Minggu, 23 November 2014

Flying with Indonesian Airline


Masih teringat sekitar dua tahun yang lalu, saya baru pertama kali naik pesawat. Kalau orang tua saya adalah yang paling sering, apalagi jika ada acara keluarga di kampung halaman. Diantara orang serumah, Papa saya yang paling sering naik pesawat waktu belum pensiun, apalagi kalau bukan bussiness trip. Maskapainya pun bebas milih dan tinggal di re-imburse ke kantor.

Sampai saat ini ( 2 tahun lebih) berlalu, tercatat di flight log, saya sudah 50 kali terbang dengan pesawat. Mayoritas naik LCC (low cost carrier), maklum lah, mahasiswa gitu loh. Namun hingga saat ini saya tidak pernah kecewa dengan semua penerbangan yang saya lakukan. Kalo kena delayed pun paling banter satu jam. Berikut beberapa pengalaman dengan maskapai-maskapai nasiona:

1. Garuda Indonesia

Pada tahun 2012 saya dapat promo early bird ke beberapa destinasi seperti Semarang, Yogyakarta, dan Bali dengan harga tidak sampai 300ribu rupiah sekali terbang. Maklum mahasiswa, doyan yang murah, apalagi promo. Pelayanannya pun bagus, pramugari ramah, dan tidak usah sangu makanan ke pesawat karena nanti akan dibagikan pramugari. Surat kabar juga tinggal ngambil. Kalo bete ada juga IFE (In flight Entertainment) di tiap kursi.

Saya sebenarnya jarang naik Garuda Indonesia, namun apabila bepergian pada peak season atau tanggal-tanggal kecepit kok kadang lebih murah sedikit atau cuma selisih beberapa puluh ribu daripada naik budget airlines.

Yang saya salut dari Garuda Indonesia adalah ada drink service walaupun untuk penerbangan jarak pendek selain pembagian kotak snack. Saya ingat selesai dari Medan-Jakarta, dari Jakarta ke Yogyakarta saya naik penerbangan Garuda Indonesia yang terakhir yang perkiraan waktu tibanya mepet sekali dengan jam tutup bandara Adi Sucipto. Di Soekarno-Hatta, boarding tepat waktu, namun karena kepadatan lalu lintas udara di langit Soekarno Hatta, pesawat "ngetem" hingga 40 menit menunggu antrean take off. Sekitar pukul 20.30 kurang pesawat baru lepas landas. Pramugari pun nampak tergesa-gesa membagikan snack box dan drink service. Benar saja, penerbangan Jakarta-Yogyakarta saat itu cuma 40 menit tok. Waktu pilot memberi pengumuman akan landing, para pramugari sampai terburu-buru (karena pakai kebaya) untuk mengambil sampah kotak snack dan gelas di kursi-kursi penumpang.

boarding pass Garuda Indonesia dari waktu ke waktu, sampai gabung dengan Skyteam (paling atas)
 Beberapa kali juga saya naik Garuda Indonesia ( seringnya Jakarta-Yogyakarta) karena percaya atau tidak,  kadang di waktu tertentu harga tiketnya hampir sama atau lebih murah daripada maskapai budget. Dari situ, kalau mau pergi atau disuruh keluarga cari tiket pesawat, saya menyempatkan ngecek tiket Garuda, siapa tau lebih murah atau harganya sama.

2. Merpati Nusantara Airlines

pertama dan terakhir kali naik Merpati Nusantara
Maskapai milik negara yang sudah almarhum di awal tahun 2014 ini meninggalkan memori tersendiri bagi saya. Karena apa? Karena dengan merpati saya akhirnya bisa naik pesawat propeller alias baling-baling yang isi seatnya tidak sampai 100 kursi. Waktu itu pun mendadak juga naiknya, waktu lagi chatting dengan teman SMA di facebook, saya dikasih link kalau merpati ada promo murah ke semua tujuan karena Merpati Ulang Tahun ke 50 kalau tidak salah. Ribetnya, tidak bisa beli online seperti Airasia, namun kudu beli di kantor merpati Jogja yang ada di sebelah barat Tugu Yogyakarta. Dapat lah saya tiket Yogyakarta-Bandung dengan harga 132ribu untuk 2 orang, harga mahasiswa banget!

Keberangkatan saat itu delayed sejam lebih, pesawat belum nampak di apron bandara. Dengan total 1,5 jam keterlambatan, barulah kami boarding, dari yang harusnya berangkat pukul 14.30, eh baru berangkat jam 16.00 sore. Keluar dari gate, terdengarlah suara bising baling-baling pesawat. Masuk ke pesawatnya pun dari pintu belakang (dan karena memang cuma 1 pintunya). Dari safety card, barulah saya tahu kalau pesawatnya Xian MA60 buatan China. Penumpang saat itu full load. Tiba lah saatnya take off, pesawat mulai naik dan naik, namun kadang sesekali terasa menurun saat terhempas awan. Wih!

Saat pesawat sudah mulai stabil, pramugari membagikan snack box berisi satu roti plus air mineral 240ml. Lumayanlah daripada tidak sama sekali. Iseng-iseng lihat kantong kursi, ternyata mereka jualan merchandise merpati juga. Waktu itu saya lihat ada penumpang beli boneka beruang pilot.

Karena pesawat baling-baling, ketinggian jelajahnya pun tidak tinggi-tinggi amat, sehingga pemandangan rumah-rumah penduduk kadang masih kelihatan (kecuali kalo ketutupan awan lho).Penerbangan Yogyakarta-Bandung sendiri cukup singkat, sekitar 40 menit. Ini lah saat paling mendebarkan: landing. Pesawat pun berancang-ancang sambil memutar arah sambil naik turun ke arah bandara. Terasa sekali suara mesin mulai melemah, dan juga putaran baling-balingnya. Mendekat, mendekat, mendekat, brusshhh. Hentakan pesawat saat landing pun sangat terasa di kaki. Pesawat berusaha mengerem dan akhirnya dapat berhenti dengan sempurna. Fiuh..

Sambil antre keluar pesawat, di depan saya ada seorang ibu-ibu yang meng-bbm anaknya. Karena ibu itu ngangkat hpnya ketinggian, kelihatan juga dong dia ngetik apa. Sebenarnya saya tidak mau kepo, namun karena kelihatan, tanggung juga kalo tidak dibaca. Isinya begini: "Mama sdh smpe di bdg. td landingya mendebarkan sekali."

Wah sama donk bu, saya juga deg-degan!


3. Citilink

Eh baru tau saya kalo Citilink ternyata sudah ada sejak tahun 2003. Namun baru populer saat sering menggelar promo. Dulu saya pernah dengar maskapai yang namanya Citilink pas ada teman dapat promo Rp 70.000 kalau tidak salah ke semua tujuan. Apalagi setelah spin off dari ibunya, Garuda Indonesia, Citilink makin ekspansif dengan rute beragam. Kode penerbangannya pun sudah jadi QG, dari yang sebelumnya GA.  Pertama saya naik Citilink adalah awal tahun 2013, dari Jakarta ke Batam, mau main-main ke Batam. Tiketnya pun murah, cuma Rp 350.000an sekali jalan. Memang kesan pertama selalu membekas. Karena nebeng ke bandara dengan saudara, saya pun mau tidak mau harus ikut walaupun jamnya agak lama selisihnya.

Penerbangan pukul 12 siang, namun saya sudah di bandara pukul 7 pagi. Ngetem lah saya di airport Soekarno Hatta. Makan udah, ngopi udah, berputar dengan shuttle bus antar terminal gratisan bandara Soekarno-Hatta juga sudah. Pukul 10 saya di sms Citilink kalau penerbangan mundur sejam menjadi pukul 13.00. Duh! Saya pun cuma tidur-tiduran di tangga yang ada di Terminal 1C sampe waktu check in dibuka. Selesai check in dan drop bagasi, saya langsung cabut ke gate. Surprised, di gate ternyata dapat air mineral 330 ml plus sebuah Roti Boy sebagai kompensasi keterlambatan. Wah lumayan banget daripada bengong sambil ngoceh gara-gara nunggu lama.

Ctilink boarding pass SUB-LOP
Pesawatnya hampir semuanya Airbus A320-200. Konfigurasi kursi dan kabinnya pun mirip AirAsia. Pramugari pun membawa kereta dorong dan berjualan makanan, minuman, serta merchandise khas citilink. Kalau mau beli, tinggal bilang saja ke pramugarinya. Walaupun LCC, Citilink memberi bagasi gratis sebesar 15kg, dari yang sebelumnya 20kg. Mayanlah.

Awal tahun 2014 juga saya sering terbang naik Citilink, apalagi kalau bukan karena promonya yang 55ribu sekali jalan ke semua tujuan. Wih! Akhirnya saya pun bisa ke Pulau Lombok dengan Citilink dengan tiket 110.000 pergi pulang. Mantap!


4. Lion Air

Lion Air PK-LHV
 Maskapai budget penguasa langit Indonesia dengan khas warna merah pada tulisan LION dan gambar singa terbang. Rute-rutenya pun bukan hanya rute populer, namun juga rute-rute perintis (Wings Air), dan juga tak ketinggalan ada rute luar negeri ke Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh, dan lain-lain. Naik Lion Air sering jadi pilihan saya kalau berangkat mendadak pada hari H karena harga tiketnya murah. Sehingga dari segi harga dan timing kebutuhan, Lion Air jadi salah satu favorit saya.

Pesawatnya pun baru-baru dan masih terawat. Awak kabin juga kadang keliling jualan merchandise ataupun makanan dan minuman. Asyiknya juga kalau naik Lion Air dapat bagasi 15kg (dari yang tadinya dapat 20kg) dan bebas milih seat tanpa bayar, tinggal request ke petugas saat kalian check in. Sering banget saya dapat emergency exit, leg-room-nya lega banget dan kaki bisa sambil selonjoran. Pramugari Lion Air rata-rata masih muda lho (berdasarkan pengamatan selama ini).

Untuk rute ke luar negeri saya sekali pernah mencoba, dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Layanannya mirip-mirip dengan rute domestik. Kalau soal delayed, saya tidak pernah mengalami yang sampai lama banget. Beberapa kali saya kena telat 30-60 menit saja, masih wajar untuk operasional penerbangan dengan rute ramai dan prime time seperti Jakarta ke Semarang, Surabaya, Medan, ataupun Yogyakarta. Sejauh ini saya puas naik Lion Air.

Minggu, 26 Oktober 2014

Pulang Ke Kotamu...


Trolley di Senai Airport (JHB)
Saking mulusnya jalan dan tingginya kecepatan, bus sudah tiba di terminal Larkin, Johor Bahru sekitar pukul 03.00 dini hari waktu Malaysia alias pukul 02.00 WIB. Nyawa kami belum genap karena bangun akibat berisik orang-orang yang ambil barang dan siap-siap keluar dari bus. Setelah jadi orang terakhir yang keluar dari bus, kami pun bingung.

Tak ada arah ataupun petunjuk yang jelas seperti di bandara, apalagi saya belum sadar sepenuhnya dari kantuk yang mendera. Saya masih belum mengenali terminal Larkin yang pernah saya datangi setahun yang lalu. Daripada jadi gembel di terminal, kami memutuskan untuk pergi ke KFC karena setelah turun dari bus hanya KFC lah yang sepertinya ada tanda kehidupan. Mbak-mbak pegawai KFC dengan ramah menanyakan apa pesanan kami. Karena perut begah, saya hanya memesan sejenis sandwich berisi daging ayam, teman-teman yang lain pesan minum.

Perut kosong, isinya angin, diisi makanan, boker lah hasilnya. Saya pun naik ke lantai 2 gerai karena toiletnya ada disana. Gelap dan benar-benar gelap sehingga saya tidak tenang menuntaskan ritual pagi ini. Setelah itu saya kembali ke meja dan tidur-tidur 'ayam' sampai sekitar pukul 05.30. Lampu-lampu kios dan warung makanan sudah pada nyala, tandanya sudah mulai ramai. Lagi-lagi karena kelaparan, kami makan lagi di sebuah warung yang cukup ramai di pagi buta. Dari meja makan, tampak bus lintas jalur Malaysia-Singapura yang hilir mudik mengangkut dan menurunkan penumpang, sepertinya para pekerja lintas negara. Tujuan kami adalah mencari shuttle bus dari terminal Larkin ke Senai International Airport (JHB).

Sebelum berangkat, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari hasil selancar di web ataupun blog, katanya ada causewaylink bus rute nomor 333 dari terminal Larkin ke Senai Airport, tarifya RM 3,5. Untuk memastikan lagi sekitar pukul 07.00, kami sudah berada di konter causewaylink. Lihat di web juga katanya bus pertama pukul 08.30, namun petugas mengatakan bus pertama ke Senai ada di jam yang tidak pasti. Oalah! Saya pun bertanya ke orang yang mungkin "orang lokal". Beberapa yang saya tanya bilang tidak tahu dan lebih menyarankan kami naik taksi saja. 

Sabtu, 20 September 2014

Penang - Kuala Lumpur - Johor Bahru In A Day

Niat awal kami pada hari terakhir adalah menginap di bandara Penang, namun karena seorang teman sakit, maka kami tidak jadi “ngemper”  di airport. Dan karena transportasi umum (bus) belum ada jika berangkat pukul 4 pagi, terpaksa kami kontak penjaga hostel sebelumnya untuk memesankan taksi. Tarifnya RM 50 sampai ke bandara, itu pun sudah pakai ditawar segala karena tarif pertama yang dipasang adalah RM 55. Mahal banget! 

Lihat mobilnya pun kami shock, yailah bukan taksi dan cuma mobil pribadi (tua) doang namun masih cukup nyaman lah. Tanpa basa-basi, mobil melaju ke bandara dengan kecepatan standar. Subuh-subuh di Penang masih gelap dan sepi, hanya ada beberapa kendaraan berseliweran sepanjang jalan. Sekitar pukul 04.30 kami sudah tiba di Penang International Airport yang sudah agak ramai karena ada beberapa penerbangan di pagi hari. 

new LCCT, KLIA 2
new LCCT, KLIA 2
Sebenarnya saya  masih agak bingung dengan web-check in AirAsia. Kalau di Indonesia kan, walaupun kita sudah web-check in, kita masih harus ke konter check in untuk verifikasi boarding pass dengan kartu identitas. Saat di LCCT mau terbang ke Semarang, kami bingung karena tak ada document verification counter di tempat check in sehingga kami ikut mengantre ke baggage drop counter.

Sampai di konter, mbak-mbaknya yang fasih bahasa Melayu berkata ,”Tak ade baggage langsung ke gate saja”. Waduh, udah lama-lama nunggu ternyata bisa langsung. Kami pun langsung menuju pemeriksaan keamanan, melewati imigrasi, dan akhirnya sampai ke gate keberangkatan.

Ternyata document verification counter ada di area boarding tersebut. Sambil dilihat paspor dan muka, langsung deh dapet cap kalau sudah diperiksa.

upin ipin store at klia 2
lihat-lihat dulu di toko upin ipin
Karena di boarding pass tertera keterangan seperti itu, saat di Penang saya dan teman-teman langsung saja ke gate setelah melewati pemeriksaan. 15 menit sebelum boarding, kami tak melihat adanya petugas dan document verification counter seperti dulu di LCCT. Saking paniknya dan takut ketinggalan penerbangan, dengan terburu-buru kami ke luar dari ruang tunggu dan kembali ke counter check-in dan ternyata disana ada counter khusus untuk verifikasi dokumen. Oalah!

Baru deh kami tenang dan jalan santai ke gate walaupun sudah boarding. Penerbangan yang pagi banget membuat kami tidak tenang saat tidur di hostel sehingga kami hanya tidur 2-3 jam saja, alhasil dalam penerbangan Penang-Kuala Lumpur yang cukup singkat kami langsung bablas tidur. Kebangun pun pas landing, tepatnya saat roda pesawat ketemu dengan aspal landasan. 

Mendaratlah kami kembali ke Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) sekitar pukul 07.40 pagi waktu Malaysia, lumayan juga langsung lewat aero bridge dan masuk ke gate. Asyiknya tanpa bagasi, kita bisa langsung cabut ke area kedatangan untuk cari peta dan brosur wisata yang bebas ngambil.

Setelah cari-cari dan tanya-tanya ke beberapa petugas, eh,  baru tahu kalau brosur wisata dan peta hanya ada di kedatangan Internasional. Ya sudah lah, saya pun wi-fi-an dulu untuk mendownload peta KL, peta LRT/Komuter, dan juga cara menuju tempat-tempat wisata di KL. Sekitaran pukul 09.00, kami berangkat ke Kuala Lumpur naik Skybus, RM 10 sampai KL Sentral (Terakhir ke KL tahun 2013 masih RM 8). Bus-nya berAC dan cukup nyaman. Untuk bayar “utang” tidur, saya pun tidur di bus dan tak sadar sudah sampai di KL Sentral, pusat semua transportasi umum di Kuala Lumpur. 

Jumat, 19 September 2014

Short Trip to Penang (3)

Kami bangun kesiangan dan tiba-tiba sudah pukul sembilan pagi. Rencananya kami cuma menginap sehari saja di hostel karena besoknya pagi-pagi sekali kami ada penerbangan ke Kuala Lumpur dan agar lebih irit maka diputuskan menginap di airport saja. Namun salah seorang teman tiba-tiba tidak enak badan. Suhu tubuhnya panas dingin panas dingin sehingga kami memutuskan untuk downgrade dari yang tadinya 1 dorm ada 6 bunk bed, pindah ke 1 dorm yang ada 20 bunk bed. Lumayanlah, ngirit RM 10 yang kami bayar cash langsung.

Muzium and Art Gallery

Cathedral of The Asumption Pulau Pinang
Bangunan favorit saya, Cathedral of The Asumption.

Sembari jalan cari apotek, kami jalan-jalan melewati beberapa bangunan bersejarah seperti St.George’s Church, Cathedral of The Asumption, serta gedung Mahkamah Tinggi yang ada di jalan yang sama. Pagi itu saya mengajak teman-teman ke Sri Weld Food Court, di bukunya Mbak Trinity (Naked Traveler) yang keempat katanya nasi lemaknya enak dan saya setuju kalo nasi lemaknya enak banget! Wanginya kerasa banget, trus sambalnya juga cocok dan ngepas pedasnya. Namun  porsinya imut banget sehingga kalo makan minimal dua bungkus. Teman saya saja habis tiga bungkus nasi lemaknya. Harganya pun murah, cuma RM 1,7.


nasi lemak in sri weld food court
lihat dapurnya dulu sebelum pesen

and here it is, nasi lemak!

eating nasi lemak at sri weld foodcourt pulau pinang
ane habis 2 bungkus gan

Selesai makan dan cari obat di apotek, kami jalan-jalan melewati Beach Street yang banyak bangunan-bangunan yang difungsikan sebagai kantor oleh beberapa Bank. Puas foto-foto di Beach Street, kami nyari bus CAT (Hop on free) yang gratisan untuk ke KOMTAR buat nyari oleh-oleh. Transit di Jetty, kami pindah bus lagi untuk menuju KOMTAR. Tiba di KOMTAR, ternyata ada mall-nya. Itung-itung sekalian ngadem, kami pun jalan-jalan bentar di mall yang lumayan gede ini. Jualannya tidak berbeda dengan mall di Indonesia. Pilah-pilih, mutar-muter, kami pun nemu toko yang jualan kaos bertema street art Georgetown yang cukup unik, tapi harganya lumayan juga, RM 25 sepotong.

Rabu, 17 September 2014

Short Trip to Penang (2)


Setelah perjalanan panjang dari Jogja, akhirnya tibalah kami di Pulau Pinang yang bandaranya ada di Bayan Lepas. Turun dari garbarata, ternyata belum langsung ke area kedatangan melainkan merupakan gate pesawat tujuan kembali ke Kuala Lumpur. Melihat ada surau, teman-teman memutuskan untuk sholat dahulu. Untungnya tak jauh dari surau ada smoking room, langsung deh saya ngacir kesana buat ngerokok.

Kami pun menuju ke area kedatangan untuk mencari peta wisata dan rute bus. Transportasi utama di Penang adalah Bus Rapid Penang yang punya jalur mengelilingi Pulau Pinang dan daerah seberang (Butterworth). Konter Informasi Wisata ada sebelum pintu keluar bandara dan saat tanya-tanya petugasnya tentang bus apa yang harus kami naiki ke daerah penginapan, petugasnya sangat informatif dengan aksen bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Begitu selesai bertanya, kami membaca-baca dulu peta dan mencari apa ada obyek wisata sebelum menuju hostel. Jangan kaget kalau banyak yang menawar-nawarkan taksi atau tumpangan mobil. Beberapa pria tua yang kelihatan seperti menunggu seseorang, pas melihat kami dengan muka-muka kebingungan eh malah nawarin taksi (teksi). "avanza? avanza?", ujar laki-laki tua bercelana pendek yang daritadi melihat tingkah kami. 

Penampakan Bus Rapid Penang
Naik bus di Penang sangat mudah, apabila nomor bus yang ada tujuan kita tiba, kemudian bilang ke supirnya mau kemana, lalu supir akan memberi tiket dan bilang berapa tarifnya yang kita masukkan sendiri ke kotak besi di samping supir, baru lah diberi tiketnya. Jika uang anda tidak pas, harus siap-siap merelakan kembaliannya karena tidak ada kembalian. Uang langsung anda masukkan ke kotak besinya sehingga solusinya harus punya banyak koinan. Tapi tarif bus rata-rata murah kok, hanya berkisar RM 1 – RM 3.


di George Town, banyak petunjuk ke situs terdekat

wisma MTT, dekat jetty

Hostel kami berada di Love Lane Street yang ternyata punya jalan utama  Lebuh Chulia, George Town. Tiba di Jetty Terminal, kami memutuskan berjalan kaki menuju Love Lane karena relatif dekat. Sambil jalan, kami mencari makan siang dan berakhir di Restoran Khas India. Makan siang kali ini adalah Nasi Kandar  yang porsi standarnya saja sudah sangat mengenyangkan pake lauk telur dadar. Ada kejadian lucu saat disini, saat selesai makan, kedua teman saya memutuskan untuk sholat dan mencari masjid terdekat.

Rabu, 27 Agustus 2014

Short Trip to Penang


Setelah nongkrong sekaligus makan siang di Botani Square, kami diantar oleh kawan-kawan kami yang tinggal di Bogor ke Pool Damri Bandara Soekarno-Hatta yang ada di Mall ini juga. Saya kira seperti Shelter Damri Grand Wisata Tambun Bekasi begitu, eh ternyata rame banget dengan frekuensi setengah jam sekali, mantap. Mengingat jarak dari Bogor ke Bandara Soekarno-Hatta yang cukup jauh, dan juga takut macet karena berangkat sore, kami berangkat naik damri yang Pukul 16.00. Tak disangka juga Tol Dalam Kota yang kalo jam pulang kantor macet, lalu lintasnya lancar-car-car. Tapi untuk arah sebaliknya tetep macet sih, hehehe. 

toko-toko di T2E CGK

Pukul 16.45, bus sudah sampai gerbang Bandara Soekarno-Hatta! Busyet. Penerbangan kali ini kami naik Lion Air, informasi terminal keberangkatannya sendiri di e-ticketnya malah nggak ada. Adanya malah terminal kedatangan di Kuala Lumpur. Berdasarkan googling, kami minta diturunkan di Terminal 2E. Setelah masuk, baru tahu ternyata kalo Terminal 2D dan Terminal 2E Soekarno-Hatta bentuknya nyambung sehingga ternyata bisa masuk lewat 2D dan 2E. 

Kami pergi bertiga dan pas check-in, mbak-mbak petugas tanya apa keperluan teman saya yang satunya lagi ke Malaysia. Kami jawab saja nyantai mau melancong. Selain tanya urusan apa ke Malaysia, teman saya ditanyai juga tiket pulangnya ada atau tidak. Wih, pasti karena paspor teman saya yang masih perawan. Untunglah selama pergi ke luar negeri saya nggak pernah sampai ditanya-tanya gitu. Saya pun tanya ke mbak petugas tadi kok tumben ada pakai tanya-tanya begitu. Si mbaknya menjawab,"Antisipasi mas, soalnya banyak yang jadi pendatang ilegal, jadi tiket pulang harus ada."

Selasa, 26 Agustus 2014

Balada Kereta Kelas Ekonomi

Hari itu pun tiba, kami berangkat dari bandara Adi Sucipto untuk nitipin motor ke penitipan-penitipan motor milik warga yang ada sebelum rel kereta api yang memisahkan bandara Adi Sucipto dengan jalan raya. Setelah itu kami jalan ke arah shelter Bus TransJogja bandara yang ada dekat area parkiran bandara. Bayar Rp 3.000, langsung deh meluncur ke terminal jombor dengan transit dan ganti bus di shelter terminal concat. Dari terminal jombor, kami naik bus patas nusantara ke Semarang dengan tarif Rp 40.000. Untunglah sudah normal, mengingat waktu masa-masa Lebaran, tiket naik jadi Rp 55.000! 

Stasiun Semarang Poncol

Sekitaran jam 4 sore kami tiba di jalan kaligawe Semarang karena teman kami yang orang Semarang mau menjemput. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di Semarang, begitu selesai bungkus makanan di depot sukses, kami tiba di rumah teman kami dan nebeng mandi untuk kemudian diantar lagi ke Stasiun Poncol karena kereta kami berangkat pukul setengah 8 malam. Jam 7 malam sampai stasiun, eh keretanya delayed sampe jam 9 malam lebih. duh. Saya sempat menduga kereta terlambat karena kereta Brantas ini berawal dari kota Kediri di Jawa Timur, karena kebanyakan berhenti mungkin. Tapi yang lebih mungkin adalah karena jalur yang dilewatinya belum double track sehingga kalo ada kereta yang "kasta"nya lebih tinggi papasan seperti bisnis dan eksekutif, mau tak mau kereta ekonomi kudu mengalah.

Selasa, 19 Agustus 2014

Ribetnya Perjalanan ke Pulau Pinang

lalu lalang manusia di Terminal 2E CGK

Ribet disini bukan ribet secara umum dimana Penang (Georgetown) atau Pulau Pinang yang notabene barada di bagian utara Malaysia sulit diakses, melainkan ribet diakses dengan cara hemat dengan kondisi peak season. Karena suatu hal, diawal bulan Juli saat sedang ngopi dengan teman-teman terlintas untuk pergi ke Penang karena katanya murah. Diputuskan juga saat itu jika tidak usah ngincer promo gila-gilaan (yang biasanya jarak booking dan berangkat kayak proses kehamilan sampai melahirkan) harga tiketnya karena memang jadwal kami yang sudah sulit diprediksi. Awal bulan Agustus menjadi pilihan kami untuk menuju Penang. Cek dan ricek tiket Yogya-Kuala Lumpur harganya sudah tidak manusiawi. Alternatif dari Jakarta menuju Kuala Lumpur kami ambil karena harga tiketnya Cuma Rp 350.000 one way naik Lion Air.

Karena berangkat dari Jakarta, pulangnya kami ngecek dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta dan harganya juga nggak enak banget. Kebetulan Airasia lagi buka rute Johor Bahru-Yogyakarta dengan harga promo standart, RM 168 perorang atau sekitaran Rp 630.000 dengan kurs saat itu. Dikejar waktu dan takut harga tiket naik, kami akhirnya membooking tiket tersebut. Kemudian bagaimana menuju Penang? Berkaca dari pengalaman ke Malaysia dulu, transportasi bus antar kotanya yang lumayan enak dan teratur membuat kami santai saja. Untuk menghemat pengeluaran, rencana awal kami adalah naik sleeper train dari Butterworth (Penang) ke Kuala Lumpur dan dari Kuala Lumpur ke Johor Bahru. 

Rencana tampak sempurna sampai pada akhir bulan Juli saya baru sadar kalau kami belum punya tiket dari Yogya ke Jakarta. Opsi menggunakan pesawat sudah tidak mungkin karena saat itu peak season Lebaran sehingga semua maskapai pakai harga batas atas yang sudah pasti tidak ramah kantong mahasiswa. Tak habis akal, saya ngecek tiket kereta. Serasa digampar, semua tiket habis. Tiket kereta kelas ekonomi, ekonomi AC, bisnis, hingga eksekutif yang termahal pun habis hingga tanggal 10 Agustus. Cari alternatif dari Semarang atau Surabaya ke Jakarta juga tidak ada semua alias ludes. MODAR!

VbV (Verified by Visa) 3D Secure Code : Alternatif Pembayaran Jika Tidak Punya Kartu Kredit


tiket airasia zest yang saya booking pakai VbV, yang tidak jadi saya terbangi :p

Kabar gembira bagi yang tidak memiliki kartu kredit, tapi ingin transaksi di merchant yang biasanya require kartu kredit untuk transaksi. Saya sendiri baru tahu fitur ini akhir tahun yang lalu saat sedang ngaskus. Sebagai mahasiswa dan belum punya pendapatan stabil dan tetap, punya kartu kredit rasa-rasanya belum jadi kebutuhan bagi saya (lagian siapa juga yang mau bayar tagihannya :p). Doyannya saya dengan jalan-jalan kadang terhambat dengan urusan booking-membooking seperti penginapan dan tiket pesawat ataupun bus sehingga kadang minta tolong orang yang menyediakan jasa booking pakai kartu kredit dengan sejumlah fee.

Sampai akhirnya Bank Mandiri meluncurkan fitur VbV (Verified by Visa) 3D Secure Code yang memungkinkan kita transaksi ala kartu kredit, akan tetapi saldo kita langsung di debet. Jadi sebenarnya ini pembayaran model debet dengan metode kartu kredit (masukin macam-macam data). Karena saya pengguna Bank Mandiri, hal yang pertama saya lakukan adalah mencari merchant yang bergabung dengan fitur ini, lumayan banyak sih merchantnya.

Selasa, 15 Juli 2014

Traveling Dewe Ke Singapura (2)


Setelah lewat imigrasi,giliran konter custom yang dilewatin. Karena tidak bawa barang-barang yang dilaporkan, saya langsung saja mlipir ke green line. Sehabis melewati konter custom, saya langsung naik skytrain ke Terminal 2 buat naik MRT ke pusat kota. Gebleknya, saya lupa ngambil peta singapur dan peta MRT dan balik lagi ke arrival hall buat ngambil peta gratisan. Tujuan pertama hari itu pergi ke Mustafa Centre. Bukan beli oleh-oleh, tapi beli converter colokan kaki 3 yang lupa  saya bawa dari Yogya. Kedua kalinya pergi ke Singapura, saya jadi cepet baca peta dan nggak pake acara nyasar. 3.6 SGD kurelakan untuk beli converter colokan itu. Oh iya, untuk bekal minum sebaiknya juga beli di Mustafa Centre, air mineral 1.5 liter rata-rata 1-2 SGD sebotol.

ini lho hostel, yang sering di hotel harap maklum

Makan burger itu kayak makan camilan, pukul 9 pagi perut udah mulai minta perhatian. Melajulah saat itu ke area Bugis Street yang ada sejenis foodcourt begitu. Nasi Lemak jadi santapan pagi itu. Begitu makan selesai, saya langsung mengarah ke hostel di daerah Geylang. Pengalaman dari bekpeking dulu, saya jadi selektif pilih penginapan sehingga yang deket jalur MRT sama jalur bis jadi prioritas utama. Habis check-in dan bayar deposit 20 SGD, saya langsung puas-puasin mandi. Singapura pagi-pagi jam 9-10an udah panas sehingga cepet keringetan, walaupun di kereta dingin sih. Puas mandi, saya langsung tidur buat bayar utang tidur.

Senin, 07 Juli 2014

Traveling Dewe Ke Singapura (1)

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke Singapura. Jadi Solo Traveler di perjalanan kali ini sih memang nggak ada rencana. Rencana awalnya, kami seharusnya berangkat berempat dengan tiket yang dibeli hampir 10 bulan yang lalu. Saat booking  tiket 10 bulan yang lalu saya masih KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Sumatera Utara. Biasalah, AirAsia lagi ada redeem point untuk anggota BIG. Poin yang dikumpulin tiap terbang pakai airasia itu punya teman saya. Tidak terlalu tertarik juga saat itu dengan rute-rute yang ditawarkan, tapi karena teman saya belum pernah ke Singapura, ya, ngikut aja. Lagipula tiketnya PP nggak sampai Rp 500.000.


Changi Airport T2

Bulan demi bulan, nasib tiket itu hampir terlupakan karena kami semua jarang berkomunikasi. Tiba seminggu saat sebelum berangkat. Teman saya yang mengusulkan berangkat tidak jadi berangkat karena lagi job training. 2 orang lainnya masih confirmed untuk ikut. 2 hari sebelum berangkat, 2 teman yang lain nggak jadi berangkat karena ada kuis yang ga bisa ditinggal. Modarlah, tinggal saya sendirian. Kebetulan pas itu saya lagi di rumah kakak di Bekasi. Daripada tiketnya mubazir, mending saya pakai saja sih, lagipula juga belum pernah jalan sendirian gitu loh! The Show Must Go On. Maka sehari sebelum berangkat, saya lagi ribut cari-cari hostel. 

Nggak tau memang lagi low season atau gimana, saya dapet hostel seharga Rp 110ribuan sama hostel harga Rp 150ribuan dari agoda sama hostelworld. Lumayan murah daripada harga yang pernah dapet dulu. Karena masih mahasiswa dan nggak punya kartu kredit, saya minta tolong langganan buat bookingin hotel yang sudah terpercaya. Di hari H, saya jadi mulai ragu buat berangkat dan kakak saya juga mengusulkan nggak usah berangkat kalo nggak mantap. Gobloknya, saya belum nuker rupiah ke dollar singapura pas mau berangkat. Kakak saya pun jadi sangsi keniatan saya untuk berangkat. Cek dan ricek di gugel, ternyata ada money changer di Bandara Soekarno Hatta sehingga saya nekad saja berangkat.

Kamis, 26 Juni 2014

Melihat Upacara Pemakaman Orang Toraja


Rumah Tongkonan di Ke'Te Kesu
Bulan Januari 2014 lalu, saya dan teman-teman pergi ke Tana Toraja setelah menjelajah Makassar dan sekitarnya. Sesaat setelah melewati dan mengunjungi Ke'te Kesu, di pinggir jalan tampak sebuah persiapan di sebuah kawasan yang cukup ramai. Yap, ternyata ada upacara pemakaman orang Toraja.

Karena acara masih siang sekitaran pukul 13, kami berkeliling dulu jalan-jalan ke obyek wisata lainnya di Tana Toraja seperti Londa dan Lemo.

Siang harinya, setelah makan siang di warung, kami bergegas pergi ke desa yang tadi akan ada pemakaman orang Toraja. Pas kami datang, upacara belum dimulai dan lagi ada persiapan akhir gitu. Tak lama kemudian, ibu-ibu dengan pentungannya untuk menumbuk beras mulai memukul-mukulkan pentungan tersebut ke tempat untuk menumbuk beras. Bukan untuk menumbuk beras sih, soalnya pas saya lihat di tempat tumbukkan berasnya nggak ada beras sama sekali. Cuma untuk iringan-iringan suara sebagai musik mungkin.

ibu-ibu Toraja sedang menumbuk
Tak lama kemudian, sang pembawa acara berbicara dengan bahasa Toraja yang tidak saya tahu apa artinya. Bunyi-bunyian dari penumbuk beras yang dimainkan ibu-ibu tadi makin kencang. Tanpa saya tahu maksudnya, seekor babi mulai disembelih.

Berbeda dengan yang saya lihat dengan penyembelihan babi biasanya, babi tersebut cuma ditusuk dan disayat pas bagian lehernya dengan salah satu orang menampung darahnya. Si babi pun  berontak-berontak seperti kehabisan oksigen. Saat si babi sudah mulai lemas, babi mulai dibawa ke dalam tongkonan yang sudah ada orang masak-masak. Pas saya bertanya pada salah satu panitia, dia bilang ini untuk pembukaan saja.

Kerabat dari orang yang meninggal masing-masing duduk di tongkonan masing-masing. Sepertinya ini upacara besar, karena lumayan ramai juga. Turis-turis pun diperkenankan untuk melihat prosesi upacara kematian ini bahkan boleh lihat dari dekat. Saya sendiri lihat penyembelihan babi dari dekat, hehe! Nah yang ditunggu-tunggu pun datang, iyak apalagi kalau bukan kerbau yang disembelih.

Senin, 23 Juni 2014

Berselancar dengan Bus di Pulau Jawa

Sarana transportasi yang paling fleksibel dan paling gampang ditemui, ya Bus Umum! Fleksibel adalah gampang alokasi waktunya, dalam artian frekuensi bus sangat banyak sehingga anda bisa menggunakannya walaupun anda selesai bangun dari tidur siang. 

Gampang adalah karena bus bisa "dicegat" di pinggir jalan sehingga kita tidak perlu transportasi (dan uang) tambahan untuk pergi ke terminal. Enaknya lagi, kita kena charge berdasarkan jarak.
java island, powered by google maps
Ada tiga jalur yang akan saya bahas di sini, yakni bus jalur Semarang - Surabaya vice versa (vv),bus jalur Yogyakarta - Surabaya (vv), serta bus jalur Yogyakarta - Semarang (vv). Kereta yang tidak selalu turun di kota tujuan dan frekuensi perjalanan membuat saya sering naik bus untuk mencapai tujuan, selain itu murah pula. Enaknya lagi, bisa turun di pinggir jalan dan ga bikin orang repot yang jemput. Kurang nyamannya hanya satu : waktu perjalanan yang unpredictable

Okay disini bakalan saya bahas 3 jalur sebagai berikut:

Sabtu, 21 Juni 2014

Pergi Ke Pasar Bolu Tana Toraja


doc-andrehizkey
peta wisata Tana Toraja dari ibu pemilik penginapan

Melihat namanya, yaitu pasar bolu, saya yakin pada ngiranya pergi buat beli bolu kan? Hehe salah besar. Pasar Bolu yang kami kunjungi ini adalah sebuah Pasar di Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Sebelum melaju kesana, kami nyicil beli oleh-oleh Kopi Toraja di pasar. Pasarnya ada dekat tugu tongkonan di Kota Rantepao.

Enaknya beli kopi di sini, pertama adalah lebih murah. Harga kopi ditentukan pake gelas-gelasan gitu, harganya mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000 tergantung ukuran gelasnya. Asyiknya lagi, kopi bisa langsung diplastikin dan dipress disini sehingga mirip beli di toko gitu. Untuk kopinya sendiri masih berupa biji dan anda bisa juga minta biji untuk dibungkus, harganya sama dengan yang digiling. Pas dipegang plastik bungkusan kopinya, ada rasa hangatnya gitu, fresh from the oven  gitu lah gaulnya.


yok dibeli kopinya
Salah satu rekomendasi saya beli oleh-oleh khas Tana Toraja ya pasar ini. Jangan sungkan-sungkan bertanya dimana penjual kopi, semua pedagang ramah-ramah dan rata-rata bisa Bahasa Indonesia kok. Kalo mau kiloan juga bisa sih, dulu pas saya ke Rantepao akhir bulan September 2013, harga kopi dipatok Rp 70.000 per kilogram, namun pas saya kesana akhir bulan Januari 2014, harga kopi turun jadi cuma Rp 60.000. Karena saya gila kopi, beli perkilo adalah wajib hukumnya, lumayan buat stok 2 bulan.

Kembali ke Pasar Bolu, Letak Pasar Bolu sendiri tidak terlalu jauh dari pusat kota rantepao, jika mengendarai kendaraan bermotor sekitaran 15 menit.Untuk dagangan di pasar bolu, sama sekali tidak ada kue bolu yang dijual, melainkan binatang alias ternak. Ternaknya sendiri tidak sembarang ternak. Komoditas utama di pasar bolu adalah babi dan kerbau.

Setelah sarapan pagi ala kadarnya dan minum kopi asli toraja dari pemilik penginapan, tujuan pertama kami hari itu saat menjelajah toraja adalah pasar bolu. Kenapa pasar bolu? Yep, karena pasar bolu tidak buka setiap hari, info dari ibu-ibu penginapanlah yang menghantarkan kami pagi itu menjadikan pasar bolu sebagai destinasi utama, mumpung masih di Tana Toraja gitu. hehehe.

Rabu, 18 Juni 2014

Main di Pantai Tanjung Bira, Bulukumba

 Nama Tanjung Bira dulu masih begitu asing di telinga saya. Setelah booming perjalanan dengan berbagai jenis gaya jalan, berbagai destinasi yang dulunya hanya diketahui oleh orang lokal, sudah bisa dan mulai diketahui oleh yang bukan orang lokal. Saat merencakan trip ke Sulawesi, Tanjung Bira masuk ke daftar yang kami kunjungi karena reputasinya sebagai pantai pasir putih. Terlebih hasil pencarian di internet membuat Tanjung Bira semakin harus menjadi tujuan saat di Sulawesi Selatan. 

Sesaat setelah tiba dari Tana Toraja dan beristirahat seharian, pada malam hari kami berangkat ke Tanjung Bira, yang ada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pertanyaan selanjutnya pasti kenapa berangkat malam-malam? Iya betul sekali, Tanjung Bira jaraknya cukup jauh dari Makassar. Tanjung Bira terletak bukan di sisi pesisir Selat Makassar, melainkan berada di sisi timur pesisir Sulawesi Selatan sehingga harus lewat sisi selatan dulu.
rute makassar-tanjung bira powered by googlemaps

Pukul 8 malam kami berangkat dari Kota Makassar menuju Pantai Tanjung Bira, jalanan pusat kota masih begitu ramai dan mobil mengarah ke selatan. Tiba di suatu kabupaten yang saya lupa namanya, kami menyempatkan makan di warung yang jual bakso super guede. Gede beneran baksonya? IYA GEDE BANGET! Ukuran bakso paling besar di Pulau Jawa pun kalah besarnya dengan bakso ini. Bakso, yang biasanya saya anggap seperti camilan karena tidak mengenyangkan, kali ini seperti makan berat karena baksonya guede dan super mengenyangkan. Agak lebay memang, tapi percayalah kalo baksonya benar-benar besar dan mengenyangkan. haha! Anehnya, bakso disiram pakai saus kacang seperti bumbu sate, sedangkan kuahnya dipisah di mangkuk tersendiri. Harganya Rp 12.000 sahaja!

Senin, 16 Juni 2014

Bandara Soekarno Hatta ke Stasiun Pasar Senen (dan sebaliknya)



Musim mudik yang akan datang, frekuensi perjalanan di Indonesia pastinya akan sangat tinggi, apalagi Pulau Jawa. Seringnya, untuk menghemat biaya dan alasan konektivitas, memadukan berbagai macam transportasi adalah penting. Paling gampang adalah antara pesawat dan kereta. Kereta yang notabene anti macet jika diintegrasikan ke bandara saya rasa akan menjadi kelebihan tersendiri. Setahu saya untuk Indonesia saat ini cuma Bandara Adisucipto di Yogyakarta, dan Bandara Kuala Namu di Medan yang terbaru. 
 
Untuk ke bandara Yogyakarta, bila anda yang berdomisili di Solo, Klaten, Wates dan Kutoarjo bisa dengan gampang mencapai bandara pakai kereta komuter, yakni Kereta Prameks. Kereta Prameks berhenti juga di Stasiun Maguwo. Stasiun Maguwo sendiri sudah terkoneksi ke Bandara Adisucipto sehingga anda tinggal jalan ke terminal bandara. Untuk Medan, sudah ada jalur kereta khususnya ke Bandara Kualanamu di Deliserdang.

Sabtu, 14 Juni 2014

Nongkrong di Lecker Cafe Yogyakarta


Dari banyaknya cafe-cafe yang bersliweran di Yogyakarta, saya punya beberapa tempat favorit yang mungkin bisa jadi referensi jika anda baru pertama kali di Yogyakarta dan akan tinggal dalam jangka waktu tertentu. Cafe favorit saya di Yogyakarta adalah Lecker Cafe yang ada di Jalan HOS Cokroaminoto Yogyakarta. Tempatnya memang tidak di pusat kampus seperti Seturan, Babarsari ataupun Jalan Kaliurang dan meski agak jauh dari kos-kosan, tempat ini worthed dalam hal harga dan kenyamanan yang didapatkan.

lokasi lecker cafe jogja dari googlemaps

Untuk yang belum tau lokasinya lokasi Lecker Cafe, bisa dilihat di peta dari googlemaps diatas. Letaknya persis di depan pom bensin dan jangan khawatir, Lecker ada di pinggir jalan besar sehingga mudah ditemukan. Awal mula menemukan cafe ini saat saya diajak teman untuk mengopi ( karena saya doyan kopi). Karena teman saya pengen minum kopi luwak yang asli di Yogya, dia ngajak ke Lecker. Untuk menu kopi cukup lengkap, dari kopi luwak yang ratenya paling mahal, kemudian kopi-kopi lokal macam toraja, bali, mandailing juga ada. 

view dari lantai dua




Menunya juga ga melulu kopi, ada juga ice-ice blended yang pakai dicampur es krim, hazelnut, dan masih macem-macem deh saking banyaknya variatif menunya. Selain minuman, Lecker juga jual makanan-makanan berbahan organik, seperti nasi goreng organik, salad, lalu untuk snack ada macam banana crepes, fish and chip dan masih banyak lagi. Untuk masalah tempat, kursinya ada yang model kayu cuma diberi seperti bantalan busa begitu biar empuk. Suasananya pun santai.

guava float
Buat yang suka nongkrong sampe pagi, kurang cocok nongkrong di sini karena cafenya tutup jam 01.00 dini hari. Kalo bukanya saya kurang tau karena seringnya malem kesini. Jika anda perokok, jangan khawatir, baik di lantai 1 maupun lantai 2 boleh merokok. Sedangkan untuk wi-fi-nya lumayan kenceng, puas-puasin deh bisa download. Kalo boleh rekomendasi, kopi-kopinya mantap, juga nasi goreng organiknya juga enak.

Jumat, 13 Juni 2014

Main ke Taman Purba Sumpang Bita, Maros.

bukit kapur yang ditumbuhin tanaman
Lanjooooot lagi nulis tentang perjalanan ke Sulawesi Selatan dan sepertinya akan lebih banyak tulisan lagi beberapa waktu kedepan. Kali ini kita main ke taman purba sumpang bita, letaknya senditri di Kabupaten Maros. Untuk detilnya saya kurang ngerti karena saat itu diantar. Yang saya ingat, dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin lurus terus ke arah utara. Sepanjang perjalanan bakalan ditawari pemandangan Pegunungan Karst yang ga abis-abis. Keren! Karst di Maros yang gue inget adalah salah satu yang terluas di Indonesia, kalo ga salah sih.

Rabu, 11 Juni 2014

Jetstar Flight From KUL to SIN


KLIA Main Terminal
Post kali ini cuma membahas bagaimana pengalaman pas naik Jetstar ke Singapura. Saya sendiri baru tau maskapai ini setelah sering jalan-jalan. Sebenarnya perjalanannya sendiri sudah lama, sekitar tahun 2013 kemarin saat saya ke Malaysia bersama teman-teman. Dapat tiket ke Malaysia, sebenarnya kami berencana pergi ke Singapura dengan jalur darat. Tanya-tanya dengan beberapa teman yang pernah ke Singapura, harga naik bus sekitar 150ribuan dengan tempo 5 jam perjalanan, jika naik kereta maka 8 jam. 2 pilihan tersebut pun masuk ke dalam list kami, maklum, mahasiswa dan kantong cekak.

Seminggu sebelum berangkat, belum ada titik temu bagaimana menuju Singapura. Teman-teman sendiri jawabannya pasti terserah dan yang penting murah. Setelah riset, pakai jalur darat lumayan ribet juga karena harus melewati imigrasi Malaysia dan Singapura dalam waktu berdekatan di border. Lihat situs si merah, harganya saat itu kurang cocok, si kuning juga sama saja.

Minggu, 08 Juni 2014

Makassar : Surga Makanan Enak dan Banyak!



Siapa sih yang tidak suka makan? Untuk makanan-makanan lezat Makassar punya pilihan yang oke punya. Letaknya yang ada di pinggir laut sekaligus membuat Makassar jadi kota pelabuhan yang ramai di Indonesia Timur. Bagi saya, gurih, manis, dan porsi banyak adalah ukuran terenak dalam makan, dan berbagai kuliner di Makassar oke punya dah.

Dimulai dengan Sop Konro Bakar. Sesaat setelah berkunjung ke Makam Sultan Hasanuddin, hari ternyata sudah siang dan perut, seperti biasa..lapar. hahaaha. Saat seorang teman menanyai apa menu untuk siang ini, saya mengusulkan untuk makan sop konro bakar. Saya mengusulkan Sop Konro Bakar karena saat ke Makassar pertama kali, saya tidak nemu tempatnya karena saat itu kebanyakan jalan kaki dan naik transportasi umum, sehingga agak ribet. Saat pergi ke Makassar kali ini, kami ada yang mengantar, jadi tinggal request mau kemana maka akan diantar ke tempat yang recommended. 

Kami diantar makan di Sop Konro Karebosi yang terletak di dekat Lapangan Karebosi. Maklum saat itu sudah siang sehingga tempat ramai orang yang sedang makan siang.
lokasi sop konro bakar karebosi, dekat dengan lapangan karebosi
Kami semua kompak pesan sop konro yang bakar. Tak lama menunggu, makanan yang ditunggu-tunggu datang.

Jumat, 06 Juni 2014

Santai - Santai di Sulawesi Selatan Seminggu


Awal tahun ini setelah UAS dan nilai mata kuliah keluar, tibalah libur semesteran. Yihaaa! Karena suatu urusan, dalam bulan Januari saya bolak-balik Yogyakarta-Jakarta. Ealah saya pun baru ingat kalau punya tiket penerbangan dengan teman-teman saya ke Makassar pada minggu akhir bulan Januari ini, sialnya saya tidak membawa pakaian dan perlengkapan traveling  yang memadahi untuk berlibur selama tujuh hari ke depan dengan berbagai wahana. Terpaksa saya kembali ke Yogyakarta cuman buat packing. Di Yogya, saya cuma semalam karena keesokan malamnya harus ke Jakarta terlebih dahulu untuk ke Makassar. Ribet ye?

Pre-Story

Sudah bisa ditebak, kami dapat tiket promo ke Makassar dari Jakarta. Pulang Pergi cuma 90ribu euy, udah pakai bagasi 15kilo pula. Tiket pun sudah di booking sejak Mei 2013 untuk keberangkatan bulan Januari 2014, lama tunggu booking hingga berangkat hampir sama seperti orang hamil. Setelah tiket tersebut hampir terlupakan, tiba-tiba masuk email dari AirAsia Preflight Notification,

Rabu, 04 Juni 2014

Lombok and Gili Trawangan Trip

gili air
Sering kali saya dipameri foto teman-teman yang main ke Gili Trawangan dan Lombok. Ngiler juga liat foto-foto teman-teman saya yang KKN ke Lombok dan sekitarnya. Sampai akhirnya ada promo Citilink Rp 55.000 ke semua tujuan pada September tahun lalu. Semua tujuan? IYA! Tentu saja Lombok tujuannya. Disaat sebelum jam promo dimulai, saya dan kedua teman, bil dan qies lagi nongkrong-nongkrong di Dixie Easy Dining. Untunglah koneksi inet lancar jaya, tapi sayang sekali ketersediaan kursi sangat terbatas di tiap penerbangan, paling banter 2 kursi sehingga saya berangkat duluan ke Lombok sedangkan teman saya menyusul keesokan harinya. SUB-LOP-SUB terbooking, harga Rp 110.000 all in. Yihaaaa! 

Senin, 02 Juni 2014

Pengalaman Operasi Gigi Geraham Bungsu ( Wisdom Teeth)


goodbye wisdom tooth. you lose.

Sedikit menjauhi dunia traveling, saya ingin membagikan cerita terkait dengan operasi gigi geraham bungsu yang saya jalani pada bulan desember tahun 2012 yang lalu. basi sih, tapi kok rasanya pengen menceritakan pengalaman yang satu ini (karena geraham bungsu yang kanan bawah sudah teriak-teriak tumbuh dan protes minta ruangan). Mendebarkan juga sih, karena tidak pernah ke dokter gigi sebelumnya, sekalinya ke dokter gigi, pake acara operasi segala.

Dari awal saya hidup, hingga akhir tahun 2012 yang lalu, saya tidak pernah ke dokter gigi sama sekali. Ya, sama sekali tidak pernah. Dari TK, SD, SMP, hingga SMA, saya tidak pernah ke dokter gigi walaupun cuma untuk periksa atau kontrol rutin. Alasannya simpel, saya tidak pernah mengalami masalah dengan gigi pada masa-masa tersebut.

Kamis, 17 April 2014

Lombok Day 3 : Senggigi dan Gili Trawangan


Jalan-jalan ke Lombok memang tak lepas dari suasana pantai. Setelah dari Pink Beach dan Tanjung Ringgit dan langsung separ semalaman, di pagi hari saya sudah bersiap untuk jalan lagi ke Senggigi dan Gili Trawangan. Rencananya, motor akan saya titipkan di penitipan motor di pelabuhan bangsal sehingga tidak repot cari-cari transportasi lagi.

rute perjalanan dari mataram ke pelabuhan bangsal di lombok utara, powered by mbah google maps

Sekitar jam 10 pagi, saya berangkat dari penginapan di daerah cakranegara menuju pelabuhan bangsal di pemenang, kabupaten lombok utara. Karena sudah pernah kesini sebelumnya, jadi medan jalan sudah mengerti bagaimana sehingga jalan santai saja kali ini.

Rabu, 16 April 2014

Lombok Day 2 : Pink Beach dan Tanjung Ringgit, Lombok Timur

Wonderful Pink Beach!

Hari ini agenda saya hanya mengunjungi pantai pink dan tanjung ringgit di daerah lombok bagian timur. Alasannya, karena cukup jauh dari pusat Kota Mataram, maka akan sangat rugi apabila hanya sebentar saja di objek tersebut. Apalagi, medan jalan yang tidak saya ketahui sebelumnya sehingga membuat senewen kalo kesasar.

Setelah ngopi dan sarapan gratisan pake nasi kuning khas lombok dari penginapan (dimana lagi coba penginapan Rp 100.000 dapet 2 single bed, kopi/teh pagi, sama sarapan!). Saya memanasi motor lebih dulu sambil merokok. Maklum, perjalanan di lihat dari peta kok jauh banget kayaknya. Motor rentalan dari penginapan seharga Rp 60.000 per 24 jam ini akhirnya melaju juga ke arah pink beach dan tanjung ringgit.

Mataram - Pink Beach Lombok Timur dari google maps . Jauh kan....

Petunjuk dari mbah google diatas menunjukkan kalo perjalanan melewati praya, lombok tengah. Jalan dari kota Mataram ke Praya kondisinya masih bagus, akan tetapi setelah mendekati Pink Beach,

Lombok Day 1 : Nasi Balap, Desa Sasak , Kuta Lombok dan Tanjung Aan


Airport Tax Naik :(

Bus damri berangkat ke Juanda International Airport (SUB) sekitar pukul 02.30 pagi. Jalan lancar tanpa macet dan kendala yang berarti. Sebelum ke Terminal 1, ternyata bus menurunkan penumpang yang akan ke Terminal 2. Terminal 2 Juanda Airport merupakan gedung terminal yang baru saja beroperasi bulan Februari. Bangunannya megah dan dari luar didominasi warna perak dan putih. Terminal 2 digunakan untuk keberangkatan internasional semua maskapai serta penerbangan Air Asia dan Garuda Indonesia. Sedangkan maskapai yang lain tetap di Terminal 1.

Sesaat setelah  menurunkan penumpang di Terminal 2, bus melaju ke Terminal 1. Sekitaran pukul 03.00 pagi, saya tiba di Terminal 1 dan diturunkan ke bekas keberangkatan internasional karena gerbang keberangkatan ini khusus untuk Citilink dan maskapai lainnya. Masuk ke pintu keberangkatan, suasana tidak riuh dan tenang karena kepadatan penumpang tidak terlalu ramai. 

Selesai check in dan memasukkan bagasi, tibalah bayar airport tax.

Senin, 14 April 2014

Hello Again Lombok Island!

Foreword

 Rencana jalan-jalan kali ini tidak berbeda jauh rentang waktunya dengan perjalanan saya ke lombok sebelumnya. Setelah melewatkan perjalanan ke Padang pada pertengahan Februari yang lalu, kali ini saya tidak ingin membatalkan ke Lombok kali ini walaupun sudah saya kunjungi sekitar satu setengah bulan yang lalu. Bosan? Enggak banget! Hambar rasanya saat ke Lombok cuma main ke Gili Islands. Padahal, masih banyak tempat lain yang patut disinggahi.

Seperti biasa, penerbangan ke Lombok yang kedua ini akibat promo Citilink yang 55rb untuk semua rute yang diadakan sekitar bulan November yang lalu. Namanya juga mahasiswa, promo-promo seperti ini sangat meringankan biaya perjalanan. Sebenarnya sih saya senang-senang saja menempuh perjalanan darat dalam sebuah perjalanan. Namun terkadang kelamaan di jalan juga membuat pengeluaran jadi bengkak, belum lagi capek luar biasa yang dapat merusak mood jika sudah tiba di tempat tujuan. Seperti pengalaman ke Hong Kong via Denpasar saya bulan desember yang lalu.

Kamis, 27 Maret 2014

Bergerombol ke Malaysia dan Singapura

Memang sudah banyak blog yang membahas Singapura dan Malaysia, namun rasanya saya ikut tertarik untuk memposting pengalaman saya dan keempat teman saya. Kalo di instagram sih, postingan kali ini bisa dikasih hashtag #latepost karena kejadian ini hampir setaun yang lalu. Semua cukup berkesan, karena semuanya first time. Bulan Mei 2013 yang lalu, saya dan keempat orang teman bekpekingan ke Malaysia dan Singapura. How come? Saat itu Airasia lagi punya rute baru Semarang-Kuala Lumpur PP, sedangkan harga yang ditawarkan untuk pulang pergi adalah Rp 288.000 all in. Ting tong, 4 orang tergiur termasuk saya. Karena saat itu belum punya internet banking, saya minta tolong jasa booking tiket pesawat yang banyak di kaskus. Setelah periode promo usai, eh, teman saya ada yang pengen join. Akhirnya satu orang lagi bergabung dengan berangkat dari Yogyakarta.

Semua persiapan beres. Tak terasa 10 bulan setelah pembelian tiket, hari keberangkatan tiba. Karena berangkat dari Semarang pada pukul 09.00, kami menginap semalam di rumah teman kuliah yang tinggal di Semarang. Perjalanan ke bandara cuma 15 menit karena Bandara Ahmad Yani ini terhitung masih di dalam kota. check-in lancar, bayar airport tax Rp 100.000, dan masuklah ke imigrasi. Air mineral isi 330ml saya disita, katanya tidak boleh lebih dari 100ml cairan masuk ke dalam kabin. Setelah pesawat tiba dari Kuala Lumpur, giliran penumpang dari Semarang boarding. AK 1311 berangkat tepat waktu.

Pesawat dari Kuala Lumpur tiba
 
Landing mulus sekitar pukul 12.20 waktu Malaysia (GMT +8). Karena naik Airasia, ternyata terminal yang digunakan adalah Low Cost Carrier Terminal (LCCT) alias budget terminal yang jalan ke terminal kedatangan lumayan jauuuuuuuh.

Kamis, 20 Maret 2014

Menginap di Stasiun Pasar Senen? Siapa Takut!


Tiba-tiba saya kepikiran Stasiun Pasar Senen dan malah jadi pengen nulis tentang stasiun yang satu ini. Ceritanya saat itu saya dan teman habis jalan-jalan dari Makassar dan Tana Toraja. Saking sengitnya arena pencarian tiket promo saat itu, saya asal saja pilih jam penerbangan, karena yang penting harga tiket pesawatnya hanya Rp 45.000. Tiket penerbangan Makassar-Jakarta tertera pukul 19.50 dan tiba di Jakarta pada pukul 21.10. Saya sendiri baru menyadari jam ini tidak nyaman saat akan berangkat ke Makassar. Karena tujuan akhir saya ke Yogyakarta, mulailah saya mencari cara bisa langsung connecting ke Jogja.

Sayang sekali saya lupa mengambil gambar sehingga dalam posting-an kali ini saya pakai gambar dari web lain. Stasiun Pasar Senen, stasiun untuk naik kereta ekonomi dan bisnis. Sumber gambar

Untuk mencari penerbangan lanjutan ke Yogyakarta sudah tidak mungkin lagi karena penerbangan terakhir ke Yogyakarta ada sekitar pukul 8 malam. Alternatif yang akhirnya ketemu adalah naik kereta api. Kok kebetulan sekali di awal bulan September, PT.KAI lagi ada promo September Ceria. Di promo ini, semua rute didiskon dengan harga yang lumayan.