Selasa, 19 Agustus 2014

Ribetnya Perjalanan ke Pulau Pinang

lalu lalang manusia di Terminal 2E CGK

Ribet disini bukan ribet secara umum dimana Penang (Georgetown) atau Pulau Pinang yang notabene barada di bagian utara Malaysia sulit diakses, melainkan ribet diakses dengan cara hemat dengan kondisi peak season. Karena suatu hal, diawal bulan Juli saat sedang ngopi dengan teman-teman terlintas untuk pergi ke Penang karena katanya murah. Diputuskan juga saat itu jika tidak usah ngincer promo gila-gilaan (yang biasanya jarak booking dan berangkat kayak proses kehamilan sampai melahirkan) harga tiketnya karena memang jadwal kami yang sudah sulit diprediksi. Awal bulan Agustus menjadi pilihan kami untuk menuju Penang. Cek dan ricek tiket Yogya-Kuala Lumpur harganya sudah tidak manusiawi. Alternatif dari Jakarta menuju Kuala Lumpur kami ambil karena harga tiketnya Cuma Rp 350.000 one way naik Lion Air.

Karena berangkat dari Jakarta, pulangnya kami ngecek dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta dan harganya juga nggak enak banget. Kebetulan Airasia lagi buka rute Johor Bahru-Yogyakarta dengan harga promo standart, RM 168 perorang atau sekitaran Rp 630.000 dengan kurs saat itu. Dikejar waktu dan takut harga tiket naik, kami akhirnya membooking tiket tersebut. Kemudian bagaimana menuju Penang? Berkaca dari pengalaman ke Malaysia dulu, transportasi bus antar kotanya yang lumayan enak dan teratur membuat kami santai saja. Untuk menghemat pengeluaran, rencana awal kami adalah naik sleeper train dari Butterworth (Penang) ke Kuala Lumpur dan dari Kuala Lumpur ke Johor Bahru. 

Rencana tampak sempurna sampai pada akhir bulan Juli saya baru sadar kalau kami belum punya tiket dari Yogya ke Jakarta. Opsi menggunakan pesawat sudah tidak mungkin karena saat itu peak season Lebaran sehingga semua maskapai pakai harga batas atas yang sudah pasti tidak ramah kantong mahasiswa. Tak habis akal, saya ngecek tiket kereta. Serasa digampar, semua tiket habis. Tiket kereta kelas ekonomi, ekonomi AC, bisnis, hingga eksekutif yang termahal pun habis hingga tanggal 10 Agustus. Cari alternatif dari Semarang atau Surabaya ke Jakarta juga tidak ada semua alias ludes. MODAR!

Tak hilang akal, saya ngecek situs Pelni untuk lihat tiket kapal. Yang tersedia cuma Surabaya-Jakarta dengan keberangkatan tanggal 6 Agustus dan tiba 7 Agustus pada jam yang sama alias 24 jam. Harganya pun sekitar Rp 200.000an. Naik kapal coret. Ya sudah tidak ada pilihan lain, sehingga kami memutuskan naik bus. Kami pun pergi ke Terminal Jombor buat tanya-tanya harga tiket bus ke Jakarta. Agen tiket juga jawabannya mencla-mencle dan tidak menenangkan. Mereka belum tahu harga tiket untuk tanggal keberangkatan kami (6 Agustus) karena belum ada keputusan dari pihak perusahaan tentang tarif. Cuma sih, si agen ngasih kode kalau tanggal segitu masih arus balik dan harga tiketnya berkisar Rp 300.000 – Rp 400.000an dari yang normalnya Cuma Rp 130.000 – Rp 150.000an. Masih ragu dan menimbang-nimbang naik bus atau tidak, teman saya menawarkan ide gila. Yogya - Jakarta naik motor, terus motornya dikirim balik ke Yogya pakai kereta barang! Hitung-hitung karena agak masuk akal, kami pergi ke Stasiun Tugu untuk tanya biaya pengiriman motor dari Jakarta ke Yogyakarta dan ternyata biayanya Rp 500.000an sodara-sodara!

Opsi naik motor pun dicoret, oke deh kami naik bus dengan hati yang masih berat. Bukan apa-apa sih naik bus, hanya saja takutnya jalanan macet, terutama jalur selatan, belum lagi macet di Tol Kanci dan Tol Jakarta - Cikampek. Rekor naik bus Yogya - Bekasi, saya pernah sampai 16 Jam karena kena macet di Tol Jakarta - Cikampek! Keesokan harinya teman saya pulang kampung dan saya masih di Yogya. Sepanjang hari saya ngecek tiket kereta, siapa tahu ada yang membatalkan dan keluar di sistem. Sore-sore pas lagi di warnet, keluarlah tiket kereta Menoreh Lebaran dari Semarang Tawang ke Jakarta di sistem booking dengan status tersedia. Tanpa banyak bacot, saya langsung sikat tiket tersebut. Tapi belum saya bayar, siapa tahu keluar lagi tiket kereta ekonomi yang jauh lebih murah. Buah kesabaran saya ada hasilnya, tiket kereta ekonomi Brantas relasi Semarang Poncol-Jatinegara tiba-tiba tersedia dan langsung saya booking. Horeee! Akhirnya saya bayar tiket kereta Brantas yang murah meriah, Rp 55.000 saja. Ihi!

Seminggu sebelum berangkat, saya ngecek tiket sleeper train Malaysia dan viola, tiket Butterworth-Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur-Johor Bahru buat yang sleeper train dan 2nd class couch habis, cuma tinggal kelas yang termahal dan tentu saja out of budget. Iseng-iseng ngecek tiket pesawat, eh dapat juga yang murah. Kuala Lumpur - Penang dapat yang termurah dan langsung ke-convert ke Rupiah dengan harga Rp 153.000 naik Malindo Air, adiknya Lion Air di Malaysia. Sedangkan baliknya dari Penang ke Kuala Lumpur dapat yang termurah naik Airasia, RM 32 alias sekitar Rp 121.000an namun dengan jadwal yang pagi sekali (dan karena terlalu pagi terpaksa kami naik taksi yang lumayan mahal). Karena dapat tiket pesawat murah, pakai bus dari Kuala Lumpur ke Penang dan sebaliknya langsung kami coret, dari cek di web juga harga tiket busnya sekitaran RM 32 – RM 35.

Tiket beres dan tinggal berangkat. Ribet, ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment