Rabu, 11 Juli 2018

Menikmati Kesunyian di Gili Asahan

Sunrise di Gili Asahan

Pembicaraan di kafe beserta geng jalan-jalan saya di kantor saat itu akhirnya tiba di urusan plesir. Ternyata ada long weekend di bulan September, sehingga wacana ini akhirnya jadi realisasi. Destinasi pun akhirnya disepakati, Lombok. Duh saya mulai bosan dengan Gili Trawangan, ujar saya ke teman saya. Setelah gugling-gugling, teman saya suggest ke tim supaya pergi ke Gili Asahan, yang ada di Kabupaten Lombok Barat. Katanya cuma ada beberapa resort dan pantainya sepi karena tidak banyak pengunjung dan penduduk. Wah terdengar menarik! Karena saya bagian ticketing, saya pun booking maskapai wings air, yang masih lion group dengan rute Solo-Lombok (by the way ini direct flight, lho!) dengan jam yang sangat nyaman bagi pekerja kantoran, yakni pukul 21.30.

Beberapa hari sebelum berangkat saya dapat sms dari Wings Air jika penerbangan dimajukan menjadi pukul 18.30. Yah, mepet banget dengan jam closing kantor, tapi masih mending lah kedatangan jadi lebih awal. Penerbangan pulang belum ada pemberitahuan terkait perubahan jadwal sih, tapi saya langsung cek di website lionair ternyata jam kepulangan pun berubah. Karena saya pesan online lewat salah satu OTA (online travel agent), saya pun email CSnya supaya dapat penjadwalan ulang. Balasannya pun bertele-tele yang pada intinya saya disuruh urus sendiri ke maskapainya. Karena kesal, saya pun langsung telepon CSnya untuk minta penjadwalan ulang karena kami tidak bisa terbang sepagi itu.

Seperti di email, CS OTA ini pun menyuruh saya urus sendiri ke maskapai. Lama berdebat dengan analogi travel agent online vs travel agent offline, saya pun bilang “Solusi konkret dari kalian apa?” Si CS pun menyuruh saya menunggu dan menutup telepon karena nanti katanya akan ditelepon. Sekitar 10 menit, mereka telpon balik dan kasih solusi terbang dari Lombok ke Surabaya, saya minta yang paling malam dan disetujui tanpa tambahan biaya (secara, lebih murah tiket LOP-SUB dibandingkan LOP-SOC saat itu). Tak lama kemudian sekitar 15 menit, muncullah bookingan tiket baru kami. Drama jam penerbangan selesai.

Fast forward, di hari Kamis sore kami berangkat ke Bandara Adi Soemarmo, Solo untuk terbang ke Lombok. Selesai check in, masuk lah kami ke ruang boarding. Saya sempatkan merokok dulu di smoking cafe beberapa batang karena penerbangan saat itu delayed selama 45 menit, entah rotasi dari mana pesawatnya. Sekitar jam 19.00 malam kami pun boarding, dan surprised dapet pesawat ATR72-600! Akhirnya ngerasain sensasi naik pesawat baling-baling lagi! Uniknya, penumpangnya saat itu sepi banget. Banyak bangku kosong, padahal saat itu adalah long weekend. Selesai safety demo, pesawat langsung menuju landasan dan take off.  Tidak banyak yang saya lakukan dalam penerbangan ini karena langsung tidur akibat capek seharian di kantor, akhir bulan pula.

Sekitar 90 menit kemudian, pesawat mendarat di Bandara Lombok, di Praya. Penerbangan agak lama mungkin karena tipe pesawat propeler. Kami pun dijemput sepupu teman kami dengan dua mobil menuju kota Mataram. Bagi yang mendarat di bandara Lombok jangan khawatir karena masih ada bus damri tujuan senggigi dan kota Mataram sampai dengan penerbangan terakhir.

Selesai dari Gili Trawangan, kami langsung menyeberang ke Pelabuhan Bangsal di daratan Pulau Lombok dan melanjutkan perjalanan ke Gili Asahan yang masuk dalam Kabupaten Lombok Barat. Sesuai dengan arahan petugas hotel, kami disuruh ke dermaga labuhanpon dulu sehingga mengarahkan maps menuju Labuhanpon. Dapat dilihat jaraknya cukup jauh, sekitar 92,5 kilometer yang menghabiskan waktu 2,5 – 3 jam dengan track yang berkelok-kelok dan naik turun gunung, keluar masuk pantai, naik turun bukit. Gila keren banget pemandangan sepanjang jalan karena banyak jalan aspal yang berada di pinggir pantai. Habis menaiki bukit, jalan menuruni bukit dengan pantai yang siap menyambut. Walaupun banyak semak-semak kering, malah menjadikan pemandangannya semakin keren, apalagi sampingan dengan laut.

Otw Labuhanpon
Setelah beberapa jam mengarungi jalanan (anjir, lebay banget) yang berliku, sampailah kami pada dermaga labuhan pon. Sepanjang pantai sini ternyata banyak (bekas) industri mutiara, tapi kenapa sepi ya? Sampai Labuhanpon, teman saya menelepon resort karena tidak ada kapal publik disini, yang ada hanya kapal milik resort yang menjemput tamunya dengan kapal mereka sendiri. Saya lupa di charge berapa, yang jelas masih cukup terjangkau lah. Selagi menunggu kapal, kami main di pantai pasir hitam dermaga ini. Walaupun pasirnya hitam, tapi air laut terlihat biru sehingga menggugah keinginan untuk njegur dan tentunya foto-foto dong. Saat menunggu kapal juga terlihat ada beberapa warga lokal yang sedang piknik ke pantai labuhanpon ini dengan membawa bekal dan ban sendiri. Selain itu juga ada warung di pinggir pantai yang menjual makanan ringan dan berat seperti mie instan, gado-gado hingga nasi campur (kami sempat makan disini). Di warung ini juga kami ngobrol dengan beberapa warga asing yang ternyata mau surfing di Desert Point.

Tak lama kemudian kapal datang, kami pun ambil posisi dan bersiap menyebrang. Kami semua berebutan duduk di depan karena pemandangannya indah banget, ada pulau saling berdekatan diantara kami dihiasi alas laut yang berwarna biru secarah langit siang itu. Sekitar 15 menit kemudian, merapatlah kami di dermaga. Kami menginap di Pearl Beach Resort, Gili Asahan, sebuah resort milik orang asing yang dikelola orang Indonesia. Karena miskomunikasi dengan agen daring mereka menyebabkan bookingan berbeda, maka kami di upgrade kamar, dan juga dikasih free main boat dan peralatan snorkeling sebagai tanda permintaan maaf.

Pantai Labuhanpon

Heading to Gili Asahan!
Pearl Beach Resort Gili Asahan
Pantai di depan Pearl Beach Resort
Seperti resort-resort lain yang berkonsep “eco”, Pearl Beach Resort tidak menyediakan AC, selain itu air minum juga disajikan dengan teko sehingga tidak perlu pakai botol plastik. Model tiap cottage berbahan alami seperti kayu dan bambu dengan atap jerami. Saya kira bakalan panas, ternyata adem banget. Untuk kamar mandi, letak shower ada di bawah langit (re: outdoor) sehingga pas mandi malam hari, bisa bengong gosokin badan sambil lihat bintang dan terdengar banyak suara binatang yang sedang konser di luar.


Santai dulu di hammock

Shower

Kamar

Kegiatan kami tidak banyak, hanya minum jus, berenang, berjemur, minum jus lagi, duduk-duduk, ngobrol, ngemil, merokok, baca buku, berenang lagi udah gitu-gitu aja. Saat sore hari saya dan beberapa kawan naik ke tebing Gili Asahan untuk melihat pemandangan dari atas. Wih keren banget! Kelihatan pemandangan 360 derajad kami dikelilingi pulau dengan pemandangan laut di bawah! Selesai dari situ kami pun turun dan mandi. Sekitar jam 20.00 kami makan malam.

Sebenarnya ada beberapa resort dan toko-toko di pulau ini. Namun karena udah pewe dan malas, kami memutuskan untuk makan malam di restoran milik resort ini. Kami pun bertemu beberapa warga asing yang cukup ramah, mungkin mereka keikut pace di pulau ini kali yang bikin rileks dan nyantai. Kami pun menghabiskan malam dengan main uno, kopi, dan tertawa-tawa.

Pemandangan dari Bukit Pulau Gili Asahan
Yuk nyebur

Coba di atas sini ada cafe, bakalan betah dah ngopi-ngopi

Malamnya karena sudah tidak kuat, saya pun tidur. Saya kira kamarnya panas, tapi rupanya cukup adem dengan dukungan kipas angin dan kelambu. Oh iya, pas datang pertama kali di kamar juga ada bunga-bunga dan handuk yang dibentuk angsa yang saling hadap-hadapan. Alamat lebih cocok untuk yang berpasangan nih tempat. Hahaha! Tempat ini jauh dari kebisingan, benar-benar sunyi senyap. Hanya ada suara ombak dan suara hewan-hewan malam yang lagi karaokean menghibur kami. 

Paginya saya terbangun dan mendengar deru ombak ringan yang membuat saya langsung buka baju dan nyebur. Selain pemandangannya yang masih segar, mood pun masih bagus sehingga bawaannya pengen main air. Hehe! Beberapa kali naik kano, saya selalu kejungkal, entah gimana cara bikin seimbang. Karena tangan sudah berkerut, kami langsung pada sarapan. Pagi itu saya mulai dengan oat,buah naga, pisang, dan yogurt yang jika dicampur Oh My Godness enak banget. Coba tiap hari makan beginian, saya bisa turun 30 kg setahun! Tapi karena jeritan perut kampung saya, akhirnya saya menambahkan roti dan selai karena masih lapar. Hahahahaha! Sarapan ditutup dengan kopi dan Sampoerna Mild di pinggir pantai. Mantab!

Sunrise at Gili Asahan Island

Salah satu ruangan

nyebur
Pearl Beach Resort Gili Asahan

Pantai Gili Asahan
Gili Asahan Menjelang Siang

Jam check out masih lama dan kami menghabiskan waktu macam-macam. Ada yang tiduran, ada yang masih pada berenang, ada yang ngerokok-ngerokok,ada yang mandi, dan saya yang kecek-kecek (entah apa bahasa Indonesianya) di pantai sambil nyari spot yang kece. Karena dikelilingi dua buah pulau, ombak laut disini pun kecil sehingga enak buat tiduran sambil berenang. Gila, enaknya kalau tiap hari hidup cuma gini-gini aja! Entah apa kerjaan yang membayar orang untuk tidak ngapa-ngapain.

Kelar mandi dan leyeh-leyeh kami sudah harus meninggalkan tempat ini dan menyeberang lagi ke Labuhanpon. Ah seharusnya dari awal kami langsung kesini saja biar puas. Kenyang tanggung memang cuma semalam disini.

Catatan :

- Ada beberapa penginapan yang beroperasi di Gili Asahan, antara lain yang saya inapi, Pearl Beach Resort, kemudian ada Avatar Raja Bungalow Gili Asahan dan Gili Asahan Eco Lodge & Restaurant. Tinggal pilih aja sesuai preferensi dan budget.

- Gili Asahan adalah destinasi santai dalam artian sepi, bagi yang pengen nyari pub atau diskotek lebih tepat jika pergi ke Gili Trawangan, puas deh dugem disana.

- Bagi yang doyan ngemil dan merokok, mending bawa logistik sendiri sebelum memasuki pulau ini. Juga bawa air mineral botol, untuk jaga-jaga.

- Lebih baik Gili Asahan digunakan untuk destinasi awal karena tidak terlalu jauh dari Bandara Internasional Lombok yang ada di Lombok Tengah.

- Perjalanan di pagi hari lebih saya rekomendasikan karena banyak spot yang kece untuk foto-foto di sepanjang jalan, sehingga pasti anda tergoda untuk berhenti.

- Saat ini sudah banyak penerbangan ke Lombok Praya, apalagi dari Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Untuk penerbangan langsung dari Jateng & DIY tidak banyak. Setahu saya cuma dari Yogyakarta (direct naik Lion Air) dan Semarang (direct flight juga naik Wings Air).

- Penerbangan langsung Solo-Lombok yang saya tumpangi kemarin sepertinya sudah ditutup karena saya cek online di travel agent online dan pakai aplikasi flightraddar24 sudah tidak pernah mengudara.



  

Senin, 02 Juli 2018

Ngerokok di Bandara

Smoking area Bandara Ngurah Rai Denpasar 


Mohon maaf apabila postingan saya kurang berfaedah, namun saya pikir cukup penting bagi teman-teman yang perokok yang kesulitan mencari smoking area di tempat umum, khususnya di bandara. Karena saya perokok, smoking room adalah penting karena kalau tidak merokok bikin mulut pait, belum lagi jika pesawat delayed berjam-jam sehingga bikin bete, supaya tidak suntuk, untuk killing time biasanya saya baca buku (dan juga merokok). Berikut saya bahas satu persatu beberapa airport lokal Indonesia yang pernah saya singgahi smoking areanya, smoking room umum sih, bukan lounge:

1. Bandara Ahmad Yani, Semarang.

Karena bandaranya di gedung baru, saya tidak terlalu banyak explore bandara karena selalu tiba di bandara ini mepet. Untuk di bangunan lama, saya selalu pergi ke Starbucks karena mereka punya smoking room berukuran 3m X 1m 7 yang cuma muat 5 orang sehingga kalau ruangan penuh, sumpeknya minta ampun. Begitu di gedung baru, saya kaget karena Starbucksnya tidak punya smoking room, seperti di Bandara Halim Perdana Kusuma yang menyatu dengan ruang tunggu.

Gedung Terminal Lama Bandara Ahmad Yani Semarang

Saya pun mengikuti signage smoking area yang ada di lantai atas dengan naik lift. Ternyata smoking room nya ada di ruangan terbuka yang bebas ngerokok sepuasnya disana. Lega saya dengan tipe smoking are seperti ini karena udara langsung keluar, ga usah pake exhouse. Area ini sepenuhnya belum selesai, kalau lihat dari layout nya, sepertinya bakalan ada tempat jualan kopi dan snack seperti di smoking area bandara Bali.

2. Bandara Adi Soemarmo, Surakarta.

Saya sudah lama tidak terbang dari Solo, terakhir tahun 2017, seingat saya belum ada smoking room definitif. Kalau ingin merokok ada smoking cafe yang ada di dekat ruang tunggu keberangkatan Internasional (deket konter imigrasi) yang masih di sekitaran ruang keberangkatan sehingga enak karena tidak jauh. Namun yang namanya smoking cafe ya aneh saja jika anda wall face dan tidak pesan apa-apa cuman numpang ngerokok.

SOC-DPS flight by Airasia

Beli saja kopi hitam, secangkir Cuma Rp 15.000. Masih wajar sih menurut saya, murah malah. Ruangannya tidak terlalu besar sehingga jika dipenuhi pengunjung maka mata akan sepet, pegawainya saja duduk di luar karena tidak tahan bau rokok di tempat ini. Padahal exhousenya kenceng sih menurut saya.

3. Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Terakhir saya terbang dari sini, juga tidak ada smoking room definitif. Adanya sejenis smoking cafe yang harus ngopi kalau mau merokok. Ada dua smoking cafe seingat saya di Terminal A (Terminal lama) satunya di deretan menghadap selatan, dan satunya di deretan yang menghadap ke arah barat. Biasa lah, kalau mau merokok ya harus modal minimal beli kopi hitam seharga sekitar Rp 20.000an. Ruangannya tidak begitu besar dan dipenuhi pengunjung.

4. Bandara Juanda, Surabaya.

Saya ulas yang terminal 1 karena pernah ngerokok disini. Smoking room nya asik banget karena ada di tengah-tengah bagian bandara, jadi Terminal 1 Bandara Juanda letak gate nya memanjang sehingga jika anda naik eskalator setelah check in, di kanan ada Starbucks, tepat di depannya ada smoking room. Smoking room di Bandara Juanda cukup ramah dengan perokok karena ada di tengah-tengah dan mudah ditemukan, dilengkapi AC dan exhouse, dan tak kalah penting ada power socket untuk fakir charger. Komplit sudah, bisa ngopi, ruangan adem, bisa nge-charge HP/Laptop, bisa lihat pesawat dari apron, dan tentunya semua dilakukan sambil ngebul!

Untuk Terminal 2 saya tidak nyoba karena saat itu penerbangan Internasional, dan tidak bawa rokok. Hehe!

5. Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.

Belakangan ini karena sering ke Bali, maka tak lupa dong mengunjungi smoking room-nya. Untuk smoking area bandara Denpasar, ada di dekat gate maskapai Lion Air, kalau tidak salah gate 6, dari sana ada petunjuk ke smoking area yang naik tangga dulu karena smoking room ada di atas gedung keberangkatan. Smoking area bandara ini kelihatan kalau niat sekali dikelola karena bagus banget. Ada pohon-pohon yang diletakkan ke pot dengan bahan seperti marmer yang bisa dibuat duduk yang eye-catching buat foto-foto dan ada di mana-mana, dan juga tempat duduk lain yang tersebar di smoking area nya yang guede banget ini. Lapar? Pengen Ngopi? Tenang saja karena ada yang jual snack dan kopi.

Tempat merokok bandara ini sungguh bikin betah walaupun di siang hari agak panas. Selain bebas ngebul, dari tempat ini juga kelihatan pesawat-pesawat yang hilir mudik, baik take off maupun landing. Jika anda merokok dan naik Garuda Indonesia, saran saya langsung saja ke smoking area nya saat sudah masuk ruang boarding karena penumpang Garuda Indonesia biasanya boarding lewat gate 1A ataupun 1B, just in case kalau misal anda keasyikan dan nama anda dipanggil saat last call seperti saya :p

5. Bandara Praya, Lombok.

Terakhir terbang tahun lalu waktu mau kembali ke Surabaya. Bandaranya minimalis dan tidak terlalu besar, namun  cukup nyaman lah. Smoking room ada di sebuah ruangan kecil. Selesai anda check-in dan naik eskalator, begitu tiba di lantai 2, langsung saja hadap kanan karena ada signage smoking room, tinggal jalan sedikit. Ruangannya tidak terlalu besar, namun lumayan lah ada exhousenya sehingga baunya tidak tengik-tengik banget. Ada gundukan pasir di atas tempat sampah untuk mematikan api. Letaknya yang ada sebelum pintu pemeriksaan boarding pass, mewajibkan anda mengatur waktu menuju gate keberangkatan karena masih ada dua pemeriksaan, yakni pemeriksaan boarding pass dan pemeriksaan X-Ray barang dan badan saat akan masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Sehingga tidak lucu kan kalau yang habis rileks ngerokok habis itu kudu lari-lari ke gate?

6. Bandara Supadio, Pontianak.

Karena pekerjaan juga akhirnya saya sering menyambangi bandara ini. Smoking room bandara supadio ada di ujung dekat gate 1. Selesai pemeriksaan X Ray, anda belok kiri saja sampai mentog dan ada petunjuk ke smoking room. Tempat merokoknya lumayan besar, banyak asbak juga. Tak lupa ada exhouse sebagai pelengkap ruang merokok. Letaknya yang ada di ujung dekat gate 1, tidak menguntungkan anda yang boarding lewat gate 4, 5, dan 6, karena jauh.

7. Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Lama tak terbang dari sini, kirain smoking room masih di dekat gate 1, rupanya smoking room ada di ujung dekat gate 6! Saya sungguh tidak mengenali Bandara Makassar karena layout nya berubah, makin banyak tenant, utamannya restoran. Ada juga smoking cafe dekat gate 1, tentunya harus pesan makanan atau minuman juga ya supaya bisa menikmati smoking area nya.

8. Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Terminal 3 Ultimate CGK Airport

Berikut saya ulas satu-satu di masing-masing Terminal yang sering saya kunjungi:

Terminal 1C

Terakhir saya terbang lewat Terminal 1C bulan April kemarin, smoking area diarahkan menuju bawah, masuk ke suatu gate, sebelum masuk gate nah anda akan diarahkan untuk turun ke taman. Merokok lah disitu. At least ini lebih baik dibanding harus keluar terminal, lumayan lah menghemat tenaga.

Terminal 2F

Pas naik Sriwijaya lewat Terminal 2F, dari zaman Terminal 2F masih dipakai Garuda Indonesia sampai sekarang, smoking roomnya cuma di sydney cafe yang ada di dekat gate 6, tepatnya dekat area pemeriksaan X Ray. Huh.

Terminal 3 Ultimate

Selain di lounge, smoking room umum ada di dekat gate 10 dan gate 20. Ruangannya cukup besar, namun yang di dekat gate 20 ruangannya tidak begitu besar. Kalau capek pun ada golf car yang siap mengantar anda dengan antrean yang cukup panjang. Mendingan take away kopi dulu, kan lumayan sambil ngopi bareng ngerokok kan? :p


Pesan sponsor : Merokoklah pada tempatnya!

Kamis, 17 Mei 2018

Cerita Saat Seleksi CPNS 2017 : Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI)


Awalnya, Pada gelombang pertama seleksi CPNS tahun 2017, formasi yang membutuhkan pegawai adalah Mahkamah Agung dan Kementerian Hukum dan HAM. Selesai gelombang pertama, saya kira tidak ada seleksi CPNS lagi karena dengar-dengar memang kedua K/L (Kementerian/Lembaga) yang sangat membutuhkan tambahan sumber daya manusia. Sampailah saat salah satu teman SMA saya share tentang penerimaan CPNS pada Kementerian Luar Negeri di grup whatsapp kelas. Abang saya pun share ke saya terkait lowongan di Kemenlu. Tak lama kemudian muncullah informasi resmi terkait seleksi CPNS Gelombang kedua yang mencakup 60 Kementerian dan Lembaga (Plus Pemprov Kalimantan Utara). Wow!

Saya pun langsung tancap gas melihat-lihat berbagai formasi yang ada di tiap kementerian dan lembaga. Untungnya, formasi untuk jurusan hukum ada di berbagai macam kementerian dan lembaga sehingga sempat membuat pusing untuk memilih yang mana. Walaupun formasi hukum ada dimana-mana, tapi kuotanya tidak terlalu banyak sehingga naluri dan strategi disini mulai berperan. Setelah memilah-milah formasi dan minat, tujuan saya mengerucut ke beberapa K/L : Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Kepegawaian Negara, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan BKPM. Seminggu menjelang penutupan, saya mantap daftar BPK, Kementerian BUMN dan BKPM. Beberapa hari menjelang penutupan, saya memutuskan untuk mendaftar Badan Pemeriksa Keuangan.

Kuota jurusan hukum untuk pemeriksa pertama saat itu hanya 37 orang (formasi reguler/umum). Jumlah yang lumayan cukup besar dibandingkan dengan K/L lainnya. Akan tetapi yang biasa terjadi, hal ini pasti akan mengundang pelamar lebih banyak karena hukum peluang dalam statistika berlaku. Apalagi, pada syarat pelamar ada ketentuan “...diutamakan pendaftar yang berdomisili di luar Pulau Jawa.” Yang menimbulkan banyak spekulasi di grup telegram pelamar cpns bpk. Saya pun tidak peduli karena menurut hemat saya pasti nilai tertinggi yang akan lulus.

Taraaaa, setelah beberapa minggu mendaftar, seleksi administrasi diumumkan.

Puji Tuhan, Lulus.

Seleksi berikutnya adalah SKD atau Seleksi Kompetensi Dasar. FYI, SKD terdiri dari tiga macam soal, yakni Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), dan Tes Kepribadian (TKP), seingat saya namanya TKP, saya lupa kepanjangannya. Untuk pelamar umum, berlaku sistem passing grade dimana apabila salah satunya tidak memenuhi passing grade maka peserta dinyatakan gagal walaupun dua tes lainnya nilainya amazing. Saya tidak ada persiapan khusus untuk TKD karena kesibukan pekerjaan yang luar biasa sehingga pulang kerja sudah capek dan membuat malas, meskipun saya paksa-paksain sampe mata merah. Saya lebih sering belajar TIU karena banyak itungan yang harus latihan, mirip seperti soal psikotes USM STAN lah. TWK saya seringin baca-baca karena bisa lewat ponsel sehingga bisa nyuri-nyuri waktu buat baca pas lagi kerja ataupun pas lagi break buat lunch.

Yang saya ingat saat itu, untuk tiap kota tidak diadakan serentak. Saya agak was-was saat jadwal tes belum keluar karena khawatir jatuh ditengah minggu seperti hari selasa. Tiga hari sebelum tes, nama saya muncul untuk ujian di hari senin, sore pula. Fiuh lega!

Perjalanan pun dimulai. Pada tahun lalu, seleksi CPNS BPK untuk kota pelaksanaannya di pulau Jawa hanya di Jakarta! Sehingga seluruh pelamar yang bukan domisili Jakarta rela ke Jakarta (seperti saya). Saya pun pergi ke Bandara Ahmad Yani Semarang untuk terbang ke Jakarta pada penerbangan pertama. Sampai rumah kakak, saya langsung tidur karena begadang takut ketinggalan pesawat. Bangun-bangun sudah sore hari, saya pun belajar TIU dan review TWK selama beberapa saat. Mata pun sayup-sayup sehingga saya ketiduran sampai jam 10 pagi! Tes masih pukul 16.00 sehingga saya masih punya banyak waktu. Saya pun berangkat naik KRL sekitar jam 11an dan tiba di stasiun .....

Karena cuaca sudah agak mendung, maka saya order go car menuju mall yang dekat dengan lokasi ujian. Driver udah telpon dan saya sudah bilang lokasi saya di stasiun. Saya pun bingung lihat di aplikasi, mobil tidak bergerak. Padahal udah bilang otw. Karena kelamaan, saya cancel dan ganti pakai ojek online. Selesai dijemput, baru jalan sekitar 5 menit hujan deras ras rassss. Modar! Kami pun ‘ngiup’ di emperan toko yang punya kanopi agak besar. Hujan siang itu lama sekali dan tidak ada tanda-tanda mau berhenti. Sialan. Saya pun pesan taksi online untuk pergi ke Mall  karena lapar luar biasa dan sudah jam 13.00 siang. Tak lama, taksi datang menjemput saya. Eh dengan santainya dia izin mau bungkus gudeg bentar. Duh.

Saya pun tiba di Mall yang baru saja dibangun yang bernama Bella Terra Lifestyle Centre. Apesnya, tenant nya baru ada beberapa saja dan yang akrab di mulut saya cuma burger king dan starbucks. Saya pun ‘brunch’ tuna spicy bread dan hot capuccino karena buru-buru dan sudah ngantuk. Tak terasa sepatu pantofel saya basah sampai dalam-dalamnya karena kehujanan pas naik gojek tadi sehingga rasanya aneh dan saya mulai kedinginan. Sekitar jam 14.00 saya meluncur dan pesan gojek ke Maria Convention Hall yang hanya berjarak sekitar 0,8 Km dari mall tadi. Anehnya, tidak ada yang mau jemput. Saya batalkan, kemudian saya coba lagi akhirnya nyangkut. Si tukang ojek pun bingung exact location mall nya sehingga saya nungguin di pinggir jalan. Tak lama ojek jalan, eh ternyata macet dong karena sepanjang jalan perintis kemerdekaan dipenuhi dengan banyak sekali kendaraan, belum lagi arus keluar masuk kendaraan ke gedung sehingga membuat jalanan tambah macet. Karena habis hujan, ternyata air dan tanah nyampur sehingga nyiprati sepatu dan celanan saya sehingga jadi cokelat seperti dari sawah.

Masuk ke lokasi, saya pun bingung karena buanyaknya lautan manusia yang hilir mudik. Ternyata di lokasi ini bukan hanya tes untuk BPK, namun juga kementerian lain seperti Kemenhub dan BNN. Saya pun tanya-tanya ke orang kali aja tau. Akhirnya ada mbak-mbak dari Jombang yang ternyata mau tes BPK juga sehingga kami jalan bareng ke lokasi.

Sampai di gedungnya, ternyata ujian belum dimulai karena peserta sebelum saya belum keluar. Saya pun was-was karena takut ketinggalan informasi, plus lapar dan sepatu basah. Sekitar pukul 15.30 panitia mulai memberi pengumuman pakai toa dan menyuruh kami mengantre dengan membedakan nomor di lajur kanan, lajur tengah, dan lajur kiri. Ada lah sekitar 30 menit nunggu, barulah saya kepanggil buat datang verifikasi kartu ujian, KTP, dan dikasih PIN untuk log in tes CPNS.

Pada saat itu kami nunggu di basement yang disediakan kursi dan air minum serta AC portable yang cukup banyak (walaupun tetap saja saya keringetan). Suasana ruang tunggu makin padat karena peserta mulai selesai registrasi. Saya pun panik karena sudah pukul 17.30 ujian belum dimulai, dan benar saja...lewat toa panitia mengumumumkan bahwa ujian akan dimulai pukul 18.00! Mampus, pesawat saya pukul 21.30 pula!

Dengkul saya pun lemes. Sebagian peserta menjalankan sholat maghrib, saya yang bingung, capek, lapar, mengambil tas ke panitia dan mulai menyalakan rokok a mild kesayangan saya sambil telpon Papa saya karena mau mundur saja daripada ketinggalan pesawat. Papa saya Cuma bilang,”Lanjut aja ya mang, tesmu yang kemarin juga belum tau kan hasilnya. Pasti ga ketinggalan pesawat.” Saya pun mengangguk dan mulai meyakinkan diri tidak bakal ketinggalan pesawat karena check in Citilink ditutup 30 Menit sebelum keberangkatan.

Pukul 18.00 tes pun dimulai. Dimulai dengan antre masuk ke gedung. Saya pun mengambil langkah seribu supaya dapat antrean depan agar cepat duduk. Ternyata hall ini sangat luas dan bisa menampung hingga seribu peserta. Dengan sesama peserta pun hadap-hadapan dan jaraknya sempit. Panitia pun mulai menjelaskan aturan main, do’s and dont’s dan lain-lain. Ujian dimulai pukul 18.20 dan saya langsung garap. Saya selalu mengerjakan urutan dan saya langsung skip yang saya belum bisa jawab. TWK lewat, masuk ke TIU yang rada ruwet. Konsentrasi saya lebih banyak ke sudut kanan bawah untuk melihat jam berapa saat ini. Jam 19.00 tepat saya sudah masuk ke TKP dan langsung saya kerjakan tanpa mikir karena bagian ini cukup subjektif. Masih ada 15 nomor yang saya skip dan langsung saya kerjakan dan modal nekad, nembak.

Tepat 19.25 saya selesai. Waktu masih sekitar 35 menit, namun saya sudah tidak peduli dan langsung memencet selesai. 

In the name of GOD! 

Keluarlah angka 369! 

Yihaaaaa! 

Walaupun nilainya tidak tinggi-tinggi amat, saya bersyukur karena lulus passing grade. Saya pun langsung keluar dan berlari menyerahkan pensil dan kertas buram (kertas coret-coretan). Saya lari ke penitipan tas dan langsung lari ke pinggir jalan sambil order go jek untuk ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Puji Tuhan  begitu saya keluar, driver sudah ada di depan saya. Saya pun bilang ke dia supaya ngebut karena saya takut kena macet.

Dengan santainya si ojek bilang, santai aja mas kan masih 21.30 terbangnya. Ya iya tapi kan kudu check in dan periksa barang keles. Lagian saya pengen makan dan minum karena luar biasa lapar dan haus. Memasuki flyover apalah yang saya tidak tahu namanya, motor tiba-tiba oleng kiri-kanan. Bluk bluk bluk bluk. Modyar! Ban Motornya bocor! Kenapa sekarang????! Entah gimana jalan pikiran pemilik kendaraan, dia dengan santainya (lagi) bilang. “Saya tambalin dulu ya mas?” sambil senyum-senyum lempeng. Gila. Saya pun bilang mau naik taksi aja. Dia pun bilang “Terus gimana mas?” Saya jawab “Ya udah swipe aja udah anter, kan sudah kepotong juga saldo saya!”

Melambai-lambaikan tangan selama 10 menit, akhirnya ada juga taksi mau nyamperin saya. Puji Tuhan! Saya langsung masuk dan pas bilang tujuan saya Bandara Halim Perdana Kusuma, si supir langsung jutek (karena dekat). Ternyata Cuma 10 menit sampai bandara dan argonya tak sampai Rp 15.000. Dengan atos dia bilang “Sama parkirnya.” Yailah, emang dikira gue ga pernah naik taksi ke bandara apa ya. Saya kasih Rp 30.000 biar puas.

Waktu menunjukkan pukul 20.48 dan tidak ada antrean saat itu, saya pun langsung check in dan ambil boarding pass dan langsung ke gate untuk ke toilet. Saya ganti sepatu di toilet, dan kaki saya udah memutih mati rasa karena sepatu saya yang basah tadi saya pakai sepanjang hari. Saya mau makan dan minum tapi cuma excelso yang buka. Terpaksa pesan es kopi dan sandwhich untukn ganjal perut. Akhirnya saya rehat sejenak sambil merokok di dalam smoking area.

Sembari mengabari orang tua, saya pun jalan ke pesawat karena sudah dipanggil boarding. Capeknya luar biasa. Fisik dan emosi saya lelah sekali hari itu. Penerbangan QG 110 menuju Yogyakarta pun terbang, semakin meninggi meninggalkan langit kota Jakarta yang gemerlap. Pertama kalinya juga air mata saya keluar karena campuran lelah fisik dan emosi. Tuhan Maha Baik karena saya besok paginya masih (kuat) bekerja walaupun datang jam 9 pagi dan kesiangan.


Sabtu, 03 Maret 2018

Job Seeker Adventure (Part 1)

Petualangan kali ini bukan jalan-jalan, melainkan cari kerja kerja kerja. 

Tetiba saya ingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu saat saya dinyatakan lulus program strata satu di salah satu universitas di kota gudeg. Sorak-sorai pun berkumandang dari sahabat dan kawan-kawan seperjuangan. Dan yang paling menohok adalah pesan Whatsapp dari salah satu sahabat saya (yang sudah lulus duluan) yang mengucapkan "Welcome to the Jungle, welcome to the club (red: pengangguran), job seeker!"  Campur aduk sih dibilang job seeker, seneng iya, sedih juga iya karena menyandang status baru yakni : p e n g a n g g u r a n. 

Sebenarnya sudah lama ingin nulis postingan saya saat mencari kerja dengan mengikuti berbagai macam jobfair di beberapa kota, perusahaan BUMN, BUMD, hingga perusahaan Swasta. Karena banyaknya yang pernah saya ikutin, sampai kadang lupa kalau pernah daftar (dan baru sadar saat ada panggilan). Dari yang dulu sakit hati kalau nggak lulus seleksi administrasi, jadi kebal kalau nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba nggak lulus seleksi administrasi. Semuanya bagaikan kenangan indah yang sayang jika terlupakan. 

Saya tidak ingat berapa kali ikut tes mencari kerja dan berapa kali saya mondar-mandir antar kota untuk mencari pekerjaan. Kenapa tidak ingat? Saking banyaknya sodara-sodara. Hehehe. Bagi anda yang akan berkomentar "harusnya sarjana tuh bikin lapangan kerja, bukan cuman nyari kerjaan aja jadi pekerja!" saya tentu tidak akan mendengarkan penghakiman tersebut karena manusia terlahir juga ada yang jadi pekerja dan ada yang menjadi pengusaha.

Here are my stories! Dari puluhan tes yang saya ikuti, berikut saya share yang memorable bagi saya. Cekidot gan :

1. Rekrutmen Officer Development Program (ODP) PT. Bank Mandiri (Persero)

Sumber Logo

Ini adalah tes kerja pertama saya saat selesai pendadaran, belum wisuda ceritanya. Saya mendaftar di akun ECC UGM saya dan dipanggil sekitar dua minggu kemudian. Saya pun dapat SMS dari Bank Mandiri untuk test di Kantor Cabangnya di Yogyakarta di dekat Tugu Yogya. Tahapannya adalah sebagai berikut pada saat itu 

- Interview Awal

Pertama datang, saya mengantre di lantai bawah bersama para pelamar lain, basa-basi dikit, baru tahu kalau ada yang sudah pernah ikut dua kali tes ODP Mandiri dan ini yang ketiga katanya. Wow! Akhirnya kami pun naik ke lantai tiga dan di briefing oleh bapak-bapak berpenampilan necis. Intinya dia mengingatkan apapun yang kalian baca tentang rekrutmen ini entah di forum atau blog, terserah mau percaya atau tidak dan sekiranya ada yang mau mundur, mundurlah saat ini juga. Sampai sini, seorang sarjana teknik tiba-tiba keluar ruangan mengundurkan diri. 

Interview dilakukan bapak-bapak tadi, kami duduk berdelapan menghadap beliau dan di interview dengan bahasa Inggris. Sampai lah giliran saya ditanya "Introduce and describe your self!". Saya jawab standar saja nama, jurusan kuliah, concentration, keluarga and so on. "You studied law, right? So why do you want to join us in financial industry? Why you not become a judge, lawyer or presecutor?" Pertanyaan yang sudah saya duga karena tidak sesuai jurusan saya. "Because law graduates has flexibility in any industry. Bank industry regulations has many layer because it relates with money and trust. So i have no doubt by joining your company." Habis itu ditanyain biggest achievement

Selesai interview semua orang disuruh nunggu dibelakang, nggak lama sih cuma sekitar sejam sambil menghabiskan sisa peserta yang belum interview. Selesai itu kami di briefing dan dikasih "Golden Ticket" ala Indonesian Idol di amplop dan dipanggil satu persatu. Sampai tahap ini saya lulus. 

- Tes Bahasa Inggris

Seingat saya tes bahasa Inggris untuk mengetes bahasa Inggris calon karyawan yang akan bergabung. Saya pun senewen karena sudah lamaaaaaaaa sekali tidak mengerjakan tes bahasa Inggris. Yang pernah ikut Paper Based Test TOEFL mesti nggak asing dengan tes model begini. Ada Structure, Error Recognition, Reading dan tentunya Listening. Saya pun tidak ngerti apakah pekerjaan saya benar atau salah, namun seminggu kemudian saya dipanggil untuk ikut test aptitude.

- Tes Aptitude


Selesai tes bahasa Inggris, kami disuruh mempersiapkan tes aptitude karena setelah test bahasa Inggris katanya berlanjut ke tes ini. Kami pun diberi tautan untuk melihat contoh soal di shl.com (kalo nggak salah sih). Saya yang pasrah nggak lulus tes bahasa Inggris, kaget karena sehari sebelum tes di SMS jika lanjut ke tes aptitude. Ya udah deh dengan modal nekad saya berangkat, mana kesiangan karena telat bangun (dan juga nggak mandi) pula. Untung lah saat saya datang tes belum dimulai. Di meja sudah ada buku soal, kertas burem, pensil, dan kalkultor. Wew, pasti ada itung-itungan nih. Tes aptitude seingat saya berisi logika verbal, lalu menyimpulkan kalimat dan ada itung-itungan statistik yang menurut saya ruwet karena saya dari jurusan hukum. Pasrah deh nggak lulus. Dan bener dong nggak lulus di aptitude. Saya berpikir nothing to lose lah karena sasaran saya memang bukan bekerja di Industri Keuangan.

Kabarnya, setelah tes aptitude maka ada interview user, interview direksi, dan juga medical check up di akhir seleksi sebelum contract offering. Bagi yang suka tantangan dan keuangan, kabarnya pendapatan di perusahaan ini juga bisa patut dipertimbangkan.


2. PT. Jasa Raharja (Persero)

Sumber Logo

Rekrutmen untuk pegawai, di pengumuman rekrutmen hanya menyebutkan formasi jurusan yang dibutuhkan saja dan hukum salah satunya. Saya pun daftar dengan mengirimkan data lewat templatenya yang masih pakai excel dan dikirim via email. Saya mengirimkan menjelang akhir penutupan karena baru tahunya juga hari terakhir. Syaratnya tidak begitu ribet, cuma isi formulir doang. By the way, vendor rekrutmen ini adalah Lembaga Manajemen (LM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.


Dua minggu kemudian panggilan tes pun datang, saya dan teman-teman berangkat bareng-bareng dari Yogyakarta ke Jakarta naik kereta api Bogowonto rame-rame berdelapan. Sampai Jakarta, kami pun menginap di losmen di gang depan Universitas Indonesia Salemba karena tes dilaksanakan disana. Berikut tahapannya

- Seleksi Administrasi

Alur pertama cukup membingungkan karena tidak ada informasi yang jelas, semua peserta pun berkumpul di depan ruang kuliah. Setelah agak gaduh panitia pun memberi pengumuman lewat toa jika disuruh mengumpulkan map berisi kartu peserta, foto copy ktp, foto copy ijazah dan foto copy transkrip nilai. Dari urutan tersebut baru dipanggil satu persatu. Sampai dalam ditanya nama, alumni dan ipk karena dicocokkan datanya, habis itu itu diukur tinggi badan, cuma saya disuruh skip langsung ke ruang ujian karena dia sudah yakin saya lebih dari 160cm. Setelah itu saya digiring ke ruangan oleh panitia untuk tes kemampuan dasar.

- Tes Kompetensi Dasar

Setelah ruang kelas penuh, kami memulai tes kompetensi dasar. Jawabannya pun dibulatkan persis seperti ujian nasional. Isi tesnya lumayan banyak, penalaran verbal, abstrak, aritmatika, statistik, dan ada ilmu pengetahuan umum. Tes berlangsung selama dua jam dan katanya langsung diumumkan malam itu juga jam 8 malam karena yang lulus besoknya tes lanjutan. Sambil killing time saya dan sahabat saya nongkrong di Kalibata City, rehat sejenak lah ngopi dan ngerokok. Tidak terasa sudah jam 9 dan teman-teman lain izin pulang Jogja karena nggak lulus TKD. Puji Tuhan saya dan teman saya yang notabene lagi ngopi ndilalah lulus untuk lanjut tes psikotes dan wawancara psikolog keesokan harinya.

- Psikotes

Psikotes kali ini terdiri dari beberapa bagian. WARTEG (Isi delapan kotak yang sudah ada polanya), kemudian menggambar pohon (saya selalu gambar pohon mangga) dan deskripsi diri. Kelar tes tersebut, tes dilanjutkan dengan EPPS dan yang satunya saya lupa apa namanya. Ada dua paket soal sebanyak 90 soal dan 225 soal yang intinya disuruh menggambarkan bagaimana anda sebenarnya. Pada intinya ada salah satu pilihan jawaban yang tidak bisa anda mengelak untuk jawab (yang akhirnya ditanyakan saat wawancara psikolog). Setelah itu ada tes pauli, tes koran alias tes itung angka yang berlanjut dari atas ke bawah dan ada instruksi "GARIS". Selesai rangkaian tes tersebut saya lapar luar biasa karena tes berlanjut tanpa jeda. Sambil menunggu interview, saya dan teman saya pun makan di kantin Pascasarjana UI.

- Wawancara Psikolog

Pewawancaranya seorang bapak-bapak berusia 30an tahun dan selalu bertanya dengan lugas. Karena fresh graduate, saya ditanya kerjaan saat kuliah ngapain aja dan ikut kegiatan apa saja. Lalu ditanyakan sikap jika terjadi hal yang diluar perkiraan. Yang aneh saya ditanya begini "Naik motor paling jauh dari mana ke mana?Kira-kira berapa kilometer? Kamu suka pergi-pergi ya?"

 Seperti BUMN-BUMN lain, pewawancara menanyakan "Siap ditempatkan dimana saja, mas?" Saya jawab "Siap, Pak!" Dia pun menimpali "di NTT sekalipun?" Tak gentar pun saya jawab "Siap!"

Untuk pertanyaan keilmuan, saya ditanya skripsi dulu menulis apa. Ndilalah skripsi saya tentang asuransi dan ditanya sifat asuransi itu apa saja. Terbagi menjadi apa saja klasifikasinya. Saya masih bisa jawab karena masih anget karena baru lulus.

Pertanyaan terakhir saya ditanya "Kalo marah kamu sampai lempar-lempar barang gitu ya?". Saya pun menjawab "Maaf pak untuk itu saya karena nggak ada pilihan jawaban saat psikotes." Dan bapak pewawancara pun ketawa. Wawancara tidak terasa sampai satu jam saking asyiknya, sampai peserta setelah saya ketakutan kok bisa lama sekali karena jatahnya hanya 30 menit. Setelah itu saya pun menunggu sekitar tiga minggu untuk tahap lanjutan.



- Medical Check Up

Suatu kamis sore, saya sedang asyik menyantap cumi goreng asam manis di rumah makan gotri (yang sekarang sudah bangkrut) dan membaca sms bahwa saya lolos untuk lanjut ke tes kesehatan. Saya pun langsung tidak nafsu makan cumi tersebut karena baru sadar bahwa kolesterol cumi sangat tinggi. Saya pun bergegas untuk cek gula dan kolesterol di apotek UGM. Gula sih normal, tapi kolesterol cukup tinggi kata mbaknya untuk ukuran anak muda. Saya pun minum simvastatin, dan minum nutri benecol setelah makan dan mulai makan sayur-sayuran saja. Minum pun bear brand karena katanya perokok dianjurkan minum susu putih steril. Saya pun pasrah karena gaya hidup sehat juga baru dua hari. 

Jumat besoknya saya langsung terbang dari Yogyakarta ke Jakarta naik air asia karena naik kereta nggak ada temannya. Paginya saya diantar kakak saya ke RSPAD Gatot Subroto di Jakarta Pusat. Sampai sini isi formulir dan registrasi buat medcheck. Pemeriksaan pun lengkap, mulai dari tensi, berat badan, tinggi badan, tes darah, thorax, mata, kuping, tenggorokan, dan lain-lain saking banyaknya saya sampai lupa. Untuk tes darah, darah diambil dahulu setelah puasa, kemudian kami diberi sandwich daging yang muanis banget lalu dua jam kemudian diambil darahnya. 

Selesai medical check up sekitar jam 12 siang, saya pun mengajak teman saya nongkrong di Grand Indonesia bersama teman SMA saya. Pengumuman konon nanti dikabarin lagi sekitar 2 sampai 3 minggu kerja. Pulang liburan dari Bali, baru banget pesawat mendarat dan mengaktifkan telepon seluler, saya di message Whatapp oleh teman saya ,"Pak, jasa raharja wes metu pengumumane!."

Jantung saya berdegup kencang ketika web browser terbuka perlahan ke website rekrutmen. Eng ing eng, nama saya tidak ada :( Padahal ini tes terakhir sebelum interview terakhir di Kantor Pusat. Sedihnya...


3. Direct Shopping PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero)


Sumber Logo

 Siapa yang tidak kenal PLN? Saya rasa hampir semua masyarakat Indonesia tidak ada yang tidak kenal dengan PLN, BUMN Persero pengelola listrik negara Indonesia. Sebagai perusahaan listrik, PLN sangat vital sehingga menjadi favorit pencari kerja, baik D3 maupun Sarjana. Untuk Gaji tidak perlu ditanya karena dari kabar yang beredar, gaji freshgraduate bagi lulusan D3 dan S1 di PLN cukup besar. Belum lagi bonus tahunan. 

Saya ikut rekrutmen ini saat ada lowongan PLN di Program Direct Shopping Rekrutmen PLN yang diadakan di Jakarta dan Yogyakarta. Lembaga rekrutmen saat itu menggunakan ECC UGM dan karena direct shopping, seingat saya saat itu sudah ditentukan alumni universitas mana saja yang bisa mengikuti seleksinya. Untuk area Jateng-DIY yang saya ingat yang bisa mendaftar adalah alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. 

Rentang waktu pendaftaran juga tidak banyak dikarenakan ada berkas fisik yang harus di kirim ke Jakarta. Berikut alur rekrutmen direct shopping PLN saat itu:

- Tes Kemampuan Dasar

Sekitar satu bulan setelah pendaftaran ditutup, keluarlah pengumuman untuk Tes Dasar di Yogyakarta, tepatnya di Gedung Jogja Expo Centre, yang biasanya digunakan sebagai tempat pameran elektronik. Seingat saya ada 3000 peserta saat itu. Saat registrasi diberi nomor dada dan ditempeli foto peserta. Untuk tesnya tidak terlalu sulit (menurut saya), benar-benar tes dasar. Ada hitung-hitungan dasar, mencocokkan gambar, logika matematika (logika), dan yang baru saya alami, tes melanjutkan gambar, dimana diberikan 3 buah gambar (kegiatan manusia) kemudian gambar keempat merupakan jawaban kita.  

Tes cuma berlangsung selama kurang lebih satu jam karena masih banyak kloter berikutnya di siang hari. Pengumuman Tes Kemampuan Dasar pun diumumkan malam itu juga dan saya lolos. Peserta tinggal 1000an orang yang berasal dari berbagai jurusan dan tes dilakukan langsung keesokan harinya

- Psikotes

Psikotesnya seperti BUMN-BUMN lain, WARTEG, Gambar Pohon, Pauli (Tes Koran) dan psikotes seperti hitung, logika abstrak, logika non verbal dan lain sebagainya. Tes berlangsung cukup lama karena ada interview tertulis. Ada preferensi penempatan, saya pilih Bali dan Lombok dong biar bisa piknik. Hahahaha. Pengumuman dilaksanakan satu bulan kemudian.

- Medical Check Up 1

Karena sudah lama tidak ada pengumuman, saya pun tidak menunggu tes ini. Pengumumannya pun mengagetkan karena saya saat itu sedang jalan-jalan di Kamboja! Karena habis gagal di Jasa Raharja, saya pun tidak lanjut tes ini karena selain pesimis, saya masih berada di Kamboja. Kabarnya pada tes ini cuma ukur tensi, berat dan tinggi dan kata teman saya setengah jumlah peserta berkurang

- Medical Check Up 2

Karena tidak mengalami, saya cuma diceritani sama teman-teman yang masih on going tes PLN.  Pada MCU 2 ini, semua diperiksa seperti saat saya tes Jasa Raharja. 

Kabarnya setelah lulus MCU2, tahap lanjutannya adalah Interview terakhir dan dilanjutkan offering contract. Sepanjang 2015-Awal 2017 lalu sepertinya PLN membutuhkan banyak pegawai baru karena saat periode tersebut saya lihat banyak rekrutmen PLN.

4. PT. Angkasa Pura I (Persero)

Sumber Logo

Pendaftaran saat itu seingat saya di bulan April 2016, namun baru dilakukan seleksi tertulis mulai bulan Juni 2016. Karena pengumumannya lama, saya kira saya tidak lolos seleksi administrasi, eh ternyata kepanggil. Sehari setelah saya jalan-jalan 13 hari ke Kamboja, Thailand dan Malaysia pula seleksinya. 

Karena saat itu saya tidak bawa baju yang layak (cuma bawa kaos-kaos ala gembel) untuk seleksi, saya pun meminta teman saya memberikan kunci kamar saya ke temannya-teman saya yang ikut tes AP1 untuk minta tolong ambilkan baju-baju yang rapi di kos-kosan saya dan juga perlengkapan seleksi seperti alat tulis dan sepatu resmi untuk dibawakan ke Surabaya karena saya tidak sempat mampir ke Yogyakarta karena pesawat saya mendaratnya di Jakarta. Puji Tuhan masih banyak orang baik di sekitar saya. Oh ya untuk vendor seleksi ini adalah Lembaga Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Tesnya pun di Unair. 

Berikut tahapannya:

- Psikotes 1

Seperti soal-soal psikotes biasanya, saya pun sampe hafal tipe soalnya dan jawabannya. Tes berlangsung hanya sekitar 45 menit dan langsung ganti "kloter" tes dikarenakan pesertanya sangat banyak. Pengumumannya pun langsung malam itu juga. Puji Tuhan lolos.

-Psikotes 2

Sama juga sih seperti psikotes-psikotes lain, WARTEG, POHON, Manusia, EPPS, PAPI, Buku Soal Psikotes buat ngetes IQ, dan juga tak lupa Pauli yang saya cukup kesal karena mejanya saat itu pakai meja lipat yang tidak rata dan sempit sehingga saya tidak nyaman saat ujian. Tes dilanjutkan keesokkan harinya dengan agenda FGD (Focus Group Discussion)

- Focus Group Discussion

LGD, FGD, you name it. Ada yang bilang berbeda, ada yang berbeda. Kalau LGD "L"nya adalah "leaderless" alias tanpa pemimpin, kalau FGD adalah "Focus Group..." yang artinya Fokus terhadap Grupnya tersebut. Entahlah saya tidak mengerti perbedaannya, yang jelas intinya sama, cari solusi dan bukan voting alias agreement bersama dengan solusi yang sudah disepakati. Saat itu dikumpulkan sesuai jurusan, karena saya jurusan hukum, saya pun dikumpulkan dengan lulusan hukum dari kampus lain. Topiknya saat itu adalah "Mengatasi taksi gelap di Bandara!" karena saya sering baca topiknya, ya saya tetap ungkapkan pendapat saya. Meskipun banyak yang pendapatnya juga aneh-aneh, sah sah saja karena namanya juga "kelompok yang berdiskusi".

 Saran saya yang akan FGD, hentikan menjatuhkan orang lain saat menyampaikan pendapat karena akan merugikan kalian sendiri. Manusia-manusia model gini sudah terlihat diawal, biasanya songong dan sok tau. Saat itu ada peserta yang setiap ngemeng bukan share idenya, tapi cuma pendapat negatif terkait pendapat orang lain, negativist gitu lah. Bagi saya saat FGD, ide-ide yang kurang solutif biasanya juga akan "gugur sendirinya" karena pasti ada prioritas solusi dan akhirnya adalah kesepakatan solusi. 

Selesai FGD, panitia bilang pengumumannya setelah lebaran alias satu bulan lagi. Karena penilaiannya campur antara psikotes dan FGD, jadi agak lama katanya. Satu bulan saat itu saya baru ingat dan ngecek pengumuman. Dan, hmmm nggak lulus lagi. Sedihnya. Padahal kurang dua tes lagi, yakni wawancara user dan medical check up. Hiks....