Minggu, 23 November 2014

Flying with Indonesian Airline


Masih teringat sekitar dua tahun yang lalu, saya baru pertama kali naik pesawat. Kalau orang tua saya adalah yang paling sering, apalagi jika ada acara keluarga di kampung halaman. Diantara orang serumah, Papa saya yang paling sering naik pesawat waktu belum pensiun, apalagi kalau bukan bussiness trip. Maskapainya pun bebas milih dan tinggal di re-imburse ke kantor.

Sampai saat ini ( 2 tahun lebih) berlalu, tercatat di flight log, saya sudah 50 kali terbang dengan pesawat. Mayoritas naik LCC (low cost carrier), maklum lah, mahasiswa gitu loh. Namun hingga saat ini saya tidak pernah kecewa dengan semua penerbangan yang saya lakukan. Kalo kena delayed pun paling banter satu jam. Berikut beberapa pengalaman dengan maskapai-maskapai nasiona:

1. Garuda Indonesia

Pada tahun 2012 saya dapat promo early bird ke beberapa destinasi seperti Semarang, Yogyakarta, dan Bali dengan harga tidak sampai 300ribu rupiah sekali terbang. Maklum mahasiswa, doyan yang murah, apalagi promo. Pelayanannya pun bagus, pramugari ramah, dan tidak usah sangu makanan ke pesawat karena nanti akan dibagikan pramugari. Surat kabar juga tinggal ngambil. Kalo bete ada juga IFE (In flight Entertainment) di tiap kursi.

Saya sebenarnya jarang naik Garuda Indonesia, namun apabila bepergian pada peak season atau tanggal-tanggal kecepit kok kadang lebih murah sedikit atau cuma selisih beberapa puluh ribu daripada naik budget airlines.

Yang saya salut dari Garuda Indonesia adalah ada drink service walaupun untuk penerbangan jarak pendek selain pembagian kotak snack. Saya ingat selesai dari Medan-Jakarta, dari Jakarta ke Yogyakarta saya naik penerbangan Garuda Indonesia yang terakhir yang perkiraan waktu tibanya mepet sekali dengan jam tutup bandara Adi Sucipto. Di Soekarno-Hatta, boarding tepat waktu, namun karena kepadatan lalu lintas udara di langit Soekarno Hatta, pesawat "ngetem" hingga 40 menit menunggu antrean take off. Sekitar pukul 20.30 kurang pesawat baru lepas landas. Pramugari pun nampak tergesa-gesa membagikan snack box dan drink service. Benar saja, penerbangan Jakarta-Yogyakarta saat itu cuma 40 menit tok. Waktu pilot memberi pengumuman akan landing, para pramugari sampai terburu-buru (karena pakai kebaya) untuk mengambil sampah kotak snack dan gelas di kursi-kursi penumpang.

boarding pass Garuda Indonesia dari waktu ke waktu, sampai gabung dengan Skyteam (paling atas)
 Beberapa kali juga saya naik Garuda Indonesia ( seringnya Jakarta-Yogyakarta) karena percaya atau tidak,  kadang di waktu tertentu harga tiketnya hampir sama atau lebih murah daripada maskapai budget. Dari situ, kalau mau pergi atau disuruh keluarga cari tiket pesawat, saya menyempatkan ngecek tiket Garuda, siapa tau lebih murah atau harganya sama.

2. Merpati Nusantara Airlines

pertama dan terakhir kali naik Merpati Nusantara
Maskapai milik negara yang sudah almarhum di awal tahun 2014 ini meninggalkan memori tersendiri bagi saya. Karena apa? Karena dengan merpati saya akhirnya bisa naik pesawat propeller alias baling-baling yang isi seatnya tidak sampai 100 kursi. Waktu itu pun mendadak juga naiknya, waktu lagi chatting dengan teman SMA di facebook, saya dikasih link kalau merpati ada promo murah ke semua tujuan karena Merpati Ulang Tahun ke 50 kalau tidak salah. Ribetnya, tidak bisa beli online seperti Airasia, namun kudu beli di kantor merpati Jogja yang ada di sebelah barat Tugu Yogyakarta. Dapat lah saya tiket Yogyakarta-Bandung dengan harga 132ribu untuk 2 orang, harga mahasiswa banget!

Keberangkatan saat itu delayed sejam lebih, pesawat belum nampak di apron bandara. Dengan total 1,5 jam keterlambatan, barulah kami boarding, dari yang harusnya berangkat pukul 14.30, eh baru berangkat jam 16.00 sore. Keluar dari gate, terdengarlah suara bising baling-baling pesawat. Masuk ke pesawatnya pun dari pintu belakang (dan karena memang cuma 1 pintunya). Dari safety card, barulah saya tahu kalau pesawatnya Xian MA60 buatan China. Penumpang saat itu full load. Tiba lah saatnya take off, pesawat mulai naik dan naik, namun kadang sesekali terasa menurun saat terhempas awan. Wih!

Saat pesawat sudah mulai stabil, pramugari membagikan snack box berisi satu roti plus air mineral 240ml. Lumayanlah daripada tidak sama sekali. Iseng-iseng lihat kantong kursi, ternyata mereka jualan merchandise merpati juga. Waktu itu saya lihat ada penumpang beli boneka beruang pilot.

Karena pesawat baling-baling, ketinggian jelajahnya pun tidak tinggi-tinggi amat, sehingga pemandangan rumah-rumah penduduk kadang masih kelihatan (kecuali kalo ketutupan awan lho).Penerbangan Yogyakarta-Bandung sendiri cukup singkat, sekitar 40 menit. Ini lah saat paling mendebarkan: landing. Pesawat pun berancang-ancang sambil memutar arah sambil naik turun ke arah bandara. Terasa sekali suara mesin mulai melemah, dan juga putaran baling-balingnya. Mendekat, mendekat, mendekat, brusshhh. Hentakan pesawat saat landing pun sangat terasa di kaki. Pesawat berusaha mengerem dan akhirnya dapat berhenti dengan sempurna. Fiuh..

Sambil antre keluar pesawat, di depan saya ada seorang ibu-ibu yang meng-bbm anaknya. Karena ibu itu ngangkat hpnya ketinggian, kelihatan juga dong dia ngetik apa. Sebenarnya saya tidak mau kepo, namun karena kelihatan, tanggung juga kalo tidak dibaca. Isinya begini: "Mama sdh smpe di bdg. td landingya mendebarkan sekali."

Wah sama donk bu, saya juga deg-degan!


3. Citilink

Eh baru tau saya kalo Citilink ternyata sudah ada sejak tahun 2003. Namun baru populer saat sering menggelar promo. Dulu saya pernah dengar maskapai yang namanya Citilink pas ada teman dapat promo Rp 70.000 kalau tidak salah ke semua tujuan. Apalagi setelah spin off dari ibunya, Garuda Indonesia, Citilink makin ekspansif dengan rute beragam. Kode penerbangannya pun sudah jadi QG, dari yang sebelumnya GA.  Pertama saya naik Citilink adalah awal tahun 2013, dari Jakarta ke Batam, mau main-main ke Batam. Tiketnya pun murah, cuma Rp 350.000an sekali jalan. Memang kesan pertama selalu membekas. Karena nebeng ke bandara dengan saudara, saya pun mau tidak mau harus ikut walaupun jamnya agak lama selisihnya.

Penerbangan pukul 12 siang, namun saya sudah di bandara pukul 7 pagi. Ngetem lah saya di airport Soekarno Hatta. Makan udah, ngopi udah, berputar dengan shuttle bus antar terminal gratisan bandara Soekarno-Hatta juga sudah. Pukul 10 saya di sms Citilink kalau penerbangan mundur sejam menjadi pukul 13.00. Duh! Saya pun cuma tidur-tiduran di tangga yang ada di Terminal 1C sampe waktu check in dibuka. Selesai check in dan drop bagasi, saya langsung cabut ke gate. Surprised, di gate ternyata dapat air mineral 330 ml plus sebuah Roti Boy sebagai kompensasi keterlambatan. Wah lumayan banget daripada bengong sambil ngoceh gara-gara nunggu lama.

Ctilink boarding pass SUB-LOP
Pesawatnya hampir semuanya Airbus A320-200. Konfigurasi kursi dan kabinnya pun mirip AirAsia. Pramugari pun membawa kereta dorong dan berjualan makanan, minuman, serta merchandise khas citilink. Kalau mau beli, tinggal bilang saja ke pramugarinya. Walaupun LCC, Citilink memberi bagasi gratis sebesar 15kg, dari yang sebelumnya 20kg. Mayanlah.

Awal tahun 2014 juga saya sering terbang naik Citilink, apalagi kalau bukan karena promonya yang 55ribu sekali jalan ke semua tujuan. Wih! Akhirnya saya pun bisa ke Pulau Lombok dengan Citilink dengan tiket 110.000 pergi pulang. Mantap!


4. Lion Air

Lion Air PK-LHV
 Maskapai budget penguasa langit Indonesia dengan khas warna merah pada tulisan LION dan gambar singa terbang. Rute-rutenya pun bukan hanya rute populer, namun juga rute-rute perintis (Wings Air), dan juga tak ketinggalan ada rute luar negeri ke Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh, dan lain-lain. Naik Lion Air sering jadi pilihan saya kalau berangkat mendadak pada hari H karena harga tiketnya murah. Sehingga dari segi harga dan timing kebutuhan, Lion Air jadi salah satu favorit saya.

Pesawatnya pun baru-baru dan masih terawat. Awak kabin juga kadang keliling jualan merchandise ataupun makanan dan minuman. Asyiknya juga kalau naik Lion Air dapat bagasi 15kg (dari yang tadinya dapat 20kg) dan bebas milih seat tanpa bayar, tinggal request ke petugas saat kalian check in. Sering banget saya dapat emergency exit, leg-room-nya lega banget dan kaki bisa sambil selonjoran. Pramugari Lion Air rata-rata masih muda lho (berdasarkan pengamatan selama ini).

Untuk rute ke luar negeri saya sekali pernah mencoba, dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Layanannya mirip-mirip dengan rute domestik. Kalau soal delayed, saya tidak pernah mengalami yang sampai lama banget. Beberapa kali saya kena telat 30-60 menit saja, masih wajar untuk operasional penerbangan dengan rute ramai dan prime time seperti Jakarta ke Semarang, Surabaya, Medan, ataupun Yogyakarta. Sejauh ini saya puas naik Lion Air.