Senin, 13 Januari 2014

Makassar : Gate to the Eastern Indonesia


Traveling kali ini diawali dari Jogja. Saya bersama seorang teman berangkat ke Surabaya, karena pesawat ke Makassar ngambilnya dari sini. Bus ke Surabaya dari Yogya tersedia 24jam, kalo tidak ingin repot ke terminal, kita bisa nunggu di flyover Janti. Yogya - Surabaya 10 jam perjalanan darat, lumayan bikin bokong pegel.

Tiba jam 1 siang, kami manfaatkan untuk mandi dan nongkrong-nongkrong dulu di Terminal Purabaya atau yang populer dengan nama Terminal Bungurasih karena pesawat baru berangkat jam setengah 5 sore. Jam 2 siang kami bergegas ke Airport Juanda naik damri seharga 20rb per orang sekali jalan. mahal? tergantung. karena kami hanya berdua, jadi rugi kalo naik taksi. Kalo pergi berempat dan bawa barang banyak, saya tentu ambil taksi, karena rata - rata banyak taksi yang langsung "nembak" 50rb ke airport. Tiba di bandara, kami langsung check-in, bayar airport tax dan langsung naik ke ruang boarding untuk merebahkan badan saking tidak nyamannya duduk di kursi keras bus dari Yogya. 

Boarding tepat waktu dan tiba juga tepat jam 7 malam. Taraaaaaaa welcome to Celebes!
Kesan pertama : bagus banget bandaranya untuk ukuran Indonesia, namun bagi saya lebih bagus bandara Kuala Namu di Medan. Karena tiba terlalu malam, kami memutuskan tidur di bandara. Yah, itung - itung ngirit. Subuh - subuh di bandara sudah berisik suara-suara panggilan boarding sehingga saya sudah tidak bisa tidur lagi.

UPG Airport of Makassar
Setelah mandi di shower bandara, kami langsung naik damri seharga 25ribu ke pusat Kota Makassar. Begitu menyebutkan kami ingin ke Benteng Fort Rotterdam, bapak Sopirnya menurunkan kami di pertigaan yang tinggal lurus lalu belok kanan sudah sampai ke Fort Rotterdam.

Keluar bus : Panas! Ternyata Benteng Fort Rotterdam dekat sekali dengan pantai sehingga di siang bolong berasa ada 5 matahari. Setelah mengisi buku tamu dan titip tas, kami berjalan - jalan mengelilingi kompleks area benteng yang ga terlalu besar. Karena penasaran dan pengen (ngadem) kami masuk ke Museum La Galigo dan bayar tiket masuk 5ribu per orang.


amsterdam? no its not.

pemandangan dari atas benteng : selat makassar

daleman benteng fort rotterdam

Setelah bosan di Fort Rotterdam, kami cari makan ke daerah Pantai Losari cuma agak masuk ke gang - gang. Karena ada bau ikan di bakar, kami mencari sumber wangi ikan tersebut di warung kecil pinggir jalan. Saya pesan paket ikan bolu plus nasi plus lalapan seharga 15ribu. Surprise, ada 4 macam sambalnya! ada sambal yang seperti bumbu sate, sambal mentah, sambal matang sama sambal bawang tomat yang semuanya nikmat hingga saya yang 2 hari susah buang air besar langsung kontraksi setelah makan. hehe!

tempat nongkrong di pantai losari

city of makassar
Jalan sebentar cuma 10 menit dan tiba di Pantai Losari yang jadi icon Kota Makassar. Ternyata pantainya di beton sehingga nggak bisa main - main pasir. Saya pun foto - foto di tulisan Pantai Losari sama City of Makassar yang sering saya lihat di postingan teman saya kalo pergi ke Makassar. Karena makin sore, kami nongkrong sebentar di Circle dekat Pantai Losari sambil membeli perbekalan di bus menuju Toraja nanti malam. Saat nongkrong kami berbincang dengan ibu - ibu serta mertuanya yang sedang makan pisang epe dan bertanya dari mana asal kami.

Dari arahan ibu tadi, kami naik pete-pete (angkot) dengan transit di Central untuk menuju Pangkalan Bus PO.Litha yang ada di Jalan Urip Sumoharjo. Setelah check in, masih ada 3 jam untuk mandi dan leyeh-leyeh. Sebagai informasi, di Pangkalan Bus Litha ini ada kamar mandi, jadi tidak usah khawatir. Bus-bus ke Toraja bagus-bagus dan ada banyak pilihan selain Bus Litha. Asyiknya lagi, kita bisa booking dulu via telepon dan dibayar saat datang ke pangkalan. Oiya, tarif bus Makassar - Tana Toraja IDR 120.000 pada saat saya berangkat (22/09/2013)

Nomor Telepon PO Litha : (0411) 442263

Jam 8.00 malam bus melaju ke arah Toraja. Karena tepar tanpa istirahat, kami langsung tertidur...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment