

Senin, 06 Juli 2015

Short Escape to Banyuwangi: Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran


Savana Bekol, Taman Nasional Baluran.

Wuih! Akhirnya ngeBlog lagi setelah 6 bulan lenyap dari dunia blogging!

Apa daya, laptop yang saya beli sekitar 5 tahun yang lalu akhirnya tewas didiagnosis kena motherboard-nya. Kalau pas ngerjain skripsi laptop rusak, bisa-bisa saya nangis darah deh. Hehehe. Okay, tanpa banyak bacot, saya mau cerita tentang pengalaman bulan Mei lalu ke Banyuwangi dengan teman-teman saya.

Sudah sejak lama saya ingin pergi ke kawah Ijen dan Baluran, yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari semester pertama kuliah hingga lulus, ajakan-ajakan datang silih berganti dan ujung-ujungnya cuma wacana alias "omong thok". Pada akhir bulan April kemarin, teman-teman mengajak saya pergi ke Ijen dan Baluran untuk keberangkatan long weekend di awal bulan Mei yang lalu. Karena cuma tinggal beberapa hari, saya yakin jika ajakan ini konkret dan saya pun mengiyakan. Malamnya, kami rapat "mini" di kafe di sekitaran Jalan Pandega untuk mendiskusikan tentang perjalanan ini serta langsung booking tiket kereta api Sri Tanjung.

Beberapa hari kemudian, berangkatlah kami ke Banyuwangi dari Jogja naik kereta api Sri Tanjung. Ini adalah kedua kalinya saya naik kereta ini. Kapok sih enggak, tapi lamanya itu lho,14 jam! Karena cuma Rp 100.000 saya sih terima-terima saja dengan kondisi kursinya yang membentuk sudut 90 derajat alias siku-siku. Untungnya kereta ekonomi sekarang sudah pakai AC sehingga nggak usah takut kepanasan. Sing penting tekan!

Daleman Kereta Api Sri Tanjung
Kereta berangkat tepat waktu pukul 07.30 meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju ke arah timur. Ujung timur pulau Jawa tepatnya. Stasiun demi stasiun pun terlewati, pas lihat jam, eh baru pukul 13.30 dan sampai Stasiun Surabaya Gubeng. Karena stasiun besar dan berhenti sekitar 45 menit, kami ke luar dari gerbong untuk foto-foto dan merokok, lumayan lah buat killing time.

Teman saya baru memasang case tongsis untuk kamera GoPronya, dan tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Brushhh. Yak, udan deres!Waduh! Setelah puas foto-foto di plang tulisan "Stasiun Surabaya Gubeng", kami pun masuk kembali ke gerbong kereta yang akan berangkat. Perjalanan ke Banyuwangi ini pun belum ada setengahnya lho, masih di Surabaya pula. Apesnya, kereta melambat di dekat daerah lumpur lapindo dan berjalan sangat pelan karena saat itu rel tergenang air (yang pada akhirnya membuat kereta tiba terlambat sekitar sejam). Daerah dekat semburan lumpur lapindo sepi, terlalu sepi malah. Banyak rumah-rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya entah kemana.

Karena mengantuk dan untuk menyimpan tenaga, saya pun paksa-paksain tidur di kereta entah bagaimanapun caranya. Maklum, kereta ekonomi, kursinya keras dan sudut kemiringan kursinya 90 derajat alias tegak lurus. Karena lelah (dan kenyang), saya bisa tidur sekitar 2 jam sampai kereta sudah tiba di kota Jember. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam dari Yogyakarta, kami tiba di Stasiun Karangasem, yang merupakan pick up point perjalanan kami. Dari beberapa review di beberapa blog, stasiun karangasem memang jadi pick up point bagi traveler yang akan ke kawah ijen. Bule-bule pun banyak yang turun di sini, membuktikan ke-eksisan Stasiun Karangasem. Travel agent dan rental kendaraan pun banyak di depan stasiun yang mungil ini. Sehingga buat yang tidak ada persiapan sebelum berangkat, di tempat ini banyak jasa travel ke tempat-tempat wisata Banyuwangi yang lagi happening.

Yap, kami menggunakan jasa sewa mobil plus pengemudi untuk pengantaran dengan rute Stasiun-Kawah Ijen-Taman Nasional Baluran-Pantai Bama-Stasiun. Karena kami berempat, lumayan murah sih kenanya, tak perlu pusing-pusing pula cari rute dan transportasi. Karena ada miskom, kami baru dijemput sekitar 30 menit dari saat tiba di Stasiun Karangasem. Selanjutnya, kami mencari makan dulu ke pusat kota Banyuwangi. Jarak dari Stasiun Karangasem ke Banyuwangi ternyata lumayan jauh ternyata. Sekilas kota Banyuwangi terlihat rapi dan bersih.

Kuah rawon yang panas di tengah malam memang klop dengan angin malam saat itu. Selesai makan rawon, kami pergi ke pom bensin untuk menyegarkan diri dan ritual harian alias boker. Karena anginnya ora nguati, saya yang berencana mandi pun jadi males dan cuma membersihkan area leher ke atas, serta boker. hehe!
Sekitar pukul 01.00 dini hari, mobil pun melaju ke kawah Ijen, kata Mas Kris, pengemudinya, perjalanan ke ijen selama sejam, jadi lumayanlah buat bobok. Saya pun pindah ke bagian belakang untuk tidur selonjoran karena sudah tidak kuat nahan ngantuk.

Setengah jam setelah tidur, saya terbangun. Ternyata jalan sudah menanjak dan berkelok-kelok, pasir kerikil  yang ketemu ban mobil pun teriak "srruuuuk srruuuuk". Kaca mobil pun mulai berembun sehingga jendela dibuka separo. Jalan menuju basecamp kawah ijen relatif bagus, dan berkelok-kelok tentunya. Ngeri-ngeri sedap lah karena ketambahan penerangan yang minim. Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami tiba di basecamp yang juga area parkir bagi yang akan trekking ke kawah ijen. Begitu keluar mobil, wusshhhh...dingin juga ternyata suhunya. Karena ada lemak berlebih, sebenarnya saat saya pakai kaos oblong, suhunya masih termasuk sejuk bagi saya. Sehingga buat jaga-jaga saya cuma pakai jaket biasa. Kamipun mengantre untuk bayar karcis masuk seharga Rp 7.500 per orang.

Kalau anda tidak suka keramaian, bisa pergi saat hari kerja, karena saat kami kesana pada waktu longweend sehingga ruame buanget. Saya waktu itu mau ke toilet saja antre 20 menit!

Pukul 02.30, jalur pendakian pun dibuka. Kata orang-orang, kalo bule yang trekking paling sejam, namun jika orang lokal bisa sampai dua jam. Track awal masih agak enak karena tidak terlalu miring. Eh sial, baru sekitar 20 menit trekking, saya kelelahan. Istirahat 3 menit, jalan lagi. Sehingga tiap 5 menit jalan, saya istirahat sekitar 1 menit. Saya mengaku, saya bukan anak gunung sehingga "keteteran" pas trekking. Tanpa latihan fisik pula sebelumnya. Halah.

Di saat akan menyerah, saya selalu ingat kata teman saya yang bilang,"Kalo naik gunung jangan bilang capek dan nanya kok ga sampe-sampe! Nanti lama!" Siap komandan!

Sekitar pukul 04.40, kami pun tiba di lereng gunung Ijen. Akhirnyaaaa!!! Kami pun langsung ikut arah orang yang akan melihat fenomena "Blue Fire" di kawah ijen. Namun apa daya, seperti yang sudah kami khawatirkan sebelumnya, Blue Fire tidak terlihat karena kabut tebal menyelimuti (sebelum kami trekking memang hujan). Yah...

Kami pun menunggu pagi dengan tiduran di kemiringan yang banyak batunya dengan ransel kami masing-masing sebagai alas kepala. Pada saat mau merokok, pada hisapan pertama saya merasa aneh. Seperti ada bau sulphur gitu ikut kesedot. Sedotan berikutnya pun sama saja. Saya hidupkan batang yang lain, eh sama saja bau sulphur yang kesedot! Padahal saya lihat orang-orang pada merokok kok nikmat-nikmat saja ya? Sekitar pukul 05.30, sang surya mulai menampakkan diri. Kawah yang berwarna hijau kebiruan itu pun mulai    terlihat. Makin naik matahari, makin terlihat jelas warna kawah yang sangat indah tersebut. Another God Masterpiece...


Ijen Crater, Banyuwangi.
track saat menuruni lereng, yang pada malam hari tidak kelihatan.
Belerang dari Ijen.
Langsung kami ke pinggir kawah untuk foto-foto di kawah yang indah ini. Orang-orang pun ramai bergantian foto di pinggir kawah. Sungguh indah kawah Ijen! Worth it untuk dikunjungi!