Sabtu, 19 Desember 2015

Last day in Bangkok

Bangkok traffic
Jalan-jalan yang beneran jalan alias kebanyakan jalan kaki memang agak sengsara, apalagi jika naik transportasi umum yang notabene tidak selalu ada di dekat kita pemberhentiannya. Kita Orang Indonesia juga tidak terbiasa menggunakan transportasi umum, apalagi jalan kaki. Tak heran tiap malam kami sudah lelah menjelajah Bangkok dan bangun selalu diatas jam 10.00 siang. Hari ini karena bingung mau ngapain (dan kehabisan uang), kami pun pergi ke mall lagi.

Kali ini kami pergi ke MBK Mall dari hostel kami di daerah Sukhumvit. Di dekat hostel kami ada tourist information centre dan kami di arahkan naik bus nomor sekian menuju MBK Mall. Baru 10 menit jalan, ternyata sudah sampai di depah mall. Loh? Anehnya,tidak ada petugas yang keliling di dalam bus untuk narik karcis. Apa gratis ya? Ini masih menjadi misteri bagi kami berempat.

Karena sudah siang juga, kami pun tidak lama keliling dan mencoba ke food court. Variasi makanan dan harga menurut saya lebih mending di Platinum Mall. Baru disini juga saya makan doang diatas THB 100. Selesai makan kami pun mengatur strategi karena rombongan akan pecah menjadi dua dan juga karena tidak beli SIM Card lokal Thailand. Saya akan mengantar teman saya yang akan terbang pulang ke Indonesia dan dua orang teman belanja dan akan langsung ke hostel terakhir kami. 

MBK Mall, Bangkok.
Berdasar informasi yang saya dapat, sebenarnya ada bus langsung dari MBK ke Don Mueang Airport, namun karena lalu lintas jalanan Bangkok katanya beda tipis dengan Jakarta, kami pun naik BTS ke Mo Chit, stasiun BTS paling ujung utara, dari sana kami keluar menuju shelter bus yang ramai dan saat lihat tulisan "Don Mueang Airport" saya pun mendatangi kondektur bus dan konfirmasi. Agak mahal memang, THB 30 karena bus ini ekspress alias langsung menuju Don Mueang Airport.

Sekitar dua puluh menit kemudian, tibalah kami di Don Mueang Airport. Teman saya pulang ke Indonesia dengan menumpang Scoot dari Bangkok ke Singapura yang tiba di tanggal berikutnya dan melanjutkan penerbangan dari Singapura ke Yogyakarta menggunakan AirAsia. Setelah memastikan jika berada di terminal keberangkatan yang benar, saya pun balik dengan rute bus yang sama, namun dengan rute MRT yang berbeda. Kali ini saya naik MRT dari Mo Chit ke Hua Lamphong, dari ujung ke ujung ceritanya.

Selesai check-in di hostel saya pun menunggu dua orang teman saya di balkon. Sekitar sejam tidak kelihatan juga batang hidungnya, saya pun SMS pakai nomor Indonesia ke dua orang teman saya. Eh saat saya mau masuk ke hostel, dari belakang terdengar cekikikan dan omongan dengan bahasa yang tidak asing. Halah, ternyata teman-teman saya kebablasan pas naik bus sehingga mereka jalan jauh menuju hostel. Hahaha!

Dengan menggunakan komputer hostel, saya pun browsing tentang van dari Hat Yai menuju Penang. Setelah hampir nyerah, karena kebanyakan informasi van dari Penang ke Hat Yai, akhirnya di suatu forum berbahasa Inggris, saya menemukan suatu post mengenai van dari Hat Yai ke Penang yang katanya ada di banyak dekat stasiun. Everything sounds perfectly done!


Scoot Boeing 787 Dreamliner DMK-SIN
Malam itu pun kami packing karena perjalanan di Thailand akan segera diakhiri. Saat teman saya mendarat di Singapura di tengah malam, dia mengirim foto ke grup Whatsapp jika maskapai Scoot yang ia tumpangi ternyata pakai pesawat Boeing 787 Dreamliner pada rute Bangkok-Singapura! Wih!

Explore The City of Bangkok


Keramaian di depan Platinum Mall, Bangkok.
Terus terang sebenarnya saya belum begitu tertarik pergi ke Thailand saat akan trip kali ini. Sampai saat itu tiket lanjutan dari Kuala Lumpur yang murah mengarah ke Siem Reap, sehingga jika tidak mengunjungi Thailand rasanya kurang komplet. Apalagi konektivitas di Thailand ke berbagai negara tetangganya lumayan bagus. Mau pakai jalur darat ke Kamboja, Malaysia, Laos, hingga Myanmar bisa dilakukan. Turis asing yang terbang dari benua lain pun sepertinya banyak yang memulai perjalanan di Thailand. Buku panduan seperti Lonely Planet pun untuk section Asia Tenggara menggunakan Thailand sebagai starting point untuk turis yang berencana keliling ASEAN.

Katanya Thailand surganya backpackers, saya pun mengangguk setuju karena harga apapun di negara ini masih cukup affordable bagi orang Indonesia. Berbagai jenis kegiatan wisata pun tersedia dengan berbagai tingkat budget. Mau wisata dengan luxurious maupun jalan ala gembel terakomodir di negara ini.

Awalnya bila tidak mengunjungi Thailand, kami akan melanjutkan perjalanan ke Vietnam dan terbang ke Singapura dari Ho Chi Minh serta naik bus dari Singapura ke Kuala Lumpur. Terdengar asyik bukan, sih? Namun karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika (saat saya berangkat, 1USD = 13350 IDR) dan Dollar Singapura, kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura di lain waktu.

Hari kedua kami di Thailand jatuh di hari sabtu sehingga pas dengan bukanya Chatucak Weekend Market. Kami pun naik MRT menuju stasiun MRT Kamphong Paet dari Hua Lamphong. Tiketnya lumayan mahal, THB 42. Hampir sama dengan tiket kereta api dari Aranyaprathet ke Bangkok. Sepertinya memang tiket MRT tidak di subsidi karena mahal. Saat masuk ke stasiun, ada petugas wanita yang mengecek isi tas calon penumpang. Ketika masuk platform dan masuk ke dalam gerbongnya, kami cukup terkejut. MRT Bangkok rupanya tidak kalah dengan MRT Singapura maupun MTR Hongkong, bersih, nyaman, dan cepat.

Setelah melewati belasan stasiun, tiba lah kami di Stasiun MRT Kamphong Paet. Hawa keramaian sudah mulai terasa di pintu keluar dan sampailah kami di Pasar Chatuchak yang banyak dibicarakan orang-orang. Entah di section apa kami masuk, karena sudah ramai sekali keadaan pasar ini. Pasar Chatuchak ini jualannya macam-macam. Mulai dari baju, makanan, minuman, tumbuhan, binatang, pernak pernik, boneka, tas dan entah apa lagi ada di pasar ini. Orang-orang pun banyak berjejalan. Dari beberapa percakapan yang terdengar pun banyak Orang Indonesia yang mengunjungi. Teman-teman saya pun berbelanja macam-macam, sedangkan saya belum beli apa-apa akibat tak tahu mau beli apa.

Chatucak Weekend Market

Tibalah kami di distro yang dijejali banyak orang di bagian tengah, eh ternyata lagi ada sale! 100 Bath dapet 2 kaos gede. Lumayan lah dapet 4 kaos cuma 200 Bath, pas ukuran saya pula. Beberapa pedagang pun kadang ada yang bisa bahasa Indonesia. "Sini sini. Murah murah". Teman saya pun mampir dan borong ikat kepala yang dijual seorang ibu tua yang memanggil kami pakai Bahasa Indonesia. Ada sekitar tiga jam kami keliling di Pasar Chatucak. Sepanjang mutar-mutar pasar, rata-rata pedagangnya tidak mau tawar-tawaran sih, sudah fixed price, sehingga saya tidak begitu tertarik berkeliling. Pasar Beringharjo di Yogyakarta lebih unggul dalam hal budaya tawar-menawar, sekalipun anda turis. 

Kalau saya lebih banyak beli jajan dan cemilan. Favorit saya di Pasar Chatucak adalah coconut ice cream. Isinya belahan kelapa yang airnya dikasihin ke kita, terus di batok kelapa yang masih ada dagingnya itu diisi 2 scoop es krim dan toping yang bisa milih. Saran saya pilih lah toping kacang merah dan Nata de Coco, maknyus! Harganya lumayan murah, 35 Bath dan dipenuhi antrean yang 
rata-rata turis.


Maknyus nih Coconut Ice Cream!
Bosan di Pasar Chatucak, kami pergi menuju Pratunam Market, yang dari hasil browsing katanya lebih murah untuk barang tekstilnya dibanding Chatucak. Dari MRT kami transit di Siam untuk menuju BTS Ratchathewi. Ternyata naik BTS dan MRT beda ticketingnya. Kalau naik BTS agak repot, cuma bisa beli tiket pakai koinan sehingga ada konter khusus penukaran koin. Keretanya tidak kalah enak dengan MRT, bedanya, BTS berjalan di "atas" tanah alias melayang.

Turun di BTS Ratchathewi, ternyata jalannya lumayan jauh. Hampir saja kami menyerah dan naik taksi. Tibalah kami di kerumunan ramai orang-orang. Saat kami tanya orang, katanya ini Pratunam Market. Lho? Yang saya baca sih dekat Baiyoke Hotel. Jadi mana dong hotelnya? Saat masuk ke dalam, ada sign menuju Baiyoke tower. Saat kami ikuti malah tidak ada apa apa. Waduh nyasar!
Untuk memastikan lagi saya pun tanya bakul disitu. Katanya memang benar disitu adalah Pratunam Market. Kami pun berkeliling namun tidak beli apa apa karena kurang tertarik. Sebenarnya untuk barang tekstil tertentu harganya lebih murah di Pratunam Market. Pedagang akan memberi potongan harga yang lebih banyak jika membeli dalam partai besar. 

Sejam tidak jelas, kami memutuskan ke Platinum Mall yang ada di seberang Pratunam Market. Misi utama kami ya cari makanan karena sudah luar biasa lapar. Untung harga makanan di foodcourt murah banget. Akhirnya kami makan Sup Tom Yam. Enak banget! Kami pun makan dengan lahap, tapi sayangnya di foodcourt ini tidak bisa merokok. Selesai makan kami berkeliling mall ini. Jualannya rata-rata produk fashion, baik pria maupun wanita. Mungkin karena sudah capek, kami jadi malas berkeliling dan cuma duduk-duduk ngadem.

I got my first tom yum.

Selesai dari Platinum kami langsung balik ke hostel karena sudah Capek sekali. Seperti biasa agar mudah kami naik MRT. Sebelum tiba di stasiun MRT kami sempatkan foto-foto di depan KBRI Bangkok. 

Pengen nyobain naik bus sebenarnya, karena cuma THB 6 sekali jalan untuk yang non AC. Namun karena tidak tahu rutenya kami naik MRT dulu hari itu. Hari pertama di Bangkok cuma kami habiskan buat belanja doang! Ha.

Tidak terasa sudah hari ketiga kami di Bangkok.

Arrived in Bangkok!


Somewhere in Thailand

Sepanjang perjalanan dari  Aranyaprathet, penumpang silih berganti naik turun karena kereta ini berhenti juga di stasiun-stasiun kecil. Foto Raja Thailand, King Bhumibol Adulyadef (King Rama IX) dan Ratu Thailand, Queen Sirikit Kitiyakara banyak sekali terlihat di tempat umum. Ya, rakyat Thailand memang sangat cinta Rajanya. Bahkan saat terjadi krisis politik di Thailand, pengaruh Raja untuk menstabilkan situasi sangat berpengaruh.

Pemandangan sepanjang perjalanan tak ubahnya seperti country side di Indonesia. Tanaman pertanian, desa, sepi penduduk dan lahan yang masih lapang, serta beberapa wilayah dengan rumput dan ilalang yang kering.


Menjelang matahari tenggelam, penumpang yang naik makin banyak, mengingat saat itu Jumat sore, alias weekend. Kereta api yang berlawanan arah dengan kami alias ke arah timur, penuh dengan siswa-siswi berseragam yang sepertinya mudik. Rasanya tidak seperti ke luar negeri, karena "atmosfernya" mirip dengan Indonesia, seperti pergi ke provinsi lain saja.

Enaknya kereta di Thailand, masih ada tukang jualan asongan di dalam kereta. Dari minuman dingin, makanan, sampai buah-buahan. Murah pula! Yang saya perhatikan, orang Thailand terutama kaum wanitanya banyak yang suka nyemil buah-buahan, seperti mangga dan semangka. Pantesan langsing-langsing...

Kami semuanya tidak tidur atau mencoba tidur karena asyik melihat aktivitas warga. Sekitar pukul 19.00, kereta mulai memasuki daerah perkotaan dan keramaian. Pikir kami akan segera tiba karena dijadwalkan tiba di Bangkok pukul 19.30. Padahal kami baru tiba di Stasiun Hua Lamphong pukul 21.00. Telat sejam lebih dari jadwal. Tiba di Stasiun Hua Lamphong, saya langsung antre tiket kereta untuk menuju Butterworth, Penang, Malaysia untuk lima hari kedepan. Dan ternyata habis sampai tanggal 12. Modar!

Rabu, 09 September 2015

Border Crossing: Cambodia Poipet to Thailand Aranyaprathet

Lokomotive kereta Thailand
Jumat pagi itu terasa panas, persis seperti hari sebelumnya di Kamboja. Pagi ini kami berencana meninggalkan Siem Reap untuk menuju Bangkok, Thailand.

Perbatasan Poipet-Aranyaprathet begitu legendaris di wilayah Asia Tenggara, begitulah kesan yang saya dapatkan dari hasil selancar via forum, web, serta blog orang Indonesia maupun blog orang bukan Indonesia. Saking senewennya, saya hanya mencari mengenai scam yang katanya sering terjadi. Bahkan saat saya ketik di YouTube "Poipet Aranyaprathet Border Scam", keluarlah berbagai video traveler ala liputan investigasi, baik pakai kamera terbuka maupun hidden camera. Sepertinya border ini "something" sekali.

Kesimpulannya adalah mengenai Visa. Memang bagi sebagian warga asing, masuk Kamboja masih perlu apply dan bayar visa on arrival (VOA). Lumayan lho, USD 20 biaya VOAnya. Duit segitu sih di Siem Reap bisa buat mabuk-mabukan selama tiga hari karena harga minuman alkohol murah banget. Walaupun bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia, di suatu blog orang Indonesia pernah juga saya baca calo visa tadi memaksanya untuk apply visa. Wuff... Atas alasan tadi juga saya membuat rute dari Siem Reap ke Bangkok demi alasan kepraktisan dan ketersediaan penerbangan budget.

Dengan iming-iming resepsionis hotel yang menawari sewa mobil USD 35, kami memutuskan untuk menyewa mobil menuju perbatasan Poipet, Kamboja karena saat saya tanyakan tiket bus, dia pasang harga USD 9 menuju Poipet yang cuma dua jam itu. Padahal, saya baca di beberapa blog maupun buku Lonely Planet tarif bus ke Poipet tidak lebih dari USD 5. Selesai packing dan bolak balik mengecek kamar jika ada barang ketinggalan, pukul 07.50 tepat kami turun ke resepsionis untuk tanya mana mobil yang kami sewa.

"He's on the way, sir." katanya nyantai.

Entah bagaimana on the way alias otw diartikan karena kami baru dijemput pukul 08.30. Jam karet does exist here. Supirnya seorang pria Khmer dengan buru buru keluar dan minta maaf karena telat. Dia juga membantu kami angkatin ransel ke bagasi mobil. Lumayan deh dapet Camri lawas mobilnya, yang penting ACnya nyala. Saat perjalanan kami mengobrol singkat. Kata Si Sopir bulan juni merupakan puncak musim kemarau, turis pun tidak begitu banyak, rupanya kami datang saat low season.

Pemandangan sepanjang jalan dari Siem Reap ke Poipet begitu menyedihkan. Sawah-sawah kering dan sepanjang jalan cuma debu dan beberapa toko kecil, entah toko apa. Sapi sapi dan hewan ternak lain pun nampak kurus dan kurang bergairah. Beberapa kali (atau malah sering) saya lihat iklan bir lokal yang begitu melegenda di Siem Reap. Dan tak lupa juga plang serta baliho bergambar wajah pejabat setempat dan partainya.Sebagian jalan tidak mulus, saat kami melintas ada beberapa pekerjaan jalan yang belum selesai sehingga saat kami lewat suaranya "sruuuuuk sruuuukkk".

Pemandangan sepanjang jalan dari Siem Reap
Namun jangan salah, mendekati perbatasan mulai ada kehidupan. Truk truk dari Thailand mulai banyak bersliweran dan mulai ramai toko toko dan pasar. Tak terasa 2 jam perjalanan tanpa macet ini selesai, sopir menurunkan kami di bunderan border. Saat saya menanyakan dimana kantor imigrasinya, si supir menunjuk ke arah antrean orang. Seakan tak percaya, kami mendekati bangunan yang amat sangat sederhana, seperti loket apa gitu. Ya tidak salah ini dia kantornya!

Rabu, 02 September 2015

Siem Reap: City of Angkor

angkor wat temple 
Alarm ponsel kami sebenarnya sudah berteriakan sejak pukul 03.30. Tapi karena merasa "belum cukup" recovery kami pun bangun baru pukul 04.00. Kami janjian untuk tour keliling Candi Angkor pukul 05.00 supaya bisa lihat sunrise yang keren. Jam 05.00 tepat kami turun dan Mr.T, sopir tuk tuk Sudah standby di lobby guesthouse.

"Good morning sir, miss!"

"Morning Mister! Come on, we afraid we can't catch the sunrise" balas teman saya.

"Sure, let's go!"

Masuk lah kami ke Tuk tuk. Karena nyawa kami belum pada genap, Mata masih kuyup kuyup. Udara pagi itu di Siem Reap lumayan segar. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, sampailah kami di loket pembelian tiket Angkor Pass.

Ada tiga pilihan paket, sehari, 3 hari dan 7 hari dengan harga tiket bervariasi. Kami membeli one day pass seharga USD 20 untuk turis asing. Ya, biar dikata wajahnya mirip, kami tetap orang asing. Saat di depan loket, saya diarahkan untuk lihat kamera untuk difoto. Keluar lah Angkor pass yang ada wajah kami. Tiket ini tidak boleh hilang karena setiap masuk Candi bakalan dicek petugas. 

Selesai urusan tiket, kami langsung menuju destinasi utama, Angkot Wat. Sebenarnya nama resminya bukan Angkor wat, tapi  Angkor Archaeological Park. Jadi Angkor Wat cuma salah satu dari banyak candi di kompleks Angkor Archaeological Park. Angkor Wat, yang terkenal sebagai tempat hunting foto ini merupakan salah satu candi yang wajib dikunjungi karena top of mind negara Kamboja. Warga Kamboja pun bangga dengan hal ini. Angkor Wat menjadi simbol negara, dari lambang paspor, bendera negara, bahkan sampai Riel, mata uang Kamboja pun ada gambar Angkor Wat.

Setelah diturunkan di depan pintu masuk, kami disajikan danau buatan yang dibelah dengan jalan yang terbuat Dari Batu untuk menuju Angkor Wat. Jalan agak lumayan, Tibalah kami di Angkor Wat, walaupun belum sunrise. Kami agak terlambat karena spot foto yang bagus sudah disesaki orang. Kami pun harus berjejalan untuk ambil spot yang bagus. 

Matahari mulai naik perlahan, dan orang berebut foto dengan berbagai gaya. Rise. Rise rise . klik klik klik. Dengan sigap semua orang berfoto. Satu kata untuk sunrise di Angkor Wat: AMAZING!

Saat matahari Sudah meninggi, kami keliling kompleks Angkor Wat yang gede banget ini dan menyusuri sudut sudut yang bagus.

Sejam kemudian kami memutuskan menyudahi keliling angkor wat. Baru jam 8 sih, tapi panasnya gila gilaan. Sebelum nemuin tuk tuk , kami sarapan dulu dengan roti Dan selai yang sudah kami siapkan sambil duduk lesehan di jalan menuju Angkot Wat yang ketutup pohon sejenis aren.

pintu masuk menuju Angkor Wat
ini dia sunrise di Angkor Wat
Angkor Wat

Jumat, 28 Agustus 2015

Touchdown Siem Reap!


pubstreet, siem reap, kamboja.

"ladies and gentleman shortly we"ll be landing , fasten your seat belt and keep your window seat open...." 
Terbangun lah kami semua untuk prepare landing. Deg-deg-an sekaligus excited karena kami belum pernah pergi ke negara ini sebelumnya. Saya seakan tak percaya saat akan mendarat, seperti tidak ada kehidupan karena menjelang mendarat pemandangan yang terlihat kering, semak belukar dan tanah yang berwarna merah akibat kekeringan. Begitu keluar pesawat benar saja. PANAS!

cambodia immigration card

safely landed. thanks airasia!
Kami pun berjalan langsung menuju arrival hall karena tidak sempat foto-foto akibat dihalau petugas darat airport. Masuklah kami ke antrean imigrasi karena airportnya kecil. Orang asing tidak "terlalu bebas" masuk ke negara ini, karena sebagian besar orang asing masih harus bayar VOA (Visa on Arrival). Beruntunglah bagi warga ASEAN karena bisa berhemat USD 20. Antreannya agak lama , entah karena apa. Sampailah giliran saya, dan paspor serta arrival card saya serahkan. Karena saya dan seorang teman mengantre di line yang sama dan berbincang, petugasnya pun kepo.

"Family?"

"No, friend"jawab saya datar.

Petugas itu pun memberi isyarat teman saya maju juga dan disuruh menyerahkan paspor sehingga teman saya langsung bisa lewat. Lho? Prosedur aneh. Agak lama diproses, keluarlah kalimat unpredictable dari mulut petugas.
"Tip for me?"
Maksud lo? Saya pura-pura budeg dan confirmasi ulang.
"Hah?What?"
"For me...tip" Katanya malu malu.

"What tip?" Jawab saya setengah bentak.
Dengan juteknya dia menyerahkan paspor kami. Saya tak peduli dan langsung melewati custom. Keluar lah kami menginjak negara Kamboja. Di pintu gerbang, jangan kaget jika pintu kedatangan banyak orang nawarin taksi, tuk2, ataupun orang suruhan hotel yang menjemput. Kami pun langsung ngacir ke konter transportasi umum. Ada dua pilihan, naik motor USD 2, taksi USD 7. Tentu kami memilih taksi karena rame-rame, lumayan hemat USD 1. Selesai pesan, kami diarahkan oleh yang jaga konter menuju taksinya. Sopir taksi pun mengisyaratkan masuk kedalam. 

Delapan jam di Kuala Lumpur. Ngapain aja?


Tiba di KLIA2, kami berjalan agak cepat supaya tiba di KL Sentral tidak terlalu siang karena kami berencana jalan-jalan dahulu. Agak deg-degan juga mengantre imigrasi, bukan karena saya, namun karena dua orang teman saya yang berpaspor "virgin" alias belum ada capnya sama sekali. Cerita teman saya yang di tanya-tanya saat pergi ke negara ini beberapa bulan yang lalu membuat saya agak jiper. Puji syukur petugasnya tidak banyak bicara dan langsung mencap paspor kami. Custom pun kami lewati dengan lancar dan tanpa hambatan karena memang kami tidak bawa goods to declare.

Kami langsung ngacir ke kaunter KLIA Transit yang ada di area kedatangan untuk beli tiket ke Putra Jaya. Setelah empat kali ke Kuala Lumpur, baru kali ini saya naik kereta bandara KLIA. Bersih dan nyaman, serta dapat tempat duduk yang jelas karena pagi itu masih sepi. Beberapa saat kemudian tibalah kami di Stasiun Putra Jaya. Naik ke lantai atas, kami pun kebingungan dimana sih konter buat beli tiketnya. 

Salah seorang teman saya berjalan duluan karena dia lihat ada sign "Medan Kereta" dan dikira disana kami harus cari tiket.

"Medan kereta iku maksude parkiran mobil ndul!"
 koreksi saya ke teman saya yang langsung ngacir.

"Oalah tak kira persis bahasane!" jawab teman saya polos.

Kami pun tertawa karena mengira kereta dalam bahasa Melayu sama dengan kereta dengan bahasa Indonesia. Masuk lah kami ke antrean orang yang mengantre tiket train alias kereta dalam bahasa Melayu untuk ke KL Sentral. Setalah agak lama menunggu, kereta datang dan melaju ke KL Sentral. Dihitung-hitung saya habis sekitar RM 15an. Tidak murah-murah amat sih, lebih murah naik bus, cuma RM 10. Jika anda punya uang lebih, ingin cepat dan tanpa ribet, bisa naik KLIA Ekspress seharga RM 35 one way. Lebih mahal memang, tapi nyaman.

Setibanya di KL Sentral kami baru sadar kalau perut kami keroncongan dari subuh. Makanlah kami di warung nasi kandar yang ada di dalam area KL Sentral.  Saya pesan nasi briyani yang porsinya mengerikan karena banyak sekali. Saya sampai makan pelan-pelan agar semua makanan masuk. Hehe!

Selesai makan, saya merokok sebentar di area drop off taksi yang ada asbak berdirinya (entah apa istilahnya). Seorang pria dengan gaya parlente seperti orang kantoran meminjam korek saya dan berbasa-basi. Karena saya tidak mengerti dengan bahasa Melayunya, saya hanya jawab "Hah? dan What?". Orang itu langsung menebak saya orang Indonesia dan bertanya sedang apa dan mau ngapain saya di KL. Oalah, ternyata sales lagi nawarin paket-paket di resto toh. Saya jawab santai "No, thanks" karena sudah amat sangat kenyang. Sales ini tak menyerah dan tetap ngomong menawarkan paket sampai rokok saya habis. 

Saya pun menghampiri teman-teman dan kami langsung ke kaunter KTM Komuter untuk beli tiket ke Batu Caves. Untuk yang pertama kali ke Kuala Lumpur, kalian harus tau jika KTM Komuter dan LRT memiliki jalur yang berbeda, kaunter pembelian tiket yang berbeda, serta gate yang berbeda di KL Sentral. Tiket KTM Komuter ini cuma kertas dan di cek manual saat di gate stasiun tujuan. Kami pun memasuki kereta komuter dan kereta bergerak meninggalkan KL Sentral menuju Batu Caves yang merupakan stasiun terakhir dari jalur KTM Komuter Line Port Klang-Batu Caves. Penumpang siang itu tidak terlalu ramai, sehingga pulang pergi kami selalu dapat tempat duduk tanpa berebut.

Sekitar setengah jam, tibalah kami di Batu Caves. Cuaca siang itu tidak jelas, mendung-mendung panas gitu lah. Kami pun menuju Patung Murugan yang jadi icon tempat ini. Mendekati patung, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Waduh! Kami pun ngiup di depan kantor pengurusnya agak lama karena hujan tak berhenti-henti. Saat agak terang (masih hujan tentunya), kami pun nekad foto-foto pakai payung. Apa boleh buat, daripada tidak foto. Hahaha, kelar foto-foto kami pun berlarian menuju stasiun! Agar tidak kelihatan gembel-gembel banget, kami pun men-tiriskan badan dulu biar tidak ngotorin kereta. 


Batu Caves

Tiba di KL Sentral, kami menuju kaunter LRT yang berbeda dengan kaunter KTM Komuter. Beli tiketnya via Vending Machine yang tersedia. Keluarnya seperti token gitu deh, beda dari tiket KTM yang cuma kertas. Token ini dimasukan saat mau masuk gate stasiun awal dan dimasukkan di stasiun ketibaan. Dengan LRT Kelana Jaya Line, kami pergi ke KLCC untuk ke Petronas Tower, landmark utama Kuala Lumpur. Sepertinya jalur LRT ini jalur ramai karena keretanya selalu penuh. Tiba di KLCC, cuaca cerah dan kamin duduk-duduk sebentar menikmati suasana di sini. Selesai nyantai, barulah kami foto-foto di menara kebanggaan kota ini.

Taman di Suria KLCC

twin tower petronas, KLCC Suria

Kelar dari KLCC, kami pergi ke Pasar Seni untuk beli oleh-oleh. Karena saya tidak nyari oleh-oleh, teman saya yang masuk pasar dan saya nongkrong di warung nasi kandar dekat pasar untuk duduk-duduk dan merokok. Selesai teman-teman saya belanja dan makan, kami pun langsung kembali ke bandara naik bus (Aerobus) seharga RM 10. Karena jalanan kosong melompog, kami sudah tiba di KLIA2 pukul 10 malam, padahal berangkat sekitar jam 9 malam lebih. Kami pun bertemu teman kami yang "terpisah" karena saat dia ikut trip, tiket promo yang sama dengan kami sudah habis dan harus mengambil penerbangan lain. Setelah belanja logistik (roti, biskuit, dan air putih botol), kami mencari tempat untuk"ngemper".

Rabu, 08 Juli 2015

Malaysia, Cambodia, and Thailand Trip!


planned trip
Pertengahan tahun ini saya dan tiga teman sekelas pas SMA akhirnya benar-benar jalan. Heran, padahal kalau janjian mau main ke pantai Sundak di Gunung Kidul saja waktunya tak pernah klop. Yap, kali ini kami pergi ke luar negeri, untuk dua orang teman saya memang belum pernah sama sekali ke luar negeri, sehingga ini pengalaman pertamanya.

Cerita berawal dari promo. Iya, promo lagi. Dapatlah tiket Jakarta-Kuala Lumpur PP seharga Rp 450ribuan per orang untuk bulan Juni 2015. Karena lagi miskin, kami tidak sempat beli tiket lanjutan karena tidak mungkin kami 10 hari cuma di Kuala Lumpur saja. Eh, bulan Desember lalu iseng-iseng ngecek ada promo BIG Point yang cuma 13 poin seorang untuk penerbangan ke Siem Reap, Kamboja. Seorang kenanya sekitar Rp 300ribu untuk bayar airport tax, fuel surcharge, serta processing fee. Secara garis besar, rute yang kami ambil adalah sebagi berikut: Yogyakarta-Jakarta-Kuala Lumpur-Siem Reap-Bangkok-Hat Yai-Penang-Kuala Lumpur-Jakarta-Yogyakarta. Ribet ya?

Fast forward aja deh karena prolognya terlalu panjang nantinya. Kami berangkat dengan kereta api Progo seharga Rp 100.000 dari Lempuyangan ke Stasiun Pasar Senen. Siang itu entah kenapa kok puanas banget rasanya. Lha dalah, ternyata hujan! Kereta saat itu meninggalkan Yogyakarta pukul 14.30 dan kami tiba sekitar pukul 14.00 supaya tidak terburu-buru. Kereta Progo siang itu tak terlalu penuh dan perlahan menuju ke arah barat. Saking excited-nya kami ngobrol dan tak terasa sudah malam. Karena tidak nyaman, saya sendiri tak bisa tidur. Teman saya asik kepo lihat pasangan di seberang matanya yang pamer kemesraan, dua orang lagi ketiduran karena gampang capek, saya pun cuma mengopi supaya tak ngantuk karena lebih baik mengemper saja di airport.

Pukul 23.50 tepat, kereta tiba tepat waktu di Stasiun Pasar Senen yang masih saja ramai. Rencananya kami mau mengulur waktu dengan cuci muka dan sikat gigi di stasiun, tapi ternyata toilet baru buka subuh-subuh kata seseorang yang ada dekat toilet. Gila. Tahu begitu tadi kan saya puas-puasin buang air kecil di kereta! Selesai take away makanan dari sevel, taksi pesanan lewat grab-taxi ternyata menunggu kami di area drop off penumpang, padahal kami menunggu di luar stasiun dekat pintu keluar parkir. Karena ada nomor teleponnya, saya langsung hubungi si pengemudi taksi untuk langsung keluar saja.

Kami pun dengan sigap memasukkan ransel-ransel kami ke bagasi belakang dan langsung masuk taksi. Taksi  pun melaju kencang di Tol yang tanpa macet malam itu. Tak sampai sejam, kami memasuki Terminal 3 Soekarno Hatta yang ternyata area drop off nya ditutup. Lho?

Satpam bandara pun bertanya kenapa kami masuk bandara pada pukul 01.00 dini hari. Saat saya jawab karena ada penerbangan pukul 06.00 ke Kuala Lumpur, palang langsung di buka dan kami masuk ke terminal. Malam itu kami mengemper di kursi dekat kedatangan dan ternyata bandara masih lumayan ramai. Banyak pula orang-orang di smoking area yang menunggu jemputan atau menunggu pagi. Karena sudah sangat amat ngantuk, kami tertidur di bangku panjang sampai sekitar pukul 04.30.

CGK T3 at Midnight
Bandara mulai ramai, panggilan-panggilan boarding sudah terdengar sehingga membuat kami terbangun. Ini pertama kalinya saya menginap di bandara Soekarno-Hatta. Pada dasarnya terminal 3 Soekarno Hatta buka 24 jam walaupun antara rentang pukul 01.00-05.00 dini hari tidak ada departure maupun arrival. Kalau takut tiduran di luar, bisa nongkrong di Circle K di dalam gedung terminal yang buka 24 jam. Tak ada hambatan yang berarti walaupun ada security yang mondar-mandir selama 24 jam. Not bad at all.

Asyiknya karena tak pakai bagasi, kami langsung menuju boarding lounge. Sebelum masuk ke ruang tunggu, seperti biasa kita harus verifikasi dokumen dan melewati imigrasi yang pagi itu tidak terlalu rame. Sambil menunggu pesawat, saya merokok di smoking area  yang berbentuk seperti akuarium yang baunya tengik banget itu. Bapak-bapak middle age dari Malaysia dengan wajah India meminjam korek api saya dan bertanya mau kemana saya pagi itu dengan bahasa Melayu yang fasih.

"Ke Cambodia, Pak Cik. Transit di KL dahulu" jawab saya.
"Siem Reap?" tebaknya.  

Wah benar juga tebakan orang ini dan ternyata bapak ini sudah pernah ke Siem Reap serta bercerita sekilas tentang kota yang terkenal dengan Candi Angkor Wat-nya itu. Kami pun bertukar cerita tentang enaknya makanan di Penang. Haha!

Penerbangan pertama seperti biasa selalu on time dan hampir penuh penumpang. Terlihat dari banyaknya penumpang di ruang tunggu pagi itu.  Pukul 06.25 tepat, pesawat yang kami tumpangi terbang ke Kuala Lumpur. Selama dua jam penerbangan ini, kami pun tertidur karena kurang tidur saat di bandara. Cuaca yang bagus saat penerbangan membuat saya baru bangun setelah kaget pesawat mendarat. Tiba lah kami di Kuala Lumpur pagi itu. The adventure's begin!

KLIA2, markasnya Airasia

Senin, 06 Juli 2015

Short Escape to Banyuwangi: Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran


Savana Bekol, Taman Nasional Baluran.

Wuih! Akhirnya ngeBlog lagi setelah 6 bulan lenyap dari dunia blogging!

Apa daya, laptop yang saya beli sekitar 5 tahun yang lalu akhirnya tewas didiagnosis kena motherboard-nya. Kalau pas ngerjain skripsi laptop rusak, bisa-bisa saya nangis darah deh. Hehehe. Okay, tanpa banyak bacot, saya mau cerita tentang pengalaman bulan Mei lalu ke Banyuwangi dengan teman-teman saya.

Sudah sejak lama saya ingin pergi ke kawah Ijen dan Baluran, yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari semester pertama kuliah hingga lulus, ajakan-ajakan datang silih berganti dan ujung-ujungnya cuma wacana alias "omong thok". Pada akhir bulan April kemarin, teman-teman mengajak saya pergi ke Ijen dan Baluran untuk keberangkatan long weekend di awal bulan Mei yang lalu. Karena cuma tinggal beberapa hari, saya yakin jika ajakan ini konkret dan saya pun mengiyakan. Malamnya, kami rapat "mini" di kafe di sekitaran Jalan Pandega untuk mendiskusikan tentang perjalanan ini serta langsung booking tiket kereta api Sri Tanjung.

Beberapa hari kemudian, berangkatlah kami ke Banyuwangi dari Jogja naik kereta api Sri Tanjung. Ini adalah kedua kalinya saya naik kereta ini. Kapok sih enggak, tapi lamanya itu lho,14 jam! Karena cuma Rp 100.000 saya sih terima-terima saja dengan kondisi kursinya yang membentuk sudut 90 derajat alias siku-siku. Untungnya kereta ekonomi sekarang sudah pakai AC sehingga nggak usah takut kepanasan. Sing penting tekan!

Daleman Kereta Api Sri Tanjung
Kereta berangkat tepat waktu pukul 07.30 meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju ke arah timur. Ujung timur pulau Jawa tepatnya. Stasiun demi stasiun pun terlewati, pas lihat jam, eh baru pukul 13.30 dan sampai Stasiun Surabaya Gubeng. Karena stasiun besar dan berhenti sekitar 45 menit, kami ke luar dari gerbong untuk foto-foto dan merokok, lumayan lah buat killing time.

Teman saya baru memasang case tongsis untuk kamera GoPronya, dan tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Brushhh. Yak, udan deres!Waduh! Setelah puas foto-foto di plang tulisan "Stasiun Surabaya Gubeng", kami pun masuk kembali ke gerbong kereta yang akan berangkat. Perjalanan ke Banyuwangi ini pun belum ada setengahnya lho, masih di Surabaya pula. Apesnya, kereta melambat di dekat daerah lumpur lapindo dan berjalan sangat pelan karena saat itu rel tergenang air (yang pada akhirnya membuat kereta tiba terlambat sekitar sejam). Daerah dekat semburan lumpur lapindo sepi, terlalu sepi malah. Banyak rumah-rumah yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya entah kemana.

Karena mengantuk dan untuk menyimpan tenaga, saya pun paksa-paksain tidur di kereta entah bagaimanapun caranya. Maklum, kereta ekonomi, kursinya keras dan sudut kemiringan kursinya 90 derajat alias tegak lurus. Karena lelah (dan kenyang), saya bisa tidur sekitar 2 jam sampai kereta sudah tiba di kota Jember. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam dari Yogyakarta, kami tiba di Stasiun Karangasem, yang merupakan pick up point perjalanan kami. Dari beberapa review di beberapa blog, stasiun karangasem memang jadi pick up point bagi traveler yang akan ke kawah ijen. Bule-bule pun banyak yang turun di sini, membuktikan ke-eksisan Stasiun Karangasem. Travel agent dan rental kendaraan pun banyak di depan stasiun yang mungil ini. Sehingga buat yang tidak ada persiapan sebelum berangkat, di tempat ini banyak jasa travel ke tempat-tempat wisata Banyuwangi yang lagi happening.

Yap, kami menggunakan jasa sewa mobil plus pengemudi untuk pengantaran dengan rute Stasiun-Kawah Ijen-Taman Nasional Baluran-Pantai Bama-Stasiun. Karena kami berempat, lumayan murah sih kenanya, tak perlu pusing-pusing pula cari rute dan transportasi. Karena ada miskom, kami baru dijemput sekitar 30 menit dari saat tiba di Stasiun Karangasem. Selanjutnya, kami mencari makan dulu ke pusat kota Banyuwangi. Jarak dari Stasiun Karangasem ke Banyuwangi ternyata lumayan jauh ternyata. Sekilas kota Banyuwangi terlihat rapi dan bersih.

Kuah rawon yang panas di tengah malam memang klop dengan angin malam saat itu. Selesai makan rawon, kami pergi ke pom bensin untuk menyegarkan diri dan ritual harian alias boker. Karena anginnya ora nguati, saya yang berencana mandi pun jadi males dan cuma membersihkan area leher ke atas, serta boker. hehe!
Sekitar pukul 01.00 dini hari, mobil pun melaju ke kawah Ijen, kata Mas Kris, pengemudinya, perjalanan ke ijen selama sejam, jadi lumayanlah buat bobok. Saya pun pindah ke bagian belakang untuk tidur selonjoran karena sudah tidak kuat nahan ngantuk.

Setengah jam setelah tidur, saya terbangun. Ternyata jalan sudah menanjak dan berkelok-kelok, pasir kerikil  yang ketemu ban mobil pun teriak "srruuuuk srruuuuk". Kaca mobil pun mulai berembun sehingga jendela dibuka separo. Jalan menuju basecamp kawah ijen relatif bagus, dan berkelok-kelok tentunya. Ngeri-ngeri sedap lah karena ketambahan penerangan yang minim. Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami tiba di basecamp yang juga area parkir bagi yang akan trekking ke kawah ijen. Begitu keluar mobil, wusshhhh...dingin juga ternyata suhunya. Karena ada lemak berlebih, sebenarnya saat saya pakai kaos oblong, suhunya masih termasuk sejuk bagi saya. Sehingga buat jaga-jaga saya cuma pakai jaket biasa. Kamipun mengantre untuk bayar karcis masuk seharga Rp 7.500 per orang.

Kalau anda tidak suka keramaian, bisa pergi saat hari kerja, karena saat kami kesana pada waktu longweend sehingga ruame buanget. Saya waktu itu mau ke toilet saja antre 20 menit!

Pukul 02.30, jalur pendakian pun dibuka. Kata orang-orang, kalo bule yang trekking paling sejam, namun jika orang lokal bisa sampai dua jam. Track awal masih agak enak karena tidak terlalu miring. Eh sial, baru sekitar 20 menit trekking, saya kelelahan. Istirahat 3 menit, jalan lagi. Sehingga tiap 5 menit jalan, saya istirahat sekitar 1 menit. Saya mengaku, saya bukan anak gunung sehingga "keteteran" pas trekking. Tanpa latihan fisik pula sebelumnya. Halah.

Di saat akan menyerah, saya selalu ingat kata teman saya yang bilang,"Kalo naik gunung jangan bilang capek dan nanya kok ga sampe-sampe! Nanti lama!" Siap komandan!

Sekitar pukul 04.40, kami pun tiba di lereng gunung Ijen. Akhirnyaaaa!!! Kami pun langsung ikut arah orang yang akan melihat fenomena "Blue Fire" di kawah ijen. Namun apa daya, seperti yang sudah kami khawatirkan sebelumnya, Blue Fire tidak terlihat karena kabut tebal menyelimuti (sebelum kami trekking memang hujan). Yah...

Kami pun menunggu pagi dengan tiduran di kemiringan yang banyak batunya dengan ransel kami masing-masing sebagai alas kepala. Pada saat mau merokok, pada hisapan pertama saya merasa aneh. Seperti ada bau sulphur gitu ikut kesedot. Sedotan berikutnya pun sama saja. Saya hidupkan batang yang lain, eh sama saja bau sulphur yang kesedot! Padahal saya lihat orang-orang pada merokok kok nikmat-nikmat saja ya? Sekitar pukul 05.30, sang surya mulai menampakkan diri. Kawah yang berwarna hijau kebiruan itu pun mulai    terlihat. Makin naik matahari, makin terlihat jelas warna kawah yang sangat indah tersebut. Another God Masterpiece...


Ijen Crater, Banyuwangi.
track saat menuruni lereng, yang pada malam hari tidak kelihatan.
Belerang dari Ijen.
Langsung kami ke pinggir kawah untuk foto-foto di kawah yang indah ini. Orang-orang pun ramai bergantian foto di pinggir kawah. Sungguh indah kawah Ijen! Worth it untuk dikunjungi!