Sabtu, 03 Maret 2018

Job Seeker Adventure (Part 1)

Petualangan kali ini bukan jalan-jalan, melainkan cari kerja kerja kerja. 

Tetiba saya ingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu saat saya dinyatakan lulus program strata satu di salah satu universitas di kota gudeg. Sorak-sorai pun berkumandang dari sahabat dan kawan-kawan seperjuangan. Dan yang paling menohok adalah pesan Whatsapp dari salah satu sahabat saya (yang sudah lulus duluan) yang mengucapkan "Welcome to the Jungle, welcome to the club (red: pengangguran), job seeker!"  Campur aduk sih dibilang job seeker, seneng iya, sedih juga iya karena menyandang status baru yakni : p e n g a n g g u r a n. 

Sebenarnya sudah lama ingin nulis postingan saya saat mencari kerja dengan mengikuti berbagai macam jobfair di beberapa kota, perusahaan BUMN, BUMD, hingga perusahaan Swasta. Karena banyaknya yang pernah saya ikutin, sampai kadang lupa kalau pernah daftar (dan baru sadar saat ada panggilan). Dari yang dulu sakit hati kalau nggak lulus seleksi administrasi, jadi kebal kalau nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba nggak lulus seleksi administrasi. Semuanya bagaikan kenangan indah yang sayang jika terlupakan. 

Saya tidak ingat berapa kali ikut tes mencari kerja dan berapa kali saya mondar-mandir antar kota untuk mencari pekerjaan. Kenapa tidak ingat? Saking banyaknya sodara-sodara. Hehehe. Bagi anda yang akan berkomentar "harusnya sarjana tuh bikin lapangan kerja, bukan cuman nyari kerjaan aja jadi pekerja!" saya tentu tidak akan mendengarkan penghakiman tersebut karena manusia terlahir juga ada yang jadi pekerja dan ada yang menjadi pengusaha.

Here are my stories! Dari puluhan tes yang saya ikuti, berikut saya share yang memorable bagi saya. Cekidot gan :

1. Rekrutmen Officer Development Program (ODP) PT. Bank Mandiri (Persero)

Sumber Logo

Ini adalah tes kerja pertama saya saat selesai pendadaran, belum wisuda ceritanya. Saya mendaftar di akun ECC UGM saya dan dipanggil sekitar dua minggu kemudian. Saya pun dapat SMS dari Bank Mandiri untuk test di Kantor Cabangnya di Yogyakarta di dekat Tugu Yogya. Tahapannya adalah sebagai berikut pada saat itu 

- Interview Awal

Pertama datang, saya mengantre di lantai bawah bersama para pelamar lain, basa-basi dikit, baru tahu kalau ada yang sudah pernah ikut dua kali tes ODP Mandiri dan ini yang ketiga katanya. Wow! Akhirnya kami pun naik ke lantai tiga dan di briefing oleh bapak-bapak berpenampilan necis. Intinya dia mengingatkan apapun yang kalian baca tentang rekrutmen ini entah di forum atau blog, terserah mau percaya atau tidak dan sekiranya ada yang mau mundur, mundurlah saat ini juga. Sampai sini, seorang sarjana teknik tiba-tiba keluar ruangan mengundurkan diri. 

Interview dilakukan bapak-bapak tadi, kami duduk berdelapan menghadap beliau dan di interview dengan bahasa Inggris. Sampai lah giliran saya ditanya "Introduce and describe your self!". Saya jawab standar saja nama, jurusan kuliah, concentration, keluarga and so on. "You studied law, right? So why do you want to join us in financial industry? Why you not become a judge, lawyer or presecutor?" Pertanyaan yang sudah saya duga karena tidak sesuai jurusan saya. "Because law graduates has flexibility in any industry. Bank industry regulations has many layer because it relates with money and trust. So i have no doubt by joining your company." Habis itu ditanyain biggest achievement

Selesai interview semua orang disuruh nunggu dibelakang, nggak lama sih cuma sekitar sejam sambil menghabiskan sisa peserta yang belum interview. Selesai itu kami di briefing dan dikasih "Golden Ticket" ala Indonesian Idol di amplop dan dipanggil satu persatu. Sampai tahap ini saya lulus. 

- Tes Bahasa Inggris

Seingat saya tes bahasa Inggris untuk mengetes bahasa Inggris calon karyawan yang akan bergabung. Saya pun senewen karena sudah lamaaaaaaaa sekali tidak mengerjakan tes bahasa Inggris. Yang pernah ikut Paper Based Test TOEFL mesti nggak asing dengan tes model begini. Ada Structure, Error Recognition, Reading dan tentunya Listening. Saya pun tidak ngerti apakah pekerjaan saya benar atau salah, namun seminggu kemudian saya dipanggil untuk ikut test aptitude.

- Tes Aptitude


Selesai tes bahasa Inggris, kami disuruh mempersiapkan tes aptitude karena setelah test bahasa Inggris katanya berlanjut ke tes ini. Kami pun diberi tautan untuk melihat contoh soal di shl.com (kalo nggak salah sih). Saya yang pasrah nggak lulus tes bahasa Inggris, kaget karena sehari sebelum tes di SMS jika lanjut ke tes aptitude. Ya udah deh dengan modal nekad saya berangkat, mana kesiangan karena telat bangun (dan juga nggak mandi) pula. Untung lah saat saya datang tes belum dimulai. Di meja sudah ada buku soal, kertas burem, pensil, dan kalkultor. Wew, pasti ada itung-itungan nih. Tes aptitude seingat saya berisi logika verbal, lalu menyimpulkan kalimat dan ada itung-itungan statistik yang menurut saya ruwet karena saya dari jurusan hukum. Pasrah deh nggak lulus. Dan bener dong nggak lulus di aptitude. Saya berpikir nothing to lose lah karena sasaran saya memang bukan bekerja di Industri Keuangan.

Kabarnya, setelah tes aptitude maka ada interview user, interview direksi, dan juga medical check up di akhir seleksi sebelum contract offering. Bagi yang suka tantangan dan keuangan, kabarnya pendapatan di perusahaan ini juga bisa patut dipertimbangkan.


2. PT. Jasa Raharja (Persero)

Sumber Logo

Rekrutmen untuk pegawai, di pengumuman rekrutmen hanya menyebutkan formasi jurusan yang dibutuhkan saja dan hukum salah satunya. Saya pun daftar dengan mengirimkan data lewat templatenya yang masih pakai excel dan dikirim via email. Saya mengirimkan menjelang akhir penutupan karena baru tahunya juga hari terakhir. Syaratnya tidak begitu ribet, cuma isi formulir doang. By the way, vendor rekrutmen ini adalah Lembaga Manajemen (LM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.


Dua minggu kemudian panggilan tes pun datang, saya dan teman-teman berangkat bareng-bareng dari Yogyakarta ke Jakarta naik kereta api Bogowonto rame-rame berdelapan. Sampai Jakarta, kami pun menginap di losmen di gang depan Universitas Indonesia Salemba karena tes dilaksanakan disana. Berikut tahapannya

- Seleksi Administrasi

Alur pertama cukup membingungkan karena tidak ada informasi yang jelas, semua peserta pun berkumpul di depan ruang kuliah. Setelah agak gaduh panitia pun memberi pengumuman lewat toa jika disuruh mengumpulkan map berisi kartu peserta, foto copy ktp, foto copy ijazah dan foto copy transkrip nilai. Dari urutan tersebut baru dipanggil satu persatu. Sampai dalam ditanya nama, alumni dan ipk karena dicocokkan datanya, habis itu itu diukur tinggi badan, cuma saya disuruh skip langsung ke ruang ujian karena dia sudah yakin saya lebih dari 160cm. Setelah itu saya digiring ke ruangan oleh panitia untuk tes kemampuan dasar.

- Tes Kompetensi Dasar

Setelah ruang kelas penuh, kami memulai tes kompetensi dasar. Jawabannya pun dibulatkan persis seperti ujian nasional. Isi tesnya lumayan banyak, penalaran verbal, abstrak, aritmatika, statistik, dan ada ilmu pengetahuan umum. Tes berlangsung selama dua jam dan katanya langsung diumumkan malam itu juga jam 8 malam karena yang lulus besoknya tes lanjutan. Sambil killing time saya dan sahabat saya nongkrong di Kalibata City, rehat sejenak lah ngopi dan ngerokok. Tidak terasa sudah jam 9 dan teman-teman lain izin pulang Jogja karena nggak lulus TKD. Puji Tuhan saya dan teman saya yang notabene lagi ngopi ndilalah lulus untuk lanjut tes psikotes dan wawancara psikolog keesokan harinya.

- Psikotes

Psikotes kali ini terdiri dari beberapa bagian. WARTEG (Isi delapan kotak yang sudah ada polanya), kemudian menggambar pohon (saya selalu gambar pohon mangga) dan deskripsi diri. Kelar tes tersebut, tes dilanjutkan dengan EPPS dan yang satunya saya lupa apa namanya. Ada dua paket soal sebanyak 90 soal dan 225 soal yang intinya disuruh menggambarkan bagaimana anda sebenarnya. Pada intinya ada salah satu pilihan jawaban yang tidak bisa anda mengelak untuk jawab (yang akhirnya ditanyakan saat wawancara psikolog). Setelah itu ada tes pauli, tes koran alias tes itung angka yang berlanjut dari atas ke bawah dan ada instruksi "GARIS". Selesai rangkaian tes tersebut saya lapar luar biasa karena tes berlanjut tanpa jeda. Sambil menunggu interview, saya dan teman saya pun makan di kantin Pascasarjana UI.

- Wawancara Psikolog

Pewawancaranya seorang bapak-bapak berusia 30an tahun dan selalu bertanya dengan lugas. Karena fresh graduate, saya ditanya kerjaan saat kuliah ngapain aja dan ikut kegiatan apa saja. Lalu ditanyakan sikap jika terjadi hal yang diluar perkiraan. Yang aneh saya ditanya begini "Naik motor paling jauh dari mana ke mana?Kira-kira berapa kilometer? Kamu suka pergi-pergi ya?"

 Seperti BUMN-BUMN lain, pewawancara menanyakan "Siap ditempatkan dimana saja, mas?" Saya jawab "Siap, Pak!" Dia pun menimpali "di NTT sekalipun?" Tak gentar pun saya jawab "Siap!"

Untuk pertanyaan keilmuan, saya ditanya skripsi dulu menulis apa. Ndilalah skripsi saya tentang asuransi dan ditanya sifat asuransi itu apa saja. Terbagi menjadi apa saja klasifikasinya. Saya masih bisa jawab karena masih anget karena baru lulus.

Pertanyaan terakhir saya ditanya "Kalo marah kamu sampai lempar-lempar barang gitu ya?". Saya pun menjawab "Maaf pak untuk itu saya karena nggak ada pilihan jawaban saat psikotes." Dan bapak pewawancara pun ketawa. Wawancara tidak terasa sampai satu jam saking asyiknya, sampai peserta setelah saya ketakutan kok bisa lama sekali karena jatahnya hanya 30 menit. Setelah itu saya pun menunggu sekitar tiga minggu untuk tahap lanjutan.



- Medical Check Up

Suatu kamis sore, saya sedang asyik menyantap cumi goreng asam manis di rumah makan gotri (yang sekarang sudah bangkrut) dan membaca sms bahwa saya lolos untuk lanjut ke tes kesehatan. Saya pun langsung tidak nafsu makan cumi tersebut karena baru sadar bahwa kolesterol cumi sangat tinggi. Saya pun bergegas untuk cek gula dan kolesterol di apotek UGM. Gula sih normal, tapi kolesterol cukup tinggi kata mbaknya untuk ukuran anak muda. Saya pun minum simvastatin, dan minum nutri benecol setelah makan dan mulai makan sayur-sayuran saja. Minum pun bear brand karena katanya perokok dianjurkan minum susu putih steril. Saya pun pasrah karena gaya hidup sehat juga baru dua hari. 

Jumat besoknya saya langsung terbang dari Yogyakarta ke Jakarta naik air asia karena naik kereta nggak ada temannya. Paginya saya diantar kakak saya ke RSPAD Gatot Subroto di Jakarta Pusat. Sampai sini isi formulir dan registrasi buat medcheck. Pemeriksaan pun lengkap, mulai dari tensi, berat badan, tinggi badan, tes darah, thorax, mata, kuping, tenggorokan, dan lain-lain saking banyaknya saya sampai lupa. Untuk tes darah, darah diambil dahulu setelah puasa, kemudian kami diberi sandwich daging yang muanis banget lalu dua jam kemudian diambil darahnya. 

Selesai medical check up sekitar jam 12 siang, saya pun mengajak teman saya nongkrong di Grand Indonesia bersama teman SMA saya. Pengumuman konon nanti dikabarin lagi sekitar 2 sampai 3 minggu kerja. Pulang liburan dari Bali, baru banget pesawat mendarat dan mengaktifkan telepon seluler, saya di message Whatapp oleh teman saya ,"Pak, jasa raharja wes metu pengumumane!."

Jantung saya berdegup kencang ketika web browser terbuka perlahan ke website rekrutmen. Eng ing eng, nama saya tidak ada :( Padahal ini tes terakhir sebelum interview terakhir di Kantor Pusat. Sedihnya...


3. Direct Shopping PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero)


Sumber Logo

 Siapa yang tidak kenal PLN? Saya rasa hampir semua masyarakat Indonesia tidak ada yang tidak kenal dengan PLN, BUMN Persero pengelola listrik negara Indonesia. Sebagai perusahaan listrik, PLN sangat vital sehingga menjadi favorit pencari kerja, baik D3 maupun Sarjana. Untuk Gaji tidak perlu ditanya karena dari kabar yang beredar, gaji freshgraduate bagi lulusan D3 dan S1 di PLN cukup besar. Belum lagi bonus tahunan. 

Saya ikut rekrutmen ini saat ada lowongan PLN di Program Direct Shopping Rekrutmen PLN yang diadakan di Jakarta dan Yogyakarta. Lembaga rekrutmen saat itu menggunakan ECC UGM dan karena direct shopping, seingat saya saat itu sudah ditentukan alumni universitas mana saja yang bisa mengikuti seleksinya. Untuk area Jateng-DIY yang saya ingat yang bisa mendaftar adalah alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. 

Rentang waktu pendaftaran juga tidak banyak dikarenakan ada berkas fisik yang harus di kirim ke Jakarta. Berikut alur rekrutmen direct shopping PLN saat itu:

- Tes Kemampuan Dasar

Sekitar satu bulan setelah pendaftaran ditutup, keluarlah pengumuman untuk Tes Dasar di Yogyakarta, tepatnya di Gedung Jogja Expo Centre, yang biasanya digunakan sebagai tempat pameran elektronik. Seingat saya ada 3000 peserta saat itu. Saat registrasi diberi nomor dada dan ditempeli foto peserta. Untuk tesnya tidak terlalu sulit (menurut saya), benar-benar tes dasar. Ada hitung-hitungan dasar, mencocokkan gambar, logika matematika (logika), dan yang baru saya alami, tes melanjutkan gambar, dimana diberikan 3 buah gambar (kegiatan manusia) kemudian gambar keempat merupakan jawaban kita.  

Tes cuma berlangsung selama kurang lebih satu jam karena masih banyak kloter berikutnya di siang hari. Pengumuman Tes Kemampuan Dasar pun diumumkan malam itu juga dan saya lolos. Peserta tinggal 1000an orang yang berasal dari berbagai jurusan dan tes dilakukan langsung keesokan harinya

- Psikotes

Psikotesnya seperti BUMN-BUMN lain, WARTEG, Gambar Pohon, Pauli (Tes Koran) dan psikotes seperti hitung, logika abstrak, logika non verbal dan lain sebagainya. Tes berlangsung cukup lama karena ada interview tertulis. Ada preferensi penempatan, saya pilih Bali dan Lombok dong biar bisa piknik. Hahahaha. Pengumuman dilaksanakan satu bulan kemudian.

- Medical Check Up 1

Karena sudah lama tidak ada pengumuman, saya pun tidak menunggu tes ini. Pengumumannya pun mengagetkan karena saya saat itu sedang jalan-jalan di Kamboja! Karena habis gagal di Jasa Raharja, saya pun tidak lanjut tes ini karena selain pesimis, saya masih berada di Kamboja. Kabarnya pada tes ini cuma ukur tensi, berat dan tinggi dan kata teman saya setengah jumlah peserta berkurang

- Medical Check Up 2

Karena tidak mengalami, saya cuma diceritani sama teman-teman yang masih on going tes PLN.  Pada MCU 2 ini, semua diperiksa seperti saat saya tes Jasa Raharja. 

Kabarnya setelah lulus MCU2, tahap lanjutannya adalah Interview terakhir dan dilanjutkan offering contract. Sepanjang 2015-Awal 2017 lalu sepertinya PLN membutuhkan banyak pegawai baru karena saat periode tersebut saya lihat banyak rekrutmen PLN.

4. PT. Angkasa Pura I (Persero)

Sumber Logo

Pendaftaran saat itu seingat saya di bulan April 2016, namun baru dilakukan seleksi tertulis mulai bulan Juni 2016. Karena pengumumannya lama, saya kira saya tidak lolos seleksi administrasi, eh ternyata kepanggil. Sehari setelah saya jalan-jalan 13 hari ke Kamboja, Thailand dan Malaysia pula seleksinya. 

Karena saat itu saya tidak bawa baju yang layak (cuma bawa kaos-kaos ala gembel) untuk seleksi, saya pun meminta teman saya memberikan kunci kamar saya ke temannya-teman saya yang ikut tes AP1 untuk minta tolong ambilkan baju-baju yang rapi di kos-kosan saya dan juga perlengkapan seleksi seperti alat tulis dan sepatu resmi untuk dibawakan ke Surabaya karena saya tidak sempat mampir ke Yogyakarta karena pesawat saya mendaratnya di Jakarta. Puji Tuhan masih banyak orang baik di sekitar saya. Oh ya untuk vendor seleksi ini adalah Lembaga Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Tesnya pun di Unair. 

Berikut tahapannya:

- Psikotes 1

Seperti soal-soal psikotes biasanya, saya pun sampe hafal tipe soalnya dan jawabannya. Tes berlangsung hanya sekitar 45 menit dan langsung ganti "kloter" tes dikarenakan pesertanya sangat banyak. Pengumumannya pun langsung malam itu juga. Puji Tuhan lolos.

-Psikotes 2

Sama juga sih seperti psikotes-psikotes lain, WARTEG, POHON, Manusia, EPPS, PAPI, Buku Soal Psikotes buat ngetes IQ, dan juga tak lupa Pauli yang saya cukup kesal karena mejanya saat itu pakai meja lipat yang tidak rata dan sempit sehingga saya tidak nyaman saat ujian. Tes dilanjutkan keesokkan harinya dengan agenda FGD (Focus Group Discussion)

- Focus Group Discussion

LGD, FGD, you name it. Ada yang bilang berbeda, ada yang berbeda. Kalau LGD "L"nya adalah "leaderless" alias tanpa pemimpin, kalau FGD adalah "Focus Group..." yang artinya Fokus terhadap Grupnya tersebut. Entahlah saya tidak mengerti perbedaannya, yang jelas intinya sama, cari solusi dan bukan voting alias agreement bersama dengan solusi yang sudah disepakati. Saat itu dikumpulkan sesuai jurusan, karena saya jurusan hukum, saya pun dikumpulkan dengan lulusan hukum dari kampus lain. Topiknya saat itu adalah "Mengatasi taksi gelap di Bandara!" karena saya sering baca topiknya, ya saya tetap ungkapkan pendapat saya. Meskipun banyak yang pendapatnya juga aneh-aneh, sah sah saja karena namanya juga "kelompok yang berdiskusi".

 Saran saya yang akan FGD, hentikan menjatuhkan orang lain saat menyampaikan pendapat karena akan merugikan kalian sendiri. Manusia-manusia model gini sudah terlihat diawal, biasanya songong dan sok tau. Saat itu ada peserta yang setiap ngemeng bukan share idenya, tapi cuma pendapat negatif terkait pendapat orang lain, negativist gitu lah. Bagi saya saat FGD, ide-ide yang kurang solutif biasanya juga akan "gugur sendirinya" karena pasti ada prioritas solusi dan akhirnya adalah kesepakatan solusi. 

Selesai FGD, panitia bilang pengumumannya setelah lebaran alias satu bulan lagi. Karena penilaiannya campur antara psikotes dan FGD, jadi agak lama katanya. Satu bulan saat itu saya baru ingat dan ngecek pengumuman. Dan, hmmm nggak lulus lagi. Sedihnya. Padahal kurang dua tes lagi, yakni wawancara user dan medical check up. Hiks....



Selasa, 17 Januari 2017

Hate and Love Relationship with Coffee

Kopi, minuman berwarna hitam ini memang menarik. Sampai  ada juga film filosofi kopi. Warna hitamnya memang mengerikan, walaupun rasanya berbeda-beda. Dengan minum kopi juga kita dapat belajar jangan mudah underestimate terhadap hal yang baru atau hal yang belum anda pernah rasakan. Kasarannya, dengan ngopi saya dapat pelajaran baru: dilarang sotoy alias sok tahu.
Bingung? Saya juga. Maksudnya jangan langsung labelling sessuatu dengan enteng, misal anda melihat warna hitam, hitam identik dengan kegelapan, ketidakjelasan, kejahatan, tinta, hingga air got atau comberan. 
Padahal identik, mindset, or whatever you name it,  adalah hal yang sebenarnya harus dikonfirmasi ulang dan bukan untuk dipercaya dengan mudah, kecuali anda orang yang percoyonan. Hitam juga identik dengan elegan katanya, saya pun mengangguk setuju. Intinya adalah jangan ngomongin kopi tanpa pernah mencoba kopi.
Cinta pertama dengan kopi datang saat remaja, saat jerawat muncul walaupun tidak setress akibat hormon pertumbuhan yang meningkat. Dulu saya tidak suka kopi sama sekali, sebelum menginjak umur 15 tahun. 
Papa dan Mama saya suka sekali kopi. Waktu kecil pun tiap pagi atau sore pas lagi santai, saya sering disuruh papa mama saya bikin kopi. Dalam benak saya saat itu, kopi adalah minuman untuk orang tua alias orang dewasa sehingga manusia yang belum dewasa menurut BW (Burgelijk Wetboek: re 21 tahun) tidak boleh minum kopi. 
Padahal lho kopi tidak ada anjuran minimum umur bagi penikmatnya. Berbeda dengan alkohol yang khusus dewasa, walaupun kenyataannya pun banyak remaja yang pernah menenggak minuman memabukkan ini walaupun sering dioplos dengan campuran aneh, maksudnya biar murah. Lagipula, dulu saat pemikiran masa kecil saya, kopi hitam itu pahit dan tidak enak. remaja minum kopi pun tidak lazim saat itu, kalah dengan popularitas es teh, es jeruk, maupun milkshake.
Sampai suatu hari masa menjelang ujian nasional SMP tiba. Karena tidak bimbel (bimbingan belajar), saya pun belajar sendiri dengan mengandalkan otak seadanya. Dan juga akibat pulang sekolah sore hari, tidur siang pun tidak mungkin dilakukan sehingga efek dominonya, ya, cepet ngantuk. Karena perlu baca dan latihan materi sendiri, untuk mengatasi ngantuk, pertama kalinya saya menyeduh kopi untuk pertama kalinya. 
Takaran tolol saat itu: dua sendok kopi dan tiga sendok gula pasir di gelas kecil ukuran 250ml. Hasilnya? Muanis dan kuentel, dan saya tetap melek, sehingga malam malam berikutnya saya menyeduh kopi untuk tetap belajar di malam hari.
Lama tidak akrab dengan kopi, waktu kuliah pun saya akhirnya akrab lagi dengan minuman ini. Takarannya berubah, saat kuliah saya sudah tidak suka kopi manis karena bagi saya sama saja minum gula. Saya pun lebih suka kopi tanpa gula, kalaupun pengen gula, maksimal saya tambahkan 1/2 hingga 1 sendok makan saja supaya masih kerasa rasa kopinya. Jika sedang nongkrong di kafe pun saya jadi sering pesan kopi, padahal tidak lagi pengen begadang tuh. Selesai makan pun kadang setelah minum air putih, pengennya ngopi. Am I addicted?
Dari Sana pun saya akhirnya tahu bahwa kopi berasa berbeda beda tergantung dari cara menyangrai, cara penyajian, brewing method, hingga lokasi penanamannya. Lokasi penanaman yang membuat rasa kopi berbeda dan khas saja dilindungi juga dalam hukum sebagai Hak Kekayaan Intelektual sebagai Merk Indikasi Geografis. 
Contohnya misal kopi Toraja, kopi yang ditanam di Tana Toraja, kemudian kopi Aceh, kopi yang ditanam di Aceh dan sebagainya. Harganya pun berbeda beda tergantung kualitas. Saat saya ke rumah Opung saya, dibelakang rumahnya ada kebun tanaman yang tidak asing. Saat saya tanya bapa uda, dibilang itu kebun kopi. Cuman katanya memang dibiarin aja karena harganya sudah turun, sehingga tidak untung kalo dirawat. Yah....Padahal bisa jadi kopi Tapanuli tuh, asli dari Bukit Barisan!
Suatu saat saya ngopi di salah satu kafe di Yogyakarta, teman saya pesan secangkir kopi luwak seharga Rp 90.000 belum termasuk pajak 15%. Saat saya coba, memang nikmat sangat. Harga memang tidak pernah bohong. Saat traveling ke Tana Toraja, saya dan teman menyempatkan beli kopi di Pasar kota Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Mumpung di Toraja, kami beli kopi 1/2kg untuk dibawa pulang. Tiap pagi saya seduh, kopi dari Toraja tersebut habis dalam 3 bulan.
Masuk ke kafe-kafe pun pilihan saya seringnya single origin karena bagi saya pas dan tanpa gula karena baru kerasa perbedaannya.  Favorit saya adalah kopi dengan asam yang lebih dominan dibanding pahit.
Sudah lama juga saya dengar kopi berjenis espresso, namun saya baru nekad mencobanya saat di luar negeri. Ceritanya saat itu saya sedang berada di bandara internasional Hongkong untuk kembali ke Indonesia. Setelah selesai urusan custom dan imigrasi saya pengen ngopi. Eh, di dekat gate ada kedai kopi yang ramai antrean orang. Saat lihat ada espresso saya pun nyobain, HKD 42 harganya kalau tak salah. Bisa diminum sekali teguk sebenarnya, tapi supaya lebih nikmat, saya cicil jadi tiga teguk. Oh ternyata begini toh espresso, not bad at all.
Saya pun baru tahu bahwa Kopi dan Rokok adalah perpaduan yang tidak baik bagi tubuh. Hal ini baru saya tahu saat saya pergi ke Klinik Kopi di Gejayan, Jogja. Saat itu sedang waiting list sehingga saya pun menunggu dipinggir sambil ngerokok. 
Pegawai kafe yang lagi mencatat catat nama penunggu pun memberitahukan saya bahwa untuk merokok di lantai 1 (kedainya di lantai 2). Saya pun turun untuk menghabiskan sebat (sebatang rokok) tadi. Selesai merokok saya naik dan antrean saya dan teman sudah dipanggil. Ketika di tanya mau kopi selera yang bagaimana, sambil meracik kopi, pemiliknya dan juga merangkap barista, Mas Pepeng bilang ke saya kalau tidak salah jika kopi itu mengikat asap rokok atau gimana gitu saya lupa, intinya, kopi dan rokok adalah bad combination sehingga tidak baik dikonsumsi bersamaan. Oh gitu...
Masa skripsi pun tiba setelah tujuh semester berkutat dengan teori-teori dalam ilmu hukum. Kopi, begadang, dan rokok used to be my very best friend! Rasanya puas banget bab 1 sampai bab 5 skripsi setebal 110 halaman dapat saya kerjakan dalam waktu 6 hari berturut-turut tanpa ampun. 
Sampai saya tahu jika asam lambung saya Sudah lebay. Saat Cek tensi pun..ya gitu deh. Dokter pun tanya ke saya mengenai kebiasaan saya. Saat saya mengatakan hobi ngopi, dokter pun menyarankan untuk mengurangi dan minum dengan porsi wajar. Saran yang cukup mengerikan.

IPA dan IPS = Sebuah Bias.

Postingan ini sungguh random karena di tengah malam tiba-tiba otak saya flashback kehidupan saya saat mau bobo. 

Bagi yang pernah mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas alias SMA, saya yakin kalian pernah mengalami "kegundahan" saat memilih penjurusan saat naik dari kelas 1 SMA ke kelas 2 SMA (Penjurusan pada saat saya SMA pada kelas 2). Dan informasi yang pernah saya dengar dari teman saya yang adiknya masuk SMA bilang malah penjurusan sekarang langsung pada masuk kelas 1. Hah?

Jurusan saya saat SMA adalah IPA. Dulu saya sempat kepikiran masuk IPS karena saya benci sekali dengan Kimia, tapi jikapun masuk IPS, saya paling malas ketemu Sosiologi. Nah loh? Saran saya sih, tetap pilih berdasarkan apa minat kalian. Saya tidak menampik bahwa peran orang tua cukup besar terkait hal ini. Dulu ada teman saya udah happy-happy masuk IPS, eh sama orang tuanya tidak diperbolehkan dan dikembalikan ke IPA. 

Well, terkait pilihan IPA atau IPS sebenarnya sama saja, tinggal tentukan cita-cita kalian mau jadi apa. Kalau mau (dan niat) jadi lawyer, hakim, atau jaksa misalnya, ga usah pusing-pusing langsung saja masuk IPS dan belajar supaya bisa masuk jurusan hukum. Dan bila mau jadi dokter, perawat, ataupun insinyur, masuk IPA lah jawabannya.

Akan tetapi umur-umur segitu biasanya sih orang (apalagi remaja) seringnya labil alias ga stabil. Ada lho dulu teman saya niat masuk jurusan fisika tapi waktu seleksi masuk perguruan tinggi tiba-tiba switch jadi jurusan ekonomi. Ada juga teman saya yang niat pake banget masuk jurusan kedokteran, pas ujian masuk malah milih hubungan internasional. Bingung? Saya juga.

Karena dulu pengen jadi Insinyur yang bikin jalan tol, saya pernah milih jurusan Teknik Sipil saat UM UGM. Pilihan pertama? Tentu akuntansi, karena saya suka ngitung duit. Hahaha. 

Kemana poin biasnya?

Begini, pada saat saya SMA, anak IPA pun bisa milih jurusan perkuliahan pada rumpun Ilmu Sosial maupun Ilmu Alam & Eksakta. Begitu pula anak IPS, bisa memilih jurusan pada rumpun IPA, pertanian misalnya. Dengan catatan kalian ikut tes tertulis dan memilih IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran, rata-rata bisa memilih 3 program studi. Jika pun malas ikut IPC, anak IPS yang pengen jurusan Biologi misalnya, langsung saja memilih tes IPA dan siap-siap belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi, tanpa harus mengerjakan Sejarah dan Sosiologi. Dan bagi yang IPA mau masuk jurusan Psikologi, langsung saja ambil paket ujian IPS, dan siap-siap konsekuensinya belajar Sejarah, Sosiologi, Geografi dan Ekonomi. Jadi jurusan apa kalian tidak pengaruh saat memilih program studi karena ini tes tertulis non prediktif, tidak seperti ujian nasional yang ada kisi-kisinya yang bisa dibikin varian soalnya sampe mabok karena ada standar kompetensi dalam setiap jenis soal yang harus dikuasai.

Bagaimana dengan IPC?

Saya sarankan tidak, karena kepala kalian bisa pecah setelah keluar ruang ujian. Kalo biasanya rumpun IPA tes dari pagi sampai siang, dan IPS tes dari siang sampai sore, jika yang IPC siap-siap tes dari pagi sampai sore, siapkan saja stamina dan makan yang banyak karena mikir ternyata bikin cepat lapar! Saya mengalaminya sendiri saat UTUL UGM pada tahun 2010, IPC benar-benar melelahkan.

Untuk jalur raport, sangat disayangkan karena bagi anak IPA, hanya bisa memilih rumpun program studi IPA, begitu juga dengan IPS. Namun ada pengecualian di beberapa perguruan tinggi karena dulu kakak kelas saya yang IPA bisa masuk jurusan akuntansi dengan jalur raport. Akan tetapi seperti yang saya baca, saat ini porsi penerimaan mahasiswa di PTN lebih banyak yang via SNMPTN Undangan alias Pakai nilai raport. Di beberapa feed media pun saya baca di kolom komen banyak yang kurang setuju dengan sistem tersebut. Karena apa saya tidak tahu. Hal ini berakibat pada kuota jalur tertulis yang lebih sedikit. 

Berbeda pada saat saya mau kuliah, porsi jalur tulis jauh lebih besar daripada jalur non-tulis sehingga emosi dan struggle-nya dapet. Beberapa saya ikutan, seperti UTUL UGM, SIMAK UI, UM UNDIP, UMB-PTN, hingga tes masuk PTN terakbar saat itu, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri alias SNMPTN (Transformasi dari Sipenmaru, UMPTN, SPMB)

 Asyiknya lagi kalau bisa setiap ujian lulus, wih tinggal milih kampus coy! Berbeda jika dengan jalur raport alias prestasi yang notabene kemungkinan harus diambil karena nantinya sekolah yang bersangkutan akan di blacklist apabila siswanya 'cabut' alias tidak mengambil di prodi yang menerimanya. Oleh karena itu, saya tidak pernah niat ikut jalur raport karena saya mau 'nyebrang' ambil prodi ilmu-ilmu sosial, sehingga mending digunakan untuk teman-teman yang memang berniat. Dulu pun sampe rebut-rebutan kuota daftar karena dulu hanya dibatasi 25% terbaik di kelas. 

So, jika niat ambil jalur raport, siap-siap sakit hati karena sistemnya adalah tinggi-tinggian nilai. Beda dengan jalur tertulis yang non prediktif, kalian masih bisa untung-untungan alias 'bejo'. Dulu ada teman saya ngisi ngawur, nomor 1 sampe 5 diisi AAAAA, Nomor 6-10 diisi B semua, Nomor 11-15 diisi ABCDE, Nomor 31-35 diisi EDCBA, eh tembus di salah satu PTN! 

Gila memang, namun kalian jangan senang dulu. Pernah dengar yang namanya 'peluang' di pelajaran matematika? Sistem di ujian tulis biasanya Benar +4, dan Salah -1. Misal pun ada 100 soal, dengan 5 opsi jawaban, dan anda jawab ngawur semuanya, bisa jadi ada peluang benar 1/5 soal alias 20 soal sehingga dapat nilai 80, namun 80 soal salah sehingga nilai kalian sama saja nol. Kecuali anda yakin banyak soal benar, sisanya ngawur bisa sih dengan perhitungan yang tadi. 

Pada dasarnya IPA IPS sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalo ga mau mengerjakan tes IPA dan IPS, bisa daftar Sekolah Kedinasan yang ternyata buanyak banget! Cek di gugel saja karena jumlah sekolah kedinasan di negara kita ada banyak. Biasanya soalnya Psikotes ala Seleksi Kerja. Sekolah kedinasan bisa dijadikan pilihan karena dibawah lembaga negara, biasanya biaya kuliah sudah ditanggung dan ada juga yang diberi uang saku. Setelah lulus langsung kerja di lembaga bersangkutan juga, mantap!

Pada akhirnya pun IPA dan IPS sama saja.

 

Sabtu, 14 Januari 2017

Huru Hara Penang - Kuala Lumpur - Jakarta - Surabaya

12 Juni 2015 adalah tanggal yang tak terlupakan bagi saya di tahun 2015 yang lalu. Baru kali ini saya tidak tidur sampai hampir 48 jam! Saya jadi teringat dulu ada berita bahwa ada orang yang 3 hari tidak tidur (karena lembur kerja) dan dinyatakan wafat karena serangan jantung yang ramai banget dibahas di twitter. Waduh!

Cerita berawal pada tanggal 9 Juni 2015, saat itu di malam hari di hostel saya sedang santai-santai di communal room untuk browsing cara melintasi perbatasan dari Thailand ke Malaysia via Hat Yai City menuju Pulau Pinang. Iseng ngecek email ternyata ada panggilan tes dari PT. Angkasa Pura I (Persero)  pada tanggal 13 Juni 2015 di Surabaya! Duar! agak galau juga jika skip tes ini karena perusahaan ini adalah salah satu incaran saya dalam berkarier. Saya baru kembali ke Indonesia pada tanggal 12 Juni 2015, landing di Jakarta pula! Pada saat itu saya sempat kepikiran untuk langsung terbang ke Surabaya dari Penang karena ada direct flight naik Airasia, tapi tiketnya saat itu saya pikir cukup mahal dan saya tidak punya uang. Haha. Saya pun BBM kakak saya untuk mengabari Papa saya, secara saya tidak beli SIM card di Thailand. Besoknya saya dibelikan Papa saya penerbangan Jakarta - Surabaya untuk tanggal 12 Juni siang. Horeee!

Fast forward ke Penang tanggal 11 Juni di dini hari pukul 1 pagi hingga terang saya tidak bisa tidur karena kutu busuk di kasur hostel (persis dengan yang saya baca di review-review) Jam 9 pagi saya dan teman-teman sudah check out dan keliling-keliling Penang pakai Bus Gratisan yang 'ngider' di beberapa lokasi di Penang. Sign paling gampang untuk tahu atau tidak bus gratis adalah jika di halte ada tulisan "hop on hop off". Dijamin gratis, Puas muter-muter, sore harinya kami kembali ke hostel untuk mengambil tas dan segera menuju Bandara Internasional Penang di Bayan Lepas yang cukup jauh dari Georgetown. Singkat cerita, penerbangan kami pukul 20.00 delayed sejam. Kami pun sempat lihat beberapa orang berdebat dengan ground staff karena ada yang hampir ketinggalan connecting flight ke Australia.

Total delayed sampai boarding ternyata cuma 40 menit. Saat take off, Penang sedang hujan sehingga agak ngeri-ngeri sedap. Tidak ada kendala yang berarti dalam penerbangan yang singkat ini. Kami landing di Kuala Lumpur sekitar pukul 22.10 malam. Sampai di terminal domestik sudah tidak banyak penerbangan sehingga suasananya sepi. Kami pun ngacir ke keberangkatan internasional yang masih ramai untuk mencari 'tempat bobo'. Buset, semua tempat strategis sudah di invasi para calon penumpang baik di bagian departure maupun arrival! Kami pun menunggu di Starbucks dekat area check in untuk cari charger. Jam 1 pagi, ternyata tempat ini bergegas tutup. Waduh!

Karena sudah ngantuk berat, akhirnya kami nekad tiduran di kursi dekat gerbang masuk KLIA2. Satu teman saya tidak kuat dinginnya AC bandara sehingga memutuskan tiduran di luar, padahal di luar menurut saya panas sekali. Walau dikata mata tertutup, sebenarnya saya tidak bisa tidur karena bobo di kursi. Saya pun pergi ke McD untuk makan karena lapar sekali. Sekitar pukul 3 Pagi saya tidur lagi dan baru bangun sekitar pukul 4 dini hari. Setelah "mengumpulkan nyawa" di toilet, cuci muka, sikat gigi dan repack ransel, kami pun langsung ke document check counter di area check in. Rupanya pagi hari adalah rush hour di KLIA2 karena banyaknya manusia bersliweran yang akan pergi naik pesawat. I'll be home!

Selesai check dokumen, kami langsung melaju ke imigrasi. Selesai imigrasi, kami diperiksa barang bawaan dengan X-Ray, selesai pemeriksaan pertama, masuklah kami ke pemeriksaan berikutnya sebelum menuju wilayah gate, yakni 'aviation security check', mayoritas barang sitaannya adalah cairan yang lebih dari 100ml dan alat-alat lain yang dilarang. Kirain tumblr yang saya beli bakalan disita, ternyata aman-aman saja.

Masuk ke area gate kami jalan santai karena waktu boarding masih cukup lama, gate keberangkatan saat itu belum dibuka sehingga kami menunggu di luar dan iseng nyoba kursi pijat yang bayar RM5 untuk 15 Menit. Hiburan kami saat itu adalah panggilan masuk gate ke berbagai destinasi, rata-rata ke ASEAN, serta India dan China. Pukul 06.30 gate dibuka dan semua penumpang berjubel mengantre. Penerbangan pertama Kuala Lumpur - Jakarta pagi itu rupanya penuh. Daaaan delayed sejam karena hujan deras pagi itu. Mampus! Pukul 07.20 ternyata sudah disuruh boarding namun prosesnya agak lama sehingga baru benar-benar bisa take off sekitar pukul 07.50. Tidak ada yang berkesan pada penerbangan kali ini karena kami lelah luar biasa dan tak terasa sudah mendarat di CGK airport tercinta.

Jam menunjukkan pukul 09.10 waktu Jakarta, setelah turun dari bus kami langsung berlari ke Imigrasi supaya dapat antrean awal. Kelar imigrasi, giliran bea cukai yang kami cuma di scan barang doang. Selesai urusan Imigrasi, saya langsung tukar uang di Bank yang buka kantor kas di Terminal 3. Secara saya terpaksa karena tidak punya rupiah sepeser pun, sehingga tidak peduli berapapun rate Ringgit saat itu. Tepat pukul 09.30 kami sudah berada di luar terminal 3 CGK untuk menunggu Damri ke Gambir. Secara, tidak ada public direct access ke senen, kecuali taksi. Tadinya kami mau naik taksi, namun karena traffic Jakarta yang mengerikan di pagi hari, kami nyari amannya saja karena sudah kere setelah 13 hari di jalanan.

Kami pun mulai panik saat jam 10.30 bus masih berada di tol. Tepat pukul 11.00 siang kami tiba di Stasiun Gambir. Saya pun berpisah dengan 2 orang teman saya karena mereka akan mengejar Krakatau jam 12 siang ke Jogja, sedangkan saya ke Gambir untuk pembatalan tiket. Saya pun baru ingat kalau pembatalan maksimal tiket kereta api adalah 30 Menit sebelum keberangkatan. Karena Krakatau berangkat jam 12.00 siang, maka maksimal saya bisa cancel pukul 11.30! Sampai loket saya ingin pingsan karena masih disuruh foto kopi KTP pula! aduh! Ternyata dekat loket ada jasa foto kopi KTP. Selembar seribu btw, harga yang bisa diterima orang yang sedang buru-buru. Lol. 11.20 saya balik ke loket, dan Puji Tuhan masih sempat di cancel....lumayan 130ribu selamat...

Saya pun bergegas ke 711 untuk take away nasi kotak dan sebungkus sampoerna mild karena saya sudah seminggu tidak merokok akibat rokok saya habis saat masih di Thailand. Sambil jalan ke pemberangkatan damri Gambir-Cengkareng, saya jalan sambil ngerokok. Belum ada setengah batang ngebul, bus sudah mau berangkat. Pukul 11.45 saya kembali menerobos jalanan menuju Bandara Soekarno Hatta. Rupanya damri Gambir-CGK frekuensinya 15 menit sekali. Sekali lagi saya kena macet dan tiba di Bandara pukul 14.00! Padahal penerbangan Jakarta - Surabaya saya Pukul 15.00! Karena saya sudah tidak kuat angkut ransel, terpaksa saya baggage drop ke konter dan sekali lagi Tuhan menolong saya. Antrean tidak ada sama sekali. Lega...

Saya pun cari tempat untuk charge HP saya yang baterainya hampir modar di area kosong dekat Monas Lounge di lantai 2 sambil makan chicken teriyaki yang saya beli di Stasiun Gambir sambil ditemani pandangan mata orang-orang ke arah saya. Haha. Kali ini saya sudah agak santai karena sudah dapat boarding pass dan sudah tidak gendong ransel saya yang ternyata 12kg...Selesai take away kopi dari Starbucks, saya menyempatkan ngebul di smoking area. Tepat sebatang rokok saya habis, ternyata sudah ada panggilan boarding penerbangan kali ini ontime. Namun di landasan, air traffic...sehingga mundur 30 menit. Baru kali ini saya tidak menikmati penerbangan karena saya sudah tertidur saat masih antre take off di CGK dan dibangunkan pramugari saat mendarat di Surabaya.

Tiba di Surabaya sekali lagi kesabaran saya diuji. Jalanan di Jumat sore macet dimana-mana. Total saya habis 150rb dari airport ke Dharmawangsa. Selesai masuk ke penginapan, mandi, makan, saya langsung tepar pukul 9 malam. Total 44 jam saya tanpa tidur!





Minggu, 24 Januari 2016

Border Crossing: Thailand (Sadao) to Malaysia (Bukit Kayu Hitam)

Thai Border Sadao

Setelah sejam meninggalkan Hat Yai, hawa-hawa perbatasan mulai muncul. Ditandai dengan keramaian dan plang petunjuk dwibahasa. Memasuki antrean kendaraan di border, langsung kena macet-cet-cet. Rupanya border sangat padat siang itu. Van yang kami tumpangi akhirnya mencari jalan tikus untuk memperpendek waktu tempuh.

Seorang perempuan Filipina disamping saya yang mengaku pergi ke Malaysia untuk memperpanjang visa Thailandnya pun bingung dan bertanya ke saya:

"How much time needed to go to Penang? Is it still far from here?" dia tanya begitu karena saya disangka orang Malaysia. Setelah gusar mencari jalan untuk menembus kemacetan, seorang ibu-ibu dari Malaysia mengabsen kami satu persatu untuk mencairkan suasana dan bertanya asal negara kami.

"Three Indonesian on the back row!" teriak saya.
"Hello my neighbor!" balasnya

Kami pun keluar masuk jalan-jalan kampung dan masuk gang, kami akhirnya memasuki jalan utama menuju perbatasan yang juga masih macet, namun sudah ada di dekat Imigrasi Thailand. Begitu memasuki Imigrasi Thailand, kami pun disuruh turun untuk antre cap keluar Thailand. Si sopir van pun teriak-teriak ke saya karena saya dikira warga Thailand dan memberi isyarat dimana ia parkir. Saya pun pasang muka bingung dan dia lalu bilang:

"There!!! Eighteen!!!"

Oh maksudnya di parkiran area 18. Ok deh komandan!

Kami mengantre lama sekali di border karena antrean keluar masuk Thailand di siang itu sangat ramai. Setelah menyerahkan paspor, cap cap cap, arrival card Thailand di paspor saya dicabut dan resmi kami meninggalkan wilayah Thailand. Petugasnya pun kerja cepat.

Border ini amat sangat ramai. Ada sekitar 30 menit kami antre di Imigrasi dan menuju parkiran yang ditunjuk si sopir. Karena kebelet pipis, saya pipis dulu di toilet umum dekat parkiran yang bayarnya bisa pakai Bath maupun Ringgit. Saya bayar 3 Bath alias Rp 1.200. Standar bayar toilet umum di negara ASEAN sepertinya memang sekitar Rp 1000. Jika di Indonesia toilet umum bayar Rp 1000 (kadang Rp 2000), di Singapura saya pernah juga pipis di toilet umum dengan tarif 10 sen, di Malaysia saya juga pernah, tarifnya 30 sen.

Sehabis buang air kecil, cewek bule Inggris teman satu Van saya merokok di parkiran, ikutan deh saya ngerokok dan pinjam korek sambil basa-basi sambil tunggu penumpang yang lain. Teman-teman saya beli buah dari pedagang eceran,

Setelah penumpang komplit, van melaju ke Imigrasi Malaysia. Manusia dan semua barang harus dibawa saat pemeriksaan karena selain masuk ke Imigrasi, kami juga harus melewati custom. Perbatasan ini tidak terlalu ramai dibandingkan border untuk keluar Thailand. Saya deg-degan juga mengantre karena sepi. Setelah dicap, saya bilang "Terima Kasih Pak Cik!" dan dijawab "Ya ya". Seumur-umur lewat imigrasi dimanapun, baru sekali ini ucapan thank you saya di reply.

Antrean siang itu pun  tidak terlalu ramai sehingga prosesnya cepat dan kami masih bisa duduk-duduk dekat kantor imigrasi dan menunggu penumpang lain sambil makan mangga yang dijual PKL disekitar exit imigrasi. 

Selesai semua penumpang lewat imigrasi, kami pun melanjutkan perjalanan ke Penang. Memasuki Malaysia, Van melaju kencang di Jalan Tol yang mulus. Sekitar satu jam kemudian, Penang Bridge terlihat yang berarti kami akan tiba di destinasi tujuan kami.


Membelah Thailand Naik Kereta Api

Rute naik kereta kami di Thailand

Hari itu akhirnya datang juga.

Setelah lima hari di Bangkok, tiba saatnya kami meninggalkan kota ini. Kami mengaku, tidak terlalu mengeksplor kota ini terlalu dalam sehingga kok berat saat akan meninggalkan Bangkok. Semoga ada kesempatan lagi ke Bangkok.

Karena check out pukul 12.00 siang, kami sengaja santai-santai karena kereta api dari Bangkok ke Hat Yai akan berangkat pukul 14.30. Saat check out, kami pun duduk-duduk dulu di communal room hostel yang ada sofa empuknya, lumayan untuk mengulur waktu. Sekitar pukul 13.00 kami pun jalan kaki ke Stasiun Hua Lamphong dengan sinar ditemani sinar matahari Bangkok yang menyengat. Tak lupa juga kami take away makanan, camilan dan minuman di 711 karena kereta ini akan menempuh perjalanan selama 16 jam! Bisa modar kan kalau 16 jam tak ada apa-apa yang masuk ke perut?

Akibat takut kelaparan, kami pun take away masing-masing dua kotak nasi untuk makan malam dan siang, roti, serta camilan-camilan kecil untuk killing time, dan tak lupa juga yang utama adalah air mineral dan minuman manis lainnya. Sampai Stasiun Hua Lamphong pukul 13.30 sehingga kami cukup lama menunggu di ruang tunggu stasiun. Kami pun keliling-keliling stasiun sekaligus muas-muasin ngerokok karena bakalan tidak bisa merokok di dalam gerbong.

Stasiun Hua Lamphong ini lumayan besar dan seperti pusat stasiun keberangkatan kereta ke berbagai penjuru Thailand sehingga rame banget. Interior stasiunnya pun masih seperti bangunan zaman dulu dengan tipe langit-langit tinggi dan lengkungan. Area komersial pun banyak di dalam area stasiun seperti restoran, kafe, ATM sampai bagian lost and found. Tak terasa juga sudah pernah jalan darat dari timur Thailand, ke tengah Thailand, dan sekarang ke selatan Thailand. Sebagai panduan, saya melihat situs www.seat61.com yang isinya mengulas secara lengkap perjalanan kereta api di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Lima belas menit sebelum keberangkatan, saya kencing di toiletnya yang bayar 4 Bath dan kami pun check in. Karena warga negara asing, kami pun diwajibkan menunjukkan paspor untuk dicocokkan dengan nama. Saya pun baru tahu jika sleeper train ini rangkaian gerbong yang paling mahal tarifnya sehingga ada di ujung depan. Rangkaian gerbong pun tidak semuanya sleeper train, melainkan ada juga gerbong kereta kelas ekonomi dengan seat configuration 2-3 dan tanpa AC. Untuk tarifnya yang ekonomi saya kurang tahu karena tidak ditawarkan ke kami saat beli di stasiun.


Begitu masuk, kami pun cukup terkejut karena gerbongnya bersih dan wangi. Saat siang hari konfigurasi kursi adalah hadap-hadapan namun 1-1 alias cuma madep satu orang. Sebelum berangkat seperti biasa, ada pemeriksaan paspor dan tiket oleh petugas. Menandainya pun dengan membolongi karcis dengan alat pembolong tertentu, seperti di Indonesia lah. Dibelakang saya, seorang wanita berambut pirang berbicara dengan aksen bahasa Inggris yang jelas. Intinya, dia menanyakan apakah ada kereta lanjutan dari Hat Yai ke Butterworth. Si petugas pun geleng-geleng.

Karena merasa "senasib", saya pun menyapa dan menanyakan.

"Do you wanna go to Butterworth? We also wanna go there and plan to catch a van from Hat yai! Because i read online there's no connecting train to Butterworth."

"Wow. We can catch a van together because i also read that as you said." katanya.


Sabtu, 19 Desember 2015

Last day in Bangkok

Bangkok traffic
Jalan-jalan yang beneran jalan alias kebanyakan jalan kaki memang agak sengsara, apalagi jika naik transportasi umum yang notabene tidak selalu ada di dekat kita pemberhentiannya. Kita Orang Indonesia juga tidak terbiasa menggunakan transportasi umum, apalagi jalan kaki. Tak heran tiap malam kami sudah lelah menjelajah Bangkok dan bangun selalu diatas jam 10.00 siang. Hari ini karena bingung mau ngapain (dan kehabisan uang), kami pun pergi ke mall lagi.

Kali ini kami pergi ke MBK Mall dari hostel kami di daerah Sukhumvit. Di dekat hostel kami ada tourist information centre dan kami di arahkan naik bus nomor sekian menuju MBK Mall. Baru 10 menit jalan, ternyata sudah sampai di depah mall. Loh? Anehnya,tidak ada petugas yang keliling di dalam bus untuk narik karcis. Apa gratis ya? Ini masih menjadi misteri bagi kami berempat.

Karena sudah siang juga, kami pun tidak lama keliling dan mencoba ke food court. Variasi makanan dan harga menurut saya lebih mending di Platinum Mall. Baru disini juga saya makan doang diatas THB 100. Selesai makan kami pun mengatur strategi karena rombongan akan pecah menjadi dua dan juga karena tidak beli SIM Card lokal Thailand. Saya akan mengantar teman saya yang akan terbang pulang ke Indonesia dan dua orang teman belanja dan akan langsung ke hostel terakhir kami. 

MBK Mall, Bangkok.
Berdasar informasi yang saya dapat, sebenarnya ada bus langsung dari MBK ke Don Mueang Airport, namun karena lalu lintas jalanan Bangkok katanya beda tipis dengan Jakarta, kami pun naik BTS ke Mo Chit, stasiun BTS paling ujung utara, dari sana kami keluar menuju shelter bus yang ramai dan saat lihat tulisan "Don Mueang Airport" saya pun mendatangi kondektur bus dan konfirmasi. Agak mahal memang, THB 30 karena bus ini ekspress alias langsung menuju Don Mueang Airport.

Sekitar dua puluh menit kemudian, tibalah kami di Don Mueang Airport. Teman saya pulang ke Indonesia dengan menumpang Scoot dari Bangkok ke Singapura yang tiba di tanggal berikutnya dan melanjutkan penerbangan dari Singapura ke Yogyakarta menggunakan AirAsia. Setelah memastikan jika berada di terminal keberangkatan yang benar, saya pun balik dengan rute bus yang sama, namun dengan rute MRT yang berbeda. Kali ini saya naik MRT dari Mo Chit ke Hua Lamphong, dari ujung ke ujung ceritanya.

Selesai check-in di hostel saya pun menunggu dua orang teman saya di balkon. Sekitar sejam tidak kelihatan juga batang hidungnya, saya pun SMS pakai nomor Indonesia ke dua orang teman saya. Eh saat saya mau masuk ke hostel, dari belakang terdengar cekikikan dan omongan dengan bahasa yang tidak asing. Halah, ternyata teman-teman saya kebablasan pas naik bus sehingga mereka jalan jauh menuju hostel. Hahaha!

Dengan menggunakan komputer hostel, saya pun browsing tentang van dari Hat Yai menuju Penang. Setelah hampir nyerah, karena kebanyakan informasi van dari Penang ke Hat Yai, akhirnya di suatu forum berbahasa Inggris, saya menemukan suatu post mengenai van dari Hat Yai ke Penang yang katanya ada di banyak dekat stasiun. Everything sounds perfectly done!


Scoot Boeing 787 Dreamliner DMK-SIN
Malam itu pun kami packing karena perjalanan di Thailand akan segera diakhiri. Saat teman saya mendarat di Singapura di tengah malam, dia mengirim foto ke grup Whatsapp jika maskapai Scoot yang ia tumpangi ternyata pakai pesawat Boeing 787 Dreamliner pada rute Bangkok-Singapura! Wih!