Senin, 07 Juli 2014

Traveling Dewe Ke Singapura (1)

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke Singapura. Jadi Solo Traveler di perjalanan kali ini sih memang nggak ada rencana. Rencana awalnya, kami seharusnya berangkat berempat dengan tiket yang dibeli hampir 10 bulan yang lalu. Saat booking  tiket 10 bulan yang lalu saya masih KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Sumatera Utara. Biasalah, AirAsia lagi ada redeem point untuk anggota BIG. Poin yang dikumpulin tiap terbang pakai airasia itu punya teman saya. Tidak terlalu tertarik juga saat itu dengan rute-rute yang ditawarkan, tapi karena teman saya belum pernah ke Singapura, ya, ngikut aja. Lagipula tiketnya PP nggak sampai Rp 500.000.


Changi Airport T2

Bulan demi bulan, nasib tiket itu hampir terlupakan karena kami semua jarang berkomunikasi. Tiba seminggu saat sebelum berangkat. Teman saya yang mengusulkan berangkat tidak jadi berangkat karena lagi job training. 2 orang lainnya masih confirmed untuk ikut. 2 hari sebelum berangkat, 2 teman yang lain nggak jadi berangkat karena ada kuis yang ga bisa ditinggal. Modarlah, tinggal saya sendirian. Kebetulan pas itu saya lagi di rumah kakak di Bekasi. Daripada tiketnya mubazir, mending saya pakai saja sih, lagipula juga belum pernah jalan sendirian gitu loh! The Show Must Go On. Maka sehari sebelum berangkat, saya lagi ribut cari-cari hostel. 

Nggak tau memang lagi low season atau gimana, saya dapet hostel seharga Rp 110ribuan sama hostel harga Rp 150ribuan dari agoda sama hostelworld. Lumayan murah daripada harga yang pernah dapet dulu. Karena masih mahasiswa dan nggak punya kartu kredit, saya minta tolong langganan buat bookingin hotel yang sudah terpercaya. Di hari H, saya jadi mulai ragu buat berangkat dan kakak saya juga mengusulkan nggak usah berangkat kalo nggak mantap. Gobloknya, saya belum nuker rupiah ke dollar singapura pas mau berangkat. Kakak saya pun jadi sangsi keniatan saya untuk berangkat. Cek dan ricek di gugel, ternyata ada money changer di Bandara Soekarno Hatta sehingga saya nekad saja berangkat.

Jam 12 siang,aku diantar kakak ke shelter damri grand wisata tambun. Di tengah jalan saya baru ingat kalo colokan kaki 3 ketinggalan di Jogja. Duh gebleknya. Kami mencari-cari di hampir seluruh toko di area grand wisata pun tak ada yang jual juga. Harapan terakhir saya adalah cari di Indomaret atau Alfamart yang kemungkinan kecil menjual alat listrik seperti itu (yang ternyata memang tidak jual). Saya pun pasrah saja berangkat ke shelter damri dengan mengirit-ngirit batre tab dan hp.

Sekitaran pukul 4 sore, saya tiba di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Penerbangan sore itu cukup ramai juga. Karena nggak ada bagasi, saya langsung naik ke area keberangkatan di area lantai 2. Sebelum masuk gate, seperti biasalah, menyerahkan paspor print boarding pass dan bayar airport tax Rp 150.000. Karena masih lama juga, saya nongkrong di Starbucks yang ada sebelum gate. Dan lagi karena tak bisa merokok, saya pergi ke smoking room Terminal 3 Soekarno Hatta yang tidak manusiawi karena tidak ada kursi, sempit, dan bikin mata sepet. Sambil ngopi dan ngebul, ada orang India nanya : "where are you going?", saya jawab enteng saja,"i'm going to Singapore, vacation." Berlanjutlah obrolan ringan tersebut. Ternyata dia dan keluarga besarnya mau piknik ke Bali gitu deh. Keluarganya yang ikut piknik sampai 10 orang seperti tour. 

Betenya jalan sendiri adalah nggak ada teman ngobrol. Ya kerjaan utama adalah browsing-browsing pakai tab sambil di charge batrenya. Karena pesawat pukul 18.45 dan jam 18.00 sudah harus boarding, saya langsung cabut ke imigrasi. Untungnya antrean belum ada dan masih sangat sedikit. Tanpa banyak omong, petugas imigrasi langsung mencap paspor saya. Sampai di gate barulah kerasa kalo kelaparan. Karena harga wajar hanya di Circle K, saya turun lagi keluar untuk beli roti sisir yang gede sekalian untuk makan malam. Setelah makan dan bawa sedikit amunisi perut, saya naik lagi ke gate dan imigrasi. Sampai di gate, saya baru ingat kalo tadi pas browsing baca kalo aturan merokok di Singapura yang cukup ketat. 15 menit sebelum boarding saya bela-belain habisin rokok yang masih 5 batang. Karena udah dipanggil boarding, terpaksa rokok yang tinggal 2 batang dan korek gas saya buang. 

Tumben-tumbenan juga pesawat malam yang take off dari Soetta nggak delayed. Seperti biasa, pramugari berjualan makanan, minuman dan barang-barang asesoris sampai parfum. Sayang sekali Nasi Goreng Teri Medan yang dijual AirAsia cuma untuk rute domestik. Pukul 21.00 setempat, saya tiba di Singapura untuk kedua kalinya. Untuk mengulur waktu, saya jalan santai saja, toh memang saya berencana menginap di Changi. Setelah isi ulang air di drinking fountain, saya keliling-keliling dulu di Terminal 1 dan Terminal 2 untuk cari tempat yang nyaman untuk tidur. Karena pernah baca-baca blog orang tentang gimana pengalaman tidur di Changi Airport, karena suatu hal saya nggak tidur di area transit (padahal yang paling nyaman sih disitu, ada kursi-kursi panjang yang bisa buat selonjoran).

Belum sampai terminal 1, saya udah kebingungan mau ngapain. Ya beginilah jalan sendiri, nggak ada yang bisa diajak diskusi ria dan ngobrol untuk menentukan tujuan. Sepanjang jalan menuju imigrasi, ada kursi pijat gratis yang bisa dipakai sepuasnya. Haha, saya nyantai-nyantai di kursi pijat sampai setengah jam karena pegal-pegal kurang tidur. Kursi pijat gratisan di Changi Airport ini asyik benar, ada berbagai tombol kontrol kecepatan sampai untuk menaikkan suhu. Lumayan bisa merem melek, hehe!

kursi pijat gratisan di changi

Bosan mainan kursi pijat, saya jalan random lagi. Imigrasi terminal 1 mulai terlihat. Seperti saran seorang teman, saya menuju terminal 2. Ada semacam Experience Zone gitu deh, bisa nonton TV Asing. Yang saya lihat, di kursi-kursinya orang malah pada tiduran karena saking nyamannya tempat itu. Kebetulan yang diputar saat itu siaran Smack Down! Seru! Udah lama juga ga nonton siaran smack down sejak SD. Bosan nonton Smack Down, saya cari spot-spot buat bobo malam itu. Kebetulan di Terminal 2 deket GST Refund ada semacam kursi-kursi gitu tempat orang-orang ngumpul. Karena muka-mukanya mirip, saya kira orang-orang di area itu orang Indonesia sehingga saya ikut bergabung dengan mereka. Eh, pas mereka keluarin paspor, ternyata orang Filipina yang landing kemalaman sehingga masih pada di airport. 

flight malam itu

Kursi-kursinya yang kurang nyaman untuk tidur terlentang bikin saya nggak betah dan memutuskan tidur di karpet saja. Santai saja, banyak kok yang pada tiduran di lantai berkarpet. Saya tiduran cuma 2 jam saja di karpet, memang sih nggak ada yang gangguin maupun ributnya announcement penerbangan, apalagi kalo bukan karena ritual pagi alias boker. hahaha. Untungnya juga di Changi toiletnya bersih sehingga bikin berlama-lama di toilet. Saking banyaknya yang keluar, gantian perut yang teriak minta dijatah. McD lah solusinya untuk makan murah karena di tempat makan yang lain rata-rata 6-7 SGD. Paket burger daging berkeju+coke+kentang goreng cuma 4.5 SGD dan lumayan mengenyangkan. Satu yang kupelajari dari tempat ini, ternyata semua orang yang makan di sini pada membereskan sendiri peralatan makannya dan membuangnya ke tempat yang sudah disediakan.



singgasana malam itu

Lihat-lihat jam ternyata masih jam 4 pagi, MRT pertama saja belum jalan. untuk killing time, saya balik lagi ke kursi yang ada rombongan pinoy tadi dan masih ramai juga pada tidur. Mata udah berat banget, jadilah saya nambah 3 jam tidur di situ, di karpet. Yes, di karpet. Jam 7 pagi saya bangun karena suara-suara pengumuman sudah mulai banyak, saya jalan lagi ke arah Terminal 1 untuk menuju imigrasi. Udah beberapa kali ke luar negeri, tapi yang namanya konter imigrasi kok selalu bikin saya deg-degan, nggak tau kenapa, padahal juga nggak apa-apa sih sebenernya. Sampai di konter, petugas wanita yang Orang Melayu cuma bertanya singkat,"Mendarat tadi malam ya?", dengan logat malah seperti orang Indonesia. Saya jawab "Iya, mendarat kemalaman." Cap cap cap imigrasi kedatangan diberikan ke paspor saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment