Rabu, 16 April 2014

Lombok Day 1 : Nasi Balap, Desa Sasak , Kuta Lombok dan Tanjung Aan


Airport Tax Naik :(

Bus damri berangkat ke Juanda International Airport (SUB) sekitar pukul 02.30 pagi. Jalan lancar tanpa macet dan kendala yang berarti. Sebelum ke Terminal 1, ternyata bus menurunkan penumpang yang akan ke Terminal 2. Terminal 2 Juanda Airport merupakan gedung terminal yang baru saja beroperasi bulan Februari. Bangunannya megah dan dari luar didominasi warna perak dan putih. Terminal 2 digunakan untuk keberangkatan internasional semua maskapai serta penerbangan Air Asia dan Garuda Indonesia. Sedangkan maskapai yang lain tetap di Terminal 1.

Sesaat setelah  menurunkan penumpang di Terminal 2, bus melaju ke Terminal 1. Sekitaran pukul 03.00 pagi, saya tiba di Terminal 1 dan diturunkan ke bekas keberangkatan internasional karena gerbang keberangkatan ini khusus untuk Citilink dan maskapai lainnya. Masuk ke pintu keberangkatan, suasana tidak riuh dan tenang karena kepadatan penumpang tidak terlalu ramai. 

Selesai check in dan memasukkan bagasi, tibalah bayar airport tax.
Alamak, terakhir naik dari bandara ini, airport tax sudah Rp 40.000, saat ini menjadi Rp 75.000 untuk keberangkatan domestik. Padahal tiketnya saja cuma Rp 55.000 sekali jalan, hahaha. Ini ketiga kalinya saya berangkat dari Juanda Airport dan rasa-rasanya tidak ada perubahan dan fasilitas tambahan yang begitu signifikan berubah dari Terminal 1. Tapi tetap toiletnya juara untuk kebersihannya serta public smoking room-nya yang sangat nyaman. Sembari duduk dan merokok, anda bisa lihat pesawat di depan sambil ngopi dan mengisi baterai gadget anda. Ada juga TV dan AC di dalam serta sirkulasi udara yang lancar. Keistimewaan lain dari smoking room di Bandara Juanda adalah letaknya yang strategis yang berada di tengah-tengah. Kalau tidak salah antara gate 4 dan 5. Jangan heran juga di penerbangan pagi buta sudah banyak perokok yang memadati smoking room di bandara ini. 

Saking asyiknya bisa mengecas baterai hp di sini, tak terasa sudah ada panggilan boarding. Penumpang saat itu tidak terlalu ramai, sehingga boarding berjalan cepat sehingga pesawat take off juga lebih awal. 

safely landed at LOP
Cuaca mendung saat penerbangan sehingga sunrise tidak terlalu kelihatan. Guncangan-guncangan juga agak lumayan sehingga pramugari tidak keliling berjualan makanan dan minuman di pesawat. 


HALO (LAGI) LOMBOK

Pukul 07.30 WITA, pesawat mendarat mulus di Lombok International Airport di Praya Lombok Tengah. Selesai foto-foto dan setelah mengambil bagasi, saya langsung menuju konter damri di area kedatangan. Tarif seorang Rp 20.000 menuju ke Kota Mataram dan bisa turun di pinggir jalan. Bagi anda yang memiliki perjalanan lanjutan dari Mataram naik bus, jangan khawatir karena Bus Damri Bandar Lombok masuk dulu ke terminal mandalika sebelum menurunkan penumpang di pemberhentian terakhir di Pool Damri Kota Mataram. Dari Pool Damri, saya naik Taksi Bluebird ke Oka Homestay di daerah Cakranegara. Argo taksi menunjukkan Rp 16.000, akan tetapi minimum payment tetap Rp 20.000 sehingga walaupun tidak sampai Rp 20.000, anda harus tetap bayar Rp 20.000. Selesai ngopi, mandi dan bongkar muat barang, saya pergi ke Desa Ende di Lombok Tengah yang merupakan Kampung Asli Suku Sasak. Jalan yang saya lewati kembali lagi melewati Bandara Lombok.

Rute perjalanan pakai google maps saat itu diawali dari daerah cakranegara, sebelum ke tujuan akhir, tanjung aan, maka akan melewati bandara internasional lombok, desa sade, dan pantai kuta.
Saat akan melewati bandara, tetiba saya ingat pernah baca jika ada nasi balap enak di depan bandara lombok. Saya pun mampir sembari mencoba seperti apa sih nasi balap ini. Rasanya enak juga, tapi sambal lomboknya luar biasa pedas! mantafff!

nasi balap seberang airport lombok
Selesai makan, saya langsung menuju ke Desa Sade yang berada di pinggir jalan utama dan searah menuju Pantai Kuta Lombok. Saat masuk ke daerah perkampungan, wajib menggunakan guide. Guide saat itu yang saya lupa namanya, mengajak keliling kampung sembari menjelaskan tentang rumah adat, kehidupan dan masyarakat di desa ini. Di Desa ini juga ada penjualan suvenir seperti kain tenun khas lombok. Jasa guide plus retribusi ke kampung dipatok flat Rp 60.000.

padi diikat seperti itu, sudah lama juga ga liat

rumah-rumah kampung sasak





icon bandara lombok


Saat itu tiba-tiba hujan deras sehingga saya berteduh dulu di pondokan di dekat parkiran menuju arah desa adat sambil merokok sembari menunggu hujan reda. Tak sampai 15 menit hujan berhenti, dan saya melanjutkan perjalanan ke pantai kuta yang tinggal lurus ke arah selatan. Durasi ke Kuta hanya 20 menitan (ngebut). Ternyata pantai kuta lombok adalah hamparan luas yang di pinggir jalannya sudah mulai banyak bar, kafe, penginapan, hingga penyewaan papan selancar. Apakah mungkin ini tempat surfing saya tidak begitu paham. Terlihat banyak bule-bule naik motor yang sampingnya bisa diletakkan papan surfing seperti yang sering saya lihat di Bali.

Kuta Lombok, Pusat Selancar

honestly, pantainya kurang enak buat main-main
Pantainya tidak seramai pantai Kuta di Bali, suasananya lebih tenang dan santai. Jauh dari hiruk pikuk keramaian dan suara-suara bising kendaraan yang saling mengklakson. Pasirnya yang seperti merica mirip seperti Pantai-Pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta sehingga membuat malas jalan-jalan di pasir. Berdasarkan informasi teman, saya menuju Tanjung Aan yang masih satu kawasan, dengan modal tanya penduduk sekitar saya tiba di Tanjung Aan 30 menit kemudian. Saat kesana, cuaca lagi tidak begitu bagus sehingga foto-foto jadi kurang kelihatan berwarna.

Tanjung Aan saat mendung

Pasti lebih keren kalau mataharinya terik

Hati-hati saat akan menuju Tanjung Aan karena jalan saat akan tiba di pantai kondisinya kurang baik. Honestly, saya lebih suka ke Tanjung Aan karena pantainya tenang tak berombak, serta pasir yang halus seperti bedak. Tanjung Aan sendiri berada menjorok ke darat sehingga mirip teluk sehingga ombaknya pun tenang. Untuk foto dengan pemandangan terbaik, anda bisa naik ke bukit yang ada di kanan dan kiri pantai. Oh iya, parkir motor di Tanjung Aan Rp 5.000 permotor sekali masuk. Walaupun sepi, tapi pedagang di pantai ini lumayan banyak. Dari penjual kopi, pop mie, es krim, bakso pentolan, kelapa muda, suvenir, hingga pedagang kaos keliling cukup banyak di tanjung aan ini.

Sekitar pukul empat sore, saya kembali ke Mataram. Perjalanan selama sekitar dua jam ini ditemani hujan-hujan ampas alias gerimis sampai dekat bandara. Tiba di penginapan, mandi, makan, saya langsung tepar.

2 komentar:

  1. buat traveller pencinta pulau pulau se Indonesia, bali, lombok, dll, yang suka jalan sendiri ala backpacker atau yang traveling dengan ngambil paket wisata lombok .. ada lagu yg pas sekali untuk tulisan ini.. judulnya : INDONESIA i love you - oiya, indonesia juga terkenal lho akan oleh-olehnya kalo kita travelling.. nah sebagai salah satu ide oleh oleh mungkin bisa cari orang atau toko oleh oleh yang jual madu asli , karena madu asli itu bagus buat oleh oleh atau dikonsumsi sendiri saat travelling, biar jalan jalannya kuat dan tetap sehat (karena madu bisa jaga sehat & stamina kita)- makasih untuk tulisannya ini ya kakak.

    BalasHapus
  2. Perjalanan dari bandara ke pantai kuta naik apa kak ? Itu ke pantai seger juga ga ?

    BalasHapus

don't forget to leave a comment