Selasa, 26 Agustus 2014

Balada Kereta Kelas Ekonomi

Hari itu pun tiba, kami berangkat dari bandara Adi Sucipto untuk nitipin motor ke penitipan-penitipan motor milik warga yang ada sebelum rel kereta api yang memisahkan bandara Adi Sucipto dengan jalan raya. Setelah itu kami jalan ke arah shelter Bus TransJogja bandara yang ada dekat area parkiran bandara. Bayar Rp 3.000, langsung deh meluncur ke terminal jombor dengan transit dan ganti bus di shelter terminal concat. Dari terminal jombor, kami naik bus patas nusantara ke Semarang dengan tarif Rp 40.000. Untunglah sudah normal, mengingat waktu masa-masa Lebaran, tiket naik jadi Rp 55.000! 

Stasiun Semarang Poncol

Sekitaran jam 4 sore kami tiba di jalan kaligawe Semarang karena teman kami yang orang Semarang mau menjemput. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di Semarang, begitu selesai bungkus makanan di depot sukses, kami tiba di rumah teman kami dan nebeng mandi untuk kemudian diantar lagi ke Stasiun Poncol karena kereta kami berangkat pukul setengah 8 malam. Jam 7 malam sampai stasiun, eh keretanya delayed sampe jam 9 malam lebih. duh. Saya sempat menduga kereta terlambat karena kereta Brantas ini berawal dari kota Kediri di Jawa Timur, karena kebanyakan berhenti mungkin. Tapi yang lebih mungkin adalah karena jalur yang dilewatinya belum double track sehingga kalo ada kereta yang "kasta"nya lebih tinggi papasan seperti bisnis dan eksekutif, mau tak mau kereta ekonomi kudu mengalah.

Pukul setengah sepuluh malam, kereta baru berangkat dari Stasiun Poncol menuju arah barat. Karena bukan start dari Semarang, tentu kereta sudah terisi. Mengamati penumpang memang menjadi hiburan tersendiri saat bepergian dan memang ada-ada saja kelakuan penumpang. Ada satu keluarga, demi bisa tidur yang bener ( selonjoran), suami atau istrinya gantian tidur di bawah alias tempat pijakan kaki, sedangkan anaknya nikmat tidur di kursi. Kaki-kaki yang bersliweran di lorong kereta sudah sangat banyak dan harap maklum, karena agar mereka nyaman. Yang lebih parah, ada orang yang (mungkin) kedinginan, caranya mengecilkan AC agak tidak waras. Dia menutup langsung tempat angin AC keluar (saya tidak tahu istilah benernya) pakai tangannya! Tidak hanya kali ini saja saya melihat kelakuan orang-orang yang matiin AC pakai cara vandalisme seperti itu. Padahal, ada security keliling-keliling bawa remote AC lho.

Kalo yang mau pergi naik kereta kelas ekonomi, namun bukan naik dari stasiun pemberangkatan pertama, saya sarankan jangan bawa barang yang banyak, karena bisa-bisa tidak kebagian bagasi yang ada di atas. Biasanya yang saya lihat, penumpang yang naik bukan di stasiun pertama tampak kehabisan bagasi dan dengan cueknya meletakkan barang-barang di lorong kereta, sehingga kadang membuat lalu lintas di dalam kereta api menjadi tersendat.

Orang tua saya tidak pernah naik kereta di Pulau Jawa, paling banter sih kereta dari Medan ke Pematang Siantar di Sumatera Utara. Kalo Papa saya malah pernah naik kereta dari Lampung ke Palembang, tapi itu dulu sekitar 28 tahun yang lalu saat masih bujang. Setelah hijrah ke Pulau Jawa, naik kereta api tidak pernah dilakukan lagi, apa lagi melihat kondisinya dulu yang katanya..ya gitu deh. Sampai pada akhirnya masa mudik tahun 2014, kami yang tidak mudik berencana mengunjungi keluarga di Bekasi dan saya iseng" saran naik kereta api, dan disetujui.

Stigma kereta api ekonomi yang buruk seperti panas, bebasnya orang ngerokok, dan tidak ada nomor kursi (yang berarti rebutan) membuat saya diprotes kakak" saya karena mereka tahunya kondisi kereta ekonomi seperti itu. Setelah dijelaskan kalo kereta ekonomi sudah bagus pelayanannya, barulah mereka percaya, karena saya sering naik kereta kelas ekonomi. Orang tua saya senang-senang saja naik kereta api, apalagi harganya ringan kantong, cuma Rp 45.000 untuk perjalanan sekitar 400 kilometer. Cuma satu komentar mereka : kursinya keras kayak kayu. Saya mengingatkan lagi ke Papa saya kalo harga tiketnya saja Rp 45.000 tok, which means, dilarang protes. Papa saya pun ketawa. Seperti kata pepatah Jawa, "Ono rego, ono rupo." 

Untungnya juga, saya belum pernah merasakan suasana kereta ekonomi ala Indonesia zaman sebelum nyaman seperti saat ini. Beberapa teman kuliah bercerita kalo kereta ekonomi dulu seperti di hutan rimba. Sebelum seperti sekarang ini, memang kereta kelas ekonomi tidak ada nomor kursi, yang berarti kudu rebutan kursi dan ngemper di lorong kereta. Wih! Parahnya, sebelum dipasang AC, di gerbong kereta ekonomi diperbolehkan ngudut alias merokok. Sudah panas, sumpek, ada asap rokok, habislah sudah keadaan gerbong.

Meski keretanya lambat dan harus mengalah dengan kereta yang lebih tinggi "kasta"nya jika rel tidak mencukupi, namun ada satu kelebihan kereta ini selain murah, yaitu orang-orangnya suka bersosialisasi. Kalo naik kereta ekonomi, pasti ada saja yang mengajak berbicara, entah sendiri, sama teman, maupun dengan keluarga sehingga perjalanan kereta yang cukup lama menjadi tidak terasa. Topik omongannya pun macam-macam, mulai dari pekerjaan, sosial, hingga politik. Nah lho! Tapi memang selain kursinya keras, jarak dengan penumpang depan memang sangat sempit sehingga sering kali kaki "nyenggol". Tak ayal juga kaki-kaki nyenggol ini yang menyebabkan orang-orang dengan mudah berbasa-basi sehingga akhirnya ngobrol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment