Selasa, 17 Januari 2017

Hate and Love Relationship with Coffee

Kopi, minuman berwarna hitam ini memang menarik. Sampai  ada juga film filosofi kopi. Warna hitamnya memang mengerikan, walaupun rasanya berbeda-beda. Dengan minum kopi juga kita dapat belajar jangan mudah underestimate terhadap hal yang baru atau hal yang belum anda pernah rasakan. Kasarannya, dengan ngopi saya dapat pelajaran baru: dilarang sotoy alias sok tahu.
Bingung? Saya juga. Maksudnya jangan langsung labelling sessuatu dengan enteng, misal anda melihat warna hitam, hitam identik dengan kegelapan, ketidakjelasan, kejahatan, tinta, hingga air got atau comberan. 
Padahal identik, mindset, or whatever you name it,  adalah hal yang sebenarnya harus dikonfirmasi ulang dan bukan untuk dipercaya dengan mudah, kecuali anda orang yang percoyonan. Hitam juga identik dengan elegan katanya, saya pun mengangguk setuju. Intinya adalah jangan ngomongin kopi tanpa pernah mencoba kopi.
Cinta pertama dengan kopi datang saat remaja, saat jerawat muncul walaupun tidak setress akibat hormon pertumbuhan yang meningkat. Dulu saya tidak suka kopi sama sekali, sebelum menginjak umur 15 tahun. 
Papa dan Mama saya suka sekali kopi. Waktu kecil pun tiap pagi atau sore pas lagi santai, saya sering disuruh papa mama saya bikin kopi. Dalam benak saya saat itu, kopi adalah minuman untuk orang tua alias orang dewasa sehingga manusia yang belum dewasa menurut BW (Burgelijk Wetboek: re 21 tahun) tidak boleh minum kopi. 
Padahal lho kopi tidak ada anjuran minimum umur bagi penikmatnya. Berbeda dengan alkohol yang khusus dewasa, walaupun kenyataannya pun banyak remaja yang pernah menenggak minuman memabukkan ini walaupun sering dioplos dengan campuran aneh, maksudnya biar murah. Lagipula, dulu saat pemikiran masa kecil saya, kopi hitam itu pahit dan tidak enak. remaja minum kopi pun tidak lazim saat itu, kalah dengan popularitas es teh, es jeruk, maupun milkshake.
Sampai suatu hari masa menjelang ujian nasional SMP tiba. Karena tidak bimbel (bimbingan belajar), saya pun belajar sendiri dengan mengandalkan otak seadanya. Dan juga akibat pulang sekolah sore hari, tidur siang pun tidak mungkin dilakukan sehingga efek dominonya, ya, cepet ngantuk. Karena perlu baca dan latihan materi sendiri, untuk mengatasi ngantuk, pertama kalinya saya menyeduh kopi untuk pertama kalinya. 
Takaran tolol saat itu: dua sendok kopi dan tiga sendok gula pasir di gelas kecil ukuran 250ml. Hasilnya? Muanis dan kuentel, dan saya tetap melek, sehingga malam malam berikutnya saya menyeduh kopi untuk tetap belajar di malam hari.
Lama tidak akrab dengan kopi, waktu kuliah pun saya akhirnya akrab lagi dengan minuman ini. Takarannya berubah, saat kuliah saya sudah tidak suka kopi manis karena bagi saya sama saja minum gula. Saya pun lebih suka kopi tanpa gula, kalaupun pengen gula, maksimal saya tambahkan 1/2 hingga 1 sendok makan saja supaya masih kerasa rasa kopinya. Jika sedang nongkrong di kafe pun saya jadi sering pesan kopi, padahal tidak lagi pengen begadang tuh. Selesai makan pun kadang setelah minum air putih, pengennya ngopi. Am I addicted?
Dari Sana pun saya akhirnya tahu bahwa kopi berasa berbeda beda tergantung dari cara menyangrai, cara penyajian, brewing method, hingga lokasi penanamannya. Lokasi penanaman yang membuat rasa kopi berbeda dan khas saja dilindungi juga dalam hukum sebagai Hak Kekayaan Intelektual sebagai Merk Indikasi Geografis. 
Contohnya misal kopi Toraja, kopi yang ditanam di Tana Toraja, kemudian kopi Aceh, kopi yang ditanam di Aceh dan sebagainya. Harganya pun berbeda beda tergantung kualitas. Saat saya ke rumah Opung saya, dibelakang rumahnya ada kebun tanaman yang tidak asing. Saat saya tanya bapa uda, dibilang itu kebun kopi. Cuman katanya memang dibiarin aja karena harganya sudah turun, sehingga tidak untung kalo dirawat. Yah....Padahal bisa jadi kopi Tapanuli tuh, asli dari Bukit Barisan!
Suatu saat saya ngopi di salah satu kafe di Yogyakarta, teman saya pesan secangkir kopi luwak seharga Rp 90.000 belum termasuk pajak 15%. Saat saya coba, memang nikmat sangat. Harga memang tidak pernah bohong. Saat traveling ke Tana Toraja, saya dan teman menyempatkan beli kopi di Pasar kota Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Mumpung di Toraja, kami beli kopi 1/2kg untuk dibawa pulang. Tiap pagi saya seduh, kopi dari Toraja tersebut habis dalam 3 bulan.
Masuk ke kafe-kafe pun pilihan saya seringnya single origin karena bagi saya pas dan tanpa gula karena baru kerasa perbedaannya.  Favorit saya adalah kopi dengan asam yang lebih dominan dibanding pahit.
Sudah lama juga saya dengar kopi berjenis espresso, namun saya baru nekad mencobanya saat di luar negeri. Ceritanya saat itu saya sedang berada di bandara internasional Hongkong untuk kembali ke Indonesia. Setelah selesai urusan custom dan imigrasi saya pengen ngopi. Eh, di dekat gate ada kedai kopi yang ramai antrean orang. Saat lihat ada espresso saya pun nyobain, HKD 42 harganya kalau tak salah. Bisa diminum sekali teguk sebenarnya, tapi supaya lebih nikmat, saya cicil jadi tiga teguk. Oh ternyata begini toh espresso, not bad at all.
Saya pun baru tahu bahwa Kopi dan Rokok adalah perpaduan yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini baru saya tahu saat saya pergi ke Klinik Kopi di Gejayan, Jogja. Saat itu sedang waiting list sehingga saya pun menunggu dipinggir sambil ngerokok. 
Pegawai kafe yang lagi mencatat catat nama penunggu pun memberitahukan saya bahwa untuk merokok di lantai 1 (kedainya di lantai 2). Saya pun turun untuk menghabiskan sebat (sebatang rokok) tadi. Selesai merokok saya naik dan antrean saya dan teman sudah dipanggil. Ketika di tanya mau kopi selera yang bagaimana, sambil meracik kopi, pemiliknya dan juga merangkap barista, Mas Pepeng bilang ke saya kalau tidak salah jika kopi itu mengikat asap rokok atau gimana gitu saya lupa, intinya, kopi dan rokok adalah bad combination sehingga tidak baik dikonsumsi bersamaan. Oh gitu...
Masa skripsi pun tiba setelah tujuh semester berkutat dengan teori-teori dalam ilmu hukum. Kopi, begadang, dan rokok used to be my very best friend! Rasanya puas banget bab 1 sampai bab 5 skripsi setebal 110 halaman dapat saya kerjakan dalam waktu 6 hari berturut-turut tanpa ampun. 
Sampai saya tahu jika asam lambung saya Sudah lebay. Saat Cek tensi pun..ya gitu deh. Dokter pun tanya ke saya mengenai kebiasaan saya. Saat saya mengatakan hobi ngopi, dokter pun menyarankan untuk mengurangi dan minum dengan porsi wajar. Saran yang cukup mengerikan.

IPA dan IPS = Sebuah Bias.

Postingan ini sungguh random karena di tengah malam tiba-tiba otak saya flashback kehidupan saya saat mau bobo. 

Bagi yang pernah mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas alias SMA, saya yakin kalian pernah mengalami "kegundahan" saat memilih penjurusan saat naik dari kelas 1 SMA ke kelas 2 SMA (Penjurusan pada saat saya SMA pada kelas 2). Dan informasi yang pernah saya dengar dari teman saya yang adiknya masuk SMA bilang malah penjurusan sekarang langsung pada masuk kelas 1. Hah?

Jurusan saya saat SMA adalah IPA. Dulu saya sempat kepikiran masuk IPS karena saya benci sekali dengan Kimia, tapi jikapun masuk IPS, saya paling malas ketemu Sosiologi. Nah loh? Saran saya sih, tetap pilih berdasarkan apa minat kalian. Saya tidak menampik bahwa peran orang tua cukup besar terkait hal ini. Dulu ada teman saya udah happy-happy masuk IPS, eh sama orang tuanya tidak diperbolehkan dan dikembalikan ke IPA. 

Well, terkait pilihan IPA atau IPS sebenarnya sama saja, tinggal tentukan cita-cita kalian mau jadi apa. Kalau mau (dan niat) jadi lawyer, hakim, atau jaksa misalnya, ga usah pusing-pusing langsung saja masuk IPS dan belajar supaya bisa masuk jurusan hukum. Dan bila mau jadi dokter, perawat, ataupun insinyur, masuk IPA lah jawabannya.

Akan tetapi umur-umur segitu biasanya sih orang (apalagi remaja) seringnya labil alias ga stabil. Ada lho dulu teman saya niat masuk jurusan fisika tapi waktu seleksi masuk perguruan tinggi tiba-tiba switch jadi jurusan ekonomi. Ada juga teman saya yang niat pake banget masuk jurusan kedokteran, pas ujian masuk malah milih hubungan internasional. Bingung? Saya juga.

Karena dulu pengen jadi Insinyur yang bikin jalan tol, saya pernah milih jurusan Teknik Sipil saat UM UGM. Pilihan pertama? Tentu akuntansi, karena saya suka ngitung duit. Hahaha. 

Kemana poin biasnya?

Begini, pada saat saya SMA, anak IPA pun bisa milih jurusan perkuliahan pada rumpun Ilmu Sosial maupun Ilmu Alam & Eksakta. Begitu pula anak IPS, bisa memilih jurusan pada rumpun IPA, pertanian misalnya. Dengan catatan kalian ikut tes tertulis dan memilih IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran, rata-rata bisa memilih 3 program studi. Jika pun malas ikut IPC, anak IPS yang pengen jurusan Biologi misalnya, langsung saja memilih tes IPA dan siap-siap belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, tanpa harus mengerjakan Sejarah dan Sosiologi. Dan bagi yang IPA mau masuk jurusan Psikologi, langsung saja ambil paket ujian IPS, dan siap-siap konsekuensinya belajar Sejarah, Sosiologi, Geografi dan Ekonomi. Jadi jurusan apa kalian tidak pengaruh saat memilih program studi karena ini tes tertulis non prediktif, tidak seperti ujian nasional yang ada kisi-kisinya yang bisa dibikin varian soalnya sampe mabok karena ada standar kompetensi dalam setiap jenis soal yang harus dikuasai.

Bagaimana dengan IPC?

Saya sarankan tidak, karena kepala kalian bisa pecah setelah keluar ruang ujian. Kalo biasanya rumpun IPA tes dari pagi sampai siang, dan IPS tes dari siang sampai sore, jika yang IPC siap-siap tes dari pagi sampai sore, siapkan saja stamina dan makan yang banyak karena mikir ternyata bikin cepat lapar! Saya mengalaminya sendiri saat UTUL UGM pada tahun 2010, IPC benar-benar melelahkan.

Untuk jalur raport, sangat disayangkan karena bagi anak IPA, hanya bisa memilih rumpun program studi IPA, begitu juga dengan IPS. Namun ada pengecualian di beberapa perguruan tinggi karena dulu kakak kelas saya yang IPA bisa masuk jurusan akuntansi dengan jalur raport. Akan tetapi seperti yang saya baca, saat ini porsi penerimaan mahasiswa di PTN lebih banyak yang via SNMPTN Undangan alias Pakai nilai raport. Di beberapa feed media pun saya baca di kolom komen banyak yang kurang setuju dengan sistem tersebut. Karena apa saya tidak tahu. Hal ini berakibat pada kuota jalur tertulis yang lebih sedikit. 

Berbeda pada saat saya mau kuliah, porsi jalur tulis jauh lebih besar daripada jalur non-tulis sehingga emosi dan struggle-nya dapet. Beberapa saya ikutan, seperti UTUL UGM, SIMAK UI, UM UNDIP, UMB-PTN, hingga tes masuk PTN terakbar saat itu, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri alias SNMPTN (Transformasi dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB)

 Asyiknya lagi kalau bisa setiap ujian lulus, wih tinggal milih kampus coy! Berbeda jika dengan jalur raport alias prestasi yang notabene kemungkinan harus diambil karena nantinya sekolah yang bersangkutan akan di blacklist apabila siswanya 'cabut' alias tidak mengambil di prodi yang menerimanya. Oleh karena itu, saya tidak pernah niat ikut jalur raport karena saya mau 'nyebrang' ambil prodi ilmu-ilmu sosial, sehingga mending digunakan untuk teman-teman yang memang berniat. Dulu pun sampe rebut-rebutan kuota daftar karena dulu hanya dibatasi 25% terbaik di kelas. 

So, jika niat ambil jalur raport, siap-siap sakit hati karena sistemnya adalah tinggi-tinggian nilai. Beda dengan jalur tertulis yang non prediktif, kalian masih bisa untung-untungan alias 'bejo'. Dulu ada teman saya ngisi ngawur, nomor 1 sampe 5 diisi AAAAA, Nomor 6-10 diisi B semua, Nomor 11-15 diisi ABCDE, Nomor 31-35 diisi EDCBA, eh tembus di salah satu PTN! 

Gila memang, namun kalian jangan senang dulu. Pernah dengar yang namanya 'peluang' di pelajaran matematika? Sistem di ujian tulis biasanya Benar +4, dan Salah -1. Misal pun ada 100 soal, dengan 5 opsi jawaban, dan anda jawab ngawur semuanya, bisa jadi ada peluang benar 1/5 soal alias 20 soal sehingga dapat nilai 80, namun 80 soal salah sehingga nilai kalian sama saja nol. Kecuali anda yakin banyak soal benar, sisanya ngawur bisa sih dengan perhitungan yang tadi. 

Pada dasarnya IPA IPS sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalo ga mau mengerjakan tes IPA dan IPS, bisa daftar Sekolah Kedinasan yang ternyata buanyak banget! Cek di gugel saja karena jumlah sekolah kedinasan di negara kita ada banyak. Biasanya soalnya Psikotes ala Seleksi Kerja. Sekolah kedinasan bisa dijadikan pilihan karena dibawah lembaga negara, biasanya biaya kuliah sudah ditanggung dan ada juga yang diberi uang saku. Setelah lulus langsung kerja di lembaga bersangkutan juga, mantap!

Pada akhirnya pun IPA dan IPS sama saja.

 

Sabtu, 14 Januari 2017

Huru Hara Penang - Kuala Lumpur - Jakarta - Surabaya

12 Juni 2015 adalah tanggal yang tak terlupakan bagi saya di tahun 2015 yang lalu. Baru kali ini saya tidak tidur sampai hampir 48 jam! Saya jadi teringat dulu ada berita bahwa ada orang yang 3 hari tidak tidur (karena lembur kerja) dan dinyatakan wafat karena serangan jantung yang ramai banget dibahas di twitter. Waduh!

Cerita berawal pada tanggal 9 Juni 2015, saat itu di malam hari di hostel saya sedang santai-santai di communal room untuk browsing cara melintasi perbatasan dari Thailand ke Malaysia via Hat Yai City menuju Pulau Pinang. Iseng ngecek email ternyata ada panggilan tes dari PT. Angkasa Pura I (Persero)  pada tanggal 13 Juni 2015 di Surabaya! Duar! agak galau juga jika skip tes ini karena perusahaan ini adalah salah satu incaran saya dalam berkarier. Saya baru kembali ke Indonesia pada tanggal 12 Juni 2015, landing di Jakarta pula! Pada saat itu saya sempat kepikiran untuk langsung terbang ke Surabaya dari Penang karena ada direct flight naik Airasia, tapi tiketnya saat itu saya pikir cukup mahal dan saya tidak punya uang. Haha. Saya pun BBM kakak saya untuk mengabari Papa saya, secara saya tidak beli SIM card di Thailand. Besoknya saya dibelikan Papa saya penerbangan Jakarta - Surabaya untuk tanggal 12 Juni siang. Horeee!

Fast forward ke Penang tanggal 11 Juni di dini hari pukul 1 pagi hingga terang saya tidak bisa tidur karena kutu busuk di kasur hostel (persis dengan yang saya baca di review-review) Jam 9 pagi saya dan teman-teman sudah check out dan keliling-keliling Penang pakai Bus Gratisan yang 'ngider' di beberapa lokasi di Penang. Sign paling gampang untuk tahu atau tidak bus gratis adalah jika di halte ada tulisan "hop on hop off". Dijamin gratis, Puas muter-muter, sore harinya kami kembali ke hostel untuk mengambil tas dan segera menuju Bandara Internasional Penang di Bayan Lepas yang cukup jauh dari Georgetown. Singkat cerita, penerbangan kami pukul 20.00 delayed sejam. Kami pun sempat lihat beberapa orang berdebat dengan ground staff karena ada yang hampir ketinggalan connecting flight ke Australia.

Total delayed sampai boarding ternyata cuma 40 menit. Saat take off, Penang sedang hujan sehingga agak ngeri-ngeri sedap. Tidak ada kendala yang berarti dalam penerbangan yang singkat ini. Kami landing di Kuala Lumpur sekitar pukul 22.10 malam. Sampai di terminal domestik sudah tidak banyak penerbangan sehingga suasananya sepi. Kami pun ngacir ke keberangkatan internasional yang masih ramai untuk mencari 'tempat bobo'. Buset, semua tempat strategis sudah di invasi para calon penumpang baik di bagian departure maupun arrival! Kami pun menunggu di Starbucks dekat area check in untuk cari charger. Jam 1 pagi, ternyata tempat ini bergegas tutup. Waduh!

Karena sudah ngantuk berat, akhirnya kami nekad tiduran di kursi dekat gerbang masuk KLIA2. Satu teman saya tidak kuat dinginnya AC bandara sehingga memutuskan tiduran di luar, padahal di luar menurut saya panas sekali. Walau dikata mata tertutup, sebenarnya saya tidak bisa tidur karena bobo di kursi. Saya pun pergi ke McD untuk makan karena lapar sekali. Sekitar pukul 3 Pagi saya tidur lagi dan baru bangun sekitar pukul 4 dini hari. Setelah "mengumpulkan nyawa" di toilet, cuci muka, sikat gigi dan repack ransel, kami pun langsung ke document check counter di area check in. Rupanya pagi hari adalah rush hour di KLIA2 karena banyaknya manusia bersliweran yang akan pergi naik pesawat. I'll be home!

Selesai check dokumen, kami langsung melaju ke imigrasi. Selesai imigrasi, kami diperiksa barang bawaan dengan X-Ray, selesai pemeriksaan pertama, masuklah kami ke pemeriksaan berikutnya sebelum menuju wilayah gate, yakni 'aviation security check', mayoritas barang sitaannya adalah cairan yang lebih dari 100ml dan alat-alat lain yang dilarang. Kirain tumblr yang saya beli bakalan disita, ternyata aman-aman saja.

Masuk ke area gate kami jalan santai karena waktu boarding masih cukup lama, gate keberangkatan saat itu belum dibuka sehingga kami menunggu di luar dan iseng nyoba kursi pijat yang bayar RM5 untuk 15 Menit. Hiburan kami saat itu adalah panggilan masuk gate ke berbagai destinasi, rata-rata ke ASEAN, serta India dan China. Pukul 06.30 gate dibuka dan semua penumpang berjubel mengantre. Penerbangan pertama Kuala Lumpur - Jakarta pagi itu rupanya penuh. Daaaan delayed sejam karena hujan deras pagi itu. Mampus! Pukul 07.20 ternyata sudah disuruh boarding namun prosesnya agak lama sehingga baru benar-benar bisa take off sekitar pukul 07.50. Tidak ada yang berkesan pada penerbangan kali ini karena kami lelah luar biasa dan tak terasa sudah mendarat di CGK airport tercinta.

Jam menunjukkan pukul 09.10 waktu Jakarta, setelah turun dari bus kami langsung berlari ke Imigrasi supaya dapat antrean awal. Kelar imigrasi, giliran bea cukai yang kami cuma di scan barang doang. Selesai urusan Imigrasi, saya langsung tukar uang di Bank yang buka kantor kas di Terminal 3. Secara saya terpaksa karena tidak punya rupiah sepeser pun, sehingga tidak peduli berapapun rate Ringgit saat itu. Tepat pukul 09.30 kami sudah berada di luar terminal 3 CGK untuk menunggu Damri ke Gambir. Secara, tidak ada public direct access ke senen, kecuali taksi. Tadinya kami mau naik taksi, namun karena traffic Jakarta yang mengerikan di pagi hari, kami nyari amannya saja karena sudah kere setelah 13 hari di jalanan.

Kami pun mulai panik saat jam 10.30 bus masih berada di tol. Tepat pukul 11.00 siang kami tiba di Stasiun Gambir. Saya pun berpisah dengan 2 orang teman saya karena mereka akan mengejar Krakatau jam 12 siang ke Jogja, sedangkan saya ke Gambir untuk pembatalan tiket. Saya pun baru ingat kalau pembatalan maksimal tiket kereta api adalah 30 Menit sebelum keberangkatan. Karena Krakatau berangkat jam 12.00 siang, maka maksimal saya bisa cancel pukul 11.30! Sampai loket saya ingin pingsan karena masih disuruh foto kopi KTP pula! aduh! Ternyata dekat loket ada jasa foto kopi KTP. Selembar seribu btw, harga yang bisa diterima orang yang sedang buru-buru. Lol. 11.20 saya balik ke loket, dan Puji Tuhan masih sempat di cancel....lumayan 130ribu selamat...

Saya pun bergegas ke 711 untuk take away nasi kotak dan sebungkus sampoerna mild karena saya sudah seminggu tidak merokok akibat rokok saya habis saat masih di Thailand. Sambil jalan ke pemberangkatan damri Gambir-Cengkareng, saya jalan sambil ngerokok. Belum ada setengah batang ngebul, bus sudah mau berangkat. Pukul 11.45 saya kembali menerobos jalanan menuju Bandara Soekarno Hatta. Rupanya damri Gambir-CGK frekuensinya 15 menit sekali. Sekali lagi saya kena macet dan tiba di Bandara pukul 14.00! Padahal penerbangan Jakarta - Surabaya saya Pukul 15.00! Karena saya sudah tidak kuat angkut ransel, terpaksa saya baggage drop ke konter dan sekali lagi Tuhan menolong saya. Antrean tidak ada sama sekali. Lega...

Saya pun cari tempat untuk charge HP saya yang baterainya hampir modar di area kosong dekat Monas Lounge di lantai 2 sambil makan chicken teriyaki yang saya beli di Stasiun Gambir sambil ditemani pandangan mata orang-orang ke arah saya. Haha. Kali ini saya sudah agak santai karena sudah dapat boarding pass dan sudah tidak gendong ransel saya yang ternyata 12kg...Selesai take away kopi dari Starbucks, saya menyempatkan ngebul di smoking area. Tepat sebatang rokok saya habis, ternyata sudah ada panggilan boarding penerbangan kali ini ontime. Namun di landasan, air traffic...sehingga mundur 30 menit. Baru kali ini saya tidak menikmati penerbangan karena saya sudah tertidur saat masih antre take off di CGK dan dibangunkan pramugari saat mendarat di Surabaya.

Tiba di Surabaya sekali lagi kesabaran saya diuji. Jalanan di Jumat sore macet dimana-mana. Total saya habis 150rb dari airport ke Dharmawangsa. Selesai masuk ke penginapan, mandi, makan, saya langsung tepar pukul 9 malam. Total 44 jam saya tanpa tidur!





Minggu, 24 Januari 2016

Border Crossing: Thailand (Sadao) to Malaysia (Bukit Kayu Hitam)

Thai Border Sadao

Setelah sejam meninggalkan Hat Yai, hawa-hawa perbatasan mulai muncul. Ditandai dengan keramaian dan plang petunjuk dwibahasa. Memasuki antrean kendaraan di border, langsung kena macet-cet-cet. Rupanya border sangat padat siang itu. Van yang kami tumpangi akhirnya mencari jalan tikus untuk memperpendek waktu tempuh.

Seorang perempuan Filipina disamping saya yang mengaku pergi ke Malaysia untuk memperpanjang visa Thailandnya pun bingung dan bertanya ke saya:

"How much time needed to go to Penang? Is it still far from here?" dia tanya begitu karena saya disangka orang Malaysia. Setelah gusar mencari jalan untuk menembus kemacetan, seorang ibu-ibu dari Malaysia mengabsen kami satu persatu untuk mencairkan suasana dan bertanya asal negara kami.

"Three Indonesian on the back row!" teriak saya.
"Hello my neighbor!" balasnya

Kami pun keluar masuk jalan-jalan kampung dan masuk gang, kami akhirnya memasuki jalan utama menuju perbatasan yang juga masih macet, namun sudah ada di dekat Imigrasi Thailand. Begitu memasuki Imigrasi Thailand, kami pun disuruh turun untuk antre cap keluar Thailand. Si sopir van pun teriak-teriak ke saya karena saya dikira warga Thailand dan memberi isyarat dimana ia parkir. Saya pun pasang muka bingung dan dia lalu bilang:

"There!!! Eighteen!!!"

Oh maksudnya di parkiran area 18. Ok deh komandan!

Kami mengantre lama sekali di border karena antrean keluar masuk Thailand di siang itu sangat ramai. Setelah menyerahkan paspor, cap cap cap, arrival card Thailand di paspor saya dicabut dan resmi kami meninggalkan wilayah Thailand. Petugasnya pun kerja cepat.

Border ini amat sangat ramai. Ada sekitar 30 menit kami antre di Imigrasi dan menuju parkiran yang ditunjuk si sopir. Karena kebelet pipis, saya pipis dulu di toilet umum dekat parkiran yang bayarnya bisa pakai Bath maupun Ringgit. Saya bayar 3 Bath alias Rp 1.200. Standar bayar toilet umum di negara ASEAN sepertinya memang sekitar Rp 1000. Jika di Indonesia toilet umum bayar Rp 1000 (kadang Rp 2000), di Singapura saya pernah juga pipis di toilet umum dengan tarif 10 sen, di Malaysia saya juga pernah, tarifnya 30 sen.

Sehabis buang air kecil, cewek bule Inggris teman satu Van saya merokok di parkiran, ikutan deh saya ngerokok dan pinjam korek sambil basa-basi sambil tunggu penumpang yang lain. Teman-teman saya beli buah dari pedagang eceran,

Setelah penumpang komplit, van melaju ke Imigrasi Malaysia. Manusia dan semua barang harus dibawa saat pemeriksaan karena selain masuk ke Imigrasi, kami juga harus melewati custom. Perbatasan ini tidak terlalu ramai dibandingkan border untuk keluar Thailand. Saya deg-degan juga mengantre karena sepi. Setelah dicap, saya bilang "Terima Kasih Pak Cik!" dan dijawab "Ya ya". Seumur-umur lewat imigrasi dimanapun, baru sekali ini ucapan thank you saya di reply.

Antrean siang itu pun  tidak terlalu ramai sehingga prosesnya cepat dan kami masih bisa duduk-duduk dekat kantor imigrasi dan menunggu penumpang lain sambil makan mangga yang dijual PKL disekitar exit imigrasi. 

Selesai semua penumpang lewat imigrasi, kami pun melanjutkan perjalanan ke Penang. Memasuki Malaysia, Van melaju kencang di Jalan Tol yang mulus. Sekitar satu jam kemudian, Penang Bridge terlihat yang berarti kami akan tiba di destinasi tujuan kami.


Membelah Thailand Naik Kereta Api

Rute naik kereta kami di Thailand

Hari itu akhirnya datang juga.

Setelah lima hari di Bangkok, tiba saatnya kami meninggalkan kota ini. Kami mengaku, tidak terlalu mengeksplor kota ini terlalu dalam sehingga kok berat saat akan meninggalkan Bangkok. Semoga ada kesempatan lagi ke Bangkok.

Karena check out pukul 12.00 siang, kami sengaja santai-santai karena kereta api dari Bangkok ke Hat Yai akan berangkat pukul 14.30. Saat check out, kami pun duduk-duduk dulu di communal room hostel yang ada sofa empuknya, lumayan untuk mengulur waktu. Sekitar pukul 13.00 kami pun jalan kaki ke Stasiun Hua Lamphong dengan sinar ditemani sinar matahari Bangkok yang menyengat. Tak lupa juga kami take away makanan, camilan dan minuman di 711 karena kereta ini akan menempuh perjalanan selama 16 jam! Bisa modar kan kalau 16 jam tak ada apa-apa yang masuk ke perut?

Akibat takut kelaparan, kami pun take away masing-masing dua kotak nasi untuk makan malam dan siang, roti, serta camilan-camilan kecil untuk killing time, dan tak lupa juga yang utama adalah air mineral dan minuman manis lainnya. Sampai Stasiun Hua Lamphong pukul 13.30 sehingga kami cukup lama menunggu di ruang tunggu stasiun. Kami pun keliling-keliling stasiun sekaligus muas-muasin ngerokok karena bakalan tidak bisa merokok di dalam gerbong.

Stasiun Hua Lamphong ini lumayan besar dan seperti pusat stasiun keberangkatan kereta ke berbagai penjuru Thailand sehingga rame banget. Interior stasiunnya pun masih seperti bangunan zaman dulu dengan tipe langit-langit tinggi dan lengkungan. Area komersial pun banyak di dalam area stasiun seperti restoran, kafe, ATM sampai bagian lost and found. Tak terasa juga sudah pernah jalan darat dari timur Thailand, ke tengah Thailand, dan sekarang ke selatan Thailand. Sebagai panduan, saya melihat situs www.seat61.com yang isinya mengulas secara lengkap perjalanan kereta api di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Lima belas menit sebelum keberangkatan, saya kencing di toiletnya yang bayar 4 Bath dan kami pun check in. Karena warga negara asing, kami pun diwajibkan menunjukkan paspor untuk dicocokkan dengan nama. Saya pun baru tahu jika sleeper train ini rangkaian gerbong yang paling mahal tarifnya sehingga ada di ujung depan. Rangkaian gerbong pun tidak semuanya sleeper train, melainkan ada juga gerbong kereta kelas ekonomi dengan seat configuration 2-3 dan tanpa AC. Untuk tarifnya yang ekonomi saya kurang tahu karena tidak ditawarkan ke kami saat beli di stasiun.


Begitu masuk, kami pun cukup terkejut karena gerbongnya bersih dan wangi. Saat siang hari konfigurasi kursi adalah hadap-hadapan namun 1-1 alias cuma madep satu orang. Sebelum berangkat seperti biasa, ada pemeriksaan paspor dan tiket oleh petugas. Menandainya pun dengan membolongi karcis dengan alat pembolong tertentu, seperti di Indonesia lah. Dibelakang saya, seorang wanita berambut pirang berbicara dengan aksen bahasa Inggris yang jelas. Intinya, dia menanyakan apakah ada kereta lanjutan dari Hat Yai ke Butterworth. Si petugas pun geleng-geleng.

Karena merasa "senasib", saya pun menyapa dan menanyakan.

"Do you wanna go to Butterworth? We also wanna go there and plan to catch a van from Hat yai! Because i read online there's no connecting train to Butterworth."

"Wow. We can catch a van together because i also read that as you said." katanya.


Sabtu, 19 Desember 2015

Last day in Bangkok

Bangkok traffic
Jalan-jalan yang beneran jalan alias kebanyakan jalan kaki memang agak sengsara, apalagi jika naik transportasi umum yang notabene tidak selalu ada di dekat kita pemberhentiannya. Kita Orang Indonesia juga tidak terbiasa menggunakan transportasi umum, apalagi jalan kaki. Tak heran tiap malam kami sudah lelah menjelajah Bangkok dan bangun selalu diatas jam 10.00 siang. Hari ini karena bingung mau ngapain (dan kehabisan uang), kami pun pergi ke mall lagi.

Kali ini kami pergi ke MBK Mall dari hostel kami di daerah Sukhumvit. Di dekat hostel kami ada tourist information centre dan kami di arahkan naik bus nomor sekian menuju MBK Mall. Baru 10 menit jalan, ternyata sudah sampai di depah mall. Loh? Anehnya,tidak ada petugas yang keliling di dalam bus untuk narik karcis. Apa gratis ya? Ini masih menjadi misteri bagi kami berempat.

Karena sudah siang juga, kami pun tidak lama keliling dan mencoba ke food court. Variasi makanan dan harga menurut saya lebih mending di Platinum Mall. Baru disini juga saya makan doang diatas THB 100. Selesai makan kami pun mengatur strategi karena rombongan akan pecah menjadi dua dan juga karena tidak beli SIM Card lokal Thailand. Saya akan mengantar teman saya yang akan terbang pulang ke Indonesia dan dua orang teman belanja dan akan langsung ke hostel terakhir kami. 

MBK Mall, Bangkok.
Berdasar informasi yang saya dapat, sebenarnya ada bus langsung dari MBK ke Don Mueang Airport, namun karena lalu lintas jalanan Bangkok katanya beda tipis dengan Jakarta, kami pun naik BTS ke Mo Chit, stasiun BTS paling ujung utara, dari sana kami keluar menuju shelter bus yang ramai dan saat lihat tulisan "Don Mueang Airport" saya pun mendatangi kondektur bus dan konfirmasi. Agak mahal memang, THB 30 karena bus ini ekspress alias langsung menuju Don Mueang Airport.

Sekitar dua puluh menit kemudian, tibalah kami di Don Mueang Airport. Teman saya pulang ke Indonesia dengan menumpang Scoot dari Bangkok ke Singapura yang tiba di tanggal berikutnya dan melanjutkan penerbangan dari Singapura ke Yogyakarta menggunakan AirAsia. Setelah memastikan jika berada di terminal keberangkatan yang benar, saya pun balik dengan rute bus yang sama, namun dengan rute MRT yang berbeda. Kali ini saya naik MRT dari Mo Chit ke Hua Lamphong, dari ujung ke ujung ceritanya.

Selesai check-in di hostel saya pun menunggu dua orang teman saya di balkon. Sekitar sejam tidak kelihatan juga batang hidungnya, saya pun SMS pakai nomor Indonesia ke dua orang teman saya. Eh saat saya mau masuk ke hostel, dari belakang terdengar cekikikan dan omongan dengan bahasa yang tidak asing. Halah, ternyata teman-teman saya kebablasan pas naik bus sehingga mereka jalan jauh menuju hostel. Hahaha!

Dengan menggunakan komputer hostel, saya pun browsing tentang van dari Hat Yai menuju Penang. Setelah hampir nyerah, karena kebanyakan informasi van dari Penang ke Hat Yai, akhirnya di suatu forum berbahasa Inggris, saya menemukan suatu post mengenai van dari Hat Yai ke Penang yang katanya ada di banyak dekat stasiun. Everything sounds perfectly done!


Scoot Boeing 787 Dreamliner DMK-SIN
Malam itu pun kami packing karena perjalanan di Thailand akan segera diakhiri. Saat teman saya mendarat di Singapura di tengah malam, dia mengirim foto ke grup Whatsapp jika maskapai Scoot yang ia tumpangi ternyata pakai pesawat Boeing 787 Dreamliner pada rute Bangkok-Singapura! Wih!

Explore The City of Bangkok


Keramaian di depan Platinum Mall, Bangkok.
Terus terang sebenarnya saya belum begitu tertarik pergi ke Thailand saat akan trip kali ini. Sampai saat itu tiket lanjutan dari Kuala Lumpur yang murah mengarah ke Siem Reap, sehingga jika tidak mengunjungi Thailand rasanya kurang komplet. Apalagi konektivitas di Thailand ke berbagai negara tetangganya lumayan bagus. Mau pakai jalur darat ke Kamboja, Malaysia, Laos, hingga Myanmar bisa dilakukan. Turis asing yang terbang dari benua lain pun sepertinya banyak yang memulai perjalanan di Thailand. Buku panduan seperti Lonely Planet pun untuk section Asia Tenggara menggunakan Thailand sebagai starting point untuk turis yang berencana keliling ASEAN.

Katanya Thailand surganya backpackers, saya pun mengangguk setuju karena harga apapun di negara ini masih cukup affordable bagi orang Indonesia. Berbagai jenis kegiatan wisata pun tersedia dengan berbagai tingkat budget. Mau wisata dengan luxurious maupun jalan ala gembel terakomodir di negara ini.

Awalnya bila tidak mengunjungi Thailand, kami akan melanjutkan perjalanan ke Vietnam dan terbang ke Singapura dari Ho Chi Minh serta naik bus dari Singapura ke Kuala Lumpur. Terdengar asyik bukan, sih? Namun karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika (saat saya berangkat, 1USD = 13350 IDR) dan Dollar Singapura, kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura di lain waktu.

Hari kedua kami di Thailand jatuh di hari sabtu sehingga pas dengan bukanya Chatucak Weekend Market. Kami pun naik MRT menuju stasiun MRT Kamphong Paet dari Hua Lamphong. Tiketnya lumayan mahal, THB 42. Hampir sama dengan tiket kereta api dari Aranyaprathet ke Bangkok. Sepertinya memang tiket MRT tidak di subsidi karena mahal. Saat masuk ke stasiun, ada petugas wanita yang mengecek isi tas calon penumpang. Ketika masuk platform dan masuk ke dalam gerbongnya, kami cukup terkejut. MRT Bangkok rupanya tidak kalah dengan MRT Singapura maupun MTR Hongkong, bersih, nyaman, dan cepat.

Setelah melewati belasan stasiun, tiba lah kami di Stasiun MRT Kamphong Paet. Hawa keramaian sudah mulai terasa di pintu keluar dan sampailah kami di Pasar Chatuchak yang banyak dibicarakan orang-orang. Entah di section apa kami masuk, karena sudah ramai sekali keadaan pasar ini. Pasar Chatuchak ini jualannya macam-macam. Mulai dari baju, makanan, minuman, tumbuhan, binatang, pernak pernik, boneka, tas dan entah apa lagi ada di pasar ini. Orang-orang pun banyak berjejalan. Dari beberapa percakapan yang terdengar pun banyak Orang Indonesia yang mengunjungi. Teman-teman saya pun berbelanja macam-macam, sedangkan saya belum beli apa-apa akibat tak tahu mau beli apa.

Chatucak Weekend Market

Tibalah kami di distro yang dijejali banyak orang di bagian tengah, eh ternyata lagi ada sale! 100 Bath dapet 2 kaos gede. Lumayan lah dapet 4 kaos cuma 200 Bath, pas ukuran saya pula. Beberapa pedagang pun kadang ada yang bisa bahasa Indonesia. "Sini sini. Murah murah". Teman saya pun mampir dan borong ikat kepala yang dijual seorang ibu tua yang memanggil kami pakai Bahasa Indonesia. Ada sekitar tiga jam kami keliling di Pasar Chatucak. Sepanjang mutar-mutar pasar, rata-rata pedagangnya tidak mau tawar-tawaran sih, sudah fixed price, sehingga saya tidak begitu tertarik berkeliling. Pasar Beringharjo di Yogyakarta lebih unggul dalam hal budaya tawar-menawar, sekalipun anda turis. 

Kalau saya lebih banyak beli jajan dan cemilan. Favorit saya di Pasar Chatucak adalah coconut ice cream. Isinya belahan kelapa yang airnya dikasihin ke kita, terus di batok kelapa yang masih ada dagingnya itu diisi 2 scoop es krim dan toping yang bisa milih. Saran saya pilih lah toping kacang merah dan Nata de Coco, maknyus! Harganya lumayan murah, 35 Bath dan dipenuhi antrean yang 
rata-rata turis.


Maknyus nih Coconut Ice Cream!
Bosan di Pasar Chatucak, kami pergi menuju Pratunam Market, yang dari hasil browsing katanya lebih murah untuk barang tekstilnya dibanding Chatucak. Dari MRT kami transit di Siam untuk menuju BTS Ratchathewi. Ternyata naik BTS dan MRT beda ticketingnya. Kalau naik BTS agak repot, cuma bisa beli tiket pakai koinan sehingga ada konter khusus penukaran koin. Keretanya tidak kalah enak dengan MRT, bedanya, BTS berjalan di "atas" tanah alias melayang.

Turun di BTS Ratchathewi, ternyata jalannya lumayan jauh. Hampir saja kami menyerah dan naik taksi. Tibalah kami di kerumunan ramai orang-orang. Saat kami tanya orang, katanya ini Pratunam Market. Lho? Yang saya baca sih dekat Baiyoke Hotel. Jadi mana dong hotelnya? Saat masuk ke dalam, ada sign menuju Baiyoke tower. Saat kami ikuti malah tidak ada apa apa. Waduh nyasar!
Untuk memastikan lagi saya pun tanya bakul disitu. Katanya memang benar disitu adalah Pratunam Market. Kami pun berkeliling namun tidak beli apa apa karena kurang tertarik. Sebenarnya untuk barang tekstil tertentu harganya lebih murah di Pratunam Market. Pedagang akan memberi potongan harga yang lebih banyak jika membeli dalam partai besar. 

Sejam tidak jelas, kami memutuskan ke Platinum Mall yang ada di seberang Pratunam Market. Misi utama kami ya cari makanan karena sudah luar biasa lapar. Untung harga makanan di foodcourt murah banget. Akhirnya kami makan Sup Tom Yam. Enak banget! Kami pun makan dengan lahap, tapi sayangnya di foodcourt ini tidak bisa merokok. Selesai makan kami berkeliling mall ini. Jualannya rata-rata produk fashion, baik pria maupun wanita. Mungkin karena sudah capek, kami jadi malas berkeliling dan cuma duduk-duduk ngadem.

I got my first tom yum.

Selesai dari Platinum kami langsung balik ke hostel karena sudah Capek sekali. Seperti biasa agar mudah kami naik MRT. Sebelum tiba di stasiun MRT kami sempatkan foto-foto di depan KBRI Bangkok. 

Pengen nyobain naik bus sebenarnya, karena cuma THB 6 sekali jalan untuk yang non AC. Namun karena tidak tahu rutenya kami naik MRT dulu hari itu. Hari pertama di Bangkok cuma kami habiskan buat belanja doang! Ha.

Tidak terasa sudah hari ketiga kami di Bangkok.