Rabu, 17 September 2014

Short Trip to Penang (2)


Setelah perjalanan panjang dari Jogja, akhirnya tibalah kami di Pulau Pinang yang bandaranya ada di Bayan Lepas. Turun dari garbarata, ternyata belum langsung ke area kedatangan melainkan merupakan gate pesawat tujuan kembali ke Kuala Lumpur. Melihat ada surau, teman-teman memutuskan untuk sholat dahulu. Untungnya tak jauh dari surau ada smoking room, langsung deh saya ngacir kesana buat ngerokok.

Kami pun menuju ke area kedatangan untuk mencari peta wisata dan rute bus. Transportasi utama di Penang adalah Bus Rapid Penang yang punya jalur mengelilingi Pulau Pinang dan daerah seberang (Butterworth). Konter Informasi Wisata ada sebelum pintu keluar bandara dan saat tanya-tanya petugasnya tentang bus apa yang harus kami naiki ke daerah penginapan, petugasnya sangat informatif dengan aksen bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Begitu selesai bertanya, kami membaca-baca dulu peta dan mencari apa ada obyek wisata sebelum menuju hostel. Jangan kaget kalau banyak yang menawar-nawarkan taksi atau tumpangan mobil. Beberapa pria tua yang kelihatan seperti menunggu seseorang, pas melihat kami dengan muka-muka kebingungan eh malah nawarin taksi (teksi). "avanza? avanza?", ujar laki-laki tua bercelana pendek yang daritadi melihat tingkah kami. 

Penampakan Bus Rapid Penang
Naik bus di Penang sangat mudah, apabila nomor bus yang ada tujuan kita tiba, kemudian bilang ke supirnya mau kemana, lalu supir akan memberi tiket dan bilang berapa tarifnya yang kita masukkan sendiri ke kotak besi di samping supir, baru lah diberi tiketnya. Jika uang anda tidak pas, harus siap-siap merelakan kembaliannya karena tidak ada kembalian. Uang langsung anda masukkan ke kotak besinya sehingga solusinya harus punya banyak koinan. Tapi tarif bus rata-rata murah kok, hanya berkisar RM 1 – RM 3.


di George Town, banyak petunjuk ke situs terdekat

wisma MTT, dekat jetty

Hostel kami berada di Love Lane Street yang ternyata punya jalan utama  Lebuh Chulia, George Town. Tiba di Jetty Terminal, kami memutuskan berjalan kaki menuju Love Lane karena relatif dekat. Sambil jalan, kami mencari makan siang dan berakhir di Restoran Khas India. Makan siang kali ini adalah Nasi Kandar  yang porsi standarnya saja sudah sangat mengenyangkan pake lauk telur dadar. Ada kejadian lucu saat disini, saat selesai makan, kedua teman saya memutuskan untuk sholat dan mencari masjid terdekat.

Waktu saya sedang mainan tablet dan merokok sendirian, tiba-tiba ada pengemis wanita yang usianya sekitaran 40-50 tahunan minta duit ke saya. Karena koinan sangat berguna untuk naik bus dan juga sayang memberi uang kertas, saya pun menolak untuk memberikan. Pas saya tolak, eh ibu pengemis tadi nunjuk-nunjuk bungkus rokok saya yang tergeletak di meja makan, oalah dia minta rokok toh, ya udah akhirnya saya berikanlah sebatang Sampoerna A Mild saya ke orang itu dan dia langsung cabut. Begitu ke kasir, saya lihat rokok-rokok yang dijual, harga rata-rata rokok ternyata RM 12 alias Rp 40.000an. Pantasan pengemis tadi minta rokok, ternyata harga rokok di Malaysia mahal.  Malam hari pas jalan-jalan cari makan di Lebuh Chulia, ketemu lagi sama pengemis yang tadi.

Street art yang banyak menghiasi Georgetown

jalan di depan hostel

Jalan-jalan di Penang bagaikan berada di zaman abad ke 19 karena bangunan-bangunan bersejarahnya, itu kata seorang wisatawan dari Inggris yang semeja dengan kami saat makan di Lebuh Chulia. Semua bangunan tampak terawat serta dimanfaatkan dan terlihat kontras dengan modernitas jalanan yang di penuhi mobil-mobil. Selain bangunan-bangunan pemerintahan dan rumah ibadah, rumah-rumah penduduk dan daerah pertokoan pun masih mempertahankan bentuk aslinya serta dipercantik dengan pengecatan. Wih! Hostel kami pun ternyata menempati bangunan tua yang dalamnya sudah direnovasi ala modern. Selesai check in, kami semua malah ketiduran. Haha!

Pasar kaget di lahan kosong dekat jalan lebuh armenian
Pukul 7 malam di Georgetown masih terang, kami pun jalan-jalan mengelilingi George Town sambil foto-foto kalau ada objek menarik. Jalan sebentar, ada Masjid Kapitan Keling yang merupakan Masjid tertua di Penang. Kami pun mampir sebentar untuk foto-foto di depan Masjid. Selesai dari Masjid Kapitan Keling, jalan sebentar, kami tiba di Masjid Melayu Lebuh Acheh. Puas lihat-lihat, kami pun jalan lagi cari makan (yes, kebanyakan jalan kaki jadi cepat lapar). Di suatu jalan pas kami mencari makan ternyata lagi ada pasar kaget. Jualannya sih macam-macam, ada alat elektronik bekas, pembersih wajah, sepatu bekas, baju bekas, sampai jualan cokelat. Pasar ini ramai dikunjungi oleh orang-orang lokal dan karena tidak ada barang yang membuat tertarik, kami pun lantas cari makan lagi. Sampai jalan Lebuh Armenian, ada restoran berAC yang membuat kami kok tiba-tiba pengen masuk karena ada gambar makanan di pajang di depan. 

Teman-teman pada makan nasi lemak plus ayam, saya sih waktu itu pesen Penang Curry Noodle. Porsinya gede dan mengenyangkan, namun rasanya kurang sedikit gurih. Makan Curry sama Es Kopi habis sekitar RM 11, entah mahal atau murah. Karena kekenyangan, kami menunggu bus gratisan hop on free yang haltenya ada di seberang restoran ini. Berdasarkan informasi, bus gratisan keliling George Town ini ada sampai tengah malam, namun kami menunggu hampir 30 menit kok bus tidak nampak. Ya udah, akhirnya kami jalan kaki saja menuju hostel. 

gedung George Town World Herritage Inc.

halte bus gratis di lebuh carnavon

Kami pun penasaran dengan kehidupan malam di Penang. Selesai istirahat di hostel kami pun jalan-jalan ke daerah pantai, tepatnya pantai dekat Mahkamah Tinggi. Bukan pantai berpasir seperti pantai Kuta begitu sih, melainkan pinggiran laut yang sudah di beton dan ada foodcourt serta taman dan juga area permainan anak. Saya sendiri lupa apa nama tempat ini, yang jelas ramai sekali di malam hari. Selain ada foodcourt, ada juga yang jualan mainan anak, minuman karton, air mineral, rokok, sampai gantungan-gantungan kunci untuk oleh-oleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment